
Pak Sarno sudah lega karena Zayn sudah berada di rumah sakit sekarang. Tadinya Pak Sarno bingung jika Zayn tidak menunggu Clara di rumah sakit, karena Clara tidak mau jika kedua orang tuanya tahu dia berada di rumah sakit itu. Namun Pak Sarno kesal karena kewalahan menggantikan kerjaan Zayn dan Clara sebagai marketing di sana.
"Asyem mereka berdua. Enak-enakan di rumah sakit, ninggalin kerjaan segini banyaknya. Kok jadi saya yang repot?" Pak Sarno menggerutu sambil membaca-baca daftar klien mereka yang akan mengadakan acara dan event di restoran itu.
"Ikhlas Pak... gak boleh menggerutu," sahut Revan yang ada di sebelah Pak Sarno.
"Ikhlas... ikhlas gundulmu. Ini coba kamu yang selesaikan sama mereka," Pak Sarno menyerahkan map yang berisikan data klien yang akan mengadakan acara.
Dengan secepat kilat Revan berlari meninggalkan Pak Sarno keluar dari kantor menuju restoran.
"Wong edyan!" teriak Pak Sarno pada Revan dan Revan yang mendengar dari jauh hanya terkekeh mendengarnya sambil berlari menjauh dari kantor.
Di dalam restoran, Raymond yang menghidangkan hasil masakannya mengadakan test food untuk dicicipi semua orang yang bertugas untuk memasarkan makanannya.
Seperti biasa, Raymond dan Caramel berada di meja lain yang terletak tidak jauh dari meja mereka. Tiba-tiba saja ponsel Raymond berdering dan menampilkan nama Jenny pada layar ponselnya.
"Jenny," ucap Raymond sambil memperlihatkan ponselnya pada Caramel yang duduk di sebelahnya.
Dia tidak mau Caramel berpikir macam-macam, terlebih dia sedang mengandung anaknya sekarang ini. Sebisa mungkin Raymond menghindari Caramel agar tidak kesal dan marah, dia hanya ingin Caramel merasa senang dan bahagia.
"Kenapa?" tanya Caramel ingin tahu.
"Dia meminta bertemu karena aku membatalkannya kemarin dan aku juga memintanya untuk tidak lagi datang ke rumah mengajarimu. Mungkin dia ingin menanyakan hal itu," jawab Raymond sambil memperlihatkan pesan yang baru saja dibacanya.
"Jadi kapan kita bertemu dengan Chef Jenny?" Caramel mengalihkan pandangannya dari ponsel Raymond dan beralih memandang wajah Raymond yang berada di sampingnya.
"Terserah kamu Sayang, aku hanya menuruti kemauanmu saja," Raymond tersenyum sambil memandang wajah istrinya yang setiap hari membuatnya jatuh cinta padanya.
__ADS_1
"Emmm terserah kamu aja deh Sayang, aku gak bisa atur waktu dan tempatnya," ucap Caramel sambil bermanja-manja meletakkan kepalanya pada lengan Raymond yang berada di dekatnya.
"Ok, aku akan bikin janji dengannya sepulang kita dari sini. Apa kamu gak capek?" tanya Raymond sambil mengusap rambut Caramel dan mencium pucuk rambut istrinya itu.
"Ehem... apa Tuan dan Nyonya butuh ruang VIP?" Revan bertanya pada Raymond dan Caramel untuk sekedar bercanda.
"Boleh, sekalian siapkan bed nya juga agar istri saya yang cantik ini tidak lelah," jawab Raymond menanggapi candaan Revan.
"Hah?!" Revan kini malah bingung bagaimana menanggapi perintah Raymond, apakah dia harus mengacuhkannya atau mengerjakannya.
Beneran gak sih? Nanti kalau gak dikerjakan bakalan kena omel aku, tapi kalau dikerjakan gak mungkin banget, masa' iya bawa bed ke sini? Mana bed nya gak mungkin yang kualitas biasa kalau yang memakainya mereka. Aih... dasar mulut ini ngapain nyeplos tanya-tanya segala sih? Lagian tumben banget Chef Raymond mau menanggapi, biasanya cuek aja. Terus gimana dong? Revan menggerutu dalam hatinya, dia bingung sendiri karena pertanyaan yang dia ajukan pada Raymond.
