
Hari-hari sudah berlalu setelah kejadian malam di pesta itu, Zayn dan Clara seperti orang asing. Clara menjauhi Zayn dan Zayn yang semakin gencar mendekati Clara.
"Huuuffftt... ," hembusan nafas Zayn memberitahukan dirinya yang sudah lelah.
"Kenapa Zayn?" tanya Caramel yang sedang istirahat dari kegiatannya membuat cake.
"Gapapa, aku cuma merasa lelah aja. Lelah untuk berjuang, lelah untuk mempertahankan cintaku padanya. Apa aku menyerah saja ya?" Zayn dalam mode curhat bersama Caramel.
"Pria sejati tidak akan pernah menyerah Zayn. Seperti aku, iya gak Sayang?" tiba-tiba saja Raymond menyahut sambil berjalan mendekati Caramel dan Zayn yang sedang duduk di taman.
Tadi Raymond berniat mencari Caramel yang hilang dari pandangannya. Tak diduga ternyata Raymond melihat Caramel bersama dengan Zayn duduk bersama di kursi taman. Raymond yang tingkat kebucinannya sudah tinggi, dia merasakan cemburu meskipun Caramel dan Zayn tidak melakukan apa-apa.
Raymond berjalan mendekati Caramel dan Zayn, namun mereka berdua tidak mengetahuinya karena mereka sedang serius tentang pembicaraan mereka. Raymond pun mendengar apa yang dibicarakan oleh Zayn, sehingga Raymond memutuskan untuk ikut serta dalam diskusi mereka daripada harus membiarkan istrinya berduaan dengan Zayn.
"Aku sudah capek Ray, sudah lelah Dia tetap aja seperti itu meskipun aku sudah berusaha keras untuk mendapatkannya," Zayn mengeluh dengan apa yang dia lakukan.
"Lalu, apa kamu rela dia dengan pria lain?" tanya Raymond.
"Jelas tidak, karena dia sudah jadi milikku sejak malam setelah pesta itu," ucap Zayn sambil menerawang kejadian di hotel waktu itu dengan bibirnya yang tersenyum.
"Dan kamu menyerah hanya karena lelah Zayn? Kalau misalnya aku jadi dia, gak bakalan percaya dengan ketulusan kamu, karena kamu memperjuangkan cintamu setengah-setengah. Jangan-jangan cintamu cuma setengah aja, gak seratus persen, tapi cuma lima puluh persen aja," Caramel meremehkan Zayn.
Caramel berkata demikian agar Zayn terpacu untuk bisa memperjuangkan kembali cintanya. Dan yang paling penting adalah, jika Zayn bersama dengan Clara, berarti Raymond akan bebas dari gangguan Clara, dan itu akan sangat menguntungkan bagi Caramel.
"Kamu yakin Zayn tidak akan menyesal jika tidak mendapatkannya? Lagipula ya... dia memang anak manja sih, buat apa dipertahankan, toh dari dulu dia cuma bisa merepotkan orang saja. Benar kan Zayn?" kini giliran Raymond memprovokasi Zayn.
__ADS_1
"Ck, kalian pasangan suami istri yang hanya bisa membuat orang kesal saja," Zayn mengeluh atas ucapan-ucapan dari Raymond dan Caramel.
Raymond dan Caramel terkekeh bersamaan, namun Raymond melihat ada yang aneh dengan wajah istrinya.
"Sayang, kamu kenapa? Wajah kamu sedikit pucat," ucap Raymond dengan memegang dagu istrinya dan mengarahkannya tepat di depan wajahnya.
"Mungkin hanya kecapekan aja. Sepulang dari sini kan aku selalu belajar dengan Chef Jenny di rumah," jawab Caramel dengan senyum manis namun terlihat sekali pucat di wajahnya.
"Kita sudahi aja ya dengan Chef Jenny. Aku gak mau kamu kelelahan dan sakit. Apa yang kamu dapat sekarang lebih dari cukup, nanto bisa kamu kembangkan sendiri karena kamu sudah mengerti dan paham dasar-dasarnya," Raymond mengatakannya dengan tatapannya yang tak beralih ke manapun, tatapannya hanya satu, wajah istrinya.
"Bukannya harus praktek terus dan berinovasi, mana bisa aku yang hanya dalam sebentar saja bisa se ahli chef pastry lainnya," Caramel mencoba memprotes keputusan Raymond.
