Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
17. Menjadi tawanan sementara


__ADS_3

"Kenapa Pak, apa ada yang salah?" tanya Raymond dengan seringaian yang meremehkan.


"Ma-maksudnya apa ini?" tanya Pak Irfan dengan suara gagap dan menatap Raymond dam Mommy Grace bergantian.


"Pak Irfan, perkenalkan, ini adalah Raymond Xavier anak kami satu-satunya," ucap Daddy Nathan dengan memegang pundak Pak Irfan.


Seketika lutut Pak Irfan bergetar. Rasanya tulangnya sudah luruh, badannya lemas. Dia tak menyangka jika seorang Raymond, Chef yang menjadi bulan-bulanannya karena masalahnya dengan Caramel adalah anak pemilik dari perusahaan tempat dia bekerja.


"Bagaimana Pak, masih mau ngajak calon istri saya ke hotel?" seringaian terbit di bibir Raymond.


"M-ma-maaf Pak," Pak Irfan tidak bisa berkata-kata lagi. Sungguh dia lemah dalam segalanya saat ini.


"Yuk sayang, kita ke dalam," ajak Mommy Grace pada Caramel dengan menggandeng lengan Caramel.


"Mom...," Raymond menarik tubuh Caramel hingga menabrak dadanya.


"Kenapa sih? Mom cuma mau ngajak Caramel masuk ke dalam aja sekalian kita makan bersama," tangan Mommy Grace hendak meraih lengan Caramel namun tubuh Caramel di dekap erat oleh Raymond.


"Mommy gandengan aja sama Daddy. Biar Caramel sama Ray," ucap Raymond yang masih setia mendekap tubuh Caramel tanpa sungkan pada siapapun.


"Dasar bucin," seru Mommy Grace.


"Ya udah biarin aja Mom mereka nyusul, kita aja duluan. Jangan ganggu jiwa muda mereka," tawa Daddy Nathan menyertai ucapannya.


Mommy Grace menggandeng lengan Daddy Nathan meninggalkan mereka menuju ke dalam restauran.


Pak Irfan bingung dia harus bagaimana. Mau pergi dari situ tapi mau ngomong apa untuk pamitan pada Chef Raymond dan Caramel. Tapi kalau tidak pergi dan tetap disitu, dia harus bersikap bagaimana. Keringat dingin menetes dari pelipis Pak Irfan. Dia sangat gugup dan salah tingkah.


Raymond mengacuhkan Caramel yang tangannya mencoba melepaskan tangan Raymond dari badannya. Raymond tetap mendekap erat tubuh Caramel sambil menatap Pak Irfan yang kikuk di hadapannya. Raymond memberikan senyuman meremehkan padanya.


Puas melihat tingkah Pak Irfan yang gugup dan takut seperti itu, Raymond mengajak Caramel berjalan melewati Pak Irfan dengan posisi yang masih sama, Caramel masih di dekap erat Raymond sehingga dia tidak bisa lari kemana-mana.


Tiba di dalam restauran muka Raymond mendadak masam karena mendapati Zayn berada di meja yang sama dengan Daddy dan Mommy-nya.


"Caramel, sini sayang, duduk di sini," Mommy Grace melambaikan tangannya agar Caramel mendekat.


Caramel ingin mendekat, namun tubuhnya tidak bisa keluar dari dekapan Raymond.


"Ray lepasin Caramel biar dia duduk disini. Kita makan bersama," ucap Mommy Grace.


"Gak usah, Caca disini aja sama aku," Raymond menghentikan tubuh Caramel yang memberontak minta dilepaskan dengan memeluknya lebih erat.


"Ray, dia bukan tawanan kamu," ucap Mommy Grace kembali.


"Sebentar lagi dia akan menjadi tawanan ku setelah kita menikah," ucap Raymond dengan entengnya.


"Udah kamu cepat lepaskan Caramel biar dia duduk disini, dan kamu cepat masak makanan yang enak buat kita semua," perintah Daddy Natahan.

__ADS_1


"Ck, gak mau, nanti Caca digodain lagi sama si Zayn," jawab Raymond yang masih belum melepaskan Caramel.


Caramel sudah tidak mau memberontak lagi, karena semakin dia memberontak maka semakin erat tangan Raymond di tubuhnya.


"Udah Ray, sana buruan, Daddy sama Mommy pengen makan masakan kamu. Dan itu calon mantu Daddy suruh duduk manis disini," perintah Daddy Nathan untuk yang kedua kalinya.


"Minta dimasakin yang lain aja deh Dad, Ray mau disini aja jagain Caca," Raymond mulai melepaskan tubuh Caramel dan mengajaknya duduk di kursi yang tentu saja ada di dekatnya.


"Mommy sama Daddy pengen makan masakan anak kami yang katanya Chef tampan berbakat," sahut Mommy Grace.


"Ya udah, yuk Ca ikut ke kitchen," Raymond menarik tangan Caramel yang sedang duduk.


Sungguh Caramel sangat lelah badannya menjadi tahanan Raymond dan tangannya jadi seperti tali yang ditarik-tarik tadi antara Mommy dan Raymond. Dan sekarang Caramel mengalaminya lagi, tangannya ditarik oleh Raymond agar mengikutinya ke kitchen.


"Gak usah, biar Caramel disini aja sama kita. Udah sana cepetan masak," usir Daddy pada Raymond.


