Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
18. Hama-hama yang berseliweran


__ADS_3

"Wah kalah start kami Nin," ledek Pak Anto yang melihat Nindi marah menatap ke arah dalam restoran, tepatnya pada meja yang berisi Caramel, Chef Raymond, Zayn, dan pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.


Nindi memang belum bisa mendapatkan Chef Raymond, namun dengan adanya Zayn disini, Nindi kadang beralih untuk menggoda Zayn. Dan sekarang dia melihat dua pria incarannya sedang makan bersama dengan Caramel dan pemilik tempat itu. Hatinya sangat dipenuhi dengan amarah yang bersiap untuk menghancurkan Caramel.


Setelah makan, Daddy dan Mommy Raymond berkeliling sebentar ditemani oleh Zayn. Sedangkan Caramel menyelesaikan kerjaannya kembali di meja kasir restoran. Karena belum jam buka, jadi suasana masih sepi belum ada tamu. Caramel segera menyelesaikan pekerjaannya sebelum Revan datang, karena nantinya jika Revan sudah datang, dia yang akan menjaga kasir di arena permainan.


Setelah berkeliling diantar oleh Zayn, Mommy dan Daddy Raymond berpamitan pada Raymond untuk kembali ke rumah mereka. Raymond tidak bisa mengantar mereka ke depan karena dia sedang memasak untuk menu baru yang akan dia keluarkan.


Pada saat mereka berpamitan pada Caramel, mereka meminta Caramel untuk mengantarkan mereka ke depan restauran, dan Caramel tidak bisa menolaknya karena sangat tidak sopan menolak permintaan pemilik tempat dia bekerja yang sekaligus calon mertuanya.


Mommy Grace menggandeng Caramel mulai dalam restauran menuju depan restauran. Setelah itu Mommy Grace memeluk Caramel dan mengatakan untuk datang ke rumahnya. Caramel hanya mengangguk dan tersenyum.


Pemandangan itu tak dilewatkan oleh teman-temannya yang menggunjingnya sedari tadi sewaktu Caramel makan bersama keluarga Chef Raymond di dalam restauran.


"Ngasih apa kamu sampai bisa deket sama mereka semua?" ketus Nindi.


"Udah, kamu belajarnya sama Caramel aja. Ilmu mu masih kurang sama dia," sahut Pak Anto dari belakang Nindi.


"Maaf ya, maksud kalian apa?" ucap Caramel yang tidak ingin ditindas.


"Halah sok polos. Kamu itu karyawan biasa, kenapa kamu bisa diajak makan sama pimpinan perusahaan ini?" ketus Nindi dengan suara yang tinggi.


"Aku cuma diajak sama mereka. Dan gak sopan kan kalau menolak ajakan mereka," Caramel membela dirinya dengan santai tidak mau terpancing emosinya.


"Mereka gak bakalan kenal sama kamu kalau kamu gak deketin mereka," ucap Nindi masih dengan suara yang tinggi.


"Udahlah terserah kalian aja, aku capek jelasinnya," Caramel membalikkan badan berniat meninggalkan tempat itu agar tidak menyulut emosinya di pagi hari.


Namun rambut belakang Caramel ditarik dengan kuat oleh Nindi sehingga tubuh Caramel terhuyung dan jatuh.


Caramel kaget, kejadiannya begitu cepat. Dia mencoba menetralkan detak jantungnya ketika jatuh terduduk di lantai dengan rambut yang berantakan.


Semua karyawan yang ada disitu hanya diam dan melihat saja tidak berani membantu Caramel. Zayn yang berada di lokasi mini golf lari untuk menolong Caramel. Sebenarnya Zayn tahu jika tadi Nindi mengatakan hal yang buruk pada Caramel, namun dia masih ingin melihat sejauh mana mereka melakukannya. Ternyata mereka seperti anak sekolahan yang sedang membully temannya.


Zayn membantu Caramel berdiri. Bukannya Caramel lemah, tapi dia masih butuh waktu untuk menelaah semuanya yang tiba-tiba terjadi padanya.


Setelah Caramel sadar dan kepala bagian belakangnya terasa sakit karena jambakan Nindi tadi, Caramel maju dan menjambak rambut Nindi untuk membalasnya.


Setelah beberapa detik Nindi mengadu kesakitan, Caramel melepaskan tangannya dari rambut Nindi. Semua orang disitu kaget melihat keberanian Caramel melawan Nindi. Karena tidak biasanya dia melawan orang lain meskipun dicibir atau disindir. Caramel biasanya hanya diam saja dan menangis, itulah yang membuat mereka semakin suka menyiksanya melalui ucapan-ucapan mereka. Dan yang membuat mereka heran kini adalah kenekatan Caramel melawan Nindi yang sudah seperti kepala suku diantara karyawan perempuan di tempat itu.


Nindi semakin emosi, rambutnya yang selalu dia rawat di salon mahal sekarang dijambak oleh musuhnya, seorang Caramel yang menurutnya tidak ada apa-apanya dibandingkan dia.


