
Daddy Nathan mendapat laporan jika menantunya bertengkar dengan seorang wanita di hotel milik mereka.
Mommy Grace segera mencari berita tersebut dan menemukannya. Langsung saja diberikannya pada Daddy Nathan.
Mata Daddy Nathan melotot seketika melihat Nindi diwawancarai oleh wartawan. Tangannya mengepal sekuat tenaga dan menggebrak meja hingga Mommy Grace kaget dan meletakkan tangannya di dadanya.
"Panggil mereka kesini sekarang juga!" perintah Daddy Nathan tidak ada yang berani menolak, bahkan Mommy Grace tidak bisa meluluhkannya jika Daddy Nathan sudah sangat marah seperti ini.
Entahlah Daddy Nathan marah pada siapa. Yang jelas dalam situasi seperti ini semua diharapkan minggir jangan menghalanginya, itu yang pernah disampaikan oleh Mommy Grace pada setiap orang kepercayaannya.
Raymond memeluk istrinya dan tidak melepaskan Caramel sama sekali. Dia menyesal tidak mendampingi istrinya pada saat bertemu dengan Nindi di wanita ular itu.
Ponsel Raymond berdering, segera dia angkat karena tertera nama Daddy Nathan di sana. Ternyata Daddy Nathan mengetahui berita tersebut dan kini mereka diharuskan pulang untuk menghadapnya.
"Sayang, kita pulang ya. Daddy udah tau berita tadi dan kita harus menghadapnya," ucap Raymond sambil mengompres pipi Caramel dnegan air es.
"Daddy? Ah iya aku lupa," Caramel menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.
"Tidak apa-apa sayang, kan ada aku," Raymond terkekeh melihat tingkah istrinya.
Caramel membuka kedua telapak tangannya dan berkata,
"Bagaimana kau Daddy kecewa padaku dan marah padaku?" tanya Caramel dengan ekspresi takut.
"Udah gak usah dipikirin. Daddy gak seperti itu. Kamu tidak tau kan kalau kamu adalah menantu kesayangan Daddy sama Mommy," ucap Raymond yang membuat Caramel melongo.
Masa' iya aku jadi kesayangannya mereka? Aku ini Caramel loh, gadis biasa yang beruntung bisa menjadi menantu mereka.
"Sayang, sayang... kok melamun sih? Sayang...," Raymond memanggil-manggil Caramel untuk menyadarkannya.
"A-a-aku takut," suara Caramel gemetar.
"Ya udah yuk kita pulang," ajak Raymond sambil menarik tangan Caramel.
"Gimana cara pulangnya?" tanya Caramel bingung.
"Daddy udah nyiapin semuanya sayang," ucap Raymond sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Caramel.
"Sayang...Mmm... kira-kira aku akan dipecat gak ya?" tanya Caramel pada Raymond ketika sudah duduk di dalam pesawat.
"Hmmm? Dipecat?" tanya Raymond bingung.
"He eh, dipecat," Caramel tertunduk sedih.
"Oh itu gak usah Daddy yang mecat, aku sendiri aja bisa langsung mecat kamu," ucap Raymond dengan bangganya.
Caramel mendongak melihat dengan pandangan tidak percaya pada suaminya.
" Caramelia Faraza, sekarang ini kamu saya pecat," ucap Raymond tegas sebagai seorang CEO.
__ADS_1
Caramel sedikit membuka mulutnya karena tidak percaya mendengar penuturan suaminya. Telapak tangan kanannya menutup mulutnya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Raymond sambil lebih mendekat duduknya dan meraih tubuh Caramel.
"Iiih sana jangan dekat-dekat, kamu kan udah mecat aku, jadi kamu gak boleh dekat-dekat aku, gak boleh nyium-nyium aku, gak boleh gr**e-g**pe aku, gak boleh tidur sama aku, titik," ucap Caramel sambil memberontak lepas dari pelukan Raymond.
"Loh kok gitu? Gak boleh sayang gitu sama suami sendiri, dosa," ucap Raymond lebih mempererat pelukannya.
"Kan udah dipecat, ya bukan jadi suami istri lagi dong," jawab Caramel sambil berusaha melepaskan tangan Raymond dari pelukannya.
"Cuma dipecat jadi karyawan bukan berarti kita pisah dan ceria sayang," tutur Raymond gemas dengan istrinya.
"Karyawan? Bukannya dipecat jadi istri?" tanya Caramel bingung.
"Hah dipecat jadi istri? Gak akan. Kamu ini aneh-aneh aja. Gak akan aku pisah dari kamu, sampai kapanpun," elak Raymond dengan tegas.
"Lah itu tadi kan aku nanyanya dipecat jadi menantu, ngapain jadi karyawan?" tanya Caramel bingung.
"Kamu yang aneh, klo dipecat jadi menantu berarti kita cerai, aku gak akan pernah mau, ngerti? Lagian kalau dipecat itu pasti pekerjaan sayang, kamu aneh-aneh aja," Raymond heran dengan tingkah dan pemikiran aneh dari istrinya.
"Ooow... gak jadi dipecat kan?" tanya Caramel kembali.
Raymond menengadahkan kepalanya ke wajah Caramel.
"Jadi menantu Daddy dan Mommy," tambah Caramel.
"Hufft... syukurlah...," Caramel menghela nafas lega.
