Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
6. Direndahkan


__ADS_3

Caramel hendak pergi juga mengikuti Pak Sarno ke kantor, namun tidak sopan meninggalkan orang sendirian, apalagi sudah diberikan minuman.


"Chef gak ke dalam juga?" tanya Caramel bermaksud mengajaknya pergi dari tempat itu.


"Masih pengen disini. Enak disini rindang, adem", Raymond tersenyum menjawab sambil menoleh menatap Caramel.


"Saya mau ke dalam Chef, cuma gak enak mau ninggalin Chef sendirian disini. Apalagi habis dikasih minuman, gak sopan banget kan?" canda Caramel membuat Raymond kembali tertawa.


Ternyata di tempat itu banyak karyawan kitchen yang ada di mushalla dan yang sedang berjalan dari mushalla atau mau ke mushalla, dan ada juga karyawan wanita yang berada disitu menatap sinis pada Caramel. Mereka semua heran melihat Raymond yang bis dekat dan tertawa lepas dengan Caramel. Karena setahu mereka seorang Chef Raymond adalah orang yang tegas, cuek dan bermuka dingin. Bahkan selama ini Raymond tidak pernah tersenyum pada mereka.


"Hahaha.... ada-ada aja kamu ini. Ya udah kamu duluan aja ke dalam, habis ini saya juga akan ke dalam", Raymond menyuruh Caramel pergi dengan mengarahkan dagunya ke arah restauran.


"Ok Chef, Caca duluan ya, makasih minumannya", Caramel mengangkat tinggi botolnya pada saat dia berdiri hendak beranjak berjalan meninggalkan tempat tersebut. Raymond pun tersenyum dan mengangguk.


Yang lain hanya melongo mendengar dan melihat keakraban mereka. Dalam sekejap gosip menyebar di tempat tersebut. Semua membicarakan tentang Caramel dan Raymond. Menurut mereka Caramel mulai beraksi merayu Raymond. Menurut versi cewek-cewek seperti itu, namun menurut versi cowok-cowok, memang pesona Caramel begitu kuat hingga bisa membuat seorang Chef Raymond yang begitu cuek dan dingin bisa nyaman dengannya, bisa bercanda dan tertawa jika bersama Caramel, berbeda sikap jika bersama dengan yang lain, Chef Raymond akan menjadi dirinya yang sebenarnya, Chef yang dingin dan cuek terhadap sekitarnya. Bahkan mereka mengira jika Caramel dan Chef Raymond sedang pendekatan, dan ada juga yang mengatakan bahwa mereka memang sudah berpacaran.


Berita itu pun tak luput dari pendengaran Revan dan Pak Sarno. Revan yang diliputi rasa penasaran bertanya pada Pak Sarno, dan Pak Sarno pun menceritakan kejadian di gazebo waktu itu. Revan mengerti kenapa mereka membuat gosip seperti itu. Dia hanya berharap Caramel tidak mendengar berita tersebut agar dia tidak kembali uring-uringan.


Sore itu Revan berbicara pada Chef Raymond pada saat mereka hanya berdua berada di dalam kantor. Revan bertanya pada Chef Raymond apakah dia mendengar gosip tentang dirinya dan Caramel. Namun Raymond menggeleng tidak tahu apa-apa. Kemudian Revan menceritakan semuanya. Raymond mendesis marah dalam hati, bukan karena gosipnya bersama Caramel, tapi karena mereka merendahkan Caramel dengan mengatakan bahwa Caramel merayunya. Padahal kan Caramel tidak pernah melakukan hal seperti itu pada siapa pun.


