
Zayn segera melajukan mobilnya agar Clara tidak lagi keluar dari mobilnya. Clara hanya diam membisu, dia tidak melihat kearah lain, pandangannya hanya lurus ke depan memandang jalan di depannya.
Zayn ingin sekali menanyakan padanya mengenai kehamilannya, namun mulut Zayn seakan terkunci melihat Clara yang hanya diam menatap ke depan tanpa bergerak sedikitpun dari duduknya.
Zayn merasa sangat bersalah pada Clara. Melihat Clara yang tidak seperti biasanya itu membuat Zayn ingin segera menikahinya agar tidak menjadi beban pikiran Clara soal kehamilannya itu.
Aku harus segera menikahinya agar dia tidak terbebani dengan kehamilannya seperti sekarang ini. Iya, benar Zayn kamu harus segera menikahinya, ucap Zayn dalam hatinya sambil mengemudikan mobilnya.
Zayn memberhentikan mobilnya karena mereka sudah sampai di tempat mereka bekerja. Kini mobil itu terparkir sempurna di parkiran mobil tempat Zayn biasanya parkir, tepatnya di sebelah mobil Raymond.
"Itu anakku bukan?" pertanyaan Zayn membuat Clara terhenyak dari keterdiamannya.
Clara menoleh pada Zayn dan berkata,
"Apa maksudmu Zayn?"
"Aku sudah tau Sayang, usia kandunganmu sekitar dua minggu, dan itu berarti anak itu adalah anakku," jawab Zayn dengan sangat yakin.
Clara kehabisan kata-katanya, dia tidak bisa mengeluarkan kata-kata sama sekali. Sepertinya tenggorokannya tercekat, sehingga dia susah bersuara.
Dengan mengumpulkan semua tenaganya, Clara segera keluar dari mobil Zayn. Sayangnya pintu mobil itu terkunci dan tidak bisa dia buka sebab Zayn mengunci pintu mobilnya sehingga Clara bertambah kesal padanya.
"Cepat buka pintunya Zayn!" seru Clara dengan penuh kekesalan.
"Jawab dulu pertanyaanku Sayang," Zayn berbicara dengan sangat lembut agar Clara tidak lagi kesal padanya.
"Buka dulu kunci pintu mobilnya baru aku jawab," ucap Clara dengan sangat ketus.
Zayn tidak bisa menolaknya lagi, karena Zayn tahu bagaimana Clara akan bertindak jika dia tidak menuruti kemauannya. Zayn pun membuka kunci pintu mobilnya.
"Sudah. Sekarang jawablah," Zayn menatap lembut dan dengan senyum manisnya.
Clara menjadi salah tingkah karena ditatap oleh Zayn seperti itu, apalagi senyuman Zayn yang membuatnya salah tingkah karena jantungnya tiba-tiba berdetak sangat kencang sehingga Clara tidak bisa menetralkan kecanggungannya.
Dengan rasa berdebar Clara membuka pintu mobil, namun ketika kakinya akan keluar dari pintu itu, Zayn sekali lagi menanyakan jawabannya pada Clara.
"Benar kan Sayang? Itu anakku kan?" tanya Zayn yang masih dengan senyum manisnya.
"Bukan, dia anak orang lain," jawab Clara sambil menutup pintu mobil Zayn dengan sangat keras.
Zayn tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia hanya terdiam karena kaget dan sadar ketika Clara menutup pintu mobilnya dengan sangat keras.
Dengan segera Zayn keluar dari mobilnya menyusul Clara yang sudah berjalan terlebih dahulu.
"Aku tau itu anakku karena kamu tidak pernah berhubungan badan dengan lelaki lain selain aku," ucap Zayn dengan mensejajarkan langkahnya dengan Clara.
Clara menghentikan langkahnya, dia menoleh ke arah Zayn, dan dengan ketusnya dia berkata,
"Percaya diri sekali kau Zayn, apa buktinya?"
__ADS_1
"Kamu masih tersegel waktu bersamaku malam itu, aku bisa merasakannya Sayang, dan ada bercak darah yang menempel di-"
"Stop! Aku melakukannya setelah denganmu, dan sepertinya ini hasil bersamanya," kata-kata pedas ini diucapkan oleh Clara tanpa disadarinya, dan dia berharap kata-katanya itu akan menyakitkan bagi Zayn meskipun Clara sendiri yang merasa sakit ketika mengatakannya.
