
Raymond dan Caramel kaget mendengar ketukan dari luar kaca mobil. Dan bertambah kaget karena melihat Ayah dan Ibunya sedang memergoki mereka sedang berciuman di dalam mobil.
Dengan ketakutan yang luar biasa, Caramel turun dari mobil. Berbeda dengan Raymond yang bisa menetralkan kegelisahannya, dia hanya berharap dengan kejadian tersebut mereka akan segera dinikahkan.
Caramel mengikuti Ayah dan Ibunya masuk ke dalam rumah. Raymond berjalan mengikuti Caramel di belakangnya.
Kini mereka duduk berkumpul di ruang tamu. Pandangan mata Ayah seperti menghunus pada Raymond. Sedangkan Ibu menatap tidak percaya pada Caramel.
"Ehem... ada yang mau kalian jelaskan?" tanya Ayah mengawali pembicaraan.
"Emmm... Ayah, maaf," ucap Caramel dengan suara bergetar.
"Kamu... ehem... siapa nama kamu?" tanya Ayah dengan tegas.
"Raymond Pak. Maaf atas kekhilafan saya, dan saya ingin menikahi Caramel Pak," jawab Raymond tidak kalah tegas dengan Ayah Caramel.
"Apa kamu bercanda?" tanya Ayah dengan nada sedikit tinggi.
"Tidak Pak. Sebenarnya sudah dari kemarin-kemarin saya ingin datang melamar Caramel, namun saya masih menunggu kedatangan kedua orang tua saya yang masih dalam perjalanan bisnisnya," Ucap Raymond tanpa ragu.
Ayah menoleh pada Ibu Caramel dan Ibu pun mengangguk. Kemudian Ayah mengalihkan pandangannya ke Caramel yang sedang menundukkan kepalanya sedari tadi.
"Apa kamu benar-benar serius ingin menikah dengan anak saya Caramel?" tanya Ayah pada Raymond.
"Iya Pak. Saya sangat mencintai Caramel, anak Bapak. Jadi saya mohon agar Bapak dan Ibu mengijinkan saya untuk menikahi anak Bapak," Raymond meminta restu dengan kebanggan dirinya.
"Bagaimana Caramel, apa kamu bersedia menikah dengan dia?" tanya Ayah pada Caramel.
Caramel masih tertunduk dan dia bingung untuk menjawab apa. Sebenarnya dia juga akhir-akhir ini merasakan adanya cinta dalam hatinya untuk Raymond, namun dia takut jika dia tidak bisa diterima dalam keluarga Raymond yang tentunya berbanding terbalik dengan kehidupan keluarganya.
"Ca, Ayah jawab pertanyaan Ayah," ucap Ibu dengan nada lembut dan memegang tangan Caramel untuk menyatakan dukungannya.
Caramel mendongak menatap Ayah, Ibu dan Raymond. Matanya melihat mata Raymond yang berbinar dan penuh harap padanya.
"Emmm... apa bisa Caca pikirkan dulu?" ucap Caramel ragu.
"Ca... bukankah kamu tadi sudah bersedia? Ayolah Ca, aku gak bisa jauh dari kamu," ucap Raymond yang tidak sungkan berada di depan kedua orang tua Caramel.
Caramel menundukkan kepalanya kembali untuk berpikir.
"Apa yang kamu pikirkan Ca?" tanya Raymond tidak sabar.
"Aku... aku... aku takut," ucap Caramel dengan suara lirih.
"Takut? takut kenapa Ca?" tanya Raymond khawatir.
"Takut tidak diterima keluarga besarmu, dan... dan takut kejadian boneka Anabelle terjadi lagi," jawab Caramel masih dengan suara lirihnya.
Raymond memejamkan matanya. Andai saja sekarang ini mereka sedang berdua saja, pasti Raymond akan menenangkan gadisnya itu dengan memeluknya. Tapi sekarang mereka sedang di depan kedua orang tua Caramel yang memperhatikan setiap gerakan dan perkataan mereka.
