Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
80. Dilema


__ADS_3

Keluar dari toilet, Clara segera berjalan cepat menuju kantor. Kini tujuan utama Clara adalah pulang lebih cepat. Namun dengan berjalan cepat dan kepala yang tertunduk, Clara menabrak seseorang.


Bruk!


"Clara, kamu baik-baik saja?" tanya Zayn.


Kini tubuh Clara sudah berada di pelukan Zayn karena yang ditabrak oleh Clara adalah Zayn, dan dengan sigapnya Zayn menangkap tubuh Clara ke dalam pelukannya agar tidak terjatuh di tanah.


Namun entah karena kaget mendengar suara Zayn ketika menabraknya atau memang karena Clara sedang merasa sangat pusing dan lemah badannya sehingga dia kini jatuh pingsan dalam pelukan Zayn.


"Clara... Clara... hey bangun Clara...," Zayn mencoba menyadarkan Clara yang tidak juga membuka matanya.


Zayn segera menggendong tubuh Clara menuju mobilnya, saat ini tujuannya hanya satu, ke rumah sakit. Entah mengapa Zayn berpikiran bahwa dia harus membawa Clara segera ke rumah sakit daripada harus menyadarkannya di tempat kerjanya ini.


"Pak, tolong cepat ambilkan kunci mobil saya di saku celana saya ini," Zayn menyuruh seorang keamanan yang berjaga di parkiran dekat dengan mobilnya.


Dengan segera petugas keamanan tersebut berlari dan mengambil kunci mobil Zayn dari saku celana Zayn.


"Awas hati-hati Pak nyenggol ular piton saya," ucap Zayn yang sempat-sempatnya membuat candaan di saat dirinya sedang terburu-buru sekarang ini.


Petugas keamanan itu hanya nyengir menghadapi candaan dari Zayn. Pasalnya Zayn tadi meminta untuk segera mengambilkan kuncinya, namun sekarang Zayn malah mengajaknya bercanda. Namun petugas keamanan tersebut tidak bisa protes pada Zayn karena Zayn merupakan keluarga besar Xavier yang harus dia hormati juga seperti keluarga inti Xavier.


"Ini Pak," ucap petugas keamanan tersebut sambil menyerahkan kunci mobil milik Zayn yang baru saja dia ambil dari saku celana Zayn.


"Cepat bukakan pintunya!" seru Zayn yang membuat petugas keamanan tersebut segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Zayn padanya.


Setelah pintu mobil terbuka, Zayn segera merebahkan tubuh Clara di atas tempat duduk penumpang yang berada di belakang kursi kemudi. Kemudian Zayn segera membawa Clara ke rumah sakit terdekat agar Clara segera mendapatkan pertolongan.


Dokter yang memeriksa Clara segera keluar dari ruang pemeriksaan di ruangan IGD. Dan dokter tersebut segera berbicara pada Zayn.


"Maaf Pak, apa Bapak tau jika istri Bapak sedang hamil?" dokter tersebut bertanya pada Zayn.


Dengan mata yang reflek membelalak, Zayn menanyakan kembali apa yang membuatnya terkejut ketika mendengar pertanyaan dari dokter yang ada di hadapannya itu.

__ADS_1


"Iya Pak benar. Sepertinya Bapak tidak tau. Maaf Pak, benda ini saya temukan di saku istri Bapak dan sudah kami periksa untuk memastikannya. Hasilnya istri Bapak memang benar hamil sekarang, dan usia kandungannya saat ini sekitar dua mingguan," ucap si dokter menjelaskan sambil memberikan testpack yang dia temukan dari saku Clara ketika testpack tersebut hendak jatuh dari saku Clara ketika dokter tersebut memeriksanya.


Zayn menerima testpack yang diberikan oleh dokter tersebut padanya, dengan tangan sedikit bergetar.


"I-ini artinya dia sedang hamil ya dok?" tanya kembali Zayn pada dokter tersebut untuk meyakinkan pendengarannya.


Dokter yang ada di hadapan Zayn pun tersenyum sambil mengangguk. Mungkin sebentar lagi pasien akan sadar, silahkan ditunggu, saya permisi untuk kembali bertugas," ucap dokter tersebut.


"Baik dok, terima kasih," ucap Zayn yang mendapati anggukan dari dokter tersebut sebelum dokter tersebut meninggalkan Zayn yang berdiri dengan sedikit bingung.


Perasaan Zayn saat ini campur aduk. Tidak bisa tergambarkan bagaimana perasaan Zayn saat ini. Ada rasa bahagia karena dia yakin bahwa anak yang dikandung oleh Clara adalah anaknya, anak yang dihasilkan dari hubungan mereka pada malah pesta di hotel pada saat itu, malam yang sangat panas akibat dari obat yang diberikan Clara untuk Raymond namun menjadi boomerang baginya.


Dan Zayn juga takut jika apa yang dia pikirkan salah. Dia takut jika anak tersebut bukan anaknya. Meskipun dia sangat yakin jika anak yang dalam kandungan Clara adalah anaknya, tapi tersirat keraguan dalam hati Zayn karena sikap Clara yang selalu menolaknya.