Zayn hanya menjadi penonton saja di sebelah Caramel. Dia ingin mengetahui Caramel yang sebenarnya.


Setelah membalas Nindi, Caramel segera berbalik untuk berjalan cepat menuju meja kasir yang ada di dalam restauran. Namun, perjalanannya kembali tertunda karena Caramel kembali ditarik bajunya sehingga separuh badannya menghadap kebelakang dan ditamparlah pipi Caramel dengan kerasnya oleh Nindi.

__ADS_1


Sungguh itu tidak dapat diduga oleh Caramel. Dua detik kemudian Caramel sadar karena terasa sangat panas pipinya karena tamparan Nindi barusan. Caramel merapikan bajunya, dia netralkan emosi dan detak jantungnya dan setelah itu dia dengan cepat mendekati Nindi dan menampar pipinya.


Pemandangan itu sangat memuaskan para karyawan yang sedang berada disitu. Mereka sangat histeris dan memberikan support dengan memanggil nama jagoan mereka.


Bukan Nindi kalau dia mengalah begitu saja. Kini Nindi sudah membalas kembali tamparan dari Caramel. Nindi menyeringai puas atas kemenangannya.


Sekarang Caramel mulai terbiasa dengan ini semua. Dia tidak membiarkan dirinya lengah dan kaget atas tindakan Nindi. Setelah Caramel di tampar oleh Nindi kembali, Caramel langsung membalasnya tanpa memberikan waktu untuk Nindi kembali ke tempatnya semula.


Nindi melotot kaget karena Caramel sangat berani kepadanya. Dia tidak terima menjadi bahan tertawaan teman-temannya karena kalah dari Caramel. Maka dia berniat akan menjambak dan menamparnya sekalian, namun tangan Nindi hanya mampu menggantung di udara. Tangannya dihentikan oleh Zayn. Dan tatapan Zayn padanya menyiratkan kemarahan.


Nindi bertambah marah melihat Zayn menatap penuh kemarahan padanya dan lebih membela Caramel. Nindi memberontak, namun tangannya masih tetap di pegang erat oleh Zayn.


Caramel masih berada di tempat itu dan tiba-tiba ada tangan kekar yang merangkul tubuhnya. Caramel tidak sadar siapa yang melindunginya. Wajahnya mendongak ke atas dan didapatinya wajah pria yang sudah mengisi hari-harinya dan perlahan wajah itu sudah bersemayam dalam hatinya.


Raymond menatap sinis penuh amarah pada Nindi yang tangannya masih dipegang oleh Zayn.


"Lihat saja apa yang akan terjadi padamu," ancam Raymond yang kemudian membawa Caramel pergi berjalan masuk ke dalam restauran.


Raymond membawa Caramel ke dalam kantor. Revan yang baru saja datang dan melihat Caramel yang berantakan membuatnya untuk menyuruh Chef Raymond mengurusnya dan Revan yang berjaga di kasir.


Pak Irfan yang berada di dalam kantor diusir ke luar oleh Raymond. Tanpa banyak kata Pak Irfan langsung ke luar setelah diperintahkan oleh Raymond.


Flashback


Tadi Raymond yang masih mengatur untuk presentasi masakannya diberi tahu oleh koki junior yang baru saja datang dari toilet. Dia melihat keributan antar Nindi dan Caramel. Sebenarnya dia tidak berani untuk memberitahukan pada Chef Raymond karena takut dimarahi dengan alasan menggangu konsentrasi pekerjaannya. Tapi dia lebih kasihan melihat Caramel yang diperlakukan seperti itu oleh Nindi. Jadi dia mencoba dengan suara yang dibesar-besarkan memberitahu temannya tentang kejadian tersebut. Chef Raymond yang mendengar hal itu langsung lari menuju tempat Caramel berada.


Raymond memandang Caramel dengan perasaan bersalah. Dia merasa dirinya gagal menjaga gadis yang dicintainya. Raymond meletakkan telapak tangannya pada pipi Caramel yang ditampar berkali-kali oleh Nindi. Matanya menyiratkan kesedihan.


"Apa ini sakit?" Raymond memegang dengan hati-hati pipi Caramel yang memerah dan sedikit panas.


Caramel memegang tangan Raymond yang berada di pipinya kemudian dia tersenyum dan menggeleng. Dia tidak mau Chef Raymond mengetahui rasa sakitnya.


"Kamu pasti bohong. Pasti ini sakit sekali. Lihat aja pipimu sampai merah gini, panas lagi. Aku gak akan biarkan Nindi untuk kali ini," ucap Raymond dengan mata yang menyiratkan dendam.


"Jangan. Ini masalahku dengannya. Biarkan aku yang menanganinya. Dulu memang aku selalu diam ketika mereka menginjak-injak ku, tapi sekarang aku tidak mau mengalah lagi. Karena mereka kira aku lemah jadi mereka terus menghinaku," ucap Caramel untuk meyakinkan Raymond.


Raymond langsung memeluk Caramel setelah dia mendengar perkataan Caramel tadi. Dia tidak menduga bahwa Caramel nya adalah gadis yang kuat, gadis yang tidak menampakkan jati dirinya selama ini.


