Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
68. Chef bucin


__ADS_3

"Udah deh kamu gak usah mimpi dapetin Raymond dan gak usah ngerusak kebahagiaan orang lain!" Zayn menegaskan setiap katanya kemudian dia pergi meninggalkan Clara sendiri di dalam kantor tersebut.


Clara menahan amarah dan emosinya, dia tidak terima dirinya dipermalukan oleh Raymond di depan Caramel. Kini dia memutuskan untuk segera mendapatkan Raymond sepenuhnya dengan cara apapun itu.


Lihat aja kalian semua, Raymond pasti akan aku dapatkan, dan dia tidak bisa lagi mengelak untuk menikahiku, smirk terukir di bibir Clara dengan raut wajah penuh dendam, nafasnya naik turun dan hidungnya kembang kempis karena gemuruh amarahnya dalam dada yang sangat membara.


Clara sudah menyiapkan rencana untuk mendapatkan Raymond. Semua rencananya dia tata rapih agar tidak terjadi kesalahan dan satu lagi, dia tidak mengharapkan kegagalan dalam rencananya kali ini.


"Sayang, persiapan kamu untuk pesta di hotel gimana?" Raymond bertanya pada Caramel di saat mereka sedang makan siang bersama.


"Masih kurang beberapa hari kan?" Caramel bertanya balik pada Raymond.


"Iya sih, tapi apa kamu udah punya persiapan?" Raymond menghentikan makannya dan menatap Caramel untuk menunggu jawabannya.


"Hehehe... belum sama sekali. Aku kan gak tau harus mempersiapkan apa aja. Baru kali ini aku akan menghadiri acara seperti itu," Caramel makan sambil berbicara sehingga di sekitar bibirnya terdapat sisa makanan, persis seperti anak kecil.


Raymond terkekeh melihatnya. Caramel bingung kenapa suaminya malah tertawa bukannya meneruskan pembicaraannya.


Raymond mendekatkan wajahnya pada wajah Caramel, menatap matanya dengan dalam, dan dalam beberapa detik saja bibir Raymond sudah berada di bibir Caramel.


Raymond me**mat bibir Caramel dan membersihkan sisa makanan di bibir Caramel dengan lidahnya. Mata Caramel membelalak, dia tidak menyangka jika Raymond akan melakukan hal itu padanya di tempat umum.


"Mmm... manis," Raymond terkekeh melihat wajah Caramel yang berubah menjadi kaget yang menurut Raymond sangat menggemaskan itu.


"Nafas," Raymond menyentil dahi Caramel.


"Awww... kamu sih iseng banget di tempat umum pakai cium-cium, kalau ada yang lihat gimana? Malu tau....," Caramel memegang dahinya yang disentil oleh Raymond tadi.


"Hahaha... kamu sih Sayang, makan udah kayak anak kecil aja," Raymond mengusap lembut bibir Caramel yang basah karena saliva nya.


"Kan bisa pakai tisu," kini bibir Caramel mengerucut.


"Gak efisien Sayang, mending pakai ini aja, lebih menyenangkan," Raymond menunjuk bibirnya.


"Ck, modus," Caramel meneruskan makannya sambil memasang wajah cemberut.


"Sini aku suapin," Raymond mengambil garpu Caramel dan menyuapi Caramel.


Namun ada spaghetti yang menjuntai dari mulut Caramel. Dengan seketika, Raymond mengambil spaghetti yang menjuntai tersebut dan memakannya. Dengan begitu bibir Raymond dan bibir Caramel kembali bertemu dan terjadilah hal yang serupa.

__ADS_1


Raymond memang pandai memanfaatkan keadaan. Caramel kembali terkejut dan dia benar-benar lupa bernafas sekarang, hingga Raymond menyudahi ciumannya dan menjauhkan wajahnya dari wajah Caramel, barulah Caramel bisa bernafas.Lagi-lagi Caramel terdiam karena syok.


"Sayang, bisa gak sih kita pulang aja?" Raymond mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Caramel.


"Ngawur, mau didatangi Daddy lagi?" akhirnya Caramel bisa berbicara dengan lancar.


Raymond terkekeh, dia tahu jika kelemahan Caramel adalah tidak bisa melihat Raymond terluka ataupun dimarahi oleh kedua orang tuanya.


"Oiya Pastry Chef yang akan mengajari kamu akan mulai besok, setelah kita pulang kerja," ucap Raymond sambil mengusap mulutnya dengan tisu.


"Di mana?" tanya Caramel dengan antusias.


"Di rumah," jawab singkat Raymond sambil tersenyum jahil.


"Kok di rumah sih? Gak ada tempat lain gitu?" Caramel takut merasa bosan kalau di rumah.


"Di rumah aja biar aman. Biar gak ada yang lirik-lirik kamu," Raymond mencubit hidung Caramel karena kini Caramel sedang mengerucutkan bibirnya yang membuatnya bertambah gemas.


"Ck, dasar bucin," Caramel mendumel kesal.


Raymond terkekeh mendengar istrinya mengatainya bucin. Sejujurnya Raymond sendiri tidak tahu sejak kapan dan mengapa dia bisa tergila-gila pada Caramel, bahkan sebucin itu dia pada istrinya itu.