Sungguh Zayn merasa dilema saat ini. Dia ingin segera menikahi Clara karena dia yakin anak yang dikandung Clara adalah anaknya, namun lagi-lagi dia menjadi sedih karena Clara yang tidak menginginkan kehadirannya untuk masuk dalam kehidupannya.


Tiba-tiba Clara keluar dari ruang UGD dengan memegang kepalanya. Sepertinya dia masih merasakan pusing di kepalanya.


"Clara," Zayn memanggil Clara ketika melihatnya keluar dari ruang UGD disaat dia sedang bergelut dengan pikirannya sedari tadi di depan UGD.


Sedang apa dia? Kenapa dia berada di sini? Apa yang sedang dia lakukan di sini? Clara berkata dalam hatinya sambil berjalan meninggalkan Zayn yang masih terpaku melihat pada Clara.


Tunggu, apa dia tau tentang kehamilanku? ucap Clara dalam hatinya.


Dan dengan seketika dia menghentikan langkahnya, kemudian dia berbalik dan bertanya pada Zayn.


"Apa.... apa kamu.... apa kamu tau kenapa aku berada di sini?" Clara bertanya pada Zayn dengan gugup dan pertanyaan Clara tersebut membuat Zayn tersadar dari pikirannya.


"I-ini milikmu bukan?" Zayn bertanya balik pada Clara dengan kegugupan yang juga melandanya.


"Hufffttt...," Clara menghela nafas berat, seperti dugaannya, dia tahu jika Zayn mengetahui akan keadaannya saat ini.


Clara segera membalikkan badannya dan meneruskan kembali jalannya untuk pergi meninggalkan rumah sakit.

__ADS_1


"Eh mbak... mbak... diurus dulu pembayarannya," seorang perawat memanggil Clara dan mengejarnya.


Clara berhenti dan berkata pada perawat tersebut,


"Pembayarannya minta sama orang itu aja," ucap Clara sambil menunjuk Zayn dengan dagunya.


Kemudian Clara berjalan kembali meninggalkan Zayn yang kaget dengan sikap Clara yang tidak bisa diprediksinya.


"Maaf Pak, silahkan dibayar tagihannya," ucap perawat sambil mengarahkan tangannya pada bagian administrasi dan mengantarkan Zayn ke sana.


Dengan cepatnya Zayn melakukan pembayaran agar dia bisa segera mengejar Clara yang sudah lebih dulu berjalan keluar rumah sakit meninggalkannya.


Zayn mengedarkan pandangannya ke semua arah mencari sosok wanita yang dicintainya. Namun tak ditemukannya sosok Clara di mana pun di sekitar rumah sakit itu. Dengan kesal Zayn masuk ke dalam mobilnya dan menjalankannya dengan pelan-pelan untuk mencari Clara di sepanjang jalan.


Tin... tin... tin...


Suara klakson mobil Zayn mengganggu pemakai jalan lainnya. Tujuan Zayn hanya satu, agar Clara menoleh padanya.


Ternyata Clara berjalan kaki dengan pelan sambil berpikir. Sepertinya Clara memikirkan tentang nasibnya yang sedang mengandung tanpa mempunyai suami terlebih dahulu. Dia juga bingung akan berbicara apa dengan keluarganya.


Clara menoleh ke belakangnya, dan ternyata di belakangnya sudah ada Zayn di dalam mobilnya. Clara meneruskan kembali berjalan di trotoar tanpa menoleh kembali ke belakang ketika Zayn kembali menyalakan klaksonnya.


"Cepetan naik atau kamu akan malu, karena aku akan tetao berada di sini untuk menunggumu dan semua pejalan kaki akan marah karena aku mengakibatkan kemacetan di sini," Zayn mengeluarkan ancamannya agar Clara segera masuk ke dalam mobil Zayn.


"Aku gak peduli Zayn, toh yang bakalan ditangkap polisi juga kamu, bukan aku," ucap Clara sambil berjalan kembali.


Zayn tetap mengikutinya dengan pelan-pelan di sebelahnya dengan mengendarai mobilnya. Dan lama-kelamaan hal itu mengundang kekesalan bagi pemakai jalan yang lainnya.


"Mbak, cepetan naik, itu pacarnya udah nungguin. Bikin macet aja. Bertengkarnya nanti aja dilanjutin di rumah," ucap salah satu pemakai jalan.


Sontak saja cuitan pemakai jalan tersebut disetujui oleh pemakai jalan yang lain, sambil membunyikan klaksonnya, mereka menyuruh Clara untuk cepat naik agar tidak lagi menimbulkan kemacetan di jalan tersebut.


Clara mendengus kesal dan masuk dengan terpaksa ke dalam mobil Zayn. Sedangkan Zayn tersenyum penuh kepuasan melihat Clara bisa menuruti kemauannya meskipun hanya terpaksa.

__ADS_1


"Itu anakku bukan?" pertanyaan Zayn membuat Clara terhenyak dari keterdiamannya.


__ADS_2