Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
89. Dejavu


__ADS_3

Raymond berjalan cepat setengah berlari menyusul Caramel yang masuk ke dalam restoran. Entah mengapa dia merasa cemas melepas istrinya berjalan sendiri saat itu. Dia tidak peduli dengan ucapan orang lain yang mengatakan bahwa dia terlalu memanjakan istrinya atau terlalu bucin pada istrinya. Masa bodoh omongan orang untuk Raymond. Buat dia yang terpenting adalah hubungannya dengan istrinya, kebahagiaan istrinya dan anaknya jika sudah lahir.


Caramel dihentikan oleh Jenny ketika hendak keluar dari restoran.


"Dasar wanita tidak tau diri!" Jenny berkata kasar pada Caramel.


Dari jarak sekitar lima meter Raymond melihat Caramel akan keluar dari restoran, Raymond tersenyum lega dan memelankan langkahnya. Namun mata Raymond terbelalak ketika jaraknya sudah lebih dekat, dia menyaksikan istrinya diperlakukan seperti itu oleh Jenny yang sedari tadi selalu menjelek-jelekkannya.


"Tutup mulutmu wanita rendahan!" Raymond berseru dengan raut wajah penuh emosi mendekat ke arah Caramel dan Jenny.


Tangan Caramel masih dipegang dengan erat oleh Jenny. Dan dia lupa jika masih memegang dengan sangat erat tangan Caramel hingga Caramel meringis kesakitan.


"Lepaskan tangan kotormu itu dari tangan istriku! Jangan coba-coba kamu menyakiti istriku. Kalau sampai itu terjadi, kamu akan tau akibatnya. Ingat itu!" Raymond mengancam Jenny dengan menghempaskan tangannya dari tangan Caramel.


Tubuh Caramel segera dipeluk oleh Raymond dan diajak berjalan menjauh dari Jenny menuju mobilnya. Sedangkan Jenny masih terpaku, dia merasa syok mendapat teriakan dan ancaman dari Raymond, laki-laki yang dicintainya selama ini. Dan dia menatap punggung Raymond yang memeluk istrinya sambil berjalan menjauh dari dirinya.


Kemudian pandangannya beralih pada tangannya yang tadi dipegang Raymond untuk dipisahkan dari tangan Caramel. Dia merasa bahagia tangannya bisa disentuh oleh Raymond meskipun lebih tepatnya dihempaskan, bukan dipegang seperti yang dibayangkan oleh Jenny.


"Kamu gapapa Sayang?" tanya Raymond pada Caramel yang sudah duduk di dalam mobil.


Caramel mengangguk dan saat itu juga Raymond memeluknya dengan erat serta menghujani Caramel dengan ciuman di seluruh wajahnya sehingga membuat Caramel tertawa geli.


"Aku tau kamu mencintaiku, tapi ini sungguh geli," ucap Caramel sambil tertawa geli yang masih mendapatkan ciuman dari Raymond yang entah sudah keberapa kalinya.


Raymond menjauhkan sedikit wajahnya untuk melihat wajah cantik istrinya itu. Lalu dia mengernyitkan dahinya.


"Kenapa?" tanya Caramel yang kini heran dengan ekspresi wajah suaminya.


"Apa kamu cenayang? Kenapa kamu bisa mengetahui apa yang aku rasakan?" pertanyaan Raymond ini berhasil membuat pipi Caramel merona.

__ADS_1


"Ah benarkah ini yang namanya belahan jiwa jika kita saling bisa merasakan apa yang pasangan kita rasakan?" Raymond kembali menggoda Caramel dengan kalimat-kalimat yang membuatnya malu sekaligus senang.


"Ehem... belahan jiwaku, apakah kita akan makan di tempat lain atau langsung pulang?" Raymond kembali membuat wajah Caramel bersemu merah.


Tiba-tiba bibir Raymond mendarat di bibir pink Caramel yang menggodanya ketika memasangkan sabuk pengamannya.


Bibir itu selalu menggodaku, batin Raymond ketika melihat bibir Caramel.


Cup!


"Mmm... manis," ucap Raymond yang kemudian memasang sabuk pengaman untuk dirinya sendiri.


Mata Caramel terbelalak, sepertinya dia pernah merasakan ini sebelumnya.


"Apa ini? Kenapa aku sepertinya pernah merasakannya? Apa ini dejavu? Apa aku pernah merasakan di kehidupanku sebelumnya?" Caramel bergumam lirih namun bisa di dengar oleh Raymond.


