
Seperti janjinya pada Zayn semalam, Raymond dan Caramel kini kembali ke rumah mereka dan mereka mulai bekerja.
"Cieee yang abis honeymoon dadakan," Zayn menyindir ketika Raymond dan Caramel baru masuk ke dalam kantor dan kebetulan Clara berada di belakang Raymond dan Caramel.
"Honeymoon apaan yang cuma satu hari, ini semua gara-gara kamu yang menyuruh kita untuk cepat kembali," Raymond memprotes sindiran Zayn.
"Oh jadi kemarin kalian main gitu-gituan di dalam kolam renang bukan bagian acara dari honeymoon ya?" Zayn menggoda pasangan suami istri di depannya ini dan kebetulan memang Zayn mengatakannya karena dia melihat Clara di belakang Raymond dan Caramel, Zayn berniat menyadarkannya.
Mata Clara membelalak mendengar bahwa Raymond dan Caramel melakukan adegan panas itu di dalam kolam renang. Raut mukanya berubah menjadi sangat kesal dan penuh amarah. Tangannya akan mencengkeram leher Caramel dari belakang, sayangnya keinginannya itu tidak dapat dilakukan karena Zayn yang lagi-lagi menggagalkannya.
"Eh ada Clara," seru Zayn ketika melihat tangan Clara yang hendak mencekik Caramel dari belakang.
Entah berniat mencekik sungguhan atau hanya tangannya seperti itu saja Zayn tidak tahu, karena Clara yang sekarang tidak bisa Zayn kenali, dia sudah banyak berubah karena obsesinya pada Raymond.
Reflek Raymond dan Caramel menoleh ke belakang mereka dan mendapati tangan Clara yang menggantung di udara dan berada di belakang leher Caramel.
Raymond segera menarik tubuh Caramel ke dalam pelukannya, sehingga tubuh Caramel tidak berjarak dengan Raymond dan kepalanya berada di dada bidang Raymond.
Tatapan mata Raymond seperti seorang pembunuh yang siap menghabisi Clara. Hingga Clara gugup karena ketakutan melihat Raymond yang menatapnya seperti itu.
"Eh, em... anu... itu..," Clara meracau karena gugup sambil menurunkan tangannya yang dari tadi masih dalam posisi siap mencekik.
"Kamu jangan dekat-dekat kita. Jauh-jauh kamu dariku dan istriku. Jangan ganggu aku ataupun istriku. Ingat itu!" Raymond meletakkan telunjuknya di depan wajah Clara sambil melotot tajam padanya disaat memberi peringatan pada Clara.
Clara benar-benar tercengang dan ketakutan melihat Raymond, karena selama ini dia tidak pernah melihat Raymond yang benar-benar marah seperti itu padanya.
"Ayo Sayang," Raymond benar-benar membawa tubuh Caramel yang berada dalam pelukannya dan memeluk erat Caramel sambil berjalan.
Caramel hanya menurut karena jujur saja dia juga kaget dengan posisi tangan Clara yang seolah ingin mencekiknya dari belakang. Caramel tidak menyangka jika Clara bisa senekat itu padanya.
"Bagaimana caranya aku bisa menyingkirkannya? Bukannya aku CEO di sini, kenapa aku harus menunggu masa kontraknya selesai?" Raymond kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa memecat Clara, sedangkan dia sendiri seorang CEO di tempat itu.
__ADS_1
"Itu karena dia tidak mempunyai kesalahan. Kamu bukan seorang pemimpin yang semena-mena, jika memang kamu ingin memecatnya, kamu harus mencari kesalahannya, sama seperti Pak Irfan, Pak Anto dan Nindi dulu. Kamu ingat bukan? Apalagi dulu itu identitasmu masih disembunyikan, jadi tambah sulit untukmu memecat mereka," Caramel menenangkan suaminya dengan tangannya yang melingkar di pinggang Raymond.
Caramel memeluk erat tubuh Raymond seperti mereka sedang kedinginan. Dan benar saja, sebenarnya mereka juga merasa kedinginan karena kini mereka sedang berada di walk in chiller. Caramel mengikuti Raymond yang sedang memeriksa bahan makanan.
Mereka saling berpelukan di tengah dinginnya udara di dalam lemari pendingin. Raymond sangat senang mempunyai istri yang pengertian seperti Caramel.
"Pengertian sekali sih istriku ini," canda Raymond sambil mencubit gemas hidung Caramel.
"Karena suaminya keren banget sih, takut diambil orang," Caramel terkekeh mengucapkannya, baru kali ini dia menggombali suaminya.
Raymond merasa malu dan senang, terlihat sekali di raut wajahnya. Caramel berjinjit mensejajarkan dengan tinggi badan Raymond, kemudian dia mengecup sekilas bibir Raymond agar tidak lagi malu padanya.
