
"Ayo masuk," Chef Raymond menggandeng tangan Caramel dan memaksa Rhea masuk ke dalam apartemennya.
"Chef gak ada yang marah?" Rhea bertanya dengan nada takut.
"Marah? Siapa?" Raymond menyuruh Rhea duduk di sofa dan menekan remote TV agar Rhea bisa lebih nyaman berada disitu.
"Ya kali aja yang tinggal sama Chef marah kalau aku datang kesini," Rhea menjawab tidak melihat Raymond, namun dia sibuk menekan-nekan remote untuk memindah-mindahkan channel TV.
"Aku tinggal sendirian sekarang Rhea, besok kamu yang akan tinggal disini bersama ku," Raymond mengedipkan sebelah matanya membuat Rhea salah tingkah.
"Hahaha... kamu tuh ngegemesin," Raymond mencubit pipi Rhea.
"Awww.... Chef... iiih kebiasaan deh nyubit-nyubit," Caramel mengelus-elus pipinya yang dicubit oleh Raymond tadi.
Tok... tok.. tok...
Masih dengan tawanya, Raymond beranjak membukakan pintu untuk mempersilahkan Dokter yang akan memeriksa Caramel.
"Silahkan masuk Dok," Raymond membawa Dokter Fahmi ke ruang tamu.
Caramel kaget melihat sosok orang yang menggunakan jas putih berjalan ke arahnya. Caramel tahu bahwa itu Dokter yang Raymond panggil untuk memeriksanya. Tadi sewaktu di mobil sebelum berangkat ke apartemennya, dia sempat mengirim pesan pada Dokter Fahmi untuk ke apartemennya dengan membawa peralatan medis untuk memeriksa seseorang setelah sadar dari pingsan.
"Aku udah sembuh kok. Gak mau... gak mau diperiksa....," Caramel hendak melarikan diri, namun ditangkap oleh Raymond.
Caramel memberontak ingin melepaskan diri dari cengkraman Raymond, namun apa daya, kekuatannya tak bisa melawan Raymond. Jadilah dia tetap menjadi tawanan Raymond. Sekarang ini dia ada di pangkuan Raymond untuk diperiksa oleh dokter. Ada-ada saja tingkah mereka ini, hingga Dokter Fahmi menggeleng tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Dokter Fahmi merupakan dokter pribadi Raymond yang tahu betul tentang sikap, sifat, perilaku dan kebiasaan Raymond. Karena Fahmi merupakan sahabat Raymond mulai dari mereka kenal di bangku SMP. Jadi dia tahu jika Raymond tidak pernah bersikap seperti ini terutama pada lawan jenisnya.
"Cepetan periksa dia," suruh Raymond pada Fahmi.
"Ok tapi tenang dulu ya jangan gerak-gerak, takutnya ada yang memberontak di bawah sana," Fahmi menggoda Raymond yang menatap datar padanya.
"Sans Bro, sini biar aku periksa," Dokter Fahmi mengeluarkan stetoskopnya untuk memeriksa Caramel.
"Apanya Dok yang memberontak di bawah? Emang ada siapa sih Dok di bawah?" Caramel bertanya pada Dokter Fahmi namun dia mencari jawaban pada Dokter Fahmi dan Raymond dengan melihat wajah mereka bergantian.
"Pfttt.... ," Dokter Fahmi menahan tawanya karena Raymond menatap tajam padanya.
Dokter Fahmi menahan tawanya sebisa mungkin sambil memeriksa tekanan darah Caramel.
"Udah kamu diem aja," Raymond membekap mulut Caramel dengan telapak tangannya.
"Mmmmmm...," Caramel berusaha bersuara dan menggerak-gerakkan tubuhnya agar Raymond melepaskan tangannya dari mulutnya dan agar dia diturunkan dari pangkuannya.
"Diem Ca, Dokter lagi meriksa kamu tuh," Raymond masih memegang erat tubuh Caramel dalam pangkuannya dengan tangan kirinya, dan tangan kananya membekap mulut Caramel.
"Mmmmm....," Caramel mencoba bersuara kembali.
