Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
50. I found you!


__ADS_3

"Kamu salah Ray, Caramel tidak pernah berbuat seperti itu. Tadinya memang aku menahannya untuk mengikutimu karena pada saat datang dia berjalan di belakangmu dengan muka kesal, aku kira kalian sedang marahan, jadi aku berinisiatif untuk menghiburnya," Zayn terkekeh melihat wajah kesal Raymond padanya.


"Halah pasti kamu sengaja bikin aku marah, buktinya kalian sampai tertawa terbahak-bahak sampai tidak menyadari orang lain disekitarmu," Raymond menajwab kesal.


"Kamu pikir kita bicara apa? Aku menceritakan Raymond kecil dan kehidupan Raymond remaja sampai dewasa di negeri orang," Zayn terkekeh kembali melihat muka Raymond yang kini kaget mendengar ucapannya.


"Lalu apa kamu tau tadi tamu dari party yang mengerubungi Caramel itu bukan karena Caramel tebar pesona. Dia sebenarnya tidak nyaman dengan mereka semua, lalu apa yang bisa dia lakukan, dia istrimu, istri dari pemilik tempat yang mereka gunakan saat ini, apa pantas dia tiba-tiba meninggalkan mereka di saat mereka bertanya tentang tempat milikmu? Mereka ingin Caramel menjelaskan apa aja yang ada disitu. Dan memang istrimu mempesona, jadi... ya... tidak salah juga jika mereka kaum adam mendekati Caramel," Zayn menjelaskan dengan jelas.


Namun diakhir kalimatnya membuat Raymond kesal, dia kesal dan marah jika ada pria yang mendekati Caramel nya, apalagi pria itu punya maksud tertentu pada Caramel.


Setelah Zayn mengetahui bahwa Raymond menyesal dan frustasi, dia akhirnya menyerah, Zayn memberitahu dimana Caramel berada. Dan itupun karena Mommy Grace memarahi Zayn jika tidak memberitahu keberadaan Caramel pada Raymond.


Tentu saja Raymond yang menagdu pada Mommy Grace.


Dasar pengadu! Zayn mengumpat Raymond dalam hati.


Mata Caramel mengerjap karena merasakan beban berat di pinggangnya dan merasakan kehangatan di punggungnya layaknya dekapan dan pelukan dari suaminya, Raymond Xavier.


Caramel melihat tangan yang melingkar di pinggangnya mirip sekali seperti tangan yang memeluknya setiap hari. Kepalanya menoleh ke belakang dan mendapati sosok yang dipikirkannya dan dirindukannya dari semalaman.


Mata Raymond.masih terpejam dan dia lebih mengeratkan pelukannya pada tubuh Caramel ketika merasakan pergerakan dari Caramel.


Diam-diam Caramel memperhatikan wajah tampan Raymond. Dia mengagumi wajah suaminya yang kini ada di depannya.


Sempurna sekali seperti pahatan patung yang tanpa cela, Caramel tersenyum ketika berbicara dalam hati.


Caramel menyentuh alis, hidung, bibir Raymond seolah dia sedang menggambar. Raymond yang merasakan ada yang menyentuhnya mulai membuka matanya.


Mata mereka berdua bertemu, mereka saling menatap dengan intens satu sama lain.


"I miss you baby," Raymond mengucapkannya tanpa mengalihkan pandangannya dari mata Caramel.


Entah mengapa, air mata Caramel menetes ke pipinya. Mungkin dia terharu mendapatkan perlakuan seperti ini dari suaminya. Rasa kesal dalam diri Caramel pun beralih dengan rasa senang.

__ADS_1


Raymond menghapus air mata Caramel dan menciumi semua bagian wajah Caramel mulai dari kedua mata, dahi, kedua pipinya dan berakhir di bibirnya.


"Gak boleh nangis lagi ya," Raymond mencium kembali kedua matanya agar Caramel tidak menangis lagi.


Kemudian dia menatap kembali dalam mata Caramel. Mata mereka yang saling menatap tidak bisa berbohong akan kerinduan mereka.


"Miss you too," ucap Caramel lirih.


Raymond tersenyum dan meraih tubuh Caramel ke dalam pelukannya. Terasa nyaman, itulah yang mereka rasakan berdua. Tidur dalam satu ranjang, satu selimut, dan saling berpelukan, sungguh kenyamanan yang tidak bisa dipungkiri oleh pasangan suami istri yang tidak bertemu beberapa jam.


