Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
75. Apa ini cemburu?


__ADS_3

"Zayn?!" ucap Caramel kaget.


"Hai..," Zayn tersenyum menyapa Caramel.


Setelah itu Zayn bergeser dan memperlihatkan seseorang di belakangnya.


"Clara?!" ucap Caramel kaget.


Raut muka Raymond berganti, yang seolah tadi senang penuh senyuman kini berubah menjadi datar karena melihat sosok yang tidak disenanginya. Raymond sungguh tidak menyukai Clara, sehingga wajahnya berubah ketika melihatnya.


"Kenapa kamu kaget seperti itu Ca?" tanya Zayn sambil terkekeh.


"Hah? Eh eng-enggak, siapa yang kaget? Hanya terkejut saja Zayn," ucap Caramel dengan memberikan senyum lebarnya.


"Cepetan masuk, tanganku sudah pegal menekan tombol ini dari tadi," sindir Zayn sambil melihat Caramel dan Raymond.


Raymond dan Caramel masuk ke dalam lift tersebut dengan tangan Raymond yang semakin erat memegang pinggang Caramel.


"Gak bakalan ilang Ray, erat banget meganginya," Zayn terkekeh melihat Raymond.


Raymond memasang wajah datar dan menatap Zayn seolah ingin menghabisinya. Dan itu membuat Zayn semakin terkekeh. Dia hafal betul sikap dan sifat Raymond yang merupakan saudara sepupu jauhnya itu.


Ting!


Pintu lift pun terbuka, dan itu artinya mereka berempat harus keluar dari lift tersebut. Raymond keluar terlebih dahulu dengan tangan yang masih melekat dengan indah di pinggang Caramel. Sedangkan Zayn menoleh ke belakang karena Clara tidak bereaksi sama sekali sedari tadi meskipun ada Raymond di dalam lift bersama mereka tadi.


"Clara, ayo Sayang keluar," ucap Zayn mengajak Clara segera keluar dari lift tersebut.


"Zayn, aku akan pulang sendiri. Dan tolong jangan memanggilku dengan sebutan sayang," ucap Clara sembari keluar dari lift tersebut.


Clara berjalan dengan cepat menuju taksi yang sudah diam-diam dia pesan melalui aplikasi online. Zayn hanya menatap Clara dari jauh, dari tempatnya kini berada. Dia sangat menyayangkan sikap Clara yang masih angkuh dan meninggikan harga dirinya.


Baiklah, sesuai keinginanmu Clara, aku akan menuruti apa yang kamu inginkan. Dan lihat saja, seberapa kuat kamu dengan harga dirimu yang tinggi itu, Zayn berkata dalam hati dengan melihat kepergian wanita yang selama ini menjadi penghuni di hatinya.


Zayn datang ke tempat kerja tanpa pulang terlebih dahulu karena dia menyimpan baju di dalam mobilnya. Sedangkan Raymond dan Caramel harus pulang terlebih dahulu karena mereka harus berganti pakaian.


"Selamat pagi menjelang siang Tuan dan Nyonya Xavier," ucap Zayn dengan gaya setengah membungkuk dan mempersilahkan dengan tangannya menirukan pelayan yang menyambut tamunya.

__ADS_1


"Pagi. Bagus Zayn, teruskan kinerjamu," ucap Caramel dengan bergaya ala nyonya-nyonya besar.


"Kurang ajar. Boleh gak Ray dijewer tuh kuping," ucap Zayn sambil menunjuk telinga Caramel.


"Awas kalau berani," ucap Raymond tegas dengan tatapan mata mengintimidasi Zayn.


Caramel tertawa puas melihat Zayn yang kembali kena marah Raymond karena menjahilinya.


Dasar suami istri sama-sama nyebelin! Zayn mengomel dalam hati sambil memasang senyum manis karena Raymond masih menatapnya.


"Silahkan masuk Tuan, Nyonya," Zayn kembali mengulangi adegannya tadi agar Raymond dan Caramel cepat masuk ke dalam.


"Huuffft... selamat....," ucap Zayn sambil mengusap dadanya ketika Raymond dan Caramel masuk ke dalam restoran.


Namun ketika Zayn membalikkan badannya, dia sangat kaget ketika akan bertabrakan dengan Clara yang berjalan dengan menundukkan kepalanya.


"Eh!" ucap Clara kaget.


"Eit!" ucap Zayn yang juga kaget bersamaan dengan Clara.


Zayn menoleh ke belakang melihat punggung Clara yang berjalan menunduk tidak seanggun biasanya.


Clara merasa malu jika bertemu dengan Zayn, sedangkan Zayn merasa kesal karena Clara tidak mengakui perbuatan mereka semalam.


Sekarang Zayn memutuskan untuk tidak mengikuti Clara seperti yang ditugaskan oleh Raymond. Namun dia hanya mengawasinya dari kejauhan saja. Dia ingin tahu bagaimana Clara tanpa dirinya seperti yang biasanya.


Siang menjelang sore, Zayn memutuskan untuk berada di wilayah permainan dan arena rekreasi keluarga karena dia tidak ingin berada di kantor yang satu ruangan bersama Clara.


"Hai Zayn!" seru seorang wanita muda dari parkiran depan restoran.


"Oh hai Vania, apa kabar?" seru Zayn ketika melihat wanita yang bernama Vania itu berjalan mendekati Zayn yang berada di wilayah arena rekreasi keluarga.


Clara yang kebetulan berjalan dari arah toilet yang berada di arena tersebut merasa mendengar sapaan Zayn dengan seorang wanita. Clara diam-diam melihat siapa yang berbicara dengan Zayn.


Ada gemuruh dalam dadanya ketika melihat wanita cantik tersebut menjabat tangan Zayn dan menempelkan pipi kanan dan kirinya. Dalam dadanya terasa sangat sakit dan marah melihat Zayn yang tertawa dan bercanda dengan wanita tersebut.


Apa ini yang namanya cemburu? Tapi aku tidak mencintainya, aku hanya mencintai Raymond. Tapi, kenapa hatiku sangat sakit sekali? Apa karena kejadian semalam? semua pertanyaan itu hanya bisa Clara tanyakan dalam hatinya, dia tidak berani bertanya pada Zayn tentang yang di rasakan Zayn apa sama dengan dirinya.

__ADS_1


Zayn menoleh sekilas ke belakang ketika masih bercanda dengan Vania. Dia melihat Clara yang termenung melihat ke arahnya dengan memegang dadanya, namun tak menyadari jika Zayn memandangnya lama.


Sedetik kemudian Clara tersadar bahwa Zayn melihat ke arahnya. Dengan tergesa-gesa dia berjalan meninggalkan tempat itu tanpa menoleh ataupun melihat kembali ke arah Zayn.


Zayn tersenyum melihat Clara yang gugup, seperti bukan Clara yang biasanya. Dia kini menjadi Clara yang tidak mempunyai rasa percaya diri yang tinggi di depan Zayn.


"Zayn... Zayn... apa kau dengar?" ucap Vania sambil menggoyang-goyangkan lengan Zayn yang melihat ke arah Clara yang sedang berjalan.


"Eh, iya, ada apa?" tanya Zayn pada Vania.


"Kamu melihat apa Zayn sampai segitunya," ucap Vania dengan wajah kesal dan cemberut.


"Enggak ada kok. Ada apa?" tanya Zayn kembali mengulang apa yamg tidak dia dengar tadi.


"Apa kamu mau ikut berlibur denganku?" tanya Vania dengan senyum manis dan tatapan matanya penuh harap menatap mata Zayn.


"Kita berlibur bersama?" tanya Zayn.


Vania pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar.


"Mau kan Zayn? Mau ya.. ya.. ya... please...," ucap Vania memohon dengan manja dan merengek pada Zayn.


"Hanya kita?" tanya Zayn kembali.


Dan Vania pun kembali menganggukkan kepalanya dengan senyum manis yang menghiasi bibirnya.


"Berdua?" tanya Zayn kembali seolah tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Iya Zayn. Mau ya... ya... please... Kapan lagi Zayn kita bisa berlibur bersama, mumpung kita bisa berlibur," rengek Vania dengan manja dan menggoyang-goyangkan lengan Zayn.


"Aku masih belum bisa memastikan sekarang. Aku harus mengecek schedule dan acara atau event yang ada. Aku gak bisa libur begitu saja Vania," ucap Zayn mencoba menolak keinginan Vania.


Gila, berdua aja. Mau ngapain kita liburan berdua? Kalau suami istri sih oke aja, lah ini... bisa-bisa aku yang diperkaos sama ni cewek... hiii... takuuuut... Zayn berkata dalam hatinya sambil mendengar ocehan dari Vania yang tidak ada habisnya menyombongkan kekayaannya.


Dan akhirnya Vania melepaskan Zayn ketika Zayn terpaksa membujuknya untuk makan malam sendiri di restoran tersebut karena ada pekerjaan penting yang harus dia kerjakan saat ini juga.


"Ray, apa aku boleh libur beberapa hari? Vania mengajakku liburan bersama di Bali," ucap Zayn sengaja mengatakannya pada Raymond ketika melihat Clara berada di dekat mereka.

__ADS_1


__ADS_2