Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
78. Kebenaran Zayn


__ADS_3

"Vania?! Kenapa kamu ada di sini?" ucap Zayn yang benar-benar kaget dengan datangnya Vania.


Zayn memandang Clara yang menatap tajam padanya dengan mata yang berkaca-kaca. Kemudian dia sadar jika ada tangan Vania yang melingkar di lengannya. Segera dihempaskannya tangan Vania dari lengannya dan pandangannya masih pada Clara, tidak menoleh pada Vania sedikitpun.


"Sayang... ayo kita pulang...," ucap Vania dengan sangat manja.


"Pulanglah Vania, aku tidak pernah janji akan mengantarkanmu pulang," ucap Zayn yang masih mandang Clara.


Clara tidak lagi melihat Zayn dan Vania. Dia sedang sibuk membereskan map-map yang berserakan karena kemarahannya tadi.


"Kamu tega membiarkanku pulang sendirian?" Vania merajuk pada Zayn.


"Kamu membawa mobil sendiri Vania....," jawab Zayn dengan menegaskan di setiap katanya.


"Tapi aku ingin kamu antar Zayn... ayolah, kamu bisa menginap di apartemenku seperti biasanya," Vania kembali merajuk.


Brak!


Tumpukan map-map tebal di banting di atas meja oleh Clara.


"Tolong kalian segera keluar dari tempat ini jika hanya membuat keributan saja," Clara mengatakannya dengan sangat tegas dan tatapan matanya penuh dengan dendam.


"Tapi Cla-"


"Keluar!!!" Clara berteriak dengan histeris hingga membuat mereka berdua ketakutan.


"Baiklah aku akan keluar. Tapi ingat, aku gak akan nyerah gitu aja. Ingat itu," Zayn keluar dengan kekesalan yang tercetak jelas di wajahnya.


Zayn menghempaskan kembali tangan Vania ketika dia menggandengnya. Begitu terus sampai Zayn jengah dan mengeluarkan kata-kata kasar padanya.


"Cukup Vania! Pulanglah, aku tidak mau melihatmu sekarang!" Zayn membentak Vania.


Hati Zayn sedang kesal. Dia tidak baik-baik saja dengan semua keadaan ini. Dan parahnya lagi Vania datang memperkeruh suasana, padahal sepertinya Clara sudah mau mendengarkannya.


"Kamu jahat Zayn. Aku datang karena aku merindukanmu, dan aku ingin kita bisa berlibur bersama hanya berdua," wajah Vania sedih mengatakannya.

__ADS_1


"Tapi kamu datang pada saat yang tidak tepat, dan apa kamu bilang tadi? Menginap? Apartemen? Kamu gila Vania! Sejak kapan aku pernah menginap di apartemenmu?" Zayn meluapkan kemarahannya pada Vania.


"Apa karena wanita tadi? Apa karena dia, kamu jadi bersikap seperti ini padaku?" Vania memberondong Zayn dengan beberapa pertanyaan yang diucapkannya dengan kekesalan.


"Jangan bawa-bawa dia. Wanita itu tidak ada hubungannya dengan sikapku padamu sekarang ini. Aku lelah Vania... Aku lelah dengan sikapmu yang seperti ini padahal kamu bukan siapa-siapaku. Kita tidak mempunyai hubungan apapun. Oleh sebab itu kita tidak boleh berlibur hanya berdua saja. Mengerti?" Zayn menjelaskan pada Vania.


Zayn hendak melangkah meninggalkan Vania, namun tangan Vania menghentikan langkah Zayn. Vania memeluk Zayn dari belakang. Tangan Vania melingkar pada pinggang Zayn dan kepalanya ditempelkan di punggung Zayn.


"Jangan pergi.... jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu Zayn. Jadilah pacarku," ucap Vania yang masih dalam posisi memeluk Zayn dari belakang.


Clara terperangah melihat Vania merangkul pinggang Zayn, namun dia sebenarnya tahu apa yang Zayn dan Vania bicarakan karena tadi Clara akan keluar dari kantor, ternyata di taman depan kantor ada Zayn dan Vania yang sedang berdebat. Clara bersembunyi untuk mendengarkan apa yang terjadi.


Dan kini dia tahu jika Zayn benar-benar tidak mempunyai hubungan apapun dengan Vania, dan tentunya tentang masalah menginap di apartemen Vania itu kini Clara percaya bahwa Vania berbohong.


Beruntung taman di depan kantor itu sepi tidak ada pengunjung sehingga tidak ada yang mengetahui acara peluk-memeluk itu.


Di dalam restoran, Raymond, Caramel dan Revan pun melihat adegan tersebut. Mereka juga mendengar apa yang Zayn dan Vania bicarakan. Mereka jadi tahu jika Vania mencintai Zayn, namun Zayn tidak pernah menyukainya apalagi mencintainya.


"Lepaskan Vania!" ucap Zayn dengan tegas dan bersuara lantang.


