Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
24. Kacamata siapa?


__ADS_3

Caramel menatap tajam penuh tanda tanya pada Raymond.


"Sayang, kenapa kamu copot? Mau mandi juga?" Raymond memegang dua squishy Caramel yang berukuran lumayan besar untuk gadis seumuran dia.


Caramel menatap tajam Raymond yang sedang memegang aset berharganya.


"Loh kok masih pakai? Kamu bawa ganti ya?" tanya Raymond yang tangannya malah memainkan dua benda tersebut bak squshy.


Caramel menepis kedua tangan Raymond yang tidak bisa berhenti memainkan squishy miliknya.


"Sembarangan. Ini punya siapa? Ini aku temukan di lemari itu," tanya Caramel sambil menunjuk lemari tadi.


"Loh bukan punya kamu?" tanya Raymond bingung.


"Bukan!" seru Caramel yang tidak bisa menahan kemarahannya.


"Terus punya siapa dong sayang?" tanya Raymond heran.


"Tau. Udah berapa wanita yang menginap disini?" tanya Caramel menyelidik penuh dengan kemarahan.


"Gak pernah sayang... cuma kamu aja yang pernah masuk ke kamar ini dan apartemen ini," Raymond menjelaskan dengan mengiba.


"Bohong. Buktinya ini punya siapa? Dan juga waktu itu si boneka Anabelle kan pernah menginap disini," tuduh Caramel dengan emosi.


"Gak pernah sayang... dia kesini pada saat aku kerja. Dan aku belum sempat tanya lagi sama Mommy and Daddy kenapa dia bisa ada disinj waktu itu," Raymond terus saja mengiba pada Caramel agar dia tidak marah.


"Terus ini punya siapa? Punya Boneka Anabelle?" tuduh Caramel kembali.


" Gak tau. Aku kira tadi punya kamu," jawab Raymond jujur.


"Gak mungkin aku punya kacamata dalam yang bermerk seperi ini. Punyaku mah murah. Kalau ini punya wanita yang berduit," ucap Caramel sambil membolak-balik kacamata dalam tersebut.


"Nanti aku belikan yang banyak semua merk ya," rayu Raymond yang sekarang malah mencium pelipis Caramel.


"Iiiisssh... apaan sih?" Caramel menjauhkan tubuh Raymond darinya.


"Jangan marah dong sayang. Habis ini kita kan mau ke rumah kamu," Raymond mengikuti Caramel yang sedang duduk di sofa yang ada di dalam kamar Raynond.


"Ngapain?" tanya Caramel ketus.


"Minta restu mau nikahin kamu," jawab Raymond dengan kerlingan mata menggoda.


"Gak mau. Nikah aja sama yang punya ini," Caramel melempar kacamata dalam tadi ke wajah Raymond.


Raymond melempar benda tersebut ke lantai. Secepatnya dia berganti baju dan mengikuti Caramel yang kini sudah memakai sling bag nya.


"Sayang mau kemana?" tanya Raymond memegang tangan Caramel.


"Lepasin!" seru Caramel sambil menghempaskan tangan Raymond.


"Gak, aku gak mau jauh dari kamu lagi, apalagi harus meninggalkan kamu, aku gak mau," ucap Raymond dengan tegas.

__ADS_1


"Mau kamu apa? Kamu udah punya wanita lain dan kamu ingin aku menjadi istri kamu gitu?" Caramel menatap tajam Raymond.


"Gak, gak ada wanita lain sayang... ayo sekarang kita cari tau apa benar ini milik wanita tidak tau diri itu," Raymond menarik tangan Caramel dan mengajaknya keluar dari apartemennya.


"Hebat sekali anda tuan, mengatakan wanita yang meninggalkan benda keramat ini sebagai wanita tidak tau diri," sindir Caramel dengan wajah tidak bersahabat.


"Sayang, aku tidak seperti itu. Tolong jangan nilai aku seperti aku seorang bajingan," Raymond menghentikan langkahnya dan menatap pada manik mata coklat Caramel.


"Aku bicara sesuai bukti yang ada," ucap Caramel dengan suara pelan dan mengalihkan tatapan matanya ke arah bawah.


"Dan aku tidak tau jika ada benda itu di dalam lemari ku. Sungguh, aku gak bohong sayang...," Raymond memegang dagu Caramel dan mengarahkannya ke atas untuk melihat kesungguhan di matanya.


