
Caramel besungut kesal karena merasa dipermainkan oleh Raymond. Awalnya diberi kenikmatan, dan selanjutnya di saat Caramel menikmatinya, Raymond menyudahinya.
Dasar suami lucknut! umpat Caramel dalam hati.
"Napa neng manyun aja? Masih pagi loh," sapa Zayn ketika berpapasan dengan Caramel.
Ini lagi, sama aja, saudara yang sama-sama nyebelin, Caramel membatin dengan senyum yang dipaksakan.
"Eh sini dulu, ngapain sih ngintilin Raymond mulu? Di sana panas, mending di sini aja, enak, dingin, banyak angin semilir," Zayn menarik tangan Caramel agar tetap berada bersamanya.
Zayn tersenyum manis, namun menurut pandangan Caramel senyum Zayn penuh maksud, seperti senyum licik, jahil dan menggoda mungkin.
Zayn mencoba menggoda Caramel untuk merubah moodnya menjadi ceria seperti biasanya. Zayn bercerita tentang masa kecil Raymond dan kebiasaan-kebiasaan Raymond. Dan hal itu benar-benar mampu membuat Caramel menjadi terhibur.
Caramel tertawa terbahak-bahak hingga ada air mata sedikit keluar dari sudut matanya. Zayn memandang wajah Caramel yang sangat menyenangkan menurutnya, wajah yang tidak membosankan untuk selalu dilihat.
Raymond remang-remang mendengar suara tawa Caramel dari kitchen. Karena penasaran dengan pendengarannya, Raymond berjalan keluar dari kitchen untuk menajamkan pendengarannya.
Dan benarlah pendengarannya tadi. Raymond menghela nafasnya, dia bersyukur ternyata pendengarannya masih sehat, tapi dia kesal pada istrinya yang mengingkari janjinya.
Lihatlah sekarang Caramel malah bersama Zayn, si playboy itu melihat Caramel seperti mendambanya. Mereka bercanda dan tertawa terbahak-bahak tanpa memperhatikan sekitar.
Raymond sungguh sangat kesal dan marah. Dia berjalan melangkah untuk mendekati Caramel dan Zayn, namun baru selangkah Raymond berjalan, salah satu koki memanggilnya untuk segera ke kitchen melihat persiapan menu mereka yang selanjutnya.
Langkah kaki Raymond antara ke depan atau berputar kembali ke belakang. Namun pada saat kakinya akan maju ke depan, koki tersebut kembali memanggilnya.
"Chef, buruan itu anak-anak udah nungguin," seru koki tersebut dari pintu kitchen.
__ADS_1
Dengan sangat berat hati, Raymond kembali melangkah ke dapur. Bukan hatinya saja yang berat, langkah kakinya pun terasa berat untuk melangkah.
Sebenarnya apa yang mereka bicarakan sampai mereka tertawa begitu senangnya? Aaah... inilah yang tidak aku suka jika Caramel ikut aku bekerja. Selalu aja ada yang menggodanya. Padahal seharusnya aku senang karena melihatnya ketika bekerja bisa menjadi tambahan semangat buatku, tapi ini beda cerita, dia di sini malah membuatku resah karena tidak berada dalam jangkauanku. Kenapa dia malah di sana? Kenapa tidak di sini aja sih?
Pikiran Raymond melayang hanya pada satu orang, satu nama, Caramel Faraza, istrinya yang sangat dicintainya dan kini sedang meresahkan hatinya.
"Chef... Chef... apa ini cukup? Atau ada yang perlu ditambahkan?" seorang koki menyadarkan Raymond dari lamunannya.
"Hah? emangnya nanti yang pakai ini menu apa aja?" tanya Raymond yang masih sedikit bingung karena belum fokus kembali.
Si koki tersebut bingung karena Raymond lah yang memegang form menu untuk dealing party nya.
"Loh bukannya Chef udah tau? Itu Chef form nya ada di tangan Chef," tunjuk si koki pada buku form yang ada di tangan Raymond.
Raymond mengikuti tangan si koki yang menunjuk ke arah tangannya.
Oh My God.... kenapa aku bisa seceroboh ini? Kenapa jadi gak fokus sih? batin Raymond menggerutu.
Pekerjaan Raymond terasa membosankan karena dia ingin segera menyudahinya untuk menyeret istrinya berada di dekatnya.