"Tidak, kamu hanya perlu terus belajar sendiri, praktek sendiri dan berinovasi sendiri. Kalau ada apa-apa kamu bisa tanya pada suamimu ini atau pada chef pastry yang lain. Kamu jangan lupa jika kita punya chef pastry yang hebat di hotel kita," Raymond tetap pada keputusannya.
"Udah Ca, kamu setujui aja apa kata Raymond. Keputusan suamimu itu tidak bisa diganggu gugat," sahut Zayn yang mulai jengah mendengar perdebatan sepasang suami istri yang ada di dekatnya.
"Aku akan membuat janji untuk kita bertemu dengannya sepulang dari sini nanti. Aku akan berbicara padanya, kamu tenang saja. Ok?" Raymond menjelaskan pada Caramel rencananya nanti.
Caramel pun mengangguk setuju dengan senyumnya yang masih terlihat sedikit pucat.
"Sayang, apa kita perlu periksa ke dokter? Aku takut kamu kembali pingsan seperti dulu," ucap Raymond penuh kekhawatiran mengingat kejadian waktu dulu sebelum mereka menikah.
"Gak usah Sayang... cukup istirahat aja," jawab Caramel.
"Denger tuh Ray, cukup istirahat, jangan diajakin begadang mulu, jadi kecapekan kan tuh," sahut Zayn yang sudah berancang-ancang untuk lari setelah mengatakannya.
__ADS_1
Dan benarlah, kini Raymond sudah mencari batu kerikil untuk melempar Zayn yang sudah sedikit berlari menjauh dari mereka.
Di toilet wanita Clara sedang merasa frustasi, karena dia mendapatkan fakta yang mencengangkan, fakta yang membuatnya ingin melarikan diri dari semua orang, ingin menghilang dari dunia ini, bahkan dia ingin mengakhiri hidupnya.
Flashback
Zayn selalu mengikuti Clara kemanapun dia pergi. Dengan alasan yang sama setiap Clara mengusirnya untuk menjauhinya. Alasan itu selalu tentang pekerjaan mereka yang sama sehingga mereka harus selalu bersama.
Bahkan setiap berangkat dan pulang kerja, Zayn selalu mengikuti di belakang mobil Clara. Dia tidak mau terjadi apa-apa dengan wanitanya. Entahlah Zayn uang sekarang dirasa oleh Clara lebih posesif dengannya.
Siang ini seperti biasa, Clara berada di dalam kantor karena merasa badannya tidak nyaman , kepalanya terasa berputar-putar, badannya lemas dan perutnya terasa mual sehingga Clara hanya diam saja ketika Zayn mengajaknya berbicara.
Biasanya Clara mau menjawab jika diajak Zayn berbicara karena yang dibicarakan Zayn tentang pekerjaan, dan siang ini pun Zayn berbicara banyak pada Clara tentang pekerjaan namun Clara hanya diam saja tidak menyahut sekalipun. Zayn jadi kesal dan dia keluar dengan meluapkan kekesalannya pada pintu. Zayn menutup pintu kantor dengan kasar sehingga membuat Clara tersentak kaget dalam menahan sakitnya agar tidak diketahui oleh Zayn.
Clara memang berusaha menahan sakitnya agar tidak diketahui oleh Zayn karena dia takut Zayn pasti akan memaksanya untuk mengantarkannya ke dokter dan Zayn pasti akan menjaganya seperti biasanya sebelum mereka menjadi canggung seperti sekarang ini.
Clara segera keluar dari kantor untuk pergi ke kamar mandi, rasa mualnya sudah tidak bisa ditahan lagi. Clara melihat sekitar sebelum dia keluar dari kantor, dan ternyata dia melihat Zayn berada di taman sedang berbicara serius dengan Caramel.
Clara segera keluar menuju kamar mandi ketika Zayn tidak melihat ke arahnya. Di dalam kamar mandi Clara memuntahkan isi perutnya karena rasa mualnya yang sangat mengganggu sedari tadi. Dan ketika dia sudah selesai merasa sedikit enakan , dia mengeluarkan sesuatu yang dia beli ketika berangkat kerja tadi di sebuah mini market.
Betapa kagetnya dia melihat barang tersebut. Dia tidak bisa menerimanya karena dia bingung akan bagaimana setelah ini.
Dalam keadaan bingung Clara keluar dari kamar mandi dan barang tadi dia simpan di sakunya.
Flashback end
__ADS_1
Bruk!
"Clara, kamu baik-baik saja?"