
Pak Sarno jadi sibuk mulai dari pagi, bukan disibukkan dengan pekerjaan, melainkan sibuk karena mengurusi Clara yang merengek minta di panggilkan Zayn. Clara tidak mau orang tuanya tahu jika dia berada di rumah sakit, dia hanya mau bertemu dengan Zayn saja.
Melihat Clara yang seperti itu Pak Sarno jadi trenyuh hatinya. Karena biasanya Clara sangat angkuh pada siapapun. Memang selama ini yang bisa menangani Clara hanya Zayn. Semua mengatakan bahwa Zayn merupakan pawang dari Clara, sedangkan Caramel merupakan pawang dari Raymond.
Akhirnya Pak Sarno menyerah menghubungi Zayn, karena ponsel Zayn tidak bisa dihubungi sama sekali. Akhirnya Pak Sarno meninggalkan Clara menuju restoran menemui Raymond.
Pak Sarno meminta Raymond menghubungi Zayn, tapi Raymond mengacuhkan Pak Sarno. Raymond tidak menanggapi permintaan Pak Sarno, hingga Pak Sarno mengatakan jika Raymond yang harus ke sana menggantikan Zayn jika Raymond tidak mau menemukan Zayn untuk menemani Clara karena Raymond merupakan teman Clara selain Zayn.
Mendengar hal itu, Raymond menjadi kesal karena kini Caramel menatapnya dengan tajam meskipun Caramel berada di wilayah pastry, ternyata Caramel mendengar apa yang Pak Sarno bicarakan sedari tadi.
Akhirnya dengan berat hati Raymond menghubungi nomer Zayn yang dikhususkan untuk keluarganya. Dan benar saja, Zayn menjawab panggilan dari Raymond.
"Cepat kamu ke rumah sakit jika tidak mau istrimu mati!" ucap Raymond ketika Zayn baru saja mengangkat telponnya dan Raymond segera mematikan teleponnya setelah dia selesai mengatakan apa yang ingin dia katakan.
Zayn yang di suatu tempat sedang menenangkan pikirannya merasa tidak enak mendengar ucapan Raymond. Dia merasa ingin sekali bertemu dengan Clara. Namun Zayn kembali mengingat kebohongan Clara dihadapan kedua orang tua Raymond. Mengingat itu Zayn tidak lagi memikirkan ucapan Raymond ditelepon tadi.
"Gimana Chef? Kapan Zayn akan datang?" Pak Sarno bertanya pada Raymond setelah Raymond menutup teleponnya dengan Zayn.
Raymond hanya mengedikkan bahunya sebagai tanda tidak mengerti. Pak Sarno mendengus kesal dengan jawaban Raymond yang tidak membantunya sama sekali.
"Ayolah Chef, telpon Zayn lagi bilang ini darurat. Ayo Chef, kalau saya yang menunggu Clara terus, bisa-bisa kerjaan saya gak akan kelar. Chef mau kerjaan saya berantakan?" kini Pak Sarno mengancam Raymond.
__ADS_1
Raymond mendengus kesal, tapi tak ayal dia kembali menghubungi Zayn karena Pak Sarno yang sedari tadi mengganggunya. Raymond menghubungi kembali nomer Zayn yang tidak diketahui oleh orang lain. Dan setelah teleponnya tersambung, seperti biasanya, Raymond mengatakan apa yang ingin dia katakan tanpa mendengarkan apa yang dikatakan oleh Zayn.
"Zayn, kamu di mana? Kamu mau istrimu mati di rumah sakit? Ini bicara saja dengan Pak Sarno," setelah Raymond mengatakan apa yang ingin dia katakan, Raymond segera memberikan ponselnya pada Pak Sarno agar bicara sendiri pada Zayn.
Semua yang terjadi pada Clara diceritakan pada Zayn, bahkan hasil dari pemeriksaan dokter pun disampaikan oleh Pak Sarno pada Zayn agar Zayn segera menemui Clara.
Zayn tidak begitu saja percaya pada ucapan Pak Sarno dan Raymond. Lebih tepatnya dia tidak percaya pada Clara. Zayn tidak mau lagi masuk dalam perangkap Clara yang membuatnya kembali terluka untuk kesekian kalinya.
Diri Zayn tidak mau ambil pusing masalah Clara, tapi hatinya mengatakan dia harus mencari tahu tentang kebenaran apa yang diucapkan oleh Pak Sarno dan Raymond tadi.
