Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
44. Nyonya Besar Raymond Xavier


__ADS_3

"Mama... ayo pulang," pinta Dave ketika ada dalam gendongan Daniel.


Raymond dan Caramel sangat kaget, mereka lupa memberitahu yang sebenarnya pada Dave. Anak kecil yang masih polos tidak mengerti apa-apa.


Caramel kikuk, dia bingung akan mengatakan bagaimana pada Dave, anak kecil yang dengan mudahnya percaya perkataan orang dewasa.


Untung saja Daniel bisa membujuknya, dan kebetulan juga Dave sudah sangat lelah dan mengantuk, sehingga dengan mudahnya dia tertidur dalam gendongan Daniel.


Caramel tertawa terbahak-bahak melihat wajah Raymond yang cemberut dan kesal setelah kepergian Dave.


"Papa kenapa mukanya ditekuk seperti itu? Apa mau Mama lurusin mukanya pakai setrikaan?" canda Caramel setelah tawanya berhenti.


Raymond bertambah kesal dan dia menggendong tubuh Caramel ala bridal style menuju kantor. Semua pasang mata tertuju pada sepasang suami istri ini.


Rupanya Raymond lupa jika mereka sekarang berada di tempat umum, atau mungkin dia tidak peduli dengan pandangan dan omongan orang lain.


"Liat-liat tempat dong woiii....!" seru Zayn ketika berpapasan dengan Raymond yang menggendong Caramel.


Raymond tak peduli, dia mengacuhkan Zayn dan perkataannya. Bahkan dia menganggap Zayn tak ada dan tak bersuara. Umpatan dari Zayn pun tak didengar olehnya. Biasanya Raymond akan langsung marah jika diumpat oleh Zayn, bukan hanya Zayn, orang lain pun yang mengumpatnya pasti akan dihabisinya.


"Turunin... turunin gak? Malu niiiih...," Caramel merengek dan menyembunyikan wajahnya di dada Raymond.


Perjalanan dari tempat permainan dan rekreasi menuju kantor dengan melewati restoran dan tentu saja melewati kitchen membuat Caramel serasa berjam-jam berada di dalam gendongan Raymond.


Semua karyawan tak kalah heboh dengan para tamu, mereka melihat dua sejoli itu dengan tatapan iri dan seperti biasa mereka pasti berkomentar.


Raymond sangat menikmati wajah malu istrinya. Inilah salah satu senjata Raymond jika ingin membuat Caramel bertekuk lutut padanya, dengan cara membuatnya merona karena malu, sehingga dengan gampangnya Caramel menyembunyikan mukanya di dada bidangnya.


"Ya ampun kalian... gak ada tempat lain apa?" Pak Sarno terkejut melihat Raymond menggendong Caramel ala bridal style masuk ke dalam kantor.


"Tadi main rumah-rumahan, sekarang main nikah-nikahan, mana gendong-gendongan kayak mau malam pertama lagi," sahut Revan yang juga berada di dalam kantor bersama Pak Sarno.

__ADS_1


Pak Sarno terkekeh mendengar perkataan dari Revan. Memang benar kata Revan, sepasang suami istri di depan mereka ini banyak membuat orang baper melihatnya.


Caramel semakin malu dan mengeratkan pelukannya ketika dia sudah diturunkan Raymond dari gendongannya. Wajahnya masih saja disembunyikan di dada bidang suaminya, malu melihat Pak Sarno dan Revan yang baru saja meledeknya.


"Gak usah sok cantik gitu deh Ca, pakai diumpet-umpetin mukanya," cibir Revan.


Caramel menatap Revan dan tidak menyembunyikan mukanya lagi di dada Raymond.


Caramel meraih buku tebal yang berada di atas meja didekatnya. Secepat kilat dia memukuli Revan bertubi-tubi dengan buku itu. Reflek Revan menghindar karena pukulan Caramel sangat keras dan sakit di badannya.


Terjadilah kejar-kejaran di dalam kantor antara Raymond dan Caramel dengan Caramel yang lebih unggul karena berhasil memukuli Revan hingga dia mengadu kesakitan.


"Ampun Ca ampuuuun... Chef ini istrinya ganas banget sih... Aww... aww..," Revan mengadu pada Raymond dan hanya ditatap saja oleh Raymond dengan kedua tangannya dilipat di depan dadanya.


"Kalian berdua romantis banget sih kejar-kejaran gitu," celetuk Pak Sarno yang mengundang reaksi dari Raymond.


Raymond tidak terima istrinya dibilang romantis dengan Revan. Mendengar ucapan Pak Sarno, Raymond segera menangkap Caramel dan menyimpannya ke dalam pelukannya.


"Sayang, apaan sih? Aku tuh mau ngasih pelajaran sama Revan tuh," Caramel memberontak, dia ingin lepas dari pelukan Raymond.


"Udah, gak boleh, biar aku yang kasih dia pelajaran. Kamu duduk aja nanti capek," ucap Raymond sambil mendudukkan Caramel di kursi yang ada di dekatnya.


"Revan, sini," Raymond memanggil Revan dengan menggerakkan telapak tangannya, kemudian dia menggulung lengan bajunya.


Revan kelabakan melihat Raymond menggulung lengan bajunya, tatapan matanya menunjukkan kekesalannya. Daripada Revan menjadi perkedel yang dibejek-bejek oleh tinju Raymond, Revan memutuskan untuk kabur.


Secepat kilat dia berlari keluar dari dalam kantor dengan kecepatan penuh. Namun sayangnya tangan panjang Raymond berhasil menangkapnya, sehingga Revan berhasil ditangkap oleh Raymond dan mendapatkan hukuman dari Raymond.


Revan mendapat hukuman mengupas semua persediaan pete yang ada di kitchen. Pak Sarno dan semua koki yang ada disitu merasa terhibur dengan penderitaan Revan. Mereka semua tertawa melihat Revan yang memakai kemeja rapi dan dasi sekarang sedang mengupas pete yang segitu banyaknya.


Dengan muka teraniaya, Revan mengupas satu demi satu pete. Keringatnya menetes dari pelipisnya dan kemeja yang tadinya rapi, kini menjadi lecek karena banyaknya keringat. Dasinya kini menjadi longgar.

__ADS_1


Revan yang tidak tahan terhadap suasana panas menjadi heboh, mengupas pete dengan duduk, beberapa waktu kemudian mengupasnya sambil berdiri, tidak lupa mengelap peluhnya menggunakan tangannya yang memegang pete dan pisau.


Sungguh apes harinya dihabiskan di kitchen yang panas dan bergelut dengan pete yang dari tadi tidak ada habisnya menurut Revan.


Caramel yang melihat Revan begitu tersiksa merasa sangat puas dan tertawa terbahak-bahak.


Caramel berada di dapur sesuai perintah suaminya yang ingin di dampingi ketika memasak makanan untuk mereka sendiri.


"Ca, bantuin napa? Ini kan gara-gara kamu," Revan memanggil Caramel ketika tawa Caramel reda.


"Dih, ogah. Bukannya kamu senang banget ya sama pete?" ledek Caramel dengan senyuman meledek dan sedikit menjulurkan lidahnya.


"Seneng apanya? Durhaka kamu ngetawain aku. Cepetan sini bantuin," Revan memaksa Caramel agar membantunya.


"Iiih ogah, masa' Nyonya Besar Raymond Xavier disuruh ngupas pete gantiin kamu sih," canda Caramel pada Revan, namun menjadikan Raymond senang.


Raymond senang karena mendengar Caramel menyebut dirinya Nyonya Besar Raymond Xavier.


"Kamu masih kecil Ca, belum besar, nanti kalau udah hamil, baru kamu jadi besar," canda Revan yang membuat Caramel tidak suka.


"Meskipun kata kamu masih kecil gini udah bisa buat anak kecil tau gak?" protes Caramel membuat Raymond terkekeh dan semua orang di kitchen pun bersorak.


Raymond sudah selesai menaruh makanan yang dia masak ke dalam piring. Kemudian dia menghampiri Caramel dan mendekapnya dari belakang agar tidak lagi memukul Revan karena ucapannya.


"Tolong bawakan ke meja depan untuk saya dan istri saya," perintah Raymond pada salah satu koki yang berada di dekatnya.


"Setelah ngupas pete selesai, kamu masak nasi goreng pete ya. Bye....," salam perpisahan dari Caramel sebelum pergi meninggalkan Revan.


"Jangan lupa perintah Nyonya Besar Raymond Xavier," perintah Raymond dengan tegas sebelum meninggalkan Revan dengan memeluk pinggang istrinya.


Revan hanya melongo melihat sepasang suami istri yang somplak dan dengan senangnya selalu menyiksanya.

__ADS_1


__ADS_2