Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
52. Wanita rendahan


__ADS_3

Pria yang berumur lima puluh tahun itu menginginkan Nindi untuk melayaninya. Nindi merasa tidak percaya bahwa Indra membawanya datang ke tempat ini untuk melayani pria yang ada dihadapannya kini.


"Bermainlah dengan sangat hebat seperti kita bermain tadi agar dia merasa puas dan memberikan barang yang kita minta dengan harga yang murah," bisik Indra di telinga kanan Nindi.


Nindi mengangguk dan mengarahkan mulutnya pada telinga Indra.


"Baiklah, asalkan aku selalu kamu butuhkan dan cepat nikahi aku," bisik Nindi pada Indra.


Indra kaget, namun dia hanya perlu meyakinkan Nindi agar dia mau membantunya dalam bisnis ini.


Indra pun mengangguk dan berbisik, "Bantu aku terus jika ingin aku butuhkan."


"Ehem... bisa kita mulai?" tanya pria yang ada di depan mereka.


"Baik Bos, silahkan bersenang-senang," ucap Indra dengan senyuman licik yang menghiasi bibirnya.


Nindi mengikuti pria yang dipanggil Bos oleh Indra tadi menuju ke sebuah ruangan.


Waaah mewah dan indah sekali kamar ini, Nindi membatin dengan tatapan kagum menelisik setiap sudut ruangan ketika berada di dalam kamar yang mewah dan sangat besar.


Si Bos itu dengan cepatnya menyambar tubuh Nindi dan melucutinya, hingga sekarang tidak ada sehelai benang pun yang menempel pada tubuh Nindi.


Bos itu memainkan semua aset milik Nindi hingga Nindi semakin terbuai dan masuk pada permainannya.


Kini giliran Nindi yang membuka kain yang menempel di badan si Bos itu sedikit demi sedikit sambil memainkan milik si Bos dengan tangan Nindi. Setelah semua pakaian Bos itu terlempar ke segala arah, Nindi mulai lebih gencar memainkannya, seperti dia memainkan ular milik Indra.


Dia harus membuat si Bos ini terkesan dan jatuh dalam pesonanya, sehingga dia akan selalu dibutuhkan oleh si Bos. Nindi sempat berpikiran jika dia bisa mengambil hati si Bos ini, pasti hidupnya akan mewah dan bergelimang harta.


Setelah puas dengan suara lenguhan si Bos yang ularnya sedang dimainkan oleh Nindi, kini Nindi beralih dengan memainkannya di dalam mulutnya. Suara lenguhan si Bos bertambah keras ketika Nindi memainkan segala keahliannya untuk membuat si Bos merasa puas dengan segala cara.


Setelah ular si Bos memuntahkan cairan yang berwarna putih, Nindi segera mengambil posisi untuk menyenangkannya. Berbagai macam posisi dan gaya mereka coba, hingga suara lenguhan mereka bersahutan menjadi irama tersendiri dalam kamar besar dan mewah itu.

__ADS_1


Ninda dan si Bos terkulai lemas ketika mereka sama-sama mencapai titik kepuasan mereka. Namun tidak disangka jika si Bos masih kuat untuk menggarap dan bersenang-senang dengan Nindi.


Milik Nindi yang berada di bawah, dimainkannya dengan jari tangan dan lidahnya sehingga Nindi merasakan jiwanya bangun kembali untuk melakukannya lagi.


Jari tangan dan mulut si Bos itu tidak berhenti membuai milik Nindi hingga cairannya pun keluar dari dalam aset Nindi tersebut. Nindi tersenyum puas hingga badannya bergetar, dan si Bos tentu saja sangat senang bisa membuat Nindi mengeluarkan cairannya.


Mereka berdua kembali mengulang permainan mereka. Hingga lagi-lagi mereka mencapai titik kepuasan mereka kembali.


Mereka istirahat sebentar, dengan tangan si Bos yang masih menjelajahi dan bergentayangan di seluruh tubuh Nindi.


Jangan harap si Bos mengajaknya beristirahat selama beberapa jam, perkiraan Nindi salah, karena kini tangan si Bos yang menjelajah tadi kembali memainkan milik Nindi yang sensitif dari atas sampai bawah.


Nindi benar-benar dihajar oleh pria yang dipanggil Bos oleh Indra ini. Si Bos menghargai wanita yang disodorkan oleh Indra karena Indra mengatakan bahwa wanita tersebut miliknya dan mempunyai keprofesionalan dibanding yang lainnya.