Di lain tempat, masih di sekitar restauran, Gilang menghampiri Caramel yang kini sedang berada di kolam ikan. Dia sedang melihat ikan warna-warni yang saling berkejaran, dan sesekali dia memberinya makan. Karena saat ini masih jam 3 siang, jadi suasana tidak begitu ramai, paling juga cuma ada satu atau dua meja saja yang terisi di restauran dan di permainan juga cuma ada beberapa anak saja. Caramel terhenyak ketika di sebelahnya sudah ada seseorang, dia menoleh melihat siapa yang kini berada di sampingnya. Ternyata Gilang, teman kerja Caramel yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri, karena selama inj dia yang selalu mensupport nya dan memberi pengarahan dan juga sangat perhatian padanya. Karena Caramel tidak mempunyai seorang kakak, jadi dia sangat senang mendapatkan sosok seorang kakak pada diri Gilang. Pernah sekali dia memberi kado pada Caramel meskipun bukan hari ulang tahunnya. Caramel menolak, namun dia bilang dia membelinya karena pada saat melihat benda itu dia teringat pada Caramel, dia harap Caramel mau menerimanya dan memakainya.


Dia berkata agar Caramel menganggap kado itu dari seorang kakak, Gilang berkata seperti itu agar Caramel mau menerimanya. Karena Caramel tidak ingin membuat Gilang kecewa, dia sudah begitu baik padanya selama ini, dan hampir tiap hari dia menelepon Caramel hanya untuk saling curhat. Lani, teman dekat Caramel di tempat kerja pernah mengatakan bahwa Gilang menyukainya. Sudah jadi rahasia umum jika Gilang menyukai Caramel. Namun Caramel bersikukuh bahwa mereka hanya sepeti kakak beradik saja. Cuma Lani teman kerja Caramel yang sekat dan akrab dengannya, yang tidak pernah mempunyai pikiran buruk seperti yang lain, namun dia dilarang oleh Revan untuk memberitahu gosip yang menyangkut Caramel dan Chef Raymond, karena takut Caramel bersedih dan uring-uringan seperti sebelum-sebelumnya.


"Kamu ada hubungan apa dengan Chef Raymond?" tiba-tiba Gilang bertanya setelah berada di samping Caramel.


"Hubungan? Hubungan apa maksudnya?" Caramel kaget dan bingung mendengar pertanyaan dari Gilang.


"Kalian gak pacaran?" tanyanya kembali.


"Hah?" Caramel kaget dan bingung hendak menjawab karena pertanyaan itu tiba-tiba saja dia dengar.


"Oh jadi kalian gak pacaran? Jadi hubungan tanpa status? Mending sama aku aja kalau gitu. Bisa tak belikan apapun semua yang kamu mau, barang apapun itu", Gilang mengatakannya dengan sangat emosi.

__ADS_1


Caramel diam terpaku, dia kaget, bingung dan tidak menyangka akan mendengar perkataan tadi dari Gilang, orang yang selama ini dianggapnya sebagai kakak. Karena Caramel hanya diam saja, Gilang langsung meninggalkannya sendirian di tempat itu. Semenit setelah kepergian Gilang, Caramel baru tersadar bahwa Gilang merendahkannya. Namun dia bingung kenapa dia bisa berpikiran seperti itu. Caramel hendak mengejar Gilang, namun diurungkannya karena menurutnya Gilang tadi terlihat sangat emosi, jadi dia pikir mungkin besok saja dia bisa bertanya dan menjelaskannya.


Setelah shift berganti, Caramel masuk ke dalam kantor untuk berpamitan pada Revan, namun dia dihentikan oleh Revan karena dia melihat ada yang tidak beres dengan ekspresi Caramel sekarang ini, padahal setahu Revan tadi pagi sampai makan siang saat bertemu dengannya Caramel masih ceria dan tersenyum seperti biasanya, bahkan mereka saling melempar candaan seperti biasanya. Chef Raymond saja yang saat itu berada di area kitchen dan kantin karyawan merasa iri dengan kedekatan dan candaan Caramel dan Revan. Namun Chef Raymond tahu jika Revan hanya berusaha menjaga Caramel sebagai Leadernya saja, dan Revan saat ini sudah mempunyai tunangan yang sering juga diajak mampir makan ke restauran ini jika mereka sedang libur. Caramel pun sudah sangat akrab dengan tunangan Revan tersebut.


"Sini Ca, duduk dulu, ceritakan ada masalah apa?" Revan menepuk kursi di sebelahnya.


Caramel pun duduk di kursi tersebut, dia ingin cerita, tapi ucapan Gilang yang merendahkannya itu terngiang di telinganya membuat hatinya sakit dan matanya pun berkaca-kaca karena menahan kesedihannya.


