Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
100. I want you Daddy!


__ADS_3

"Kau gila!" teriak Mama Clara.


Plak!!!


Tidak hanya meneriaki putrinya saja, bahkan telapak tangan Mama Clara kini mendarat dengan indah di pipi Clara.


Bukan hanya Clara saja yang kaget mendapatkan tamparan dari Mamanya, bahkan Zayn sangat kaget melihat seorang ibu kandung menampar anaknya hanya karena tidak mau menuruti kemauan sang ibu untuk membantunya menipu orang lain.


"Tante! Tante sudah sangat keterlaluan," ucap Zayn dengan emosi yang membuncah.


"Dia anakku, terserah aku mau apakan dia," ucap Mama Clara tidak kalah emosi.


Namun tanpa disadarinya itu malah menjadi Boomerang untuk dirinya sendiri. Papa Clara memejamkan matanya untuk meredam amarahnya. Dia sangat menyayangkan sikap istrinya yang terlalu emosi sehingga nantinya mereka sendiri yang akan menanggung akibatnya.


"Maaf Pak, mohon Ibu ditenangkan," ucap lirih pengacaranya pada Papa Clara.


"Ma sudahlah," Papa Clara menarik tubuh istrinya agar menjauh dari Clara.


Dan benar saja, tim kuasa hukum Zayn meminta agar Clara dilindungi dari kedua orang tuanya yang bisa membahayakan Clara dan kandungannya. Polisi menyetujui permintaan tim kuasa hukum Zayn karena mereka juga menyadari bahwa akan sangat berbahaya bagi Clara dan kandungannya jika hidup bersama kedua orang tuanya yang mudah ringan tangan dan emosi seperti yang terjadi dihadapan mereka.


Mama Clara tidak begitu saja menerima keputusan dari pihak kepolisian yang lebih menyerahkan Clara pada pihak Zayn. Namun untuk saat ini mereka tetap harus mentaati apa yang telah diputuskan karena semua saksi dan bukti mengarah pada kedua orang tua Clara. Kini mereka berbalik menjadi pihak terlapor.


Keluarga besar Xavier tidak akan pernah membiarkan siapapun yang mempermainkan ataupun membuat keluarga mereka hancur. Mereka akan berusaha untuk menyerang balik siapapun yang mengusik keluarga mereka.


Begitupula dengan keluarga Clara yang berani mengusik keluarga Xavier. Apapun yang terjadi mereka akan membuat kedua orang tua Clara menunduk meminta pengampunan pada mereka.


Clara terus memaksa untuk dinikahkan bersama dengan Zayn, namun Papa Clara meminta waktu, dia ingin pernikahan yang sewajarnya, tidak tergesa-gesa.


"Maaf Pak Zayn, kami rasa Bu Clara harus tinggal di tempat lain agar tidak terjadi masalah dikemudian hari," ucap Pak Polisi pada Zayn.

__ADS_1


Clara menggelengkan kepalanya, dia tidak mau jauh dari Zayn karena dia takut jika mereka akan dipisahkan kembali seperti tadi.


"Baiklah Pak, saya akan menyiapkan tempat sendiri untuk Clara tinggal. Tapi apakah boleh jika masih dalam kawasan apartemen yang sama?" tanya Zayn pada Polisi tersebut.


"Boleh saja asalkan kalian tidak tinggal seatap. Dan kalian akan tetap diawasi, " jawab Pak Polisi tersebut.


Akhirnya Zayn dan Clara pulang didampingi tim kuasa hukum mereka menuju apartemen Zayn setelah kedua orang tua Clara pulang terlebih dahulu.


"Ray, tolonglah...," ucap Zayn pada Raymond melalui telepon.


Jangan di apartemen milikku Zayn. Gunakan saja apartemen yang lain. Sepertinya masih ada disitu yang masih kosong, jawab Raymond di seberang sana.


"Tapi Ray Cla-"


Tut... tut... tut...


Zayn mendengus kesal ketika teleponnya tiba-tiba diputuskan oleh Raymond. Sudah tidak ada harapan lagi baginya untuk meminta tolong pada Raymond.


Zayn menghubungi pihak apartemen yang ditinggalinya. Apartemen tersebut masih milik perusahaan Nathaniel Xavier yang sudah diambil alih oleh Raymond Xavier.


Ternyata keberuntungan berada di pihak Zayn. Apartemen sebelah Zayn kosong, sehingga Clara bisa langsung menempatinya.


Namun Clara masih saja tidak mau tinggal sendiri, dia lebih suka tinggal bersama dengan Zayn di mana pun berada.


"Ah, begini saja. Kita tetap tinggal bersama, tapi kamu juga tinggal di sebelah. Jadi jika ada pihak yang mempertanyakan tempat tinggalmu, kamu bawa saja mereka ke sebelah, karena di sana tempat tinggalmu sekarang. Mengerti?" Zayn mengusap pipi Clara dan mencium lama dahinya.


Clara yang sudah biasa diperlakukan seperti itu oleh Zayn kini merasa lebih nyaman dan tenang. Clara tersenyum dan mengangguk setuju, kemudian dia menelusupkan kedua tangannya pada pinggang Zayn dan memeluk erat pinggang Zayn serta mencium aroma tubuh Zayn yang dia rindukan sejak perpisahan mereka karena kedatangan Polisi saat itu.


Sedangkan di rumah mewah milik Raymond, dia disibukkan dengan permintaan Caramel yang sedang mengidam. Serumit apapun itu Raymond akan tetap memberikan permintaan istri dan anaknya. Itu sudah menjadi janji Raymond pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Kali ini Caramel meminta agar Raymond membuatkan menu baru spesial khusus untuk dirinya dan bayi dalam kandungannya. Caramel merasa tidak nafsu makan melihat semua makanan yang sudah tersedia di atas meja makan dan parahnya lagi ketika Raymond bertanya tentang makanan yang diinginkan oleh Caramel saat ini, dia tidak mengetahuinya.


"Caramelia Faraza, istri tercintanya Raymond Xavier ingin makan apa sekarang?" Raymond bertanya dengan sangat hati-hati dan sangat lembut sekali pada Caramel.


"Gak tau....," jawab Caramel manja dan sedikit merengek pada Raymond.


Bahkan posisinya sekarang ini dia sedang memeluk erat tubuh Raymond yang duduk di sebelahnya, dan menyenderkan kepalanya di dada bidang Raymond.


"Lalu mau makan apa dong? Kan kalian belum makan. Harus makan ya, mau minta apa aja pasti akan aku berikan," Raymond mencoba merayu istrinya agar mau makan.


"Benarkah? Tapi aku gak nafsu lihat semua makanan itu," ucap Caramel dengan manja dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Raymond.


Raymond terkekeh senang mendapatkan perlakuan seperti itu dari istrinya. Tangan Raymond melingkar pada pinggang istrinya dan mengeratkan pelukannya sehingga tubuh mereka seperti menempel erat tanpa jarak sedikitpun.


"Gimana kalau Daddy masak buat kalian istri dan anakku tercinta?" Raymond bertanya pada Caramel dan mengusap perut Caramel serta mencium perut Caramel.


"Mau Daddy... yang spesial ya, pokoknya yang bisa membuat selera makan Mommy kembali," jawab Caramel dengan antusias dan mata yang berbinar.


Hal itu membuat Raymond sangat senang karena melihat senyum kegembiraan istrinya. Dan juga membuat semangat Raymond bertambah apalagi ketika Caramel tidak mau jauh darinya. Seperti cicak yang selalu menempel di dinding, Caramel pun selalu menempel pada Raymond.


Sebenarnya Raymond sangat risih jika itu orang lain, tapi dia bukan orang lain, dia istri tercintanya, jadi bukannya risih malah dia tambah senang dan semangat masak ditemani istrinya.


Bagaimana tidak, setiap Raymond selesai memotong bahan, Caramel selalu memberinya ciuman, begitu juga saat Raymond selesai memasukkan bahan makanan untuk di masak, Caramel juga memberinya ciuman, hingga selesai menyajikannya di atas piring, ciuman yang diberikan Caramel berubah. Ciuman itu bukan lagi ciuman biasa, tapi ciuman panas yang bisa membuat Raymond mabuk kepayang hingga menginginkan lebih dari itu.


"Sayang, kayaknya aku udah tau pengen apa," tiba-tiba Caramel berbicara setelah memakan suapan pertama dari makanan yang disuapkan oleh Raymond.


"Ini gak cocok? Terus mau apa Sayang?" Raymond bertanya dengan sedikit frustasi.


"I want You Daddy!"

__ADS_1


__ADS_2