
Zayn segera menuju ke rumah Clara. Dia yakin jika Clara langsung pulang menuju rumahnya. Zayn tidak pernah merasakan seperti ini, perasaan gugup, senang dan takut menjadi satu.
Tangan yang memegang kemudi itu terasa dingin dan sedikit gemetar. Entahlah, Zayn tak pernah merasakan hal semacam ini sebelumnya. Rasa percaya diri yang begitu tinggi terasa lenyap tidak nampak lagi dalam diri Zayn yang sedang menuju rumah si pemilik hatinya.
Zayn menghentikan mobilnya di depan rumah Clara. Terlihat di sana mobil Clara terparkir seperti biasanya. Zayn membunyikan klakson mobilnya agar satpam yang berjaga di sana membukakan pintu untuknya.
Dengan tergesa-gesa dan berlari satpam tersebut membukakan pintu untuk Zayn. Satpam tersebut memang sudah kenal pada Zayn karena Zayn yang sering bermain dengan Clara mulai dari kecil hingga dewasa seperti sekarang ini.
"Non Clara barusan pulang Mas," satpam tersebut memberikan laporan sebelum Zayn bertanya padanya.
Memang benar, jika Zayn datang ke sana, pasti yang ditanyakan pertama kali adalah Clara. Jadi satpam tersebut selalu memberitahukan tentang Clara sebelum Zayn bertanya padanya.
Zayn tersenyum mendengar laporan dari satpam tersebut dan berkata,
"Terima kasih Pak."
Zayn mengambil dompetnya dari saku celananya dan memberikan satu lembar uang seratus ribuan untuk diberikan pada satpam tersebut.
Seperti biasanya, satpam tersebut tersenyum lebar bahagia dengan mengucapkan terima kasih pada Zayn, dan meninggalkan Zayn ke dalam pos penjagaannya.
Zayn menghirup nafas dalam-dalam dan menghelanya, berkali-kali Zayn melakukan hal itu hingga dirasa dia sudah lega dan siap barulah dia masuk ke dalam rumah Clara.
Zayn mengetuk pintu rumah Clara dan pembantu rumah tangganya lah yang membukakan pintu untuknya.
Pembantu rumah tangga itu mempersilahkan Zayn masuk karena mereka tahu jika Zayn bukan orang lain yang harus mereka laporkan dulu pada majikannya.
"Emm... Mas Zayn tunggu sebentar ya, Tuan, Nyonya dan Non Clara masih ada pembicaraan penting di ruang tengah. Saya tinggal buatkan minum sebentar Mas," ucap pembantu rumah tangga tersebut yang sudah berusia sekitar empat puluh lima tahunan.
__ADS_1
Zayn mengangguk dan tersenyum seperti biasanya pada pembantu rumah tangga tersebut. Setelah pembantu rumah tangga tersebut meninggalkan Zayn ke dapur, segeralah Zayn perlahan-lahan mengendap menuju ruang tengah untuk mencuri dengar apa yang menjadi pembicaraan penting Clara dan kedua orang tuanya. Karena Zayn mempunyai firasat jika mereka sedang membicarakan tentang kehamilan Clara.
Benar saja dugaan Zayn. Kedua orang tua Clara berdebat dengan Clara mengenai kehamilannya.
"Kenapa kamu bisa sebodoh itu Clara?" Mama Clara berteriak memaki Clara yang sedang menangis dengan bersujud di hadapan kedua orang tuanya.
"Kamu tau jika masa depanmu bisa hancur hanya karena kebodohanmu itu?" kini giliran Papa Clara yang berbicara dengan tegas dan bernada tinggi.
Clara menangis sesenggukan dengan berkali-kali mengatakan kata 'maaf' pada kedua orang tuanya. Dan itu membuat Zayn tidak tega melihat wanita yang dicintainya selama ini sedang dihakimi oleh kedua orang tuanya karena kesalahannya bersama wanita pujaan hatinya itu.
"Maaf Tante, Om. Saya akan bertanggung jawab dengan menikahi Clara. Kapanpun itu, saya siap," ucap Zayn tegas setelah secara tiba-tiba dia masuk ke dalam ruangan tersebut.
Clara dan kedua orang tuanya terkejut melihat Zayn sudah berada di tempat itu dan mengatakan akan menikahi Clara untuk mempertanggung jawabkan kehamilan Clara.
"Apa benar dia anak Zayn?" Papa Clara menatap Clara dengan sangat tajam membuat nyali Clara menciut ketakutan diinterogasi oleh Papanya seperti itu.
