
“Hahahahaha.... emang kamu mau jadi istri saya? Gapapa kalau kamu mau. Saya mah ayo aja. Apa sekalian kita mampir ke KUA?” balas Raymond dengan candaannya.
“Serius Chef?” Caramel menoleh dan memandang lekat mata Raymond.
“Serius. Ayo!” Raymond menoleh sebentar pada Caramel kemudian menghadap ke depan kembali.
“Ish Chef mah kelamaan bergaul sama Pak Sarno dan Pak Revan jadi ikut-ikutan pintar becandanya”, Caramel mengerucutnya bibirnya dan menghadap ke depan kembali.
Raymond tersenyum manis, dalam hati dia benar-benar mengiyakan ajakannya tadi ke KUA untuk menjadi istrinya. “Udah ayo turun”, Raymond menghentikan mobilnya di parkiran
dan mematikan mesin mobilnya.
Caramel celingak-celinguk, melihat sekitar kanan kiri depan belakang tapi dia tidak mengetahui dimana dia sekarang.
“Chef ini kita dimana?” Caramel mendekatkan wajahnya pada wajah Raymond karena Raymond tak kunjung melihat ke arahnya, malah asik melihat ponselnya.
Raymond menoleh, kaget mendapati wajah Caramel sudah ada di depannya. Insting kelaki-lakiannya bangun, tatapannya tertuju pada bibir pink alami merekah milik Caramel. Ingin sekali dia menghisap dan **********.
“Chef....” panggilan Caramel menyadarkan lamunan Raymond tentang bibir Caramel.
Raymond tergagap, untung saja gadis di depannya ini gadis yang masih lugu dan polos, jadi dia tidak tahu apa yang dipikirkan Raymond saat ini. Jika yang ada di depannya ini gadis lain, pasti mereka sudah memanfaatkan keadaan.
“Apa? Kenapa?” tanya Raymond masih agak gugup, dia menetralkan kembali detak jantungnya.
“Ini kita ada dimana Chef? Kan katanya mau antar aku pulang”, Caramel tidak merasa bersalah membuat jantung Raymond tak karuan tadi, dan sekarang malah dia mendekatkan kembali wajahnya karena dia merasa Raymond kurang jelas pendengarannya.
“Loh kan kita mau ke KUA, jadi kita ambil surat-surat saya dulu ya”, goda Raymond yang sukses membuat Caramel terperangah.
Raymond melepaskan sabuk pengamannya. “Ayo turun!”
“Chef, beneran nih kita turun? Ini dimana sih?” Caramel masih enggan beranjak dari duduknya.
“Hahahaha... kamu tuh ya. Katanya tadi mau jadi istri saya”, candanya kembali.
Kemudian Raymond turun dari mobil dan menutup pintunya. Caramel masih duduk manis di kursinya sedari tadi. Dia bingung antara ikut turun atau tidak.
Raymond berjalan memutar dan membuka pintu mobil Caramel.
“Ayo buruan turun, biar bisa cepat pulang. Makanan saya keburu dingin. Saya sudah pesan sedari tadi”, Raymond meraih tangan Caramel untuk keluar dari dalam mobil karena Caramel sepertinya enggan turun.
“Chef beneran kan kita ini mau makan? Gak bohong kan?” Caramel diam berdiri di samping pintu mobil setelah ditutup.
Sedangkan Raymond yang sudah selangkah berjalan lebih dulu kembali berbalik dan menoleh, kemudian dia tersenyum.
“Kamu kok gak percayaan sih jadi orang? Udah ayo jalan”, Raymond menggeret tangan Caramel menuju restauran yang berada di apartemennya. Caramel tidak tahu bahwa di apartemen inilah Raymond tinggal.
Mereka sudah duduk di tempat yang sudah disediakan. Rupanya Raymond reservasi tempat dan makanan ketika tadi di dalam mobil pada saat Caramel bertanya dan dia tidak merespon karena dia sedang fokus dengan
ponselnya, kemudian Caramel menengadahkan wajahnya.
Mereka mulai makan dengan diselingi candaan, memang Caramel gadis periang dan juga suka bercanda, kadang tidak bercanda pun bisa membuat orang disekitarnya tertawa dan terhibur karena sikap polos dan lugunya.
