Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
36. Penggerebekan


__ADS_3

Raymond mengikuti arah pandang istrinya. Matanya terbelalak bukan karena melihat Nindi, dia kaget karena melihat Indra rekan bisnisnya menjadi incaran wartawan.


Kemudian Manager hotel pun menceritakan bahwa istri dari Indra telah menangkap basah suaminya sedang memadu kasih dengan Nindi. Dan parahnya lagi, istri Indra mengundang sejumlah wartawan dalam aksi penggerebekan itu agar suaminya itu malu dengan kelakuannya sendiri.


Raymond memerintahkan semua keamanan agar menjauhkan wartawan dari hotel dan memberi ruang untuk suami istri itu berbicara. Karena masalah ini juga menyangkut nama baik Hotel miliknya, jadi dia turut campur untuk menyelesaikannya tanpa menyangkut pautkan nama baik hotel miliknya.


Kini mereka berenam ada dalam ruangan yang disediakan khusus untuk mereka berbicara. Indra, Rasti istri Inda, Nindi, Caramel, Raymond dan Manager hotel tersebut.


Yang berbicara hanya Indra dan istrinya, dan yang lain hanya sebagai saksi dan menemani mereka dalam ruangan tersebut untuk antisipasi jika terjadi hal yang tidak diinginkan.


"Sayang, percayalah aku tidak pernah ada niat seperti itu. Wanita itu yang menggodaku, dia yang merayuku dan menjebakku. Percayalah padaku sayang, aku tidak pernah mau jika harus berpisah denganmu," ucap Indra memohon pada istrinya dengan berlutut dihadapannya.


Rasti yang merupakan istri sah Indra melirik Nindi yang bersikap santai. Pandangan matanya tak lepas dari Nindi meskipun suaminya selalu merayu dan menjelaskan padanya. Dia hanya diam saja dan tetap memandang Nindi.


Nindi berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Raymond. Caramel mengerti arah tujuan Nindi. Dan Caramel merasa harus waspada pada Nindi yang kini sedang merasa terpojok.


Caramel merangkul erat lengan Raymond yang duduk di sampingnya. Raymond sedang memperhatikan Indra yang sedang berjuang merayu istrinya tersentak kaget ketika tiba-tiba lengannya dirangkul erat oleh istri tercintanya.


"Chef tolong aku," ucap Nindi ketika ada di hadapan Raymond.


Raymond menoleh ke arah Nindi karena dia tidak tahu sejak kapan Nindi berada di depannya.


Caramel kesal pada Nindi karena dia tidak dianggap ada olehnya. Caramel diacuhkan seolah dia benda yang tak terlihat.


Tanpa aba-aba Caramel duduk miring di atas pangkuan Raymond, dia tidak rela jika suaminya digoda oleh Nindi. Kini dia sudah bersiap untuk melawan Nindi yang sudah sering menyakitinya.


Tentu saja Raymond sangat senang sekali menerima perlakuan istrinya ini padanya. Tidak pernah sama sekali Caramel bertindak seperti ini, dipeluknya dengan erat tubuh istrinya agar tidak jatuh.


Reflek saja tangan Caramel melingkar di leher Raymond. Mereka saling menatap penuh kasih dan cinta seolah mengatakan bahwa mereka saling menginginkan.


Nindi mencebik kesal melihat Caramel bermanja-manja pada Raymond. Padahal dia sengaja mendekatinya agar Raymond menolongnya.


Dunia serasa milik Raymond dan Caramel saja. Entah mereka lupa atau memang mereka tidak mempermasalahkan orang lain yang melihat kemesraan mereka.

__ADS_1


Manager hotel tersebut tersenyum malu melihat bos dan istrinya tidak malu memperlihatkan kemesraan mereka.


Istri Indra tersenyum puas melihat Nindi diacuhkan oleh Raymond. Dia merasa kesal pada Nindi dan berniat untuk menghancurkannya.


"Chef, apa kita bisa berbicara berdua?" tanya Nindi dengan tidak tahu malunya.


"Kamu tidak lihat saya sedang sibuk?" ucap Raymond tegas tanpa melihat kearahnya.


"Tolong bantu aku Chef," pinta Nindi memelas.


"Hey wanita tidak tau diri, kau tidak lihat tuan Raymond sedang sibuk dengan istrinya," seru istri Indra mempermalukannya.


Nindi menoleh ke arah Indra dan istrinya berada. Dia disambut senyuman meremehkan oleh istri Indra.