"Udah sana... ngapain malah bengong di sini sih?" Raymond mengusir Revan yang masih berwajah bengong di depan mereka.
Dengan segera Revan meninggalkan pasangan suami istri itu. Dia tidak mau jika Raymond kembali memerintahkan seperti tadi.
Kabur aja ah mumpung disuruh pergi. Eh tapi kalau mereka ingat yang tadi gimana? Apa aku pura-pura lupa aja ya? Revan kembali bertanya pada dirinya sendiri dalam hatinya ketika diperintahkan Raymond untuk pergi.
Tampak di meja yang sudah dipesan oleh Raymond seorang wanita yang berdandan tidak kalah dari Caramel. Sepertinya Jenny sengaja berdandan malam itu untuk menemui Raymond yang sudah mengajaknya bertemu sebelumnya.
Raymond tidak melepaskan pegangan tangannya di pinggang Caramel meskipun sudah berada di depan Jenny. Raut muka Jenny berubah, yang tadinya tersenyum senang karena menunggu Raymond, kini senyumnya tiba-tiba memudar ketika melihat Raymond datang bersama dengan Caramel.
"Hai Jen, sudah lama? Maaf ya kita baru sampai. Apa kamu sudah pesan makanan?" Raymond menyapa Jenny ketika sudah sampai di meja pesanannya.
Raymond mengambilkan kursi untuk Caramel dan mempersilahkannya duduk, sedangkan Raymond duduk di sebelah Caramel. Mereka berdua berhadapan dengan Jenny yang masih menatap mereka dengan tatapan yang tidak percaya jika mereka berada di depannya.
"Chef... Chef Jenny. Apa Chef sudah memesan makanan?" kini Caramel yang bertanya pada Jenny.
__ADS_1
"Eh, mmm... belum," jawab Jenny kikuk.
Raymond segera memanggil waiter untuk memesan makanan. Dan sementara mereka menunggu makanan mereka datang, Raymond membicarakan tentang berhentinya Jenny untuk kelas privat Caramel. Tentu saja Jenny kaget mendengarnya, karena itu merupakan satu-satunya kesempatannya untuk bertemu Raymond.
"Lalu kamu mengajakku untuk bertemu kemarin katanya ada hal yang akan kamu sampaikan, apa itu Ray?" Jenny tersenyum manis dengan memandang wajah Raymond.
Caramel besungut kesal melihatnya, sepertinya masa-masa kehamilannya akhir-akhir ini membuatnya semakin sensitif dan cemburuan. Caramel menopang dagunya, melihat apa yang akan dilakukan oleh Jenny untuk mengambil perhatian Raymond.
Sedangkan Raymond yang ditatap dengan senyum manis oleh Jenny hanya bersikap biasa saja. Dia tidak terpengaruh apapun, karena baginya senyuman yang paling manis dan indah adalah milik Caramel, istrinya.
"Kemarin aku akan mengatakan hal ini denganmu, tentunya juga bersama istriku. Sayangnya tiba-tiba istriku pingsan, dan...," ucapan Raymond menggantung dan dia menatap Caramel dengan senyum yang merekah.
"Kenapa? Apa dia sakit?" Jenny bertanya dengan sangat penasaran.
"Istriku sedang hamil. Berita yang sangat luar biasa bukan? Aku sangat bahagia Jen," Raymond mengatakannya dengan tawanya yang terlihat jelas sangat bahagia.
Jenny tiba-tiba terdiam. Sepertinya kebahagiaannya tiba-tiba sirna. Sebenarnya Jenny berharap banyak dalam pertemuan ini dengan Raymond. Dia sudah tidak bisa berpikir normal lagi, yang dia mau dia bisa bersama dengan Raymond seperti Caramel bersama dengan Raymond.
Jenny selalu iri jika Raymond bersikap manis dan romantis pada Caramel. Dia selalu berharap dan membayangkan jika dirinyalah yang menjadi Caramel, dialah yang menjadi istri Raymond, bukan Caramel.
"Ray, apa aku bisa bertanya sesuatu?" Jenny tidak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya.
"Tentu saja boleh Jen," jawab Raymond.
"Tapi-"
"Silahkan Tuan, Nyonya," ucap waiter sambil memberikan makanan yang mereka pesan.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Raymond pada waiter tersebut.
"Ray, apa kita bisa bicara berdua?"