Waktu sudah lama berlalu sejak Caramel bersama Zayn, tapi Raymond sangat sibuk dengan pekerjaannya di kitchen.
.
Lelah, sudah pasti Raymond merasa sangat lelah dengan hati dan pikirannya, bukan karena pekerjaannya. Dia seperti induk yang kehilangan anaknya. Pikirannya selalu ada pada istrinya.
Caramel tidak nampak sama sekali di kantor ataupun di kitchen, padahal sebelum berangkat tadi dia berjanji untuk selalu dalam jangkauan Raymond dan bisa dilihat oleh Raymond. Caramel berjanji untuk berada di dalam kantor ataupun di dekat kitchen menemani Raymond pada saat memasak.
__ADS_1
Raymond mencoba keluar dari kitchen setelah semuanya sudah selesai. Alangkah kagetnya Raymond ketika melihat Caramel yang begitu ramahnya dengan senyuman manisnya yang selalu merekah sedang berbincang-bincang dengan banyak tamu pria dari party tersebut yang mengelilinginya.
Dan di sana nampak juga Zayn yang dikerubungi tamu wanita. Kenapa Caramel bisa terjebak diantara para pria itu? Raymond jadi sangat kesal.
Lagi.... lagi... dan lagi...
Raymond dipanggil untuk segera ke kitchen karena mereka membutuhkannya, padahal niat hati Raymond akan mambawa istrinya itu ke kantor untuk dikurung di sana ataupun menemaninya di kitchen.
Gagal lagi upaya Raymond untuk membawa istrinya kembali ke sisinya untuk saat ini. Parahnya lagi Raymond benar-benar cemburu dengan pria-pria yang mengelilingi Caramel.
Caramel itu miliknya, istrinya dan selamanya akan berada di sisinya. Tidak boleh siapapun yang menggantikannya ataupun mendekatinya selama Raymond masih hidup.
Pikiran Raymond selalu menerawang pada Caramel, dia membayangkan Caramel nya digoda dan dirayu oleh pria lain. Karena itu dia sangat kesal, hingga dia uring-uringan.
Spatula yang digunakannya untuk memasak dia lempar dengan sangat kerasnya karena emosi. Semua yang ada di kitchen merasa takut dan mereka tidak berani berucap ataupun menanggapi. Mereka semua diam seolah tidak melihat apapun.
Spatula itu menjadi korban Raymond. Lihatlah kini spatula kayu itu patah. Masih belum lega dengan spatula itu, kini Raymond menghancurkan panci.
Masakan yang dimasak oleh koki-koki lainnya terasa kurang pas di lidahnya, sehingga panci kosong yang ada di dekatnya dia banting sehingga bentuknya tidak utuh lagi. Panci itu sekarang menjadi panci cacat yang bentuknya menjadi penyok karena ulah Raymond.
Para koki bergilir mencicipi masakan tadi, dan mereka tidak menemukan kesalahan apapun dalam masakan tersebut. Rasa dan semuanya sudah pas sesuai standar resep yang diberikan oleh Raymond.
Suasana kitchen menjadi semakin memanas, tidak hanya itu, mereka juga merasa sepertinya kitchen itu sekarang menjadi tempat angker bagi mereka. Semuanya tidak berani mendekat pada Raymond. Mereka fokus pada pekerjaan mereka masing-masing karena takut salah dan menjadi korban kemarahan Raymond selanjutnya.
Pada saat Raymond membuat garnis, tidak sengaja tangannya terkena pisau karena dia tidak fokus dan pikirannya tidak pada tempatnya.
Salah satu koki berlari ke kantor meminta kotak P3K. Dia tidak mau membuang-buang waktu karena selain dia takut dimarahi Raymond karena lambat, dia juga takut pekerjaannya tidak akan selesai jika dia membuang-buang waktu, dan akhirnya nanti pasti dimarahi lagi oleh Raymond. Jadi serba salah menurut mereka saat ini.
__ADS_1
Di dalam kantor ada Pak Sarno yang memberikan kotak P3K pada koki tersebut. Dan pada saat Pak Sarno mengetahui jika yang terluka adalah Chef Raymond, segera dia berlari untuk memberi tahu Caramel bahwa suami bucinnya itu sedang terluka.
"Ca, gawat, Chef Raymond terluka," seru Pak Sarno mengagetkan Caramel.