Ternyata di sana ada Pak Sarno dan Pak Anto yang sedang bertemu seseorang untuk melakukan dealing party. Mereka bisa dengan mudah mengetahuinya karena keadaan disekitar meja Raymond dan Caramel memang
sepi, tepatnya memang dikosongkan, karena Raymond tidak ingin acara makannya
terganggu. Dan ternyata lagi dialah pemilik bangunan apartemen tersebut,.jadi
semuanya yang disitu didalam kendalinya.
“Pak, itu si Caramel sama chef Raymond kan? Ngapain mereka makan disini? Bukannya Chef Raymond belum waktunya pulang. Jangan-jangan mereka benar-benar pacaran ya?” Pak Anto sangat kepo sekali sampai-sampai dia memberondong Pak Sarno dengan banyak pertanyaan.
__ADS_1
“Udah gak usah ikut-ikutan urusan orang. Biarin aja mereka kalau memang benar pacaran”, Pak Sarno berlalu meninggalkan restauran tersebut agar Pak Anto tidak lagi mencari tahu tentang mereka.
“Eh iya tadi katamu Chef Raymond tinggal disini kan Pak? Lah ngapain itu si Caramel ikut ke apartemennya?” pertanyaan Pak Anto tidak ada putus-putusnya.
“Gak tau, nanti kamu tanya aja sendiri sama Chef Raymond”, Pak Sarno tidak ingin ditanya-tanya lagi tentang mereka karena Pak
Sarno sendiri belum tahu apa yang terjadi, cuma tadi Chef Raymond bilang kalau pada saat di kantor tadi mereka dilarang masuk oleh Revan karena Caramel sedang dipaksa curhat karena dia menangis. Jadi Pak Sarno mengira kalau Caramel sedang ada masalah di tempat kerja, namun Pak Sarno belum sempat mencari tahu.
“Ah Bapak aja yang tanya ke Chef Raymond, Bapak kan yang akrab, saya agak ngeri soalnya, Chef Raymond orangnya dingin gitu”, ternyata Pak Anto nyalinya ciut di depan Chef Raymond.
“Loh kenapa gak berani? Gapapa orangnya ramah kok, kita aja sering bercanda, sama Caramel juga kita sering bercanda, kan Pak Anto tau sendiri Caramel anaknya seru kalau diajak ngobrol”, Pak Sarno mengalihkan pembicaraan.
“Sama saya dia selalu marah-marah”, Pak Anto tak terima Caramel dibilang gadis yang seru.
“Lah dari dulu kan dia gak pernah marah sama Bapak, mungkin Bapak sudah sering menyinggung dia aja jadinya dia marah sekarang”, Pak Sarno membela Caramel.
Mereka kini sudah di dalam mobil dan mobil sudah berjalan menuju restauran.
Sampai di sana, Pak Anto langsung saja mengumbar cerita tentang Chef Raymond dan Caramel yang sedang makan di restauran apartemen tempat tinggal Chef Raymond. Berita itu cepat sekali menyebar dalam hitungan detik. Memang benar kata Pak Anto waktu itu, Caramel bak artis di tempat itu.
Raymond kembali ke restauran setelah dia mengantar Caramel pulang. Dia merasa semua
orang menatapnya dengan tatapan berbeda, namun dia tidak mempedulikannya. Langsung saja dia menuju dapur untuk melihat kerja para koki ketika ditinggalkannya tadi.
Triiing...
Suara notifikasi pesan masuk pada ponsel Raymond.
Caramel
[Chef,terima kasih atas makanan dan tumpangannya. Meskipun
sudah bisa bercanda. Terima kasih ya Chef sudah bisa membuatku sejenak lupa akan
masalahku. Terima kasih juga sudah ditraktir. Lain kali lagi ya Chef.... hehhehe...]
Raymond tersenyum lebar membaca pesan dari Caramel. Mereka tadi sempat bertukar nomor ponsel setelah Raymond meminta nomor ponsel Caramel.
“Nah gitu dong Chef senyum, keliatan tambah ganteng kalau senyum”, tiba-tiba saja Nindi sudah berada di samping Raymond dan dengan
lancangnya dia mengintip layar ponsel Raymond yang menampilkan pesan dari
kontak yang diberi nama Caramel.
Raymond menoleh kesampingnya. Dia segera memasukkan ponselnya ke dalam saku dan menjauh selangkah dari Nindi, karena Nindi begitu dekat tak
berjarak dengannya. Entah mengapa dia tidak suka padanya meskipun dia belum tahu siapa Nindi dan bagaimana sikapnya.