Raymond sungguh gemas dengan istri cantiknya ini. Rambut Caramel di acak-acak gemas olehnya. Caramel tidak terima, rambutnya kembali ditata rapi, namun kini Raymond menjewer kedua pipi Caramel dengan kedua tangannya. Caramel memberontak dan memukul badan Raymond sekenanya, namun dia tidak bisa bergerak karena Raymond mengunci badannya dengan pelukannya.
Kepala Raymond semakin mendekat dan semakin tidak berjarak dengan kepala Caramel. Hingga hembusan nafas Raymond saja bisa dirasakan oleh Caramel.
Reflek mata Caramel tertutup dan Raymond tersenyum, kemudian dia mulai bersiap mendekatkan bibirnya pada bibir istrinya.
"Tuan, maaf, kita sudah sampai," ucap salah satu bodyguard Raymond menghentikan aktifitas Raymond untuk menghisap madu di bibir istrinya.
Raymond menjauhkan bibirnya dari bibir istrinya yang baru saja menempel dan belum meraupnya.
Raymond menoleh pada orang yang mengeluarkan suara tersebut, dan menatap tajam padanya. Si bodyguard menunduk takut.
"Maaf Tuan, saya hanya memberitahukan bahwa kita sudah sampai," ucapnya sambil menunduk.
" Sudah sana pergi. Lain kali jangan mengganggu," ucap Raymond tegas.
Caramel menahan tawanya dengan mengatupkan kedua bibirnya ke dalam mulutnya. Setelah bodyguard itu tidak terlihat, Caramel tertawa sepuasnya. Raymond menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dan tangannya mengacak-acak rambut istrinya.
"Yuk sayang kita turun, Daddy udah nunggu di rumah," Raymond menggandeng tangan istrinya berjalan keluar pesawat.
Sampai di depan kediaman Daddy Nathan dan Mommy Grace, Caramel memeluk erat lengan suaminya, takut menemui Daddy Nathan, yang artinya dia takut dimarahi olehnya.
__ADS_1
"Tenang sayang," Raymond mengusap lembut tangan istrinya yang berada di lengannya.
"Caramel....," panggil Daddy Nathan pada menantunya yang baru saja datang dengan anaknya.
Bukannya Caramel menampakkan dirinya di depan Daddy Nathan, dia malah bersembunyi di belakang badan Raymond dengan mimik wajah ketakutan.
Hal itu membuat Raymond, Mommy Grace dan Daddy Nathan menahan tawanya. Mereka seperti mempunyai anak perempuan yang bandel dan akan dihukum.
"Sayang, keluarlah, Daddy ingin melihatmu," Raymond menggapai tubuh istrinya yang bersembunyi di belakang badannya.
"E-ee...,"Caramel kaget badannya diseret oleh Raymond ke sampingnya.
"Caramel, pipi kamu kenapa sayang?" tanya Mommy Grace kaget melihat pipi menantunya memerah karena ditampar Nindi tadi.
Mommy Grace mendekati Caramel dan dia mengamati wajah Caramel.
"Apa dia menyakitimu?" tanya Mommy Grace yang wajahnya masih di depan wajah Caramel.
Reflek Caramel memeluk Mommy Grace seolah bertemu Ibunya setelah bertengkar dengan temannya.
"Kenapa sayang... kamu diapakan sama dia?" tanya Mommy Grace lembut sambil menyambut pelukan Caramel.
"Tadi dia ditampar dan dijambak sama wanita tidak tau diri itu," jawab Raymond mewakili istrinya.
"Bagaimana ceritanya dia bisa ada di sana?" tanya Daddy Nathan heran.
Kemudian Raymond menceritakan apa yang terjadi mulai dari mereka bertemu Nindi dan Indra yang menginap di hotel itu selama dua hari dan hanya memesan satu kamar saja. Dan dia juga menceritakan penggrebekan yang dilakukan oleh istri Indra, setelah itu Nindi yang menggedor-gedor kamar mereka di hotel dan berteriak bahwa dia mengandung anak Raymond.
Rahang Daddy Nathan mengeras dan wajahnya tampak marah mendengar cerita dari Raymond.
"Lalu mengapa Caramel dan Nindi bisa bertengkar?" tanya Daddy Nathan selanjutnya.
"Itu karena Caramel tidak rela namaku jadi buruk karena ulah Nindi yang mengatakan bahwa dia mengandung anakku," jawab Raymond sambil melihat istrinya yang masih berada dalam pelukan Mommy nya sambil mendengarkan pembicaraannya dengan Daddy nya.
"Dan kamu, apa hang kamu lakukan sehingga kamu diam saja melihat istrimu disakiti oleh wanita itu?" tanya Daddy Nathan tegas.
"Ray di luar Dad. Sengaja karena yang diinginkan Nindi adalah bertemu denganku, mangkanya dia berani menggedor kamarku," jelas Raymond.
"Baiklah, besok kita panggil dia ke kantor," Daddy Nathan sudah memutuskan sesuatu tentang Nindi.
"Masih sakit sayang?" tanya Mommy Grace pada Caramel dengan mengusap lembut pipi Caramel.
"Udah mendingan Mom. Tadi udah dikompres sama anaknya Mommy," jawab Caramel.
"Kok masih merah?" tanya Mommy kembali.
"Lah tadi didalam pesawat digini-giniin sama anak Mommy," Caramel menjawab dengan menirukan Raymond pada saat menjewer kedua pipinya dengan kedua tangan Raymond.
"Raymond!"
__ADS_1