Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
49. Hide n seek


__ADS_3

"Oh My God... apalagi ini?!" teriak Raymond frustasi.


Caramel berada di mobil Zayn. Dia tadi mencoba untuk bersembunyi dari kejaran Raymond. Kebetulan ada Zayn yang berpapasan dengannya.


Caramel meminta bantuan pada Zayn untuk menyembunyikannya. Sebenarnya Zayn bingung, namun Zayn segera membuka Mobilnya dan menyuruhnya masuk di jok belakang karena Caramel memohon padanya.


Tanpa pikir panjang pun Zayn mau membantu Caramel bersembunyi. Ketika di dalam mobil, Zayn meminta penjelasan dari Caramel.


"Kenapa sih? Ada masalah? Dikejar siapa?" Zayn memberondong Caramel dengan beberapa pertanyaan.


"Tolong sembunyikan aku dari Raymond. Plissss....," Caramel memohon dengan sangat pada Zayn.


"Tapi kenapa? Kalian suami istri, dan bukannya dari tadi kalian datang sangat mesra sekali?" Zayn heran dan bingung dengan permintaan Caramel.


"Tolonglah Zayn, aku mohon," Caramel mengiba pada Zayn.


"Ceritakan dulu masalahnya. Karena aku tidak mau jika Raymond nantinya salah paham padaku dan menghabisiku. Kamu tau kan suami bucinmu itu bagaimana jika aku dekat denganmu," ucap Zayn dengan gaya merinding takut dihabisi oleh Raymond.


"Kamu takut sama Raymond?" tanya Caramel.


"Ya iyalah, dia bisa menghabisi apapun jika marah," Zayn bergidik ngeri mengucapkannya.


"Baguslah, ayo jauhkan aku dari tempat ini, nanti akan aku ceritakan semuanya," ucap Caramel memerintah Zayn.


Zayn pun menurut, dia membawa Caramel menuju apartemennya. Zayn seorang marketing, jadi tidak masalah jika dia ada urusan diluar ketika jam sibuk di tempat kerjanya.


Para bodyguard dan keamanan yang ditugaskan oleh Raymond untuk mencari Caramel pun berhasil dilewati oleh Zayn dengan mudahnya. Mereka semua mengenal Zayn karena Zayn sering ke rumah keluarga besar Xavier.


Sebenarnya Caramel enggan masuk ke apartemen Zayn, namun tidak ada lagi tempat yang aman untuk bersembunyi dari Raymond.


Caramel masuk ke dalam apartemen Zayn dengan perhanjian bahwa Zayn tidak akan melakukan apapun pada Caramel.


"Hahahaha... kamu bercanda? Mana berani aku menyentuh wanita milik tuan Raymond Xavier," Zayn tertawa mendengar perjanjian yang dilontarkan oleh Caramel.


"Kupegang janjimu Zayn," Caramel melenggang masuk ke dalam apartemen milik Zayn.


Caramel duduk di sofa dan mulai menceritakan apa yang terjadi. Zayn bisa mengerti posisi Raymond yang cemburu karena dia sangat tau sikap dan sifat sepupu jauhnya itu.


Raymond pun tau perasaan Caramel yang terluka oleh perkataan yang seolah menuduh Caramel sebagai wanita rendahan.


"Lalu, kamu akan tinggal dimana?" tanya Zayn setelah mendengar cerita Caramel.

__ADS_1


"Gak tau," jawab Caramel dengan polosnya sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu mau tinggal di sini bersamaku?" tanya Zayn menggoda dengan menaik turunkan alisnya.


"Gak ah, takut. Dulu kan kamu pernah bilang mau ngajak aku ke hotel," ucap Caramel sambil berpikir.


"Terus mau tinggal dimana Neng?" tanya Zayn pada Caramel.


Sebenarnya Zayn ingin sekali mengatakan pada Caramel jika dulu itu dia hanya menjalankan misi dari Daddy Nathan dan Mommy Grace. Namun dia tidak berani mengatakannya, karena takut jika Caramel berpikiran buruk pada kedua mertuanya itu.


Daddy Nathan dan Mommy Grace hanya ingin yakin jika calon istri dari anaknya benar-benar wanita baik-baik dan layak untuk Raymond, anak mereka satu-satunya.


"Mmm... gimana kalau kamu tinggal di apartemen Raymond aja. Kamu kan tau password-nya. Masalah makanan gampang, nanti biar aku yang antar," usul Zayn kemudian.


"Boleh juga tuh, daripada di sini nanti malah jadi fitnah," Caramel menyetujui ide Zayn.


"Eh tunggu dulu, gimana dengan orang yang membersihkan apartemennya kalau tau aku di sana?" tanya Caramel ragu.


"Ah benar juga. Okelah nanti akan aku bilang jika Raymond tidak memperbolehkan orang lain masuk ke dalam apartemennya. Gimana?" Zayn mengutarakan usulnya kembali.


"Ok, setuju," jawab Caramel lega.


"Tunggu Ca, kamu bawa ponsel? cepat matikan biar tidak bisa dilacak oleh Raymond," Zayn mengingatkan Caramel.


Caramel menuju apartemen Raymond. Memang apartemen Raymond dan Zayn berbeda lantai. Jadi mereka tidak sering bertemu karena misi Zayn yang seperti memata-matai Raymond itu.


Di dalam apartemen Raymond, Caramel merasa kesepian seorang diri. Dia merindukan Raymond, suaminya. Namun dia tidak bisa menemuinya sekarang demi ketenangan hati mereka berdua.


Diambilnya ponsel dari tasnya. Untung saja tadi dia belum menaruh sling bag nya di kantor, jadi dia bisa berlari dari Raymond dengan membawa tasnya.