"Diem Caca... kalau gak diem dicium nih," ancam Raymond pada Caramel.
Mendengar ancaman Raymond yang akan menciumnya jika dia tidak diam, maka Caramel menghentikan suara dan gerakan tubuhnya. Ancaman Raymond langsung berhasil mendiamkan Caramel yang sedari tadi tidak bisa diam.
Dokter Fahmi tertawa melihat dua orang di depannya ini. Dokter Fahmi berkesimpulan bahwa mereka adalah pasangan yang unik dan seru. Setelah Dokter Fahmi memeriksa keadaan Caramel, dia menuliskan resep vitamin untuk dikonsumsi oleh Caramel.
Caramel mengerucutkan bibirnya setelah diturunkan dari pangkuan Raymond. Dia segera berpindah ke sofa dan kembali menonton acara TV yang tadi sudah dia lihat.
Raymond tersenyum geli melihat tingkah gadis yang disukainya itu.
"Pacar, tunangan atau calon istri?" Dokter Fahmi bertanya pada Raymond ketika mereka sudah ada di depan pintu.
"Semuanya. Beneran dia gapapa kan?" tanya Raymond pada Dokter Fahmi dengan nada khawatir.
"Gapapa, tenang aja Rey, tadi dia cuma kelelahan dan belum makan. Tensinya rendah, suruh istirahat yang cukup. Jaga dia baik-baik, masa' iya pasangan Chef Raymond bisa pingsan gara-gara gak makan? Lucu kan?" Dokter Fahmi tertawa mengejek Raymond.
"Udah sana pulang gak usah ngejek terus," Raymond mendorong-dorong tubuh Dokter Fahmi agar cepat keluar dari apartemennya.
Dan terdengar suara Dokter Fahmi yang masih tertawa di depan pintu meskipun pintu sudah ditutup oleh Raymond.
"Udah gak usah manyun gitu bibirnya," Raymond duduk di sebelah Caramel.
__ADS_1
"Biarin," Caramel masih menatap layar TV dengan bibir yang masih tetap lencang depan.
"Pengen dicium tuh tandanya bibirnya di maju-majuin," Raymond menggoda Caramel kembali.
Sontak saja Caramel melipat bibirnya ke dalam agar tidak kelihatan maju lagi. Takutnya Chef tampan di sebelahnya ini khilaf.
"Hahaha.... Caca... Caca...," Raymond mengacak-acak rambut Caramel dengan gemas.
Tok... tok.. tok...
"Tunggu sebentar," Raymond beranjak membukakan pintu.
Masuklah waiter mengantar beberapa makanan menggunakan troli. Makanan itu diletakkan di meja makan, kemudian waiter keluar dengan membawa troli kosong tersebut.
"Yuk Ca makan dulu," Raymond menghampiri Caramel mengajaknya untuk makan.
"Bentar Chef nanggung," mata Caramel tetap menatap layar TV.
"Makan dulu Ca," Raymond gemas dengan Caramel yang tidak memindahkan matanya dari layar TV.
"Bentar Chef.... nanggung," Caramel tidak bergerak sedikit pun.
Karena Caramel mengabaikannya, Raymond mengangkat tubuh Caramel menuju kursi makan. Caramel kaget karena tiba-tiba tubuhnya melayang dan ringan. Dia menoleh ke bawah, ternyata dia sudah tidak berada di kursi. Dan dia menoleh ke samping ternyata ada dada yang tidak asing baginya, dada yang hari ini berkali-kali dilihatnya. Ah, dia berada di gendongan Chef tampan itu lagi. Caramel seperti terhipnotis mencium bau parfum Chef Raymond yang hari ini selalu menempel di hidungnya.
Chef Raymond heran dengan Caramel yang diam saja saat digendongnya.
Tumben diem aja, biasanya gerak-gerak berontak minta diturunin, Raymond membatin.
Dilihatnya ke bawah, tepatnya wajah Caramel yang sedang berada dalam gendongannya. Raymond heran melihat Caramel yang terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"Kamu lapar Ca?" Raymond bertanya pada Caramel yang masih terdiam dalam gendongannya.
Caramel mengangguk.
