Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
30. Kejujuran vs kebohongan


__ADS_3

Dengan langkah kesalnya Caramel kembali ke dalam kantor untuk menemui suaminya. Raymond tahu ada yang tidak beres dengan istrinya. Dia melirik gelisah istrinya, takut terjadi apa-apa dengannya.


Kini pikiran Raymond tidak bisa fokus pada laporan yang dipegangnya. Pikirannya terpecah dengan raut wajah istrinya yang sepertinya sedang kesal.


Segera dia selesaikan pekerjaannya dan mengajak istrinya untuk keluar dari kantor. Raymond mengajak Caramel singgah ke kitchen sebentar untuk melihat areanya yang ditinggalkannya untuk beberapa hari. Dia meminta pada Chef Roni untuk menghandle area kitchen selama dia tidak ada.


Melihat Caramel yang masih bermuka masam, Raymond meraih pinggang istrinya dan mengajaknya ke restauran untuk menikmati snack dan teh.


"Sayang, ada apa kok kayaknya kesel gitu, ada yang gangguin kamu?" tanya Raymond yang tangannya masih merangkul pinggang Caramel meskipun sedang duduk.


"Huuft...," Caramel hanya menghela nafas dan meminum green tea yang ada di depannya.


"Cerita sayang... kamu lupa ya suamimu ini bisa mencari tau sendiri semua yang terjadi sama kamu?" ucap Raymond menengadahkan wajahnya untuk melihat wajah cantik istrinya.


"Tapi janji gak marah ya," Caramel memandang wajah suaminya yang ada di hadapannya.


Raymond tersenyum manis dan mengangguk, tangannya masih memegang erat tangan Caramel yang berada di atas meja.


Kemudian Caramel menceritakan kejadian di toilet tadi pada Raymond, tentang pertengkarannya dengan Nindi dan semua perkataan Nindi yang berhasil menyulut emosinya.


Raymond mencengkeram erat tangan Caramel karena marah hingga Caramel mengadu kesakitan.


"I'm so sorry honey. Maafkan aku," ucap Raymond penuh sesal.


"Aku tau kamu pasti marah. Aku mohon jangan marah," ucap Caramel penuh harap.


"Tapi dia keterlaluan sayang," Raymond masih geram.


"Tadi kan udah janji gak marah," rayu Caramel.


"Tapi dia udah ngerendahin kamu sayang. Aku gak suka, aku gak terima istriku digitukan," ucap Raymond yang masih kesal.


"Sayang kamu lucu, aku loh yang dikata-katain sama dia, eh malah kamu yang marah-marah," Caramel terkekeh melihat raut wajah suaminya.


"Karena aku mencintaimu sayang, aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu," ucap Raymond penuh kesungguhan.


Cup..


Tiba-tiba Caramel mencium singkat bibir Raymond yang ada di hadapannya. Dia bersyukur punya suami yang sangat mencintainya seperti Raymond.

__ADS_1


Raymond terpancing dan meminta lebih, namun Caramel segera menjauhkan dirinya dari Raymond. Mereka tertawa bersama di dalam restauran yang masih sepi.


Dari restauran outdoor Nindi melihat Caramel yang mesra serta bercanda dengan Raymond, dia merasa sangat geram dan iri melihatnya, karena sesungguhnya dialah yang ingin berada di samping Raymond sebagai istrinya.


Nindi mengepalkan tangannya dan mukanya memerah pada saat melihat Caramel mencium bibir Raymond.


Berani sekali dia melakukan itu dihadapan ku, batin Nindi dengan mengeratkan giginya.


Kini Nindi menyeringai, dia berjalan melenggang ke arah pengeras suara yang ada di wilayah arena permainan.


Ponselnya diarahkan ke alat pengeras suara dan diputarnya rekaman percakapannya bersama Caramel di toilet tadi.


Suara pengeras suara itu menggema di seluruh wilayah restauran dan arena permainan hingga sekitarnya.


Semua karyawan yang sedang beraktifitas seketika menghentikan aktifitasnya untuk mendengarkan suara yang sedang terdengar melalui alat pengeras suara itu.


Termasuk Raymond dan Caramel yang tiba-tiba berhenti dari keuwuan mereka karena mendengar suara tersebut.


Langsung saja Raymond beranjak dari duduknya dan dan berjalan dengan langkah lebar dan penuh emosi menuju luar restoran.


Raymond menatap sekeliling arena permainan dan sekitar restauran, mencari tahu orang yang berani melakukan itu. Raymond memang sudah punya gambaran siapa orang tersebut, namun dia tidak bisa begitu saja menuduhnya tanpa bukti.


Caramel menggelengkan kepala dan matanya berkaca-kaca ketika melihat Nindi yang tiba-tiba ada diantara mereka, dan dia menyeringai pada Caramel.


Raymond mengikuti arah pandang Nindi dan dia baru sadar jika istrinya ada di belakangnya. Melihat Caramel yang shock dengan keadaan tersebut, Raymond segera memeluknya erat dan mengusap-usap kepalanya untuk menenangkannya.


"Tenang sayang, semuanya akan baik-baik saja," ucap Raymond yang masih memeluk Caramel.


Mata Raymond seolah menusuk mereka satu persatu. Raymond tidak rela istri tercintanya dijadikan bahan ejekan mereka. Raymond mengerti jika saat ini istrinya pasti sangat malu dan bersedih karena pikiran semua orang yang mendengar rekaman tadi pasti buruk terhadapnya.


Nindi bertambah kesal karena diluar dugaannya. Dia mengira Raymond akan marah jika mendengar rekaman suara tersebut, lah ini malah Raymond memeluk dan menenangkan Caramel yang jelas-jelas suaranya terdengar menggema dimana-mana mempermainkan pernikahan mereka.


"Nindi, aku tau ini perbuatan mu. Jangan sekali-kali kamu menyentuh ataupun menghina istri saya! Jika kau lakukan itu lagi, bisa saya pastikan kamu akan menyesal!"


"Bubar semua! Kembali ke tempat kalian masing-masing! Kerjakan tugas kalian dengan benar!"


Suara teriakan Raymond menggