
"Ide apa?" tanya Caramel bingung.
"Gimana kalau kamu belajar jadi pastry atau baker aja?" Raymond mengatakannya dengan sangat antusias.
"Harus sekolah di mana? Apakah jauh?" Caramel bertanya dengan sedikit takut.
"No, aku gak suka jauh dari kamu. Mangkanya aku minta kamu jadi pastry atau baker agar kita bisa kerja bersama. Dan untuk belajarnya, kebetulan aku punya teman Pastry Chef terkenal yang kebetulan dia wanita, jadi aku tidak akan cemas jika meninggalkanmu belajar dengannya," Raymond tersenyum senang dengan idenya yang menurutnya sangat sempurna.
"Apa aku bisa?" tanya Caramel ragu.
"Kenapa? Kamu pasti bisa Sayang," Raymond mengusap pipi Caramel dengan Sayang.
"Aku ragu, aku takut membuatmu kecewa karena hasilnya tidak sesuai dengan harapanmu. Kamu tau kan, aku tidak pernah membuat kue," Caramel berkata lesu.
"Kamu mau belajar sekarang sebelum kamu belajar dengan yang profesional?" Raymond bertanya dengan menatap dalam mata Caramel.
Caramel pun mengangguk antusias. Kemudian Raymond mengajaknya ke kitchen agar Caramel bisa belajar dari seorang pastry yang ada di sana.
Caramel sangat antusias membantu dan bertanya-tanya. Raymond senang melihat istrinya sangat antusias dan tersenyum senang belajar hal baru.
Kenapa gak dari dulu aja sih Sayang? Jadinya kan gak ada acara kejar-kejaran kalau kamu ada di kitchen terus sama aku, Raymond membatin dan senyumnya terukir jelas melihat Caramel.
Raymond memakaikan Appron pada Caramel dengan telaten dan penuh cinta. Sehingga hanya dengan begitu saja bisa membuat seluruh orang yang berada di sana menjadi baper. Karena bukan hanya sekedar memakaikan saja.Dari tatapan mata Raymond dan perlakuan Raymond ketika dia memakaikan appron tersebut, terasa penuh cinta terhadap Caramel.
"Akhirnya kita semua kalah. Yang bisa mendapatkan Caramel hanya Chef Raymond," salah satu koki berbisik-bisik pada koki lainnya ketika mereka sedang prepare.
"Jelas lah, saingan kita model begituan. Gak ada yang bisa ngalahin bos," jawab koki yang satunya lagi masih dengan berbisik-bisik.
"Eh jangan salah, waktu itu kan gak ada yang tau kalau chef itu bos kita," ucap koki yang lain.
"Dari segi tampang aja dia unggul, mobil, jabatan dan sebagainya dia lebih unggul meskipun bukan bos," jawab koki yang satunya.
"Kayaknya kamu gak terima kalau Caramel milih Chef Raymond," ucap koki satunya lagi heran.
"Bukannya gak terima, tapi kenyataan Bro," koki tersebut membela diri.
"Tapi dari ucapanmu seolah kamu mengatakan bahwa Caramel itu matre," koki yang tadi kembali heran.
"Bukannya semua wanita seperti itu ya? Kelihatannya saja dia polos dan lugu, tapi yang dipilih juga yang levelnya tinggi," ucap koki tersebut kesal.
__ADS_1
"Lihat aja, Caramel sangat cinta sama Chef. Apa kamu gak bisa merasakan? Gak mungkinlah seorang Chef Raymond bisa dikibuli sama Caramel. Lagian nih, wanita cari pria yang lebih mapan itu wajar. Siapa sih yang mau hidup susah?" koki tadi sangat heran mendengar penilaian temannya tentang Chef Raymond dan Caramel.
"Sssst... udah... udah... kerja lagi. Itu Chef mau ke sini," suara koki yang lain membuyarkan obrolan mereka.
......................
"Kamu ngapain sih ngikutin aku mulu?" Clara kesal pada Zayn yang selalu mengikutinya.
"Dih, siapa yang ngikutin kamu? Kita itu sama-sama marketing di sini, jadi kita harus kerja sama. Kalau kamu mau kerja sendiri bukan di sini tempatnya," Zayn tidak kalah kesal dengan Clara.
"Kamu mau kemana Zayn?" Clara berteriak memanggil Zayn yang sudah berjalan cepat meninggalkannya.
"Cepetan jalannya, apa mau aku tinggal?" kini Zayn sudah masuk ke dalam mobil.
Clara terburu-buru berjalan cepat dan ketika dia berjalan melewati kitchen yang pintunya sedang terbuka, dia bisa melihat Raymond sedang memakaikan appron pada Caramel dengan tatapan penuh cinta.
"Sial! Kenapa bukan aku? Lihat aja, sebentar lagi kamu pasti akan menangis dan menjauh dari Raymond," Clara meremas ujung roknya yang pendek dan mengeram marah melihat Raymond dan Caramel.
Tin... tin.. tin...
Suara klakson mobil yang dibunyikan oleh Zayn mengalihkan perhatian Clara. Dan menyadarkannya akan Zayn yang sedang menunggunya.
Clara berjalan cepat terburu-buru menuju mobil Zayn. Terlihat wajah Zayn yang sudah kesal padanya. Namun wajah Clara tak kalah kesal karena melihat Raymond dan Caramel tadi.
