
"Ck, Mommy ganggu aja," Raymond mencebik kesal ketika keluar dari ruang ganti Caramel dan di depannya sudah disambut oleh Mommy nya yang menatapnya dengan tatapan jahil.
"Kamu pikir Mommy gak tau apa yang kamu lakukan di dalam? Kamu itu sebelas dua belas sama Daddy mu, jadi Mommy tau apa yang kamu lakukan di sana," ucap Mommy Grace sambil melipatkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Daddy pernah sama Mommy di dalam ruang ganti?" tanya Raymond penasaran.
Mommy Grace tertawa dan mengangguk menjawab pertanyaan Raymond. Tiba-tiba saja Raymond menoleh ke arah Daddy nya dan berjalan menuju tempat duduk Daddy nya berada.
"Wah... wah... gak nyangka Daddy bisa ngelakuin itu juga di tempat umum," Raymond mengacungkan jempolnya di depan Daddy Nathan.
"Memangnya kamu saja yang bisa seperti itu. Jangan lupa, kamu adalah putraku, jadi semua yang ada padamu menurun dariku," Daddy Nathan menyombongkan dirinya.
"Kali ini aku setuju Dad, karena apa yang Daddy turunkan membuatku bangga pada diriku sendiri," ucap Raymond sambil terkekeh.
Tiba-tiba saja perhatian mereka bertiga teralihkan pada orang yang keluar dari kamar ganti dan dibantu oleh pelayan butik tersebut untuk merapikan baju dan rambutnya.
"Wow... cantik sekali kamu Sayang," Mommy Grace yang ada di depan pintu segera menghampiri Caramel.
"Gaun ini cocok buatmu, tapi yang tadi sepertinya terlihat sangat sempurna buatmu, tapi kenapa kamu ganti? Apa kamu merasa tidak cocok?" Mommy Grace berputar memperhatikan tubuh Caramel.
"Ray yang nyuruh ganti Mom. Tapi yang tadi tetap Ray beli untuk Caca pakai hanya bersamaku saja," Raymond menyahut dari tempat duduknya.
"Kenapa? Sayang gaun seindah itu hanya dipakai berdua saja denganmu Ray, biarkan dipakai Caca ke pesta besok," ucap Mommy Grace tidak terima.
"Ck, Mommy... pokoknya gak boleh. Ray gak mau tubuh indah istriku dilihat banyak orang. Biar Ray saja yang melihatnya memakai gaun yang indah itu," jawab Raymond yang merasa tidak bisa dibantah.
Daddy Nathan terkekeh mendengar jawaban dari Raymond.
"Biarkan saja Mom, dia itu kan sekarang sudah jadi bucin sama istrinya," Daddy Nathan menirukan ucapan Zayn sewaktu melaporkan tentang Raymond pada Daddy Nathan.
"Nah tuh Daddy tau. Udah Mommy duduk anteng aja disitu sama Daddy. Biar yang ngurus Caca Ray aja," Raymond berjalan mendekat ke arah Caramel dan menarik tangan MommY Grace dengan lembut kemudian membawanya ke tempat Daddy Nathan berada.
Raymond memutari tubuh Caramel dan memperhatikannya, namun dia kembali protes karena belahan yang berada di depan dadanya terlalu rendah sehingga bisa sedikit terlihat oleh orang lain.
"Mana gaun yang lainnya?" Raymond bertanya pada pelayan butik yang setia berada di dekat mereka mulai dari awal mereka datang untuk membantu memakaikan gaunnya.
__ADS_1
"Apa lagi sih Sayang? Udah ini aja, aku suka," Caramel memutuskan untuk memakai gaun yang dia pakai ke acara pesta di hotel mereka besok.
"Tapi ini kelihatan Sayang, aku gak rela kalau dilihat orang lain," Raymond memprotes Caramel.
"Cuma sedikit aja, sebatas ini gak bakalan kelihatan Sayang. Udah ah yang ini aja. Pokoknya aku males ganti-ganti lagi. Mommy aja bilang ini bagus, pantes kok buat aku," Caramel memperlihatkan kekesalannya dengan mengerucutkan bibirnya.
Kini mata Raymond terfokus pada bibir Caramel yang mengerucut, sungguh sangat menggemaskan menurutnya, karena itu sudah menjadi candunya, dia tidak memperdulikan pandangan orang lain tentang dirinya. Biarlah dia dikatakan mesum asalkan hanya untuk istri tercintanya, Caramelia Faraza.
"Ya udah, yuk masuk, aku bantuin ganti bajunya," mata Raymond masih tertuju pada bibir Caramel yang masih mengerucut.
"Ngapain ikut masuk?" tanya Caramel yang masih berwajah kesal.
"Itu bibir di maju-majuin minta dicium ya?" Raymond berbisik di telinga kanan Caramel.
Sontak saja Caramel kaget dan matanya membola dan kedua bibirnya mengatup masuk kedalam mulutnya mendengar bisikan dari Raymond. Setelah itu badannya berbalik dan secepat kilat masuk ke dalam ruang ganti.