Namun keinginan Caramel itu disambut berbeda oleh Raymond. Niat hati Caramel hanya memberinya ciuman sekilas di bibir, namun Raymond merasa terpancing, di hawa yang dingin itu Raymond merasa Caramel memberinya kode untuk menciumnya.
Raymond menahan tengkuk Caramel dan memperdalam ciumannya. Entah kenapa Caramel tidak bisa menolaknya, dia pasrah ketika ciuman Raymond lebih menuntut dan akhirnya Caramel pun terhanyut dalam ciuman tersebut.
Suara decapan dan sesapan dari mereka tidak ada yang mendengarnya. Sangat aman sekali memang di sana. Namun sayangnya, mereka lupa untuk menguncinya dari dalam, sehingga bisa saja ada orang yang masuk ke sana.
Ceklek!
Sous Chef tersebut membelalak tak percaya karena melihat Excecutive Chef mereka yang kebetulan dia juga CEO di tempat tersebut sedang berciuman dengan istrinya di dalam tempat itu.
Beberapa detik setelah Sous Chef itu sadar, dia langsung menutup pintunya dan berdiri di depan pintu tersebut.
Untung aja masih di depan pintu, belum masuk, coba kalau udah masuk, tidak bisa dibayangkan bagaimana Chef memperlakukanku, Sous Chef tersebut berkata dalam hati sambil mengusap dadanya untuk meredakan kekagetannya.
"Ada apa?" tanya Sous Chef tersebut pada seorang Koki yang mendekat ke arahnya.
"Mau ambil bahan Chef," jawab Koki tersebut.
"Nanti aja, kalian kerjakan aja yang lain dulu," Sous Chef tersebut merentangkan tangannya ke pintu agar tidak ada seorang pun yang bisa masuk.
__ADS_1
"Tapi Chef, nanti prepare nya terhambat," Koki tersebut ingin membantah dengan cara memberitahu alasannya.
"Udah, kerjakan aja yang saya perintahkan," Sous Chef tersebut masih saja tidak mau dibantah karena dia tidak ingin ada orang yang masuk mengganggu acara Excecutive Chef yang juga Bos nya itu dengan istrinya.
Tidak bisa ditebak bagaimana nantinya jika ada orang yang masuk dan memergoki mereka sampai mereka menyadari kehadiran orang tersebut, pastinya akan mengancam kesejahteraan dapur mereka. Karena seperti yang mereka tahu jika Raymond merupakan Chef yang bersikap dingin, cuek dan tegas.
"Ada apa sih Chef, kok sepertinya Chef menghalangi orang yang akan masuk ke dalam?" Koki tersebut masih penasaran dengan tingkah Sous Chef nya.
"Udah, kamu gak-"
Ceklek!
"Ada apa ini?" suara Raymond menghentikan ucapan Sous Chef yang membelakanginya.
Reflek Sous Chef dan Koki tersebut menoleh ke arah Raymond dan ternyata ada Caramel di sampingnya.
"Emm... itu Chef, gak ada apa-apa," Sous Chef tersebut gugup seolah dia yang ketahuan, padahal dia gugup karena teringat adegan ciuman Raymond dengan Caramel yang sangat wah menurutnya.
"Tadi saya mau-"
"Maaf Chef kita mau mengambil bahan di dalam," Sous Chef tersebut menyela ucapan si Koki yang akan mengadu pada Raymond.
"Oh silahkan," Raymond yang tangannya masih berada di pinggang Caramel menariknya agar berjalan bersamanya.
"Hufft... selamet... selamet gak ketahuan," Sous Chef tersebut mengusap dadanya kembali, menetralkan detak jantungnya yang takut ketahuan Raymond ketika membuka pintu tadi, dan ternyata Raymond benar-benar terhanyut dengan ciumannya bersama Caramel, istri tercintanya.
"Kenapa Chef?" tanya Koki tersebut yang merasa heran dan juga bingung melihat tingkah Sous Chef nya itu.
"Mereka tadi...," Sous Chef itu memperagakan orang yang sedang berciuman dengan kedua tangannya.
"Hah, beneran?" Koki tadi pun terbelalak kaget ,tidak percaya dengan apa yang dikatakan Sous Chef nya.
__ADS_1
"Mangkanya kalau ada Chef Raymond sama Caramel di dalam jangan masuk dan jangan boleh ada yang masuk," ucap Sous Chef tersebut sambil berjalan keluar meninggalkan Koki tersebut yang sedang diam melamun, sepertinya sedang membayangkan apa yang dibicarakan oleh Sous Chef nya tadi.