"Kamu lupa pernah aku cium seperti itu ketika aku mengantarkanmu pulang?" ucap Raymond sambil terkekeh melihat wajah istrinya yang sangat menggemaskan jika dalam ekspresi bingung seperti itu.


Namun Raymond hanya tertawa melihat kekesalan istrinya yang bertambah menggemaskan dan bertambah kadar keimutannya.


"Habisnya bibir kamu itu udah jadi candu bagiku. Dan beruntungnya aku karena yang mencium bibir itu hanya aku," ucap Raymond dengan bangganya.


Dan setelah berbicara, secepat kilat Raymond mencuri cium kembali pada bibir Caramel dan hanya menempel saja kemudian Raymond melepasnya karena takut istrinya marah padanya.


Namun apa yang Raymond takuti tidak terjadi. Caramel malah dengan sigapnya memegang tengkuk leher Raymond dan mendaratkan bibirnya pada bibir Raymond kemudian Caramel memandu ciuman mereka dengan sangat panasnya tidak kalah dengan ciuman Raymond yang biasa diberikan padanya.


Awalnya Raymond kaget dengan apa yang dilakukan Caramel padanya, namun dalam hati dia bersorak kegirangan dan dia mulai membalas ciuman dari istrinya itu.


Ciuman itu berlangsung selama beberapa menit, kemudian Raymond melepaskan ciuman mereka dan mengusap bibir Caramel yang terdapat sisa-sisa saliva mereka.

__ADS_1


"Dilanjutin di rumah yuk Sayang, kalau di sini terus bisa-bisa terjadi tragedi mobil bergoyang lagi," ucap Raymond sambil terkekeh.


Caramel menundukkan kepalanya, dia merasa malu karena dia duluan yang membuat ciuman tadi terjadi. Dia merasa menjadi wanita agresif.


"Gak usah malu gitu. Aku suka kamu yang seperti itu," Raymond berbisik di telinga Caramel kemudian dia melajukan mobilnya.


Sedangkan Caramel masih tertunduk malu, namun hatinya ber uphoria merayakan kesenangannya diperlakukan seperti itu oleh Raymond.


Seketika Caramel ingat tentang ponselnya. Dia mengambil ponselnya yang dia masukkan ke dalam tas, kemudian dia memasang earphone nya dan memutar video yang direkamkan oleh waitress di restoran tadi.


Raymond mencuri lihat ke arah istrinya dan dia merasa tidak suka jika diacuhkan oleh istrinya.


"Dengerin apa sih Sayang?" ucap Raymond sambil tangannya melepas satu earphone nya, namun ditahan oleh Caramel sehingga tangan Raymond tidak bisa melepas earphone yang masih digunakan Caramel di telinganya.


"Cuma pingin lihat video senam ibu hamil aja kok," reflek jawaban itu keluar dari mulut Caramel.


"Senam ibu hamil? Kamu ingin ikut senam ibu hamil?" Raymond bertanya sambil fokus pada jalanan di depannya, namun sesekali dia melihat ke samping, di mana istrinya sedang duduk di sana.


"Mmm... boleh?" tanya Caramel ragu.


"Boleh tapi harus konsultasi sama dokter dulu ya, dan harus aku temani," jawab Raymond yang merupakan perintah bagi Caramel.


Caramel bernapas lega karena Raymond mempercayai ucapannya yang sebenarnya berbohong padanya. Dan Caramel semakin berbinar ketika melihat video dan mendengar suaranya melalui earphone karena Raymond benar-benar suami yang sangat setia dan mencintainya.


Caramel menoleh ke arah samping, melihat wajah suaminya yang sangat tampan dan tidak diragukan lagi cinta dan kesetiaannya. Reflek Caramel mencium pipi Raymond secepat kilat dan kembali duduk dengan benar di tempatnya.


Raymond kembali dibuat kaget dengan tingkah istrinya. Sepertinya dia dihujani ciuman oleh istrinya hari ini. Raymond tersenyum dan mencubit hidung Caramel dengan satu tangannya karena satu tangannya lagi masih memegang kemudi dan matanya hanya sesekali melihat istrinya.


"Nakal kamu ya....," ucap Raymond sambil terkekeh dan mencubit hidung Caramel.

__ADS_1


Perjalanan mereka menuju rumah sangat menyenangkan, hingga sampai di depan rumah mereka ketika sudah melewati gerbang, mereka dikagetkan dengan sosok wanita yang sangat mereka tidak sukai keberadaannya.


"Clara?!"


__ADS_2