Dilihatnya foto pernikahannya bersama Raymond yang dia jadikan sebagai wallpaper ponselnya. Saat ini ponselnya sudah dalam keadaan aman tidak bisa dilacak oleh Raymond. Jadi, Caramel bisa tenang sekarang.


Apa aku terlalu kekanak-kanakan sampai harus lari dan bersembunyi? Apa aku harus kembali aja ke rumah? Ah kan malu... masa' iya balik sendiri ke rumah? batin Caramel dilema.


Raymond frustasi karena kehilangan istrinya. Orang-orangnya pun tidak ada yang menemukan Caramel. Disela kemarahannya terdengar suara telepon yang berasal dari Mommy nya.


"Halo Mom, ada apa?" tanya Raymond malas.


Kau apakan menantuku? Kenapa dia bisa kabur? Ini pasti karena sikapmu yang egois, terdengar suara Mommy Grace yang menyalahkan Raymond dari seberang sana.


"Bukan seperti Mom, hanya saja tadi-"

__ADS_1


Halah, kamu bodoh Ray. Awas saja jika tidak kamu temukan menantu kesayangan Mommy, kamu pasti akan tau akibatnya.


"Aku juga frustasi Mom, aku bingung harus mencarinya kemana" suara Raymond melemah.


Dasar anak tidak berguna kamu Ray. Daddy tidak pernah mengajarkan kamu selemah dan sebodoh ini. Kenapa tidak kamu lacak saja dia? Minta bantuan mereka untuk melacaknya, kini giliran Daddy Nathan yang mengomel pada Raymond.


"Ah... benar, kenapa tidak terpikirkan olehku?" ucap Raymond agak lega.


Ray... Ray... kenapa kamu bisa sebodoh ini jika menyangkut Caramel? Hahahaha...., tawa Daddy Nathan sangat mengejek dan membuat Raymond kesal.


"Udahlah Dad, bantu Ray jika mau. Jika tidak mau tutup saja teleponnya," Raymond mematikan sambungan teleponnya meskipun Daddy Nathan masih belum menutupnya.


Pasti dia mengataiku, anak kurang ajar berani-beraninya menutup teleponnya sebelum aku selesai bicara, Raymond menyeringai sambil membatin menirukan Daddy Nathan.


Raymond segera meminta orang kepercayaan Daddy Nathan yang biasanya diminta oleh Daddy Nathan untuk melacak ataupun mengumpulkan informasi seseorang.


Jam sudah menunjukkan pukul 01.45 am. Raymond tidak bisa melakukan apapun. Dia tidak bisa tidur ataupun makan. Dia hanya menyesali perkataannya dan perbuatannya pada Caramel tadi. Tidak seharusnya dia melakukan itu pada istri tercintanya. Raymond menyadari jika dirinya memang terlalu cemburu karena dia terlalu mencintainya.


Beberapa menit kemudian orang yang disuruh untuk mencari keberadaan Caramel sudah menemukan letak terakhirnya. Mereka mengatakan bahwa ponsel Caramel terakhir berada di apartemen Zayn.


Raymond berteriak marah. Dia takut jika Caramel nya disentuh oleh Zayn. Meskipun Raymond percaya jika Zayn tidak akan berani melakukan itu padanya, tapi nyatanya kecemburuannya menjadikannya buta, dan dia marah pada Zayn karena rasa cemburunya itu.


Segera Raymond berangkat ke apartemen Zayn. Dengan amarah dan emosi yang menguasainya, Raymond menuju apartemen Zayn dan berharap agar Caramel tidak ada di sana bersama Zayn.


Harapan Raymond terkabul. Caramel tidak ada di dalam apartemen Zayn meskipun Raymond sudah mengobrak-abrik seisi apartemen itu.


Zayn sempat marah dengan yang dilakukan Raymond pada apartemennya. Namun dia menikmati kemarahan Raymond yang seperti kehilangan barang berharganya.


Hingga akhirnya Raymond terduduk lemas ketika dia tidak menemukan Caramel sama sekali di manapun dalam apartemen Zayn.


"Tenang dulu Bro, minum dulu," Zayn menyodorkan minuman cola dingin kemasan kaleng pada Raymond.


Raymond mengambil minuman tersebut disertai tatapan membunuhnya. Dan Zayn hanya terkekeh melihat Raymond menatapnya seperti itu.


"Sebenarnya ada apa Bro? Bisa kamu ceritakan padaku? Siapa tau aku bisa bantu," Zayn duduk di sofa berharap Raymond akan mengikutinya.


Dan benarlah, Raymond duduk di sofa dekat Zayn, mungkin karena dia kelelahan sehabis bekerja, mencari Caramel kemana-mana dan sekarang dia mengobrak-abrik seluruh ruangan di dalam apartemen Zayn.


Raymond memandang Zayn mungkin dia ingin mencari tahu apakah Zayn bisa dipercaya, sayangnya Raymond bisa mempercayai wajah dan tatapan mata Zayn saat ini.


Raymond mulai menceritakan dari awal tentang kekesalannya pada Caramel dan Zayn saat itu, kemudian pada saat beberapa tamu pria dari party yang diadakan tadi mengelilingi Caramel dan bercanda tawa dengannya sampai pada ucapannya yang menyakiti hati Caramel sehingga dia lari pada saat dia menemukannya di gudang party room tadi.

__ADS_1


Zayn menggelengkan kepalanya mendengar cerita saudara sepupu jauhnya ini. Zayn heran karena Raymond masih saja bisa emosi padahal selama ini dia takluk hanya pada Caramel. Dan sekarang....


Rasain Lu...! batin Zayn bersorak menikmati kesengsaraan Raymond.


__ADS_2