Raymond terkekeh melihat tingkah lucu istrinya. Hal seperti itulah yang menjadi hiburan bagi Raymond selama bersama Caramel. Hidupnya terasa lebih berwarna dan menyenangkan.
Tok... tok... tok...
"Sayang... Sayang... buka pintunya," Raymond mengetuk-ketuk pintu ruang ganti Caramel berharap dia bisa masuk kembali ke dalam sana.
"Biarkan saja Mom, mungkin dia sudah tidak tahan," Daddy Nathan terkekeh.
Ceklek!
Caramel keluar dari ruang ganti dan melihat raut kesal bercampur kecewa dari wajah suaminya.
"Gak usah ngambek gitu, nanti dikasih lebih di rumah," Caramel berjinjit dan membisikkan ke telinga Raymond yang dengan seketika membuat Raymond membelalakkan matanya karena kaget, namun senyumnya mengembang.
Setelah itu Raymond mengajak Caramel langsung pulang ke rumah mereka dan menolak ajakan Daddy dan Mommy nya untuk makan bersama. Makan bersama merupakan hal yang sangat ingin dilakukan oleh Daddy Nathan dan Mommy Grace, namun mereka mengetahui keinginan putranya sekarang ini, kadi mereka pun tidak mempermasalahkannya.
Sesampainya di rumah, Raymond segera mengajak Caramel ke kamar mereka dengan alasan untuk mandi karena terlalu gerah, namun Caramel tahu bahwa itu hanya alasan saja bagi Raymond.
Baru saja, Caramel membuka bajunya, namun suara ketukan pintu membuat Caramel kembali memakai bajunya. Raymond mendengus kesal dan menyumpahi dalam hati siapa saja orang yang menggangu acara berduanya dengan istrinya.
__ADS_1
"Maaf Nyonya, ada yang mencari Tuan Raymond di ruang tamu," ucap Bik Rumi yang menjadi kepala pelayan di rumah mereka.
"Baiklah Bik, suruh tunggu sebentar ya," ucap Caramel sebelum Bik Rumi pergi.
"Ck, siapa sih ganggu aja. Gak tau orang mau senang-senang apa," Raymond mengomel seiring langkah kakinya menuruni tangga menuju ruang tamu bersama Caramel.
Caramel terkekeh melihat muka kesal Raymond yang selalu mengomel di setiap langkahnya.
"Hai Ray," seorang wanita cantik menyapa Raymond ketika mendekat ke arahnya.
"Hai Jen. Bagaimana kabarmu?" Raymond menyapa balik wanita tersebut.
"Baik Ray. Bagaimana, apa kita bisa mulai sekarang?" ucap Jenny sambil memperhatikan Caramel yang pinggangnya terdapat tangan Raymond yang melingkar di sana.
"Apa gak bisa besok aja Jen?" Raymond menjawabnya dengan pertanyaan.
"Kenapa Ray, apa kalian sedang sibuk?" Jenny ingin mencari tahu.
"Tidak, aku hanya sedang ingin berduaan dengan istriku saja di dalam kamar," dengan lugasnya Raymond mengatakannya pada Jenny.
"Aiiisshhh.... Sayang diem deh, gak usah diomongin juga ih. Malu tau...," Caramel berucap lirih pada Raymond.
"Dia... dia yang mau diajari membuat kue?" Jenny bertanya dengan ragu.
"Iya, kenalkan dia Caramel istriku yang sangat aku cintai," Raymond mencubit hidung Caramel yang sedang memperhatikan Jenny.
"Oh... jadi dia istrimu," ucap Jenny sambil tersenyum getir.
"Yuk Chef, langsung saja kita ke dalam," Caramel mengajak Jenny untuk pergi ke dapur bersamanya.
Di dapur, Jenny memberikan tahap pertama untuk pemula bagi Caramel. Raymond mengawasi mereka dari jarak sedikit jauh dengan wajah kesalnya.
"Aku gak ngira Raymond bisa seperti itu denganmu. Seorang Raymond Xavier tidak pernah seperti itu meskipun dengan wanita," Jenny mulai mengajak ngobrol Caramel disela kegiatan mereka membuat cake.
"Dia sendiri kok Chef yang menyuruh aku untuk belajar menjadi pastry agar aku tidak bekerja jauh darinya. Aku harus selalu ada di depannya dan tidak boleh kemana-mana tanpa sepengetahuannya," Caramel memberitahukan sikap Raymond padanya karena dia kira Jenny adalah teman Raymond.
__ADS_1
"Dulu aku juga pindah ke pastry karena disuruh Raymond. Dia bilang ingin bekerja bersamaku," Jenny mengatakannya pada Caramel dengan senyum bangganya.
Apa maksud dari perkataannya Tuhan? Caramel menatap secara bergantian Jenny yang sedang mencampur bahan dan Raymond dengan penuh tanda tanya.