
Suara-suara yang mengatakan bahwa Raymond telah menghamili Clara membuat Caramel semakin pusing. Kini kepalanya berputar-putar dan lama-kelamaan badannya terasa lemas tak bertenaga.
"Sayang!" seru Raymond memanggil Caramel ketika istrinya itu terkulai lemas di dalam pelukannya.
"Caramel!" seru Mommy Grace yang kaget melihat menantunya pingsan.
Raymond segera menggendong tubuh Caramel dan membawanya masuk ke dalam mobilnya dengan menggunakan sopir yang merupakan bodyguardnya.
"Cepatlah ke rumah sakit yang terdekat!" seru Raymond panik bercampur dengan cemas.
Raymond duduk di bangku belakang bersama dengan Caramel yang ditidurkan di bangku tersebut dan kepala Caramel berada di pangkuan Raymond.
"Sayang, sadarlah, jangan tidur lama-lama ya," ucap Raymond yang sangat cemas dan tangannya tidak terlepas menggenggam tangan istrinya.
Sesampainya di rumah sakit, tanpa menunggu pertolongan dari perawat, Raymond segera menggendong tubuh istrinya ke dalam ruang IGD.
"Istri Bapak dan bayinya baik-baik saja, hanya sepertinya istri Bapak terlalu kelelahan sehingga membuatnya pingsan. Sebentar lagi istri Bapak pasti akan sadar," ucap dokter wanita yang memeriksa Caramel di ruang IGD.
"Bayi? Bayi apa dok? Di mana," Raymond bingung mendengar apa yang diucapkan oleh dokter tersebut, Raymond takut jika dokter tersebut salah memberikan informasi pasiennya pada keluarga lain.
"Istri anda sedang mengandung. Apa Bapak tidak tau?" jawab dokter tersebut.
Raymond membelalakkan matanya, dia tidak mengira akan mendapat kejutan seperti ini disaat dia mendapatkan cobaan atas tuduhan dari Clara.
"Apa benar itu dok? Istri saya sedang hamil?" Raymond bertanya untuk memastikan pendengarannya.
"Benar Pak, sudah sekitar lima minggu. Jangan-jangan Bapak tidak mengetahuinya?" dokter tersebut asal menebak namun mendapat anggukan kepala dari Raymond.
"Jadi, Bapak benar-benar tidak mengetahuinya? Lalu bagaimana dengan istri Bapak?" dokter tersebut bertanya kembali pada Raymond.
"Istri saya juga tidak mengetahuinya dok. Apa itu berbahaya dok jika tidak mengetahuinya lebih awal?" Raymond bertanya dengan perasaan senang bercampur khawatir.
"Tidak... tidak berbahaya Pak, untungnya saja kandungan istri Bapak kuat dan baik-baik saja. Lalu apa istri Bapak tidak ada tanda-tanda jika dia hamil?" dokter tersebut kembali bertanya pada Raymond.
"Tidak ada dok. Normal-normal saja, hanya saja dia akhir-akhir ini tampak kelelahan," Raymond menjawab pertanyaan dari dokter tersebut.
__ADS_1
"Baiklah Pak. Jika Bapak ingin berkonsultasi masalah kandungan istri Bapak dan memeriksakan kandungannya lebih lanjut, Bapak bisa memeriksakannya di bagian dokter Sp.OG. Saya tinggal dulu Pak, permisi," dokter tersebut berpamitan pada Raymond dan meninggalkan Raymond untuk kembali bertugas.
Dengan perasaan gembira, Raymond melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang IGD. Namun ponselnya berdering, sehingga dia harus mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruang IGD dan menerima telepon dari Mommy nya.
Mommy Grace bertanya pada Raymond tentang keadaan Caramel dan Raymond pun memberitahukan bahwa Caramel pingsan karena kelelahan dan sedang mengandung. Sontak saja terdengar suara teriakan kesenangan dari Mommy Grace dari seberang sana. Dan terdengar pula suara tawa bahagia dari Daddy Nathan dari ponsel Raymond.
Kabar bahagia itu membuat Raymond dan keluarganya benar-benar bahagia. Dan tidak lupa pula Raymond memberitahukan kabar bahagia itu pada kedua orang tua Caramel.
Setelah memberi kabar orang tua mereka, Raymond segera masuk ke dalam ruang IGD dan menunggu istrinya tersadar dari pingsannya.
Tangan Caramel tidak lepas dari genggaman tangan Raymond. Sesekali Raymond menciumi tangan Caramel yang masih belum sadar dari pingsannya.
Mata Caramel perlahan-lahan terbuka dan sedikit mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menyesuaikan binar cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.
"Sa-sayang.... Sayang kamu sudah bangun? Apa ada yang sakit?" Raymond berucap gugup melihat istrinya sudah sadar.
Caramel melihat sekitarnya dan dia merasa aneh diantara banyak orang dan bau obat-obatan yang menyengat masuk ke dalam indera penciumannya.