Clara semakin terisak, dia tidak bosa menjawab karena ketakutan jika kedua orang tuanya marah karena benar Zayn lah yang sebenarnya Ayah dari anak yang dikandungnya ini.
"Maaf Om, Tante. Tolong jangan marahi Clara seperti itu, bukan hanya dia yang salah, karena saya juga salah, kami berdua salah, maka hukumlah kami berdua, nikahkan lah kami berdua agar anak dalam kandungan Clara itu tidak menjadi anak haram," Zayn secara tidak sadar mengatakannya, dia tiba-tiba mempunyai keberanian karena tidak tega melihat Clara menangis tersedu-sedu.
"Tidak... tidak mungkin. Ini pasti anak Raymond, dan kamu melindunginya. Benar bukan? Raymond lah yang harus bertanggung jawab. Dia yang harus menikahi Clara, bukan kamu!" Mama Clara histeris menginginkan Raymond sebagai menantunya.
"Maaf Tante, tapi ini anak saya. Clara dan saya melakukan hubungan itu secara sadar dan mohon Om dan Tante merestui kami," Zayn merendahkan dirinya dengan bersujud di hadapan kedua orang tua Clara, berdampingan dengan Clara yang masih bersujud di hadapan kedua orang tuanya.
"Kamu pikir kami percaya? Dan kamu pikir kami mau merestuimu hanya karena kamu teman Clara sejak kecil dan kamu merupakan keluarga besar dari Xavier? Tidak... kami tidak akan setuju, yang kami mau hanya pewaris asli keluarga Xavier, Raymond Xavier. Mengerti?" Mama Clara menolak Zayn secara mentah-mentah.
Zayn merasa terhina dengan bersimpuh di hadapan kedua orang tua Clara dia dihina dan tidak diinginkan oleh mereka hanya karena dia bukan keturunan asli keluarga Xavier. Memang Zayn saudara sepupu jauh dari Raymond, namun Daddy Nathan dan Mommy Grace tidka pernah menghinanya, bahkan mereka sudah menganggap Zayn seperti anak mereka sendiri, telatnya seperti adik dari Raymond.
__ADS_1
"Pulanglah, dan jangan coba-coba untuk datang ke sini dengan tujuan menikahi Clara. Kecuali Raymond Xavier yang datang untuk melamarnya," Papa Clara pun mengusir Zayn dengan kasar.
"Ma, Pa, tapi Raymond tidak mungkin menikahiku, dia... dia... sudah-"
"Dia harus mempertanggungjawabkannya. Mama tidak mau tau," Mama Clara meninggalkan ruangan tersebut dan diikuti oleh Papanya.
Zayn memandang Clara yang berderai air mata. Clara masih menangis sesenggukan dengan berderai air mata. Zayn meraih tubuh Clara dan memeluknya dengan erat. Clara semakin terisak di dalam pelukan Zayn.
"Sayang, ku mohon jangan menangis. Apa kita pergi saja dari sini dan menikah secara diam-diam?" ucap Zayn yang masih memeluk Clara yang semakin berderai air mata.
"Sayang, aku janji akan memperjuangkanmu, dan aku akan membahagiakanmu karena aku sangat mencintaimu sejak dulu. Kamu percaya bukan?" Zayn mengurai pelukannya dan melihat wajah sembab kekasih hatinya itu.
Clara menganggukkan kepalanya. Entah mengapa tadi dia menolak Zayn dengan sekuat tenaganya, namun sekarang dia merasa nyaman dan terlindungi berada di dekat Zayn. Clara yakin jika itu merupakan ikatan batin yang dihubungkan oleh anak mereka yang masih berada dalam kandungannya.
"Aku akan kembali untuk menikahimu. sekarang aku akan mencari cara agar kedua orang tuamu setuju dengan pernikahan kita," setelah mengucapkannya, Zayn mencium kening Clara lama dan Clara mengangguk masih dengan sesenggukan dan air matanya yang menetes.
"Kenapa kamu masih di sini? Pergilah sekarang karena kami akan memeriksakan Clara ke rumah sakit," Mama Clara mengusir Zayn.
"Tapi tadi kami sud-"
"Pergilah Zayn," ucap Clara dengan diselingi isakan tangisnya.
Zayn pun menurut karena dia tidak mau Clara dimarahi lagi oleh Kedua orang tuanya.
Setelah Zayn pulang, Clara diajak Mama Papanya untuk memeriksakan dirinya ke rumah sakit, setelah itu mereka pergi ke rumah utama keluarga Xavier.
"Clara sedang mengandung anak Raymond. Kami mau Raymond segera bertanggung jawab untuk menikahinya!"
__ADS_1