"Gak berangkat kerja?" tanya Caramel yang masih nyaman berada di pelukan Raymond dan tangannya masih memeluk erat pinggang suaminya.


"Gak ah, males. Gini aja sampai nanti buat gantiin beberapa jam kita gak ketemu," Raymond kembali menempelkan bibirnya pada bibir Caramel.


Hanya kecupan singkat, namun melihat bibir pink alami dari Caramel yang sudah menjadi candunya, Raymond menempelkan kembali bibirnya pada bibir Caramel, namun kali ini ciuman itu sedikit dalam dan lama-kelamaan ciuman itu menjadi menuntut dan akhirnya lebih dalam lagi terjadi.


Gelora kerinduan mereka terbayar di atas ranjang yang tadinya ranjang ini dingin karena kesendirian Caramel, kini berubah menjadi panas karena keberadaan Raymond.


"Jangan pergi lagi ya Sayang, aku gak akan bisa tenang jika tidak ada kamu di sisiku," ucap Raymond ketika mereka sudah selesai melakukan pergulatan panas mereka dan tangan Raymond kini bermain di atas aset Caramel, memainkannya dengan memelintir-melintir ujungnya.


"Kamu sih kalau ikut kerja bukannya ada di dekatku malah di dekat laki-laki lain.Padahal kemarin kan udah janji bakalan ada di dekatku dan gak bakalan hilang dari pandanganku, nyatanya...," Raymond menyuarakan isi hatinya agar Caramel tidak salah paham lagi dengannya.


"Aww... sakit iiiih...," Caramel memukul tangan Raymond yang masih bermain di tempat tadi.


Raymond hanya nyengir tidak berdosa. Kemudian dia kembali merengkuh tubuh istrinya itu dan dengan gemasnya dia peluk erat sambil menghujani wajah Caramel dengan ciumannya.


"Janji, okay?" tanya Raymond kembali pada Caramel.


"Tergantung," jawab Caramel jahil.


Raymond mengurai pelukannya dan menatap wajah istrinya.


"Tergantung apa?" tanyanya heran.

__ADS_1


"Tergantung sikap kamu ke aku," jawab Caramel kembali.


"Aku janji gak bakalan kayak kemarin lagi," Raymond mencium bibir Caramel sekilas.


"Dengarkan dulu penjelasanku, baru kamu bisa marah jika aku memang bersalah. Dan jika kamu mengulanginya lagi, aku akan pergi," ancam Caramel agar Raymond mau berjanji dan menepatinya.


"Oke aku janji, tapi kamu juga harus janji gak bakalan ninggalin aku dan mau memaafkanku," jawab Raymond sambil merapikan rambut Caramel, menyelipkannya ke belakang telinganya.


"Mmmm.....," Caramel seolah-olah berpikir.


"Kok gak dijawab?" tanya Raymond.


"Kan lagi mikir," jawab enteng Caramel.


Raymond gemas dengan istrinya, setiap perkataan dan tindakannya terkadang membuat Raymond ingin memakannya, bahkan terkadang dia ingin menyekapnya seperti sekarang ini, hanya berdua bersama tanpa memikirkan dan melakukan apa-apa, kecuali melakukan kegiatan favorit mereka.


Braaak....


"Raymond!"


Raymond dan Caramel kaget mendengar suara pintu yang terbuka disertai suara seorang wanita yang memanggil nama Raymond.


Dalam keadaan mereka tanpa sehelai benang pun berada di dalam selimut yang sama seperti sedang di grebek.


"Mom!" Raymond memekik kesal pada Mommy nya yang seenaknya saja masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi.


"Oops.... sorry, Mommy pikir Caramel belum ketemu, jadi Mommy ke sini mau memarahimu," Mommy Grace cekikikan.


Raymond mendengus kesal sambil menutupi tubuhnya dengan selimut, sedangkan Caramel menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut beserta kepalanya, tapi selimut di kepalanya dibuka sedikit ketika mengetahui bahwa yang datang adalah Mommy Grace.


"Ya udah kalian teruskan kembali, cepat kasih Mommy cucu ya," Mommy Grace terkekeh sambil berjalan keluar kamar dan menutup pintunya.


Mommy Grace membuka pintu kamar Raymond kembali setelah berjalan satu langkah.

__ADS_1


"Raymond, lebih baik hari ini kamu tidak usah bekerja, nikmatilah seharian kebersamaan kalian untuk membuatkan Mommy cucu. Okay?!"


__ADS_2