Nindi adalah waitress senior yang banyak orang bilang dia seorang sugar baby. Tak ayal dia begitu iri pada Caramel karena menjadi rebutan bahkan dijadikan taruhan cowok-cowok di sana, dan juga Pak Sarno ,Pak Lukman dan Revan semuanya dekat dan akrab dengan Caramel, bahkan mereka sangat melindungi Caramel seperti anak mereka sendiri, dan sekarang dia sangat kesal dan iri pada Caramel karena kedekatannya dengan Chef Raymond, seorang yang begitu diidam-idamkan banyak wanita karena ketampanannya dan juga bisa dilihat oleh mereka bahwa dia juga orang yang berduit karena barang dan mobil yang dipakainya sangat mewah dan pastinya mahal. Serta dia lulusan dari kampus populer di luar negeri, jadi mereka menilai jika Raymond lelaki yang berduit dan harus bisa didapatkan.
“Kamu siapa? Kenapa lancang sekali mendekati saya?” Raymond berkata dengan raut yang sangat dingin.
“Saya Nindi Chef”, Nindi mengulurkan tangannya berharap tangannya akan dijabat oleh Raymond.
Namun sayang, Raymond hanya mengacuhkannya saja, dia malah asik melihat buku reservasi untuk acara yang akan datang.
“Chef, minta nomernya dong”, Nindi bergeser mendekati Raymond kembali.
Raymond hanya diam saja dan dia bergeser dua langkah dari tempatnya tadi berdiri. Dia menoleh dan menatap tajam mata Nindi ketika Nindi kembali bergeser mendekatinya. Namun tak ada kata menyerah dalam kamus Nindi sebelum dia mendapatkan yang dia inginkan. Terdengar suara siulan dan ledekan dari para koki yang berada di sana, “suit...suit....Nindi
beraksi....hahahaha....”
__ADS_1
Mereka seperti itu karena mereka tahu siapa Nindi dan tidak ada yang menyukainya sama sekali di sana terutama para cowok, karena mereka merasa jijik padanya,.bahkan mereka bilang kalau pun mereka diberi secara gratis pun mereka tidak mau berhubungan dengan Nindi.
Raymond melempar dengan keras buku
reservasi ke meja stainless di dapur sehingga menimbulkan suara yang menggema di sana, setelah itu dia menatap tajam Nindi dan meninggalkan tempat itu. Dia keluar dari dapur dan masuk ke dalam kantor. Di dalam kantor sudah ada Pak sarno dan Revan, mereka menatap heran Raymond yang terlihat sangat kesal. Kemudian Pak Sarno memberanikan diri untuk bertanya, namun dia hanya mengatakan kalau dia saat ini sedang kesal dengan seseorang. Kemudian Pak Sarno menceritakan kalau dia dan Pak Anto melihatnya bersama Caramel di restauran apartemennya tadi, dan
karena itulah berita sekarang menyebar karena Pak Anto yang dengan cekatannya menyebarkan berita tersebut. Awalnya Raymond kaget mendapati dirinya dan Caramel
diketahui makan bersama, namun dia tidak ambil pusing karena mereka hanya makan
saja di sana, kemudian dia menceritakan awal mulanya dia bisa makan bersama dengan Caramel karena dia bertemu dengan Caramel disaat dia akan pergi ke apartemennya. Dia berniat akan mengantarkan Caramel sekalian pulang karena dia berjalan kaki dan untuk permintaan maafnya karena berita yang tersebar dan dirinya yang direndahkan oleh Gilang gara-gara berita tersebut, dia mengajaknya makan sebelum mengantarnya pulang, dan kebetulan dia sudah reservasi di restauran apartemennya karena sedari tadi dia belum makan dan memang tujuannya pulang
untuk makan di restauran yang berada di apartemennya itu.
Raymond, Revan dan Pak Sarno keluar dari kantor setelah mereka selesai berbicara. Ternyata di sana masih ada Nindi yang setia menunggu Raymond keluar, dia belum jera juga sebelum keinginannya terpenuhi. Raymond hanya.melirik dan melanjutkan jalannya, sedangkan Pak Sarno dan Revan berada di
belakangnya.Tiba-tiba saja Nindi berjalan di sebelah Raymond. “Chef pelit, Caramel aja dikasih nomer ponselnya, kok aku gak
dikasih? Lagian dari pada sama Caramel mending sama aku loh Chef”, Nindi dengan
jumawanya meninggikan dirinya dan merendahkan Caramel.