Tentu saja si Bos merasa tertantang dan penasaran. Ternyata benar, memang Nindi sangat berpengalaman jika menyangkut hal kepuasan. Nindi juga selalu berusaha agar pasangannya tidak kecewa, sehingga dia tidak pernah menolak jika diajak beberapa kali bermain dengan pasangannya.


Lagi-lagi mereka melenguh puas dengan mencapai titik kepuasan mereka dan mengeluarkan cairan kepuasan mereka.


Namun ketakutan Indra sirna ketika si Bos keluar dari dalam kamarnya dengan senyuman bahagia ketika melihat Indra.


Bagus Nindi, tidak salah jika aku memeliharamu. Karena di samping kamu bisa memuaskanku, kamu juga bisa menjadi senjata buatku untuk berbisnis, seringai Indra muncul di bibirnya tatkala dia berbicara dalam hati.


"Gimana Bos?" tanya Indra ketika si Bos sudah duduk di depannya.


Si Bos hanya tertawa dan mengacungkan jempol kanannya tanda bahwa dia sudah puas.


Indra ikut tertawa dan mereka mulai membicarakan bisnis mereka. Setelah beberapa lama mereka berbicara tentang kesepakatan bisnis mereka, Indra tidak juga melihat Nindi keluar dari kamar yang tadi digunakan Nindi bersama dengan si Bos.


"Bos, maaf, Nindi nya mana Bos kok gak keluar-keluar?" akhirnya Indra memberanikan diri untuk bertanya mengenai keberadaan Nindi pada si Bos yang ada di depannya.


"Ada di dalam, sepertinya sedang tidur. Sudah lemas dia sekarang, jadi tidak tega mau saya ajak bersenang-senang lagi," ucap si Bos sambil terkekeh.

__ADS_1


"Hah? Lemas Bos? Kalau boleh tau kalian main berapa kali? Karena setau saya Nindi cukup kuat main berkali-kali meskipun setelah itu dia mengeluh sakit semua badannya," Indra heran dan penasaran dengan permainan Nindi dan si Bos yang lebih tua darinya.


"Mainnya sudah beberapa kali. Kasihan dia, biar dia istirahat dulu setelah itu dia biasa saya ajak main kembali," ucap si Bos dengan kekehan khasnya.


Indra melongo dan keceplosan berkata,


"Hah lagi? Memangnya Bos tidak capek?"


"Hahahahaha.... sebelumnya tadi saya sudah meminum obat supaya bisa tahan lama," kini si Bos tidak hanya terkekeh, melainkan tertawa.


Pantas aja dia kuat selama berjam-jam, mana sekarang dia fresh lagi, kasihan Nindi, gimana keadaannya sekarang ya? batin Indra.


"Tapi Nindi baik-baik aja kan Bos? Gak mati kan dia?" tanya Indra spontan.


"Kamu pikir saya pembunuh apa? Saya juga butuh penakluk untuk ini nanti, karena ini belum puas dan masih minta dipuaskan," si Bos menunjuk bagian tubuhnya yang ada di dalam resleting celananya.


"Lalu bagaimana keadaan dia sekarang Bos?" tanya Indra kembali.


"Sudah lebih baik kamu pulang saja, biar dia di sini untuk melanjutkan menidurkan si ini. Dan dia akan saya kembalikan pada saat kita transaksi besok," si Bos kembali menunjuk bagian yang tadi ketika berbicara.


"Tap-"


"Kamu mau transaksi ini gagal?" tanya si Bos dengan berwajah garang.


Tidak ada alasan lagi bagi Indra untuk berada di sana dan tidak bisa juga dia menentang keputusan dari Bos tersebut.


"Bolehkah saya melihatnya sebentar Bos? saya ingin tau keadaannya," Indra memberanikan diri untuk bertanya pada Bos yang kini bermuka garang padanya.


"Gak perlu, nanti kamu jadi ingin menggunakannya. Dia sedang dalam kondisi tidak memakai apapun," jawab si Bos tidak ragu yang membuat Indra menelan ludahnya sendiri.


Kini Indra pulang tanpa membawa Nindi bersamanya. Dan yang sebenarnya dipikirkan oleh Indra adalah, bagaimana dia bisa menghabiskan malam ini jika tidak bersama Nindi karena bisa dipastikan jika dia pulang ke rumah pun pasti istrinya menolak untuk berhubungan badan dengannya karena beralasan badannya sangat capek, selalu saja seperti itu.

__ADS_1


Bye Nindi, baik-baik ya kamu di sana. Sampai jumpa lagi besok. Sial, sekarang aku harus bersama siapa ya? Harus menghubungi siapa aku sekarang? ucap Indra dalam hati sambil memandang bangunan vila megah yang ada di hadapannya dari dalam mobilnya.


__ADS_2