Zayn tersenyum meremehkan dan dia yakin Clara hanya menggertaknya seperti kata Raymond dan Caramel yang mengatakan bahwa wanita mengharapkan bukti dan kerja keras untuk mendapatkannya, bukan hanya janji yang bisa diucapkan kapan saja dan di mana saja.
"Apa kamu mau membodohiku Sayang? Aku tau jika setelah malam itu kamu tidak pernah kemana-mana selain bekerja," ucap Zayn yang seolah menantang debat dengan Clara.
"Kau membuntutiku Zayn?" ucap Clara sambil mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Zayn.
Zayn hanya tersenyum tanpa menjawab, membuat Clara lebih kesal lagi, karena dia tidak bisa lagi mengelak dari Zayn.
Clara segera melangkah meninggalkan Zayn, namun tangannya diraih oleh Zayn sehingga dia harus berhenti.
"Ada apa lagi?" ucap Clara dengan sangat ketus pada Zayn.
"Kita akan menikah segera. Aku akan menemui orang tuamu untuk melamarmu," ucap Zayn penuh dengan keyakinan.
"Terserah, aku gak akan mau menikah denganmu," ucap Clara sebelum meninggalkan Zayn dengan raut wajah yang berubah, tidak seperti sebelumnya.
Zayn sangat kecewa pada Clara dan ucapannya, karena Zayn sudah merasa sangat memperjuangkannya, tapi dia tega mengatakan hal seperti itu padanya. Zayn tidak lagi mempertahankan tangan Clara yang ada dalam genggamannya. Tangannya terlepas ketika Clara menghempaskan tangan Zayn setelah mengatakan hal yang menyakitkan itu pada Zayn.
Zayn terdiam mematung, kini dia tidak tahu harus bagaimana, apakah dia harus tetap memperjuangkan cinta dan anak yang dikandungan Clara, ataukah membiarkan Clara memilih cintanya? Sungguh Zayn tidak tahu apa kemauan dari Clara, dan dia juga tidak tahu siapa lelaki yang Clara maksud.
Clara segera mengambil tasnya di kantor dan pulang tanpa memberitahu pada Zayn sebagai partner kerjanya.
"Apa yang sedang kamu lanjutkan Zayn?" tiba-tiba Raymond datang mendekatinya dan duduk di samping Zayn.
"Huffttt... Aku sangat dilema Ray," jawab Zayn yang sepertinya sedang banyak sekali pikirannya.
"Clara?" Raymond mencoba menebaknya.
Zayn menoleh pada Raymond dan sedetik kemudian dia mengangguk membenarkan tebakan dari Raymond.
"Ada apa lagi dengan wanita manja itu?" tanya Raymond dengan nada kesal.
"Sepertinya kamu sangat kesal sekali padanya," ucap Zayn sambil melihat raut wajah Raymond yang benar-benar kesal mendengar nama Clara.
"Sudahlah, apa yang dia lakukan sehingga membuatmu seperti ini?" tanya Raymond pada Zayn.
"Dia hamil," Zayn mengatakannya secara langsung dan hal itu sukses membuat Raymond terkejut.
"Kamu hebat Zayn, aku saja sampai sekarang belum hamil juga, padahal suamiku ini getol sekali melakukannya," tiba-tiba suara Caramel mengagetkan Zayn dan Raymond.
"Sayang kamu ngomong apaan sih?" Raymond sedikit sebal dengan apa yang diucapkan oleh istrinya.
"Ngomongin fakta Sayang, benar kan apa yang aku ucapkan tadi?" ucap Caramel sambil duduk di sebelah Raymond dan memberikan minuman yang Raymond pesan tadi.
"Ck, gak harus ngomong ke Zayn juga Sayang.... lagian kita belum periksa kan, siapa tau kamu ternyata sudah hamil beberapa minggu," ucap Raymond sambil meminum minuman yang diberikan oleh istrinya barusan.