"Gak mau Dad, kalau Caca disini, Ray gak mau masak," Raymond duduk kembali di kursinya.


Zayn menahan tawanya melihat kelakuan sepupunya itu.


"Jangan-jangan masakan kamu tidak sesuai dengan harapan kita," sindir Daddy yang membuat jiwa tidak mau kalahnya tertantang.


Raymond berdiri dan menatap Zayn,


"Jangan sekali-kali kamu menggoda calon istriku," ancam Raymond dengan menunjuk muka zayn.


"Hahaha... dasar bucin," seru Zayn menyertai kepergian Raymond.


Raymond dengan berat hati meninggalkan Caramel yang sekarang berada satu meja dengan Zayn.


Raymond dengan cekatan memasak, untung saja dia seorang chef handal yang sudah profesional, jadi meskipun hatinya ingin cepat-cepat menyelesaikan masakannya, namun konsentrasinya tetap pada masakannya dan hasilnya pun tetap enak seperti biasanya.


Raymond membawa satu piring dan diletakkan di depan Caramel.


"Special for you."


"Buat Mommy sama Daddy mana?" tanya Mommy yang berniat menggoda Raymond dan Caramel.


Caramel merasa tidak enak mendengar ucapan Mommy Grace. Dia menundukkan kepalanya, tidak tahu harus bagaimana.


"Itu dibawakan sebentar lagi," jawab Raymond sembari melihat Caramel.


"Sayang, kenapa? Apa dia mengganggumu lagi?" tanya Raymond pada Caramel namun matanya menatap tajam pada Zayn yang tersenyum ketika dilihatnya.


Caramel menggeleng sambil tersenyum. Mommy Grace mengerti jika Caramel merasa tidak enak pada dirinya.


"Sayang, dimakan aja gapapa, kita udah biasa dicuekin Raymond kalau udah ada yang baru," candaan di lontarkan Mommy Grace dan Daddy hanya tersenyum melihat anaknya uang seperti itu.

__ADS_1


Makanan mereka sudah datang, dan semua sudah mendapatkan makanannya masing-masing.


"Baru kali ini Mommy," jawab Raymond pada candaan Mommy-nya.


"Pernah dulu ya Dad, pas Ray punya motor sport baru, malah dia kerjaannya elus-elus motor itu terus, kita dicuekin kan Dad?" sahut Mommy Grace.


Caramel bernafas lega karena yang dimaksud Mommy adalah motor sport-nya Raymond, bukan pacarnya. Tapi Caramel heran dengan dirinya sendiri yang tidak rela jika Raymond bersama wanita lain.


Ah apakah benar aku sudah mencintainya? hati kecil Caramel bertanya.


"Benar-benar makanan spesial ya buat calon istri, beda loh Dad makanannya buat kita," sindir Mommy Grace dengan senyum menggoda.


"Caca alergi seafood Mom," Raymond membela dirinya.


"Benarkah? kalau gitu kamu harus hati-hati ya makannya. Dan kamu Ray memang calon suami idaman," Mommy Grace masih saja menggoda Raymond.


Caramel tersedak mendengar perkataan Mommy Grace.


Zayn menyodorkan gelas yang berisi air putih di depan Caramel.


"Pelan-pelan cantik," ucap Zayn ketika menyodorkan gelas pada Caramel.


Raymond menyingkirkan gelas yang diberikan Zayn dari hadapan Caramel.


"Zayn, kamu jangan berulah. Lagian ngapain kamu ada disini?" ucap Raymond dengan sinis.


"Daddy sama Mommy kamu yang nyuruh," jawab Zayn dengan senyum mengejek.


"Ngapain Daddy sama Mommy ngajakin dia makan bareng kita?" tanya Raymond tidak terima.


"Ya gapapa sayang, dia kan sepupu kamu," jawab Mommy Grace.


"Tapi nyebelin," sahut Raymond.


"Hahaha...," Zayn tertawa melihat reaksi Raymond.


Sepupu? Jadi Zayn sepupu Chef Raymond. Aku harus bagaimana, Zayn terus saja mendekatiku dan merayuku. Apa dia masih berpikir aku gadis yang gak bener ya , batin Caramel sambil mengaduk-aduk makanannya.


"Dimakan dong sayang, kok cuma diaduk-aduk aja. Gak enak ya?" tanya Raymond pada Caramel.


"Em.. enak kok," jawab Caramel sambil tersenyum kikuk.


Raymond mengambil alih garpu Caramel, dan dia menyuapkan pasta pada mulut Caramel.


Mommy Grace dan Daddy Nathan hanya tersenyum melihat keuwuan mereka berdua. Kemudian Mommy Grace dan Daddy Nathan beralih menatap Zayn dan Zayn hanya menganggukkan kepalanya.


Seorang Caramel yang hanya karyawan biasa yang tidak mempunyai jabatan bisa makan bersama orang-orang penting. Hal itu menjadi tontonan dan bahan gunjingan teman-temannya yang berada di luar restoran.

__ADS_1


"S**l*n nih anak. Gak bisa ditinggal sebentar aja udah bisa nggaet mereka. Apa sih kelebihannya itu anak? Awas aja, bakal tau akibatnya dia," suara itu terdengar penuh dengan kebencian.


__ADS_2