Entahlah dia mencoba kuat atau memang benar-benar menyamar saja sebagai gadis yang lemah selama ini. Raymond tak perduli, yang dia tahu Caramel nya ini akan tetap dia lindungi.


"Aaw... Chef sakit ini pipiku," Caramel mengaduh kesakitan karena pipinya yang kena tamparan tadi menempel di dada Raymond.


"Oh sorry, bentar kamu tunggu sini, biar aku bawakan kotak obat dulu," Raymond mengambil kotak obat yang berada di rak pojok di kantor tersebut.


Ceklek...

__ADS_1


Masuklah Pak Sarno ke dalam kantor. Melihat keadaan Caramel seperti itu Pak Sarno menanyainya, namun Caramel tidak mau berbicara. Dia mengatakan agar Pak Sarno lebih dulu menanyai semua karyawan yang berada disitu sebagai saksi. Setelah itu Caramel mau menceritakan padanya tentang kejadian yang dialaminya tadi.


Caramel tidak ingin jika dia dinilai membela dirinya sendiri dan menjelek-jelekan orang lain. Oleh sebab itu Caramel menyuruh Pak Sarno bertanya pada yang lain dulu.


Raymond menyarankan agar Pak Sarno bertanya pada Zayn karena dia berada ditempat itu pada saat kejadian itu berlangsung. Meskipun Raymond tidak menyukai Zayn jika dia menggoda Caramel, namun Raymond tahu jika Zayn, sepupunya itu baik, dan mereka sedari dulu mempunyai hubungan yang baik dan dekat. Hanya saja entah mengapa Zayn seolah ingin merebut Caramel darinya.


Raymond mengobati Caramel dan dia menyuruh Caramel pulang. Sebenarnya Caramel menolak, namun Raymond memaksa ya. Dan terjadilah perdebatan diantara mereka yang belum menjadi sepasang kekasih. Akhirnya Raymond mengalah karena dia tidak mau Caramel marah padanya.


Pak Irfan memperingatkan pada mereka semua agar tidak mencari masalah dengan Chef Raymond dan Caramel. Namun dia tidak mengatakan alasannya meskipun semuanya memaksa Pak Irfan untuk memberitahu alasannya. Pak Irfan memang menyembunyikan status Chef Raymond karena sepertinya dia enggan untuk memperlihatkan statusnya, dan Pak Irfan juga tidak mau melakukan kesalahan lagi yang berakibat buruk untuk karirnya.


Di dalam restauran, Zayn yang sedang berada di meja kasir bersama Revan didatangi oleh Pak Sarno. Revan dimintai keterangan tentang kejadian Caramel tadi pagi dan Zayn pun menceritakannya sesuai urutannya.


Pak Sarno dan Revan menghela nafas panjang. Mereka kasihan dengan Caramel yang selalu menjadi bahan perbincangan mereka.


Langit sudah menunjukkan sore hari, dan jam pulang pun tiba. Caramel menghembuskan nafasnya berat untuk meninggalkan beban beratnya di tempat itu. Raymond menyambar tangan Caramel ketika dia berjalan keluar daro kantor. Raymond mendudukkannya di dalam mobil dan dia mengajaknya ke rumah orang tuanya.


"Ini rumah siapa Chef?" tanya Caramel bingung setelah mobil Raymond memasuki halaman luas dari rumah mewah yang berpagar tinggi dan mewah.


"Rumah Daddy sama Mommy," jawab Raymond singkat.


"Lah kenapa kita kesini Chef?" tanya Caramel kembali yang belum mau turun dari mobil.


"Mommy yang suruh bawa kamu kesini. Ayo turun," jawab Raymond.


Raymond membuka pintu mobilnya namun Caramel masih saja duduk manis tanpa bergerak.


"Mau dilepaskan sabuk pengamannya?" tanya Raymond dengan nada menggoda.


"Gak usah, nanti dicium lagi," jawab Caramel sambil membuka sabuk pengamannya. Namun naasnya sabuknya tidak bisa dilepas. Berulang kali Caramel mencoba membukanya , tapi tetap saja sabuk itu tidak bisa dibuka.


"Bilang aja minta dicium," goda Chef Raymond sambil mendekati Caramel dan mencoba membuka sabuk pengaman Caramel.


Klik...


Sabuk pengaman itu terbuka, dan...


Cup...


Bibir Raymond mendarat di bibir Caramel.


"Manis," ucap Raymond setelah mencium singkat bibir Caramel.


Tentu saja Caramel marah dan seperti biasa bibirnya mengerucut membuat Raymond terkekeh dan mencubit bibir Carmel yang maju itu dengan gemas.


Raymond membawa Caramel masuk ke dalam rumah dengan menggandeng tangan Caramel.

__ADS_1


Namun setelah mereka masuk, ada seorang wanita yang berlari menuju Raymond dan memeluknya.


"Ray, I miss U so much," kata gadis itu dengan memeluk erat Raymond.


__ADS_2