Mereka berdua pun menuju dapur dengan posisi seperti biasa, tangan Raymond berada di pinggang Caramel dan mereka berjalan beriringan.


Raymond menuju tempatnya dan Caramel pun demikian. Caramel membantu pastry yang berada di situ agar dia terbiasa sebelum nantinya dia belajar dari Pastry Chef profesional.


Sebelum melakukan pekerjaannya, Caramel mengikat rambutnya dengan ikat rambut yang dia pakai untuk gelang di tangannya agar rambut tidak ada yang jatuh pada saat proses membuat makanan dan agar makanan higienis, tidak ada rambut yang jatuh pada makanan tersebut.


Mata Raymond tidak berpaling dari Caramel. Meskipun dia sedang mengerjakan sesuatu, matanya tidak luput melihat ke arah Caramel. Sebentar-sebentar pasti dia menoleh ke arah istrinya itu.


Mata Raymond tergoda ketika melihat rambut Caramel yang terikat ke atas dan ada sedikit keringat yang menetes di pelipisnya hingga ke lehernya membuat Raymond menjadi ingin segera mengajak Caramel pulang ke rumah.


Raymond mendekati Caramel dan memeluknya dari belakang.


"Sayang, aku pengen," Raymond berbisik di telinga kanan Caramel.


Sontak saja pastry yang ada bersama Caramel langsung menghadap ke lain arah. Dan itu membuat semua penghuni di kitchen itu merasa ingin mengetahui apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh Raymond.


Benar saja, mereka semua harusnya mengikuti pastry yang ada di dekat Caramel yaitu dengan menghadap ke lain arah, tidak melihat Raymond dan Caramel, karena sekarang Raymond malah mencium sekilas bibir Caramel setelah membisikkan keinginannya tadi di telinga Caramel.

__ADS_1


Seketika mata semua penghuni kitchen terbelalak, dan lagi-lagi Sous Chef menjadi saksi Raymond mencium bibir Caramel.


"Hadap ke belakang grak!" Sous Chef tersebut memberikan instruksi pada para penghuni kitchen agar berbalik, tidak melihat ke arah Raymond dan Caramel.


Mendengar suara instruksi Sous Chef tersebut menyadarkan Caramel dan memukul lengan Raymond.


"Minggir gak? Balik sana ke tempat semula!" Caramel membesarkan bola matanya agar Raymond mengerti jika dia sedang marah.


Namun Raymond malah terkekeh dan dia mencuri mencium pipi Caramel sebelum dia berjalan kembali ke tempatnya semula.


Caramel kembali kaget oleh kelakuan suaminya itu, seketika pipinya merona karena malu. Apalagi sekarang semua penghuni dapur menyoraki mereka berdua.


"Cieeee yang udah jadi suami istri...."


"Enaknya yang punya pasangan bisa satu tempat kerja."


"Chef boleh gak saya kerja bareng istri saya?"


"Gak boleh! Udah jelas di peraturan. Yang boleh cuma saya," jawab Raymond dengan tegas, namun dia tersenyum mendengar semua ledekan dari yang lainnya.


"Kalau Caramel gak kerja di sini, bisa-bisa mati penasaran dia mikirin istrinya lagi ngapain. Dia kan Chef bucin sekarang," tiba-tiba Zayn masuk dan meledek Raymond.


"Biarin bucin sama istri sendiri, daripada gak jadi jomblo akut gak nikah-nikah," kini Raymond membalas meledek Zayn dan itu membuat para penghuni dapur melongo, karena tidak pernah melihat Raymond seperti itu.


Biasanya Raymond hanya memasang wajah dingin, cuek dan irit berbicara. Dan satu lagi, dia sangat tegas, tidak perduli dengan siapapun.


Clara dan Zayn melihat dan mendengar semuanya, karena mereka pada saat itu berada di pintu yang menghubungkan antara dapur dengan restoran.


Clara merasa sangat marah dan kesal melihat kemesraan Raymond dan Caramel, serta dia merasa marah dan kesal mendengar jawaban ledekan Zayn dan Raymond.


Clara berjalan meninggalkan dapur setelah mendengar jawaban Raymond atas ledekan Zayn, namun sebelumnya dia menginjak kaki Zayn dengan sekuat tenaga untuk melampiaskan kemarahannya karena mendengar fakta kebucinan Raymond pada Caramel dari mulut Zayn.


"Aduh..," Zayn memegangi kaki kirinya yang diinjak dengan penuh tenaga oleh Clara.


"Clara! Awas kamu ya!" Zayn berteriak seiring kepergian Clara.


Clara menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang, ke arah Zayn dan Raymond berada. Clara mengacungkan jari tengahnya dan mengatakan f*ck you tanpa bersuara. Dan itu membuat Zayn melotot kaget. Begitu juga dengan penghuni dapur lainnya.


"Udah Zayn jadiin bini aja pasti dia bakal nurut," tiba-tiba Revan berada di belakang Zayn dan mengatakan itu sambil menepuk-nepuk pundak Zayn.

__ADS_1


__ADS_2