"Ca, aku tau kamu sedih, kenapa? Ceritakan semuanya, barangkali aku bisa bantu. Kamu boleh nangis kalau memang bisa buat kamu lega", Revan masih membujuk agar Caramel mau cerita.


Caramel meraup oksigen sebanyak mungkin dan dia menghembuskan nya melepaskan semua beban dan sesak di dalam dadanya.


Tanpa sepengetahuan Caramel, Chef Raymond dan Pak Sarno hendak masuk ke dalam kantor, namun Revan memberi tanda agar mereka tidak masuk dan dia menunjuk Caramel yang masih tertunduk mengumpulkan kata-kata untuk bercerita pada Revan. Namun Raymond tidak mengerti mengapa mereka tidak diijinkan untuk masuk, lalu dia mengirim pesan pada Revan untuk bertanya. Dengan segera Revan membalasnya sembari mendengar Caramel yang akan bercerita. Revan berkata bahwa Caramel sepertinya sedang ada masalah dan dia sepertinya menangis, oleh sebab itu Revan memaksanya untuk bercerita. Kemudian Raymond menyuruh Revan untuk meneleponnya dan mengaktifkan loud speakernya karena dia ingin mendengarnya, namun dia beralasan bahwa Pak Sarno juga ingin mendengarnya. Revan pun menuruti perintah Raymond. Dia mengaktifkan loud speakernya. Caramel tidak tahu yang dilakukan oleh Revan, dia terhanyut oleh kesedihannya. Caramel bercerita tentang ucapan Gilang, dan dia bertanya pada Revan mengapa Gilang berkata seperti itu padanya, padahal selama ini mereka sangat dekat dan dia menganggap Gilang seperti kakaknya sendiri. Revan memberitahu pada Caramel bahwa dia begitu lugu dan polos, karena tidak mengetahui kedekatan Gilang selama ini, Gilang menaruh rasa suka pada Caramel dan dia cemburu juga marah melihat Caramel dekat dan bahkan selama ini ada gosip kedekatan Caramel dengan Chef Raymond. Revan juga mengatakan bahwa memang benar seperti dugaan Caramel bahwa perkataan terakhir Gilang itu merendahkan Caramel. Tiba-tiba air mata Caramel jatuh membasahi pipinya, air matanya tidak bisa dibendung lagi, begitu sangat menyakitkan mendengar hinaan dari orang terdekat. Melihat air mata Caramel, Revan memberikan kekuatan, dia menenangkan Caramel dengan petuah-petuah dan candaannya agar Caramel tidak lagi bersedih.


"Udah gak usah sedih lagi. Anggap aja itu tadi kentut yang sebentar aja bau terus menghilang. Nih permen buat kamu", Revan mengeluarkan banyolannya dan mengeluarkan permen dari sakunya dan memberikannya pada Caramel agar dia kembali tersenyum.


Caramel melihat permen yang diulurkan di telapak tangan Revan di depan wajah Caramel, kemudian dia mendongak melihat wajah Revan.


"Hahaha... gitu dong udah bisa becanda lagi. Kalau ini memang benar-benar Caramel yang aku kenal karena suka hirup kentut dan masih bocah minta permen sama balon dan ini juga jorok banget ngelap ingusnya digaspol gak pelan-pelan", Revan tertawa tak urung juga tetap meledek Caramel.


"Udah sana kamu pulang sekarang. Nyampai rumah langsung cuci muka sama cuci kaki terus bobok biar gak uring-uringan lagi", Revan menarik tangan Caramel agar berdiri dari duduknya.


Caramel menurut, dia berdiri, namun sebelum pergi dia sempat menaruh tisu bekas lap ingusnya tadi di pangkuan Revan.


"Cacaaaaaa.....", Revan berteriak ketika mendapati tisu bekas lap ingus Caramel berada di pangkuannya.


Caramel berlari dan tertawa senang. Namun ketika keluar dari kantor tawanya reda dan dia kembali murung karena dia kembali teringat akan ucapan Gilang yang merendahkannya tadi.