Namun Vania menggelengkan kepalanya. Dan itu diketahui oleh Zayn karena Zayn merasakan gelengan kepala Vania yang menempel di punggungnya.


Namun lagi-lagi Vania menggelengkan kepalanya. Dan hilang sudah kesabaran Zayn.


"Aku bilang lepaskan!" bentak Zayn dengan suara yang lebih lantang.


Namun Vania tetap menggelengkan kepalanya. Dengan kemarahannya Zayn mencoba melepaskan tangan Vania dari pinggangnya, namun tangan Vania semakin kuat dan lebih erat melingkar di pinggang Zayn. Sehingga hal itu membuat Zayn bertambah emosi.


Tentu saja dengan seketika tangan Vania bisa terlepas karena kekuatan Zayn lebih kuat daripada kekuatan Vania. Dan karena kekuatan Zayn yang tak terkontrol, sehingga Vania jatuh terduduk di belakang Zayn.


"Auuch....!" Vania merintih kesakitan.


Zayn tidak menoleh sama sekali ke arah belakang. Dia mengacuhkan Vania yang merintih kesakitan dan berjalan meninggalkan Vania yang masih belum berdiri dari jatuhnya.


"Kamu jahat Zayn!" Vania berteriak memaki Zayn.

__ADS_1


Clara kembali kaget melihat perlakuan Zayn pada Vania. Dia tidak mengira seorang Zayn yang sangat perhatian dan penuh kasih sayang padanya bisa seperti itu pada wanita yang mencintainya.


Mulai dari kecil mereka bersahabat, Zayn selalu menuruti kemauan Clara. Apapun yang diminta oleh Clara selalu diberikan oleh Zayn. Dan Zayn juga tidak pernah mengeluh pada Clara ketika Clara mengecewakannya ataupun selalu membuatnya marah. Zayn sedari dulu selalu menyayanginya dan selalu mengalah padanya.


Akhirnya Vania pulang dengan perasaan kesal dan amarahnya pada Zayn. Dia berjanji dalam hatinya akan membalas perbuatan Zayn padanya.


Lihat saja Zayn, akan ku buat kamu menyesal telah memperlakukanku dengan buruk dan kamu pasti akan sangat menyesal karena menolakku, Vania berjanji dalam hatinya.


Clara keluar dari persembunyiannya dan kembali ke dalam kantor. Clara bingung harus bagaimana menghadapi Zayn ketika mereka bertemu nanti.


"Ray bantu aku dong," ucap Zayn pada saat duduk di dekat Raymond ketika Raymond dan Caramel sedang makan di dalam restoran.


"Aku tidak bisa membantu. Aku tidak kenal mereka," jawab Raymond dengan datar.


"Ck, kamu kenal Clara Ray. Apa kamu lupa?" ucap Zayn dengan kesal.


"Tidak. Aku tidak kenal. Clara yang aku kenal tidak seperti sekarang," jawab Raymond sambil menyuapi Caramel yang tidak merasa minta disuapi.


"Ck, ingat ini tempat kerja. Gak usah suap-suapan gitu," Zayn bertambah kesal melihat Raymond yang bermesra-mesraan dengan Caramel padahal Zayn sedang patah hati.


"Zayn, jangan sekali-kali kamu menyuruh suamiku untuk berbicara pada wanita-wanitamu, karena aku tidak akan membiarkannya," Caramel mewanti-wanti Zayn.


"Lalu, siapa yang akan membantuku?" tanya Zayn yang merasa frustasi.


"Usaha dong. Kamu pepet terus Clara, jangan kasih kendor. Kalau berhasil, kamu pasti bangga dengan jerih payahmu sendiri," Caramel bermaksud menyemangati Zayn.


"Kalau tetap ditolak bagaimana?" tanya Zayn yang bermaksud mencari solusi.


"Malu lah Zayn. Masa' iya seorang Zayn bisa ditolak?" ledek Caramel pada Zayn sambil terkekeh.


"Dasar suami istri gak ada perasaan, gak ada solidaritas. Sana hidup aja kalian sendiri berdua, gak usah sama yang lain," Zayn mengomel di depan Raymond dan Caramel.


"Emang kita udah punya rencana hidup berdua di suatu pulau. Iya kan Sayang?" ucap Raymond meminta persetujuan Caramel.


Caramel pun mengangguk setuju sambil tersenyum manis membuat Zayn menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan sepasang suami istri di hadapannya.

__ADS_1


"Sana hidup berdua! Pergi sana, Pergi!" Zayn mengusir Raymond dan Caramel sambil mengibas-ngibaskan tangannya.


Dengan seketika mulut Zayn mengatup diam ketika Raymond menatapnya dengan tatapan mengintimidasinya. Kemudian Zayn mengambil langkah seribu meninggalkan sepasang suami istri yang membuatnya kesal itu.


__ADS_2