"Kamu mau jadi pacarku?" Raymond sedang mode jahil sekarang ini.
Caramel mengangguk.
Caramel kembali mengangguk.
Raymond mengecup bibir Caramel dengan singkat dan mendudukkannya di kursi makan. Caramel tersadar ketika bibirnya merasakan benda kenyal yang menempel pada bibirnya.
"A-apa?" Caramel tersadar ketika dia sudah duduk di kursi, namun dia tidak mendengar apa tadi yang Raymond bicarakan.
"Kamu sudah menjawab mau jadi pacarku, dan kamu berjanji akan menikah denganku," Raymond masih saja menjahili Caramel.
"Hah? Apa?" Caramel kaget mendengar perkataan Raymond.
"Udah makan dulu biar gak pingsan lagi," Raymond menyuapkan satu sendok penuh nasi goreng pada mulut Caramel.
"Aupp... emmm...," Caramel tidak bisa berbicara karena mulutnya penuh dan dia harus mengunyahnya dan menelannya agar bisa berbicara.
"Chef kira-kira dong, masa' aku disuruh makan sesendok penuh," Caramel berbicara setelah menelan makanannya.
"Habisnya kamu nanya melulu sih. Itu dihabisin dulu makanannya baru ngomong lagi," Raymond menyuapkan makanan pada mulutnya, dan sendok yang dipakainya sama dengan sendok yang dipakainya untuk menyuapi Caramel.
Dengan terpaksa Caramel menghentikan keinginannya untuk bertanya, dan dia memakan makanan yang ada di hadapannya.
Setelah selesai makan, Caramel diajak Raymond untuk pergi ke apotek dan sekalian mengantar Caramel pulang.
Di dalam mobil pada saat mengantar Caramel pulang Raymond bertanya,
"Kok diem aja, biasanya rame gak bisa diem?"
"Lagi irit daya Chef, lagian Caca lupa tadi mau ngomong apa," Caramel menggaruk-garuk kepalanya sembari berpikir.
"Hahaha... ada-ada aja kamu Ca. Udah sampai nih. Ya udah kamu cepat istirahat ya, langsung tidur. Besok kita ketemu lagi," Raymond berkata sebelum Caramel turun dari mobilnya.
"Bye Chef, makasih ya buat makanan dan vitaminnya," Caramel menunduk sedikit, dia melongok ke dalam kaca mobil dan tersenyum manis sebelum meninggalkan Raymond.
__ADS_1
Raymond mengangguk dan membalas senyum Caramel.
Tring...
Suara notifikasi pesan terdengar dari ponsel Raymond. Namun Raymond tidak membukanya, dia melajukan mobilnya menuju restauran.
Sesampainya di parkiran restauran dia membuka pesan yang tadi belum dibukanya.
Dia memasang wajah murka setelah membaca pesan tersebut.
Raymond kembali ke dalam Kitchen. Dia mengabaikan semua pertanyaan orang yang menanyakan kepergiannya tadi. Dia tidak membuka suara atau pun menjawab pertanyaan mereka karena suasana hatinya sedang buruk.
"Chef dari mana aja kok baru muncul?" Tina-tiba Nindi ada di depan Chef Raymond.
Sudahlah suasana hati Raymond sedang buruk malah datanglah si ular betina yang memperkeruh suasana hatinya.
Chef Raymond melirik tajam padanya dan meninggalkan Nindi yang sok akrab dengannya.
Nindi mendengus kesal melihat Chef Raymond yang tak juga merespon pertanyaannya atau pun bersikap manis padanya.
Dalam situasi hati yang buruk, Raymond selalu ingat dengan Caramel yang selalu bisa membuatnya tersenyum bahkan tertawa. Gadis itu memang selalu bisa menghibur Raymond dimana pun dan kapan pun.
Diambilnya ponselnya dari dalam sakunya.
[Selamat malam sayang]
[Sampai jumpa besok😘]
Raymond mengirimkan pesan pada Caramel. Tiga menit kemudian dia mendapatkan balasan dari Caramel.
[Chef salah kirim pesan ya? Ini Caramel Chef]
Raymond membalas kembali pesan Caramel.
[Ya memang pesan ini buat pacarku yang tidak lama lagi akan menjadi istriku]
Dua detik kemudian Raymond kembali mendapat balasan dari Caramel.
[Tuh kan salah kirim, melek dong Chef biar gak nyasar ngirim pesannya, kalau Caca keburu baper gimana hayo...]
[ Ya gapapa, kan emang kamu pacarku yang otw jadi istriku]
Uhuk... uhuk... uhuk...
Caramel tersedak ketika meminum vitamin yang dibelikan oleh Raymond sambil membaca pesan dari Raymond. Dia tidak percaya dengan apa yang dia baca. Dia takut ada masalah dengan matanya. Kini Caramel mengucek-ucek matanya, melebarkan pupilnya agar bisa melihat dengan jelas pesan Raymond tadi. Dibacanya berkali-kali namun tetap sama. Dia bingung harus membalas apa pesan tersebut. Ditengah kebingungannya, sambil berpikir dia merebahkan tubuhnya di atas kasur, tanpa sengaja dia tertidur tanpa mendapatkan jawaban dari kebingungannya tadi.
Besoknya, Caramel di depan lemari bajunya dia mondar-mandir, ingin rasanya dia tidak masuk kerja, namun dia tidak ada surat dokter untuk ijin sakit. Mau membolos tapi tidak tau alasannya apa. Padahal masalah yang sangat gampang bagi orang lain, namun jadi sulit ketika Caramel yang memikirkannya. Akhirnya dengan berat hati dia mengganti pakaiannya dengan seragam kerjanya dan memakai jaketnya.
Kini dia sudah siap untuk berangkat kerja. Caramel diantar oleh Ayahnya menuju tempat kerjanya. Ayahnya segera pulang setelah menurunkan Caramel di parkiran. Caramel kembali dilema, antara masuk atau balik, sama seperti waktu itu. Dia berdoa agar tidak ada kejadian yang membuatnya sakit hati lagi karena firasatnya ini yang ingin kembali pulang seperti waktu itu. Dipejamkannya matanya, dia berdoa dalam hati. Setelah itu dia langkahkan kakinya untuk melewati parkiran dan masuk ke dalam kantor.
Di parkiran dia bertemu dengan Pak Irfan. Caramel mengucap salam padanya. Pak Irfan tersenyum genit padanya. Caramel merinding melihat senyuman yang diberikan Pak Irfan padanya.
Tiba-tiba Pak Irfan merangkul pundak Caramel dari samping dan berkata,
"Caramel, kamu mau gak nanti malam jalan ke Mall sama saya?"
Hah?" Caramel bingung dengan pertanyaan Pak Irfan.
"Ngapain Pak?" Caramel bertanya sembari melepaskan tangan Pak Irfan dari pundaknya.
"Jalan, makan, belanja apa pun kemauan kamu pasti saya belikan. Gimana?" Pak Irfan mencoba merangkul kembali pundak Caramel.
"Buat apa Pak? Kan saya gak ulang tahun?" Jawab Caramel dengan polosnya dan dia melepaskan kembali tangan Pak Irfan yang kembali berada di pundaknya.
"Kan kamu biasa sama Chef Raymond, gantian dong nanti malam sama saya, mau main di mana pun saya sanggup meskipun mahal," Pak Irfan mengedipkan satu matanya dengan genit pada Caramel.
Caramel menghentikan langkahnya, dia bingung dengan perkataan Pak Irfan karena separuh hatinya mengatakan bahwa Pak Irfan sedang menggoda dan merendahkannya, namun separuh hatinya mengatakan bahwa Pak Irfan bercanda dan bermaksud lain yang maksud dari perkataannya itu tidak dimengerti oleh Caramel.
Pak Irfan ikut menghentikan langkahnya, dia memandang Caramel menunggu jawaban dari Caramel.
__ADS_1
Ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan Caramel dan Pak Irfan. Pendengarannya dia pasang baik-baik sehingga dia mendengar semua percakapan mereka. Dia begitu marah, rahangnya mengeras, tangannya mengepal erat, sepertinya dia sudah siap melayangkan tinjunya pada orang tersebut.