Sontak saja langkah Raymond terhenti dan dia menoleh ke samping dimana Nindi berada, ”Kamu yang ngaca, kamu gak sebanding sama Caramel”, kemudian Raymond berjalan dengan langkah cepat agar tidak lagi berdekatan dengan Nindi.
Nindi tercengang mendengar perkataan Raymond. Dia tidak menyangka jika Raymond bisa sekasar itu padanya, apalagi di sana ada Pak Sarno dan Revan yang menyaksikan secara langsung. Dia sangat malu, namun niatnya kini
lebih kuat lagi untuk mendapatkannya, karena dia ingin Raymond berada di genggamannya untuk membayar atas rasa malunya hari ini dan tentunya dia akan menjadikan Raymond menjadi miliknya.
Pak Sarno mengejar Raymond yang kini berjalan cepat menuju gazebo dan Revan kembali ke restauran. Sedangkan Nindi masih diam ditempatnya tadi ketika mendengar hinaan dari Raymond, selang beberapa menit dia kembali menuju restauran.
“Sabar Chef, Nindi memang orangnya seperti itu”, kemudian Pak Sarno menceritakan semua yang dia tahu tentang Nindi. Raymond mendengarkannya dan dia memikirkan cara untuk menghindari Nindi dan melindungi Caramel dari mulut orang-orang disekitarnya yang merendahkannya.
Raymond kembali ke dapur dan dia membantu para koki yang tampak sedang kewalahan karena mendadak banyak tamu yang datang. Setelah mereka selesai memasak dan kini mereka sedang senggang, mereka saling bercanda dan megajak Chef Raymond untuk berbincang. Entah kenapa perbincangan mereka membahas tentang Nindi. Mereka membicarakan dan membuat Nindi sebagai bahan lelucon. Dari situlah Raymond tambah yakin, jika penilaiannya pertama kali melihat Nindi sama dengan yang diceritakan Pak Sarno dan rekan-rekannya di dapur.
Hari ini Caramel masuk siang, entah kenapa dia terasa enggan untuk berangkat bekerja. Namun bagaimanapun dia harus berangkat karena tanggung jawabnya pada kerjaannya, dan kebetulan hari ini dia harus mengerjakan laporan untuk dikirimkan ke kantor pusat. Dengan langkah berat dia berjalan masuk tempat kerjanya. Jalan masuk ke tempat kerjanya begitu luas sehingga membuat langkah Caramel semakin bertambah berat. Ingin rasanya rebahan di rumah saja sambil
menonton drama korea dengan menikmati masakan dari Ibunya.
”Ah jadi pengen balik pulang kan kalau kayak gini”, desah Caramel lirih membuat langkah kakinya terhenti.
Kemudian dia berbalik, “Ijin sehari gapapa kali ya”, kemudian dia melangkahkan kakinya. Namun baru dua langkah dia berhenti kembali, ”Tapi kan hari ini banyak kerjaan”, dia berbalik kembali menuju pintu masuk.
Namun langkahnya berhenti kembali ketika hati dan pikirannya enggan untuk masuk, ”Tapi aku kan gak pernah bolos atau ijin. Sekali-kali gapapa kali ya?”, Caramel berhenti
mematung untuk memikirkannya.
Hatinya bergejolak antara masuk kerja atau
tidak. Hanya masalah sepele menurut orang lain, namun tidak untuk Caramel yang dia malah tidak tenang di mana pun dia
berada jika tugasnya belum selesai, karena dia merasa tanggung jawab jadi di
dalam tidurnya pun dia tidak nyenyak, bahkan tidak bisa tidur, ingin sekali cepat pagi agar dia bisa menyelesaikan pekerjaannya di kantor.
Tiba-tiba ada lengan kekar yang mengalung pada leher Caramel. Dia terhenyak dari lamunannya karena berpikir tentang pilihannya antara masuk kerja ataupun tidak. Badan Caramel yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek ini membuat si pemilik lengan tersebut bergerak leluasa untuk mengalung
di leher indah Caramel.
“Napa non bolak-balik kayak setrikaan?” ucap si pemilik lengan tersebut.
Caramel mendongak melihat wajah si pemilik lengan tersebut yang tidak bisa dienyahkan oleh tangan Caramel meskipun dengan tenaga yang super menurutnya.
__ADS_1