Di dalam mobilnya yang berada di parkiran, Raymond mendengarkan percakapan Revan dan Caramel tadi, tak lupa dia merekamnya untuk ditunjukkan pada Pak Sarno. Hati Raymond tersayat ketika mengetahui gadis yang ada di pikirannya saat ini sedang menangis karena dihina dan direndahkan oleh seseorang. Rahangnya mengeras dan tangannya terkepal memukul setir mobilnya. Dia begitu marah mendengarnya, namun segera dinetralkan kemarahannya ketika melihat Caramel berjalan hendak menyebrang jalan, sepertinya dia akan pulang.


Caramel memang sengaja tidak meminta jemput Ayahnya karena dia ingin berjalan kaki sampai rumah untuk menenangkan hati dan pikirannya. Sebab dia takut jika Ibunya tahu dia sedang bersedih, pasti Ibunya juga akan bersedih. Karena feeling seorang Ibu sangat tajam, sedalam apapun Caramel menyimpan rahasia tentang kesedihan dan masalahnya, Ibunya selaku bertanya karena dia tahu Caramel saat ini sedang tidak baik-baik saja.


Raymond menghidupkan mesin mobilnya dan dia melajukan nya menyusul Caramel.

__ADS_1


Tin... tin..


Klakson mobil Raymond membuat Caramel berhenti berjalan dan menoleh. Raymond menurunkan kaca mobilnya, dan menoleh ke arah Caramel.


"Chef?!" Caramel kaget melihat Chef Raymond menyapanya dari dalam mobil.


"Yuk masuk, saya antar", Raymond menghentikan mobilnya di tepi jalan.


Caramel menghampiri, "Gak usah Chef, makasih, saya jalan aja", senyum manis tersungging di bibir Caramel.


"Saya gak menawari Ca, saya memerintahkan kamu untuk cepat masuk. Buruan nanti macet!"


Caramel membuka pintu mobil depan, namun tidak masuk, dia diam sejenak.


"Apalagi Ca? Buruan masuk!" Raymond menutup kaca mobilnya.


"Chef maaf, saya bingung mau duduk dimana. Kalau di depan takut dikira lancang, tapi kalau duduk di belakang lebih gak sopan lagi karena Chef bukan sopir saya", wajah bingung Caramel sukses membuat Raymond tertawa, di tambah ucapannya barusan membuat dia heran karena selama ini dia tidak pernah mendapati cewek yang ditawari tumpangan oleh cowok ganteng dengan mobil mewah malah tidak mau, parahnya lagi dengan lugunya dia bertanya hanya karena bingung masalah duduk di depan atau di belakang. Dan kalau itu cewek lain sudah pasti mereka langsung duduk di depan.


"Epph... Duduk depan aja biar saya gak dikira sopir kamu", Raymond menahan tawa sekuat tenaga agar dia bisa menjawab pertanyaan Caramel.


"Oh ok Chef", Caramel masuk dan duduk di kursi depan, tepatnya samping Raymond.


"Mau pulang?" tanya Raymond, yang kini mulai menjalankan mobilnya dengan pelan.


"Iya Chef. Kalau Chef mau kemana?" Caramel memasang sabuk pengamannya.


"Kamu mau gak menemani saya makan? Ini tadi saya rencananya mau pergi makan", Raymond beralasan agar dia bisa lebih lama bersama Caramel.


"Mmm... tapi Chef kalau nanti ada orang yang liat bisa salah sangka. Lagian Chef ini aneh masa' kerja di kitchen malah nyari makan di luar", Caramel mulai mengeluarkan unek-uneknya.


"Salah sangka? Maksudnya? Dan kalau masalah makan saya memang lebih suka makan di luar dari pada di tempat kerja", Raymond mengernyitkan dahinya karena tidak mengetahui maksud ucapan Caramel.


"Ya kayak gini aja bisa dikira saya pasangan atau istrinya Chef loh. Apalagi kalau makan cuma berdua aja, takutnya ada yang salah paham. Nanti pasangan atau istrinya Chef marah loh. Saya gak mau ah jadi pelakor", Caramel asal bicara saja, tidak tahu apa kalau disampingnya ini jomblo sejati.

__ADS_1


__ADS_2