Berangkatlah Zayn dengan menyamar ke rumah sakit yang diberitahukan oleh Pak Sarno. Pada saat Zayn berada tepat di depan kamar Clara, dia melihat wajah Clara yang sedikit pucat sedang diperiksa oleh dokter dan perawat. Zayn bisa melihatnya karena pintu kamar tersebut dibiarkan terbuka oleh mereka ketika sedang memeriksa Clara.
Zayn segera menyingkir berpura-pura sedang melewati ruangan tersebut dan menanyakan pada dokter yang memeriksa Clara setelah keluar dari kamar Clara.
Dokter tersebut memandang heran pada Zayn, dan Zayn tahu apa arti dari pandangan dokter tersebut.
"Saya suaminya dok. Saya baru saja pulang dari luar kota," ucap Zayn untuk meyakinkan dokter tersebut.
Akhirnya dokter itu percaya dengan penjelasan dari Zayn dan dokter tersebut menjelaskan tentang keadaan Clara pada saat datang ke rumah sakit tadi dan keadaan Clara yang sekarang sesudah mendapatkan perawatan.
Zayn kembali ke depan kamar Clara setelah mendengar penjelasan dari dokter tersebut tentang keadaan Clara. Zayn melihat Clara yang sedang bersedih dengan mengusap-usap perutnya.
__ADS_1
"Zayn... kamu di mana? Aku butuh kamu Zayn... Aku kangen sama kamu... Maafkan aku Zayn atas ucapanku kemarin. Aku hanya menuruti kemauan Mama dan Papa. Aku tidak bisa menolaknya. Aku bingung Zayn harus bagaimana....," Clara mengatakan semua itu dengan berderai air mata di dalam kamar kosong yang hanya ada dirinya sendiri.
Hati Zayn trenyuh dan tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Seorang Clara benar-benar mencarinya. Clara merindukannya dan dia sepertinya memang menginginkan kehadiran Zayn di dekatnya.
Zayn tidak bisa menahan lagi keinginannya untuk mendekat dan memeluk wanita yang sedang mengandung anaknya.
Segera Zayn melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar tersebut ketika melihat Clara menangis sesenggukan dengan mengusap-usap perutnya.
Zayn menghentikan langkahnya tepat di depan Clara yang tertunduk melihat perutnya yang masih diusapnya. Clara pun menghadap ke depan ketika dia melihat seseorang berdiri di depannya.
"Zayn!" Clara berseru diiringi tangisnya mengarahkan kedua tangannya ke samping agar Zayn mau memeluknya.
Dengan segera Zayn memeluk Clara dengan erat dan menciumi pucuk kepala Clara. Setelah itu Zayn sedikit mengurai pelukannya untuk melihat wajah Clara dan mengusap air mata Clara yang membasahi pipinya sedari tadi.
"Jangan bersedih, jangan nangis lagi ya. Gak baik untuk ibu hamil. Kamu harus bahagia, mangkanya aku menghilang agar kamu bisa bahagia dengan tujuanmu," Zayn tersenyum getir mengucapkannya.
Clara menggeleng-gelengkan kepalanya dengan air mata yang kembali menetes setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Zayn.
"Enggak, kamu gak boleh pergi Zayn. Aku membutuhkanmu, bahkan aku tidak bisa tidur semalam karena memikirkanmu dan tidak bisa menghubungimu. Aku gak bisa jauh dari kamu Zayn. Maafkan aku atas ucapanku kemarin, dan kembalilah berada di sampingku," Clara mengucapkannya dengan sungguh-sungguh dan penuh dengan kejujuran.
Terlihat jelas di mata Clara kejujurannya itu, Zayn bisa melihatnya pada mata Clara. Zayn tersenyum dengan menangkupkan kedua tangannya di pipi Clara. Kedua tangan Clara pun memegang tangan Zayn yang berada di pipinya.
__ADS_1
"Sayang, apa kamu mencintaiku?" Zayn bertanya pada Clara dengan menatap dalam manik mata Clara untuk mencari kejujuran dari mata itu.
Clara pun mengangguk tanpa ragu dengan menatap Zayn. Tanpa menunggu lama, Zayn mulai mencium bibir Clara dan membuat Clara terbuai dalam ciuman Zayn yang penuh cinta padanya.