"Udahlah Zayn gak usah gerutu gitu, aku juga lagi kesel banget ini," Clara menimpali gerutuan dari Zayn.
Zayn mencebik kesal mendengar Clara yang bukannya meminta maaf padanya malah ikut marah juga padanya. Akhirnya mereka berangkat dengan keadaan sunyi di dalam mobil sampai mobil sampai di tempat tujuan.
......................
Raymond selalu memperhatikan Caramel yang sedang belajar membuat kue dengan tawa dan canda yang selalu diberikan untuk partner pastry nya. Raymond melihat ikat rambut Caramel yang sudah melorot hampir ke ujung rambutnya.
Raymond yang sedang tidak sibuk mendekati Caramel yang tangannya sedang membuat adonan kue. Raymond mengikatkan rambut Caramel dengan ikat rambut yang ada di rambut Caramel.
Caramel kaget mendapatkan rambutnya dipegang seseorang, bahkan diikatkan. Namun disaat dia melihat tangan orang yang mengikatkan rambutnya, Caramel jadi tersenyum senang. Dia tahu tangan siapa yang sedang mengikatkan rambutnya saat ini.
"Terima kasih suamiku....," ucap Caramel ketika Raymond selesai mengikatkan rambutnya.
"Sama-sama istriku...," jawab Raymond yang menengadahkan wajahnya pada wajah Caramel yang sedang sibuk membuat adonan.
__ADS_1
"Sayang, makan yuk," ajak Raymond dengan kedua tangannya melingkar di pinggang Caramel dan memeluknya dari belakang.
"Bentar lagi ya Sayang kalau ini udah selesai," jawab Caramel tanpa menghentikan kegiatannya dalam membuat adonan.
"Sayang, kamu ngadon terus, kapan kita bikin adonan juga?" tanya Raymond jahil seperti biasanya jika hanya berdua dengan Caramel.
Sepertinya Raymond lupa jika di sana ada Ratih yang mengajari Caramel membuat kue.
"Ehem... Chef mesra banget sih, romantis banget sama istrinya, pakai ngomongin adonan lagi, masih siang Chef," Ratih terkekeh sambil meledek Raymond dan Caramel.
"Mbak Ratih kan udah nikah, pasti mesra dan romantis juga di rumah," Caramel mencoba mengalihkan pembicaraan Ratih agar tidak malu.
"Boro-boro Ca, dulu sih iya pas pacaran. Setelah udah nikah mah beda, gak ada romantis-romantisnya," jawab Ratih yang malah jadi curhat pada Caramel dan Raymond.
"Masa' sih? Kita enggak kan Sayang?" Raymond kini mencium pipi kiri Caramel di depan Ratih, dan itu membuat semua orang yang berada di sana tertegun.
Sedari tadi sebenarnya semua orang melihat tingkah Raymond yang berada di dekat Caramel, namun mereka masih mengerjakan pekerjaan masing-masing agar tidak terlalu mencolok ketahuan memperhatikan Raymond dan Caramel.
Dan kebetulan pada saat itu Zayn dan Clara baru saja masuk ke kitchen berniat untuk bertemu Raymond memberikan menu party yang baru saja mereka dapatkan.
Prang!
Piring dibanting oleh Clara jatuh bertebaran di lantai setelah melihat Raymond mencium pipi Caramel dan memeluk pinggangnya dari belakang.
Suara piring pecah tersebut membuat sadar semua orang yang sedang tertegun melihat momen romantis Raymond dan Caramel.
Raymond menatap penuh amarah pada Clara yang dengan beraninya malah balas menatap mata Raymond. Zayn mengerti kemarahan Raymond yang mungkin sebentar lagi akan meledak jika Clara masih saja membuat marah Raymond.
Dengan sigap Zayn menarik tangan Clara dengan kekuatan yang penuh karena Clara masih mempertahankan posisi badannya, sehingga tidak mudah ditarik oleh Zayn. Dan akhirnya Zayn memanggul tubuh Clara keluar dari kitchen dengan tangan Clara yang memberontak memukuli punggung Zayn dan kaki Clara yang bergerak-gerak agar Zayn mau menurunkannya.
Namun tidak semudah itu Zayn goyah. Zayn tetap memanggul tubuh Clara dan dibawanya keluar restoran menuju taman permainan anak, sehingga mereka menjadi bahan tontonan banyak pengunjung yang datang ke sana.
"Zayn, lepaskan... lepaskan...." teriak Clara pada Zayn di setiap langkah Zayn membawanya.
Tiba di taman yang berumput tebal, Zayn menghempaskan tubuh Clara seperti membuang sampah, sehingga tubuh Clara terhempas dengan keras di atas rumput yang tebal.
"Aduh... Zayn, kamu gila?" tanya Clara sambil meringis kesakitan.
"Bukannya kamu tadi minta dilepaskan?" Zayn tertawa meremehkan pada Clara yang memandangnya dengan penuh kekesalan.
__ADS_1
"Dasar gila!" Clara meneriaki Zayn dengan penuh amarah.
"Kamu yang gila. Awas aja sampai kamu berbuat hal yang gila lagi, aku tidak akan membuangmu di atas rumput, tapi aku akan membuangmu ke tempat sampah. Mengerti?!" teriak Zayn penuh dengan ancaman dengan ekspresi yang menakutkan sehingga membuat nyali Clara menciut.