Nindi marah, dia tidak suka jika dirinya direndahkan dan dipermalukan. Bagaimanapun dia akan membalasnya. Namun satu hal yang dia lupa, istri Indra jauh lebih kaya dibandingkan dengannya.


Indra masih merayu dan mencoba meyakinkan istrinya, Dia sudah tidak peduli lagi dengan Nindi. Yang dia pedulikan saat ini adalah keselamatan dirinya dan karirnya.


Memang Indra seorang CEO di perusahaan yang dia tempati saat ini, namun perusahaan tersebut merupakan milik keluarga istrinya dan sudah menjadi hak milik istrinya.


Semua keuangan Indra dipantau oleh istrinya, sehingga Indra tidak memiliki uang lebih dari gajinya.


Sebab itu Indra tidak mau melepas istrinya apapun yang akan terjadi. Dia tidak mau hidup susah dan terlunta-lunta.


"Chef, tolong aku," ucap Nindi memelas.


Namun Raymond tak melepaskan pandangan matanya pada Caramel. Dia mengusap pipi dan bibir milik Caramel meskipun disitu banyak orang yang melihat.


Perkataan Nindi seolah angin lalu yang tidak perlu diingat oleh Raymond. Sehingga hal itu membuat istri Indra tertawa puas melihat Nindi yang tidak tahu malu itu diacuhkan oleh orang yang digodanya.


Nindi yang sudah sangat kesal tidak lagi bisa menaham amarahnya. Nindi berjalan mendekati indra dan istrinya. Dicengkeramnya rambut Rasti dan dijambak olehnya sekeras mungkin.


Rasti mengaduh kesakitan dan menyumpahi Nindi. Namun hal itu digunakan menjadi kesempatan bagi Indra untuk berbaikan dengan istrinya.

__ADS_1


Indra menampar Nindi dengan sangat keras hingga pipinya berdarah dan berdenyut sakit. Merah cap tangan besar milik Indra melekat sempurna pada pipi Nindi.


Nindi tidak menyangka bahwa Indra bisa melakukan itu kepadanya. Dia tidak mengiranya karena selama ini Indra selalu berlaku manis, romantis dan selalu menuruti semua kemauannya.


"Mas... kamu... kamu menamparku?" ucap Nindi dengan muka yang sangat malu.


"Kamu kurang ajar sama istri saya," seru Raymond sambil menunjuk Nindi.


"Kamu gak belain aku? Dia yang mempermalukan ku daei tadi," seru Nindi tidak kalah dari Indra.


Memang duo ini sama dalam banyak hal. Mungkin juga mereka berjodoh.


"Kalian selesaikan urusan kalian di kamar. Aku lelah tidak bisa menemani kalian lagi. Permisi," ucap Raymond sambil berdiri dan menggendong tubuh istrinya menuju kamar hotel yang terburu-buru menyiapkannya.


Karena Raymond tidak mau menginap di hotelnya, maka mereka tidak menyiapkan semuanya.


Kini dia mengatakan ingin bermalam di hotel karena sudah sangat mengantuk sehingga dia lebih memilih tidur di hotel.


Caramel hanya tersenyum mendengar perkataan suaminya kepada hotel. Entah sangat mengantuk atau sangat ingin melakukannya Caramel tidak tahu. Dia hanya mengetahui jika suaminya ini punya alasan tersendiri.


Kamar hotel khusus untuk pemilik telah disiapkan dengan suasana romantis dan tatanan layaknya kamar pengantin baru.


Dan benar saja, ini alasan yang seperti Caramel duga. Suaminya ini tidak jauh-jauh dari kata mesum. Seolah pindah tempat untuk ganti suasana, mereka kini tidak tidur, melainkan beribadah untuk memiliki keturunan. Kegiatan yang sangat digemari oleh Raymond.


Raymond sangat tergugah karena Caramel kini tidak pasif lagi, kini Caramel bertindak aktif sehingga Raymond merasa puas sekali malam ini.


Beberapa menit setelah pertempuran pertama mereka, terdengar suara pintu diketuk.


Raymond mengacuhkannya, dia lebih memilih memeluk erat istrinya yang kini sedang berpeluh akibat pergumulan mereka tadi.


Tok... tok... tok..


"Chef... Chef... Chef Raymond.. Chef...," suara wanita itu nyaring terdengar dari balik pintu kamar hotel.

__ADS_1


__ADS_2