__ADS_1
"Jadi lanjut ceritanya gak nih?" sahut Zayn yang sudah ingin melanjutkan curhatannya pada Raymond.
"Ok, gimana selanjutnya?" tanya Raymond yang sudah siap mendengarkan cerita Zayn.
"Dia sudah hamil sekitar dua minggu, tapi dia mengatakan tidak mau menikah denganku, dan dia juga mengatakan bahwa itu bukan anakku," ucap Zayn dengan lemah, rasanya lukanya kembali menganga ketika menceritakan apa yang dikatakan oleh Clara tadi.
"Kamu percaya Zayn?" kini Caramel yang bertanya pada Zayn.
Zayn menggelengkan kepalanya, dia tidak percaya sama sekali dengan ucapan Clara yang menolaknya dan alasan-alasan yang seolah menyuruhnya untuk menjauhinya.
"Lalu apa yang membuatmu ragu?" tanya Caramel kembali pada Zayn.
"Kamu benar Ca," Zayn merasakan mendapatkan dukungan dari Caramel dan dan Zayn mulai bersemangat kembali.
"Apa yang membuatmu yakin bahwa itu adalah anakmu Zayn?" tanya Raymond yang menurunkan kembali tingkat percaya diri Zayn.
"Aku bisa merasakannya jika waktu itu dia masih tersegel Ray, dan juga ada buktinya serta setelah itu aku selalu membuntutinya, dia tidak pernah kemanapun setelah bekerja. Dan usia kandungannya sekitar dua minggu. Apa aku salah?" Zayn menjabarkan alasannya pada Raymond, dia sangat yakin jika anak yang dikandung oleh Clara adalah anaknya.
"Mungkin saja kamu salah," Raymond berusaha membuat Zayn ragu.
"Sayang, kamu ini keterlaluan," Caramel membela Zayn agar Clara tidak lagi menjadi pengganggu rumah tangganya.
"Aku hanya menanyakan hal terburuknya saja Sayang. Dan lupakanlah Zayn apa yang aku katakan tadi. Jika kamu sudah yakin, sebaiknya kamu langsung saja ke rumahnya. Pati orang tuanya tidak akan menolakmu. Mereka sudah sangat lama mengenalmu dan keluargamu," ucap Raymond sambil menepuk-nepuk pundak Zayn memberikan semangat padanya.
"Apa menurutmu akan berhasil?" tanya Zayn yang merasa sedikit ragu.
"Yakin. Tidak mungkin mereka akan membiarkan anaknya hamil tanpa suami," jawab Raymond dengan terkekeh.
Jawaban Raymond itu menambah kembali semangat Zayn yang tadinya sudah melempem karena ucapan pedas Clara yang menyakiti hatinya.
"Baiklah, aku akan ke rumahnya sekarang," Zayn berdiri dari duduknya.
"Eh, mau kemana kamu?" tanya Raymond yang menghentikan langkah kaki Zayn.
"Bukannya aku sudah bilang akan ke rumah Clara?" Zayn mendengus kesal dengan pertanyaan Raymond yang sebenarnya Raymond sendiri sudah tau jawabannya.
"Nanti Zayn, ini masih jam kerja. Tadi Clara sudah pulang, apa hari ini harus tidak ada marketing di sini?" Raymond menyindir Zayn dan hal itu membuat Zayn kembali duduk dengan lemas.
"Sudahlah pulang sana. Lamar dia sekarang juga. Aku tidak suka melihatmu seperti ini, seperti kurang gizi saja. Apa kata orang jika saudara sepupu seorang Raymond Xavier bisa kurang gi-"
"Thanks brother. Bye..." Zayn dengan langkah cepatnya menjauh dari Raymond dan menyahut omongan Raymond tentangnya.
"Dasar....," Raymond terkekeh melihat Zayn yang kembali dengan sikap aslinya.
"Kalian sangat pengertian, tapi kenapa bisa seperti musuh?" tanya Caramel heran.
"Sudahlah, kamu tidak mengerti Sayang," ucap Raymond sambil mencubit hidung Caramel.
"Sayang, apa Zayn akan berhasil?" Caramel bertanya pada Raymond karena dia mempunyai firasat aneh pada Zayn.
__ADS_1