Caramel hanya diam, dia bingung akan bagaimana. Sebenarnya Caramel tidak tahu dengan dirinya saat ini. Dia tidak tahu mengapa dia tiba-tiba marah hanya karena dia menemukan benda tadi di lemari Raymond. Harusnya Caramel tidak berhak marah karena dia sadar tidak ada hubungan apa-apa diantara mereka.


"Sayang, ayo...," Raymond menggandeng tangan Caramel masuk ke dalam mobilnya.


Selama perjalanan, Caramel hanya diam, dia mencoba bertanya pada dirinya sendiri. Tangan Raymond tidak lepas dari tangan Caramel meskipun sedang berkendara.


Sesampainya di rumah orang tua Raymond, Caramel hanya pasrah dan diam saja. Dia tidak tahu harus bagaimana nanti bersikap ketika berada diantara mereka. Namun di dalam hati Caramel, dia sudah bertekad akan melindungi harga dirinya. Dia tidak mau harga dirinya diinjak-injak oleh siapapun meskipun konsekuensinya dia harus mencari pekerjaan yang lain.


Nampak Daddy Nathan, Mommy Grace dan Arabelle di ruang tamu menunggu mereka. Entah dari mana mereka tahu jika Raymond dan Caramel akan datang.


Arabelle menatap tidak suka melihat tangan Raymond menggandeng tangan Caramel. Mommy Grace tersenyum menyambut Raymond dan Caramel dan mempersilahkan mereka untuk duduk.


"Mom, Dad, maaf Ray lupa dari kemarin mau menanyakan bagaimana caranya Wanita tidak tau diri ini bisa masuk ke dalam apartemenku?" tanya Raymond menatap penuh harap jawaban dari Mommy Grace.


"Maaf Ray, Mommy tidak tahu jika Arabelle keluar dari rumah untuk ke apartemenmu. Dia hanya berpamitan akan shopping di Mall. Kami percaya karena dia tidak mengetahui tempat tinggalmu. Dan ternyata kami salah menyepelekannya," ucap Momny Grace dengan menatap Arabelle yang sedari tadi sudah dalam proses persidangan dengan Mommy Grace dan Daddy Nathan.


"Lalu bagaimana dia bisa tahu dan masuk ke dalam apartemenku?" tanya Raymond heran.


"Wanita licik, kenapa kamu selalu menggangguku?" tanya Raymond penuh emosi pada Arabelle.


"Karena aku mencintaimu lebih dari siapapun yang mencintaimu, termasuk wanita itu," tunjuk Arabelle pada Caramel.


"Tau apa kamu tentang dia?" seru Raymond dengan emosinya.


"Dia tidak tulus mencintaimu. Buktinya dia tidak pernah mencegahmu jika kamu akan meninggalkannya," jawab Arabelle dengan senyum liciknya.


"Maaf jika definisi cinta menurutmu seperti itu, maka itu bisa disebut dengan obsesi, bukan cinta," sahut Caramel yang sudah geram sedari tadi diremehkan oleh Arabelle.


"Jika tidak ada obsesi tidak akan bisa mendapatkannya," ucap Arabelle membela dirinya.


"Kau gila!" seru Raymond dengan menatap penuh kebencian pada Arabelle.


"Ray...," Mommy Grace menghentikan ucapan Raymond.


"Dia gila Mom. Dia meninggalkan barang-barang pribadinya di lemari Ray Mom," Raymond sudah tidak tahan untuk mengatakannya.


"Benar itu Arabelle?" tanya Mommy Grace dengan memandang Arabelle penuh kemarahan.


"Wajar dong, aku kan akan tinggal di sana," jawab enteng Arabelle yang tidak mempunyai sopan santun pada orang yang lebih tua.

__ADS_1


"Mimpi. Aku tidak akan pernah menikah denganmu," Sahut Raymond.


Kemudian Raymond menarik tangan Caramel agar dia bangun dari duduknya dan mengajaknya pergi dari rumah orang tuanya.


"Ray, tunggu sebentar. Daddy akan menyampaikan sesuatu," ucap Daddy Nathan menghentikan langkah Raymond dan Caramel.