"Aku di mana? Aku kenapa?" pertanyaan itu lolos dari bibir Caramel begitu saja.
"Ray, selamat ya... selamat kamu akan menjadi seorang Daddy," tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang berseru menyela ucapan Raymond.
Raymond dan Caramel menoleh ke arah sumber suara, dan mereka melihat Mommy Grace dan Daddy Nathan berjalan mendekat ke arah mereka.
"Maaf, dilarang bersuara keras atau membuat keributan di sini," seorang perawat memperingatkan Mommy Grace.
"Maaf," jawab Mommy Grace malu, namun tetap terlihat binar bahagia pada wajahnya.
"Mommy.... Daddy...," ucap Raymond kaget melihat kedua orang tuanya yang sudah berada di sana.
"Apa... apa anak yang dimaksud Mommy itu anakmu dan Clara?" mata Caramel berkaca-kaca dan suara Caramel bergetar serta sedikit tersendat ketika bertanya pada Raymond.
"Clara? Apa maksudmu Sayang?" Raymond merasa bingung dengan pertanyaan dari Caramel.
"Mommy bilang.. ka-kamu akan menjadi Daddy. Apa.. apa benar karena aku tidak kunjung hamil, jadi kamu... kamu menghamili Clara?" kini air mata Caramel sudah menetes membasahi pipinya.
__ADS_1
"Kamu salah Sayang. Memang aku akan menjadi seorang Daddy, tapi bukan dengan Clara, aku menjadi Daddy dari anak yang ada di sini," Raymond mencoba menjelaskan pada Caramel dan dia mengusap perut Caramel untuk menunjukkan letak anaknya.
"Kamu bercanda? Yang hamil itu Clara dan dia mengaku sedang mengandung anakmu," Caramel mulai emosi dengan disertai isakan tangisnya.
"Dan Clara berbohong. Dia mengandung anak Zayn, sedangkan kamu mengandung anak Raymond. Mommy akan jadi Grand Ma," Mommy Grace berekspresi sangat bahagia.
Terlihat jelas ekspresi bingung di wajah Caramel. Hingga Raymond akan menjelaskannya, namun terhalang oleh seorang dokter yang memeriksa kembali keadaan Caramel.
"Istri Bapak sudah boleh pulang, dan Bapak bisa memeriksakan keadaan kandungan istri Bapak di bagian Sp.OG. Saya permisi dulu," ucap dokter tersebut yang merupakan dokter yang sama dengan yang memeriksa Caramel tadi.
"Kandungan?" ceplos Caramel yang masih bingung dengan apa yang terjadi.
Raymond mengerti istrinya masih bingung dan belum mengerti apa yang terjadi karena sebelum dia pingsan, dia mendengar kabar yang membuatnya berpikir buruk tentang Raymond.
Perawat mengambilkan kursi roda untuk Caramel dan Raymond mengangkat tubuh Caramel untuk memindahkannya ke kursi roda tersebut.
"Silahkan kebagian Sp.OG Pak," ucap perawat tersebut dan diangguki oleh Raymond.
Mommy Grace dan Daddy Nathan mengikuti Raymond yang duduk di kursi roda yang di dorong oleh Raymond. Mommy Grace dan Daddy Nathan berjalan berdua di belakang Raymond dan Caramel dengan perasaan bahagia dan tangan Daddy Nathan berada di pinggang istrinya persis seperti Raymond ketika berjalan dengan Caramel.
Tiba di bagian Sp.OG, Raymond segera masuk ke ruang pemeriksaan yang sudah ditunjukkan oleh perawat yang mengantarkan mereka dari ruang IGD tadi.
Caramel hanya diam saja mencoba menelaah dan mempercayai apa yang sedang terjadi padanya saat ini. Ketika dokter memeriksa perut Caramel dengan alat USG dan menjelaskan pada mereka semua, rasanya Caramel tidak percaya dan air matanya mengalir begitu saja membasahi pipinya.
"Apa... apa aku benar-benar hamil?" ucap Caramel ragu dan gugup.
"Iya Sayang, lihat itu... itu janin yang ada di kandunganmu," Raymond memberitahu Caramel dengan menunjuk layar monitor yang menggambarkan dalam kandungan Caramel.
"Benarkah?" Caramel bertanya kembali seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Raymond mengangguk, dan Caramel melihat Mommy Grace dan Daddy Nathan yang ikut mengangguk ketika Caramel melihat mereka dan dokter yang memeriksa Caramel pun mengangguk sambil tersenyum.
"Selamat, kandungan ibu sudah berusia sekitar lima minggu," ucap dokter tersebut untuk meyakinkan Caramel.
"Yeee... aku jadi Mommy....," tiba-tiba Caramel bersorak menyatakan kegembiraannya dan itu membuat semua orang di dalam ruangan pemeriksaan tersebut tertawa melihat tingkah Caramel.
__ADS_1