
Raymond melirik orang yang baru datang tersebut. Dia mendengus kesal melihat wajah orang tersebut dan dia ingin membuat perhitungan padanya agar tidak berani mengganggu istrinya lagi.
Nindi menoleh pada Caramel yang masih menunduk. Kini Nindi dengan senyum bangganya menceritakan bahwa seperti yang ada di dalam rekaman tersebut.
Rahang Raymond mengeras, tangannya yang terlepas dari genggaman Caramel kini berada di atas meja dan mengepal kuat menahan amarahnya.
Mungkin jika tidak ada orang dia akan menghajar wanita itu. Nindi si biang dari semua permasalahan dalam kehidupan Raymond dan Caramel.
Wanita itu sudah seperti menjadi lintah yang akan menghisap darah mereka berdua. Selalu saja menempel dan mengganggu ketenangan mereka.
Daddy Nathan dan Mommy Grace mendengarkan dengan cermat dan mengamati ekspresi wajah Nindi ketika bercerita.
Caramel memegang dadanya yang terasa sesak dan matanya berkaca-kaca menahan rasa sakit, sungguh dia sangat takut dan terluka oleh ucapannya sendiri. Ucapan yang keluar dari mulutnya seperti menjadi boomerang bagi dirinya.
Tujuannya memang bukan seperti yang dia ucapkan, namun orang yang tidak mengenal dia dengan baik, pasti akan percaya pada rekaman suara itu.
Mata Raymond melotot, aura kemarahan yang ditunjukkan oleh wajahnya sangat menyeramkan ketika Nindi mulai menangis dan mengatakan bahwa dirinya sangat mencintai Raymond dan Caramel membalas dendam dengan menjauhkan Raymond darinya.
Kini air mata Caramel mulai menetes di pipinya. Sungguh dia tidak pernah punya niatan seperti itu. Dia memang benar-benar tulus mencintai Raymond.
"Diam kau!" teriak Raymond dengan menatap bengis wajah Nindi.
Nindi mengkerut ketakutan melihat wajah Raymond yang seperti hendak membunuh musuhnya.
Nindi menelan ludahnya, telapak tangannya berkeringat dingin, namun dia seorang aktris handal yang bisa menutupi ketakutannya dengan senyum angkuhnya sehingga tidak ada seorang pun yang tahu jika dia sedang ketakutan.
Daddy Nathan dan Mommy Grace seorang pengusaha yang sudah mempunyai pengalaman yang banyak bertemu dengan berbagai macam karakter orang, sehingga mereka tahu dengan gampangnya menilai seseorang.
__ADS_1
Daddy Nathan tersenyum miring setelah Nindi memohon padanya agar menjauhkan Caramel dari Raymond.
"Zayn, bawa dia ke dalam kantor, dan berikan yang tadi Om berikan padamu," ucap Daddy Nathan dengan tegas.
Raymond mengalihkan pandangannya pada Daddy nya. Wajah Raymond saat ini menyatakan bahwa dia kaget dan bingung.
Daddy Nathan hanya tersenyum tidak menjawab. Kini hanya ada ketegangan dan banyak pertanyaan yang membuat Raymond menjadi bingung.
Caramel masih menunduk tidak berani mengangkat kepalanya, bahkan matanya pun terpejam tidak berani menatap Daddy Nathan dan Mommy Grace.
"Kalian berdua, kapan kalian akan memberikan Daddy cucu?" pertanyaan dari Daddy Nathan ini membuat sepasang suami istri baru ini menjadi kaget.
Caramel membuka matanya dan mengangkat kepalanya menatap lurus wajah Daddy Nathan dan Mommy Grace yang ada di depannya.
"Kenapa kalian gak jawab sayang?" tanya Mommy Grace dengan senyumnya.
Mommy Grace tersenyum dan berkata, " Ada yang akan kalian sampaikan? Atau mungkin Caramel mau berbicara?"
"Ma-maaf," ucap Caramel lirih sambil menundukkan kembali kepalanya.
"Mom, Dad ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Ray bisa menjelaskannya," sahut Raymond.
"Kalian jelaskan berdua. Daddy ingin mendengarnya," ucap Daddy Nathan datar.
Caramel menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan selama beberapa kali, setelah itu dia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Raymond hanya memberi kekuatan pada istrinya dengan menggenggam erat tangannya dan matanya tidak lepas dari wajah istrinya.
__ADS_1
Dalam hati Raymond sungguh dia menyesal telah mengajak istrinya ke tempat itu tadi, karena hanya membuatnya terluka.
Come on, kami masih pengantin baru, kenapa harus disuguhi masalah seperti ini? Semua gara-gara wanita j***ng itu. Awas saja, akan ku hancurkan dia jika berani menyakiti istriku.
"Sudahlah, kalian tidak perlu memikirkannya lagi, kami sudah tau yang sebenarnya," ucap Daddy Nathan sambil meminum kopinya.
"Daddy tau dari mana?" tanya Raymond heran.
"Kamu lupa siapa pemilik tempat ini?" ucap Daddy Nathan dengan bangganya.
"Sombong sekali anda Tuan," ucap Raymond terkekeh.
"Bahkan Daddy mempunyai CCTV berjalan disini," ucap Daddy setelah meletakkan cangkir kopinya.
"Aaah... bodohnya aku bisa melupakan CCTV," ucap Raymond menyesal.
"Daddy gak sebodoh dirimu yang hanya mengandalkan CCTV saja. Jika kamu sudah bertemu dengan berbagai macam orang, pasti kamu akan dengan mudah menilai seperti apa orang tersebut," tutur Daddy Nathan.
"Ck, itu sih aku sudah tau. Bagaimana mungkin aku bisa yakin pada Caramel di saat pertama bertemu dengannya jika aku tidak bisa menilai orang," Raymond mendengus kesal.
"Sudah jangan terlalu banyak bicara. Cepat beri kami cucu agar kami tau jika kamu memang seorang pria yang jantan," Daddy Nathan menggandeng tangan Mommy Grace untuk meninggalkan putra dan menantunya di sana.
Mata Caramel membelalak mendengar ucapan dari Daddy Nathan.
Hah, cucu? Mampus aku, alamat kejar tayang setelah seminggu libur. Ooooh tidaaaaak...., batin Caramel menjerit.
Senyuman licik terbit di bibir Raymond, dan Caramel tau itu apa. Dia menggeleng, kemudian berlari menjauhi Raymond karena Caramel tahu isi dari kepala suaminya itu.
__ADS_1
"Brengsek, akan aku hancurkan wanita itu, tunggu saja pembalasan dariku," ucap Nindi sambil meremas amplop yang diberikan oleh Zayn saat di kantor tadi.