"Ca, kamu tau kan Daddy sama Mommy setuju sama kamu, mereka suka sama kamu, buktinya mereka gak nolak kamu kan ketika aku bilang ingin menikahimu. Dan untuk wanita yang mengusik kita, aku berjanji tidak akan memberi mereka kesempatan, kapanpun itu, aku janji Ca," Raymond duduk di depan Caramel dengan kedua lutut yang menjadi tumpuannya di lantai.
"Apa maksudnya ini?" tanya Ayah yang tidak sepenuhnya mengerti dengan yang dibicarakan Caramel dan Raymond.
Raymond menoleh ke arah Ayah Caramel dan dia kembali duduk berhadapan dengan Ayah Caramel.
"Saya berjanji Pak, akan selalu menjaga, melindungi dan membahagiakan Caramel sebagai istri saya," ucap Raymond dengan tegas.
__ADS_1
Ayah dan Ibu diam mengamati Raymond yang menurut mereka tidak ada yang perlu diragukan lagi dari kesungguhannya.
Ayah kembali menoleh pada Ibu Caramel dan Ibu menganggukkan kepalanya kembali sebagai tanda dia menyetujuinya.
"Baiklah, kami memberi restu apabila memang Caramel bersedia menikah denganmu," ucap Ayah Caramel dengan memandang wajah calon menantunya.
Binar bahagia terlihat jelas di wajah Raymond. Matanya menyiratkan kebahagiaan dan bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkungan. Dia tersenyum bahagia mendengar perkataan dari Ayah Caramel.
"Ca, bagaimana, apa kamu setuju menikah denganku?" tanya Raymond dengan tidak sabar.
Caramel memberanikan dirinya untuk mengangkat kepalanya. Mata Caramel beradu pandang dengan Raymond. Caramel menemukan cinta dan kebahagiaan di sana. Seolah terhipnotis, Caramel menganggukkan kepalanya.
"Yesss!" Raymond berseru dengan mengangkat tangannya ke udara.
Ibu Caramel tersenyum melihat tingkah konyol calon menantunya itu. Sedangkan Ayah Caramel hanya menggeleng heran dengan pria yang terlihat sangat berwibawa ini namun bisa bersikap seperti itu hanya karena lamaran nikahnya diterima.
Reflek Raymond mengambil tubuh Caramel untuk dia peluk. Namun suara deheman dari Ayah Caramel membuatnya tersadar jika mereka masih dalam pengawasan.
"Ehem... belum sah, gak usah peluk-pekukan apalagi cium-ciuman," tutur Ayah Caramel pada Raymond.
"I-iya Pak," Raymond nyengir sambil menggaruk belakang rambutnya yang mendadak gatal.
Hati Raymond sangat senang, akhirnya dia mendapatkan restu dari kedua orang tua Caramel. Senyum Raymond selalu mengembang meskipun kini dia sedang di dalam kamar seorang diri.
Sepulang dari rumah Caramel tadi, tak henti-hentinya dia mengirim pesan pada calon istrinya itu. Dan Raymond pun tak lupa menghubungi Mommy dan Daddy-nya jika dia sudah mendapatkan restu dari kedua orang tua Caramel, dan meminta mereka berdua untuk berkunjung ke rumah Caramel untuk melamarnya menjadi istri Raymond.
Caramel menatap layar ponselnya dengan senyuman yang tidak luntur setiap membaca pesan dari Raymond. Namun tiba-tiba bayangan Nindi dan Arabelle kembali membuatnya takut.
Ya Allah, ada berapa Nindi dan Arabelle yang akan aku hadapi nanti? Tolong kuatkan aku Ya Allah.... Caramel menghela nafasnya panjang setelah mengatakan pada batinnya.
Setelah itu Caramel terperanjat kaget karena deringan telepon masuk yang berasal dari calon suaminya yang mengatakan selamat tidur. Pipi Caramel bersemu merah mendengar ucapan selamat tidur dan ungkapan cinta dari Raymond untuknya.
Keesokan paginya, Raymond menjemput Caramel untuk berangkat kerja. Ayah Caramel kini tidak bisa melarangnya untuk mengantar jemput Caramel, karena kini status Raymond akan menjadi calon suami Caramel.