"Aku tidak akan mau jika disuruh menikah dengan wanita tidak tau diri ini. Terserah Daddy akan berbuat apa padaku. Karena aku tidak akan melepaskan cintaku demi apapun," ujar Raymond dan bersiap untuk berjalan kembali.


"Arabelle akan kembali ke negaranya," ucap Daddy Nathan yang untuk kedua kalinya berhasil menghentikan langkah Raymond dan Caramel.


"Enggak. Aku gak mau pergi," seru Arabelle tidak terima.


"Terserah Arabelle. Karena Raymond tidak akan pernak menikah denganmu, dan Papamu sudah menerima keputusanku. Lebih baik kamu pergi dan carilah pria lain untuk dijadikan suamimu," Daddy Nathan berbicara tegas tidak mau dibantah.


Daddy Nathan sungguh pusing dengan sikap dan sifat Arabelle. Pantas saja sahabatnya itu menitipkannya padanya di negara ini. Karena dia takut jika putrinya akan membuat ulah jika tidak ada yang mengawasinya.


"Kalian jahat! Kalian sudah dibutakan oleh wanita licik dan udik itu," tunjuk Arabelle penuh kemarahan pada Caramel.


"Tutup mulutmu dan pergilah dari hidupku! Aku sangat muak padamu," ucapan terakhir Raymond yang sangat menohok bagi Arabelle sebelum Raymond dan meninggalkan rumah orang tuanya.


Raymond mengantarkan Caramel pulang, namun sebelumnya Raymond mengajak Caramel ke Mall ternama untuk membeli beberapa barang pribadi untuk Caramel.


Raymond mengajak Caramel ke salah satu brand ternama yang harga barangnya membuat mata Caramel lari karena melihat nominal angka yang baginya sangat tidak wajar.


Raymond membelikan Caramel semua jenis pakaian dalam dan termasuk lingerie yang Raymond ingin Caramel pakai pada saat mereka sudah menikah nanti.


Caramel menolak semua barang itu pada saat Raymond akan membayarnya, namun ancaman Caramel tidak berguna. Raymond tetap membayar semua barang tersebut dan memberikannya pada Caramel.


Usaha Caramel sia-sia. Karena Raymond tidak bisa ditolak, dia selalu punya cara untuk memaksa Caramel.


Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah Caramel setelah mereka makan malam bersama di salah satu restauran yang ada dalam Mall yang tadi mereka kunjungi.


Mobil dikendarai Raymond dengan santai karena dia tidak ingin berpisah dengan kekasih hatinya. Rasanya dia tidak rela untuk mengembalikan gadisnya itu pulang ke rumahnya.


Akhirnya mobil Raymond berhenti di depan rumah Caramel. Sebenarnya dia ingin masuk untuk menyapa kedua orang tua Caramel, namun Caramel menghentikannya agar Raymond tidak keluar dari dalam mobilnya dengan alasan sudah malam.


Pada saat itu Ayah dan Ibu Caramel berjalan menuju rumah mereka sepulang dari acara kondangan di kampung sebelah.


Mereka melihat mobil mewah berhenti di depan rumah mereka. Rasa penasaran akan pemilik mobil tersebut dirasakan oleh kedua orang tua Caramel karena mereka tidak pernah melihat mobil itu sebelumnya.


Memang Raymond memakai mobil lain ketika menjemput Caramel pada saat mengajaknya ke bandara tempo hari. Dan kini Raymond memakai mobil mewahnya yang lain.


Dengan rasa penasaran yang tinggi, Ayah dan Ibu Caramel berjalan menghampiri mobil yang terparkir tepat di depan rumah mereka.


Raymond dan Caramel masih membahas tentang pakaian dalam yang ada pada tas belanja yang dipegang oleh Caramel. Raymond mengatakan bahwa lingerie seksi itu khusus dia beli untuk dikenakan Caramel pada saat malam pertama pernikahan mereka.


Tentu saja itu membuat Caramel malu dan dia ingin mengenyahkan lingerie itu dari hadapannya. Hingga terjadilah tarik menarik lingerie dan....


Cup...


Raymond kembali mencuri ciuman di bibir Caramel.

__ADS_1


Tok... tok... tok..


"Sedang apa kalian?" suara itu berhasil menghentikan kegiatan Raymond untuk mencicipi madu di bibir manis gadisnya.


__ADS_2