Raymond menyampaikan pada Ayah dan Ibu jika Mommy Grace dan Daddy Nathan akan berkunjung ke rumah mereka untuk melamar Caramel nanti malam. Tentu saja berita itu menjadi kabar baik untuk Ayah dan Ibu Caramel.
Raymond menggandeng tangan Caramel dengan senyum yang selalu menghiasi bibirnya. Sampai-sampai Raymond tidak rela melepaskan tangan calon istrinya itu untuk berpisah meskipun hanya berjarak sedikit saja dengannya.
"Chef, lepasin iiih... malu diliatin orang," rengek Caramel yang meminta Raymond untuk melepaskan tautan tangan mereka.
"Biarin aja deh, biar mereka tahu jika Caramel milik Raymond seorang," jawabnya jumawa tanpa melepaskan genggaman tangannya pada tangan Caramel.
"Iiish Chef iiih... cepetan kerja, nanti kalau dipecat gimana, gak jadi nikah dong?" ceplos Caramel tanpa berpikir lebih dahulu
"Kamu lupa tempat ini punya siapa?" tanya Raymond dengan berbisik.
Sialnya nafas Raymond yang berhembus ditelinga Caramel membuat Caramel merinding.
"Gak ngerti, gak kenal siapa yang punya," jawab Caramel dengan balas berbisik pada telinga Raymond.
"Ahhh... punya teman Daddy sama Mommy kan?" bisik kembali Caramel di telinga Raymond.
Raymond memejamkan matanya menikmati hembusan nafas dan suara desah Caramel yang mampu membuat sesuatu milik Raymond menjadi sesak.
Raymond tersenyum melihat wajah gadis pemilik hatinya ini yang hanya dalam hitungan hari akan dia miliki seutuhnya.
"Kamu salah. Nanti akan ku beritahu setelah kita menikah," balas Raymond berbisik di telinga Caramel.
__ADS_1
"Ada apaan sih bisik-bisik? Ikutan dong...," Pak Sarno tiba-tiba sudah ada di dekat mereka.
Caramel dengan sigap segera menghempaskan tangan Raymond yang menggenggamnya. Kemudian Caramel berlari menuju ke dalam restauran untuk melarikan diri dari Raymond.
"Ah Bapak ganggu aja deh," ucap Raymond sambil meninggalkan Pak Sarno yang terkekeh melihat tingkah Caramel dan Raymond ketika kepergok berduaan dan bergandengan.
Raymond menjalani harinya dengan senyuman yang selalu terukir di bibirnya dan binar kebahagiaan terlihat jelas di wajahnya, membuat semua anggota tim kitchen merasa heran, mereka bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Chef-nya itu.
Hari ini tepat akhir bulan, yang berarti hari dimana diadakan briefing gabungan antar departemen diadakan.
Mata Raymond tak lepas dari sosok Caramel yang terlihat sangat cantik menurutnya. Bahkan diantara semua wanita yang berjejer di sesi briefing saat ini tidak ada yang menandingi pesona Caramelia Faraza.
Nindi terlihat sangat kesal karena melihat Raymond yang tidak lelahnya memandang Caramel. Sedangkan Caramel hanya sesekali melihat ke arah Raymond dan tersenyum padanya.
Zayn tersenyum melihat tingkah saudara sepupunya yang sangat terlihat sedang kasmaran. Kini misinya telah berhasil. Dan misinya selanjutnya adalah menjaga mereka berdua agar jauh dari orang-orang yang menginginkan mereka berpisah.
Malam ini Raymond sudah bersiap dengan setelan jas warna navy yang senada dengan dress yang digunakan oleh Caramel. Pakaian itu sudah disiapkan oleh Mommy Grace yang diantarkan olehnya ke restauran tadi sore. Mommy Grace ingin Caramel dan Raymond tampak serasi meskipun mereka belum resmi menjadi pasangan suami istri.
Raymond sudah lebih dulu datang ke rumah Caramel. Sedangkan Daddy Nathan dan Mommy Grace berangkat dari rumah mereka menggunakan sopir.
Raymond dan Caramel sangat kaget melihat Arabelle berada di belakang Daddy Nathan dan Mommy Grace. Dengan congkaknya Arabelle berjalan berlenggak-lenggok bak model menatap sekeliling rumah Caramel.
"Mom, Dad, apa-apaan ini? Kenapa dia harus ikut? Bukankah dia harus pulang hari ini?" tanya Raymond kesal pada Mommy dna Daddy-nya.
"Sorry Ray, dia memaksa ikut dan tidak mau pulang jika tidak diijinkan ikut kesini," ucap Mommy Grace menyesal.
"Tapi kenapa kalian tidak memberitahu ku?" tanya Raymond kesal.
"Maaf Ray, Mommy takut kamu akan marah. Tapi tenang saja, dia sudah berjanji tidak akan berulah," Mommy Grace menenangkan Raymond.
"Tante sama Om yakin akan menjadikan wanita ini sebagai menantu kalian? Lihat saja rumah mereka, iyuueh... tak sebanding dengan rumah kalian. Pasti nantinya kalian akan malu," ucap Arabelle dengan mengibas-ngibaskan tangannya seolah ada debu di hadapannya.
"Jaga ucapanmu!" seru Raymond geram.
"Ada apa ini ribut-ribut? Kenapa tidak masuk ke dalam?" tanya Ayah yang keluar dari dalam rumah bersama dengan Ibu.
"Ooh ini orang tua kamu? Berani sekali kalian menikahkan anak kalian yang tidak tau diri ini dengan kelurga terpandang dan kaya raya? Jangan-jangan kalian sekongkol untuk memperdaya mereka sehingga uangnya mengalir ke tangan kalian," ucap Arabelle penuh makian merendahkan Caramek dan keluarganya.
"Tutup mulutmu! Sebenarnya siapa kamu? Berani-beraninya menghina putriku dan keluarga kami," Ayah berseru penuh dengan amarah.
Caramel terduduk di kursi dengan memegang dadanya yang terasa sesak dan air mata yang mengalir di pipinya. Wajah cantik itu kini menjadi penuh kesedihan. Kini ketakutan Caramel mulai nyata. Hatinya kemarin yang sempat ragu mulai terjawab dengan kejadian ini.
Plakk...
Daddy Nathan menampar pipi Arabelle. Dari tadi dia sudah geram mendengar hinaan Arabelle pada keluarga Caramel, ditambah lagi dia menghina keluarga Caramel pada saat Ayah Caramel bertanya tentang siapa dirinya.
"Om...," mata Arabelle berkaca-kaca, dia tidak menyangka Daddy Nathan yang selalu baik terhadapnya kini menamparnya dihadapan keluarga wanita rendahan yang akan menjadi istri Raymond.
"Cukup Arabelle, Om minta kamu cepat tinggalkan negara ini dan kembalilah ke negaramu," ucap Daddy Nathan tegas dengan mata penuh amarah memandang Arabelle.
Bodyguard yang selalu mengintai bosnya itu mendekat dan membawa Arabelle pulang ke negaranya sesuai dengan perintah bosnya yaitu Daddy Nathan.
"Maaf Pak, maaf atas kejadian ini. Kami tidak bermaksud seperti itu," ucap Raymond pada Ayah Caramel.
"Maaf, kami sudah banyak mendengar hinaan hari ini. Kami tidak ingin nantinya anak kami menjadi bahan hinaan dari orang lain. Sebaiknya kalian pulang saja," ucap Ayah Caramel dan menarik Caramel untuk masuk ke dalam rumah.
Raymond berlutut di hadapan orang tua Caramel dan Caramel masih berdiri disebelah mereka.
__ADS_1
"Maaf Pak, saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Saya pastikan ini tidak akan terjadi lagi. Saya harap Bapak dan Ibu bisa meneruskan acara ini kembali," Raymond berlutut dan memohon di kaki kedua orang tua Caramel.
Daddy Nathan dan Mommy Grace tidak menyangka jika putra mereka satu-satunya bisa berbuat seperti itu hanya karena seorang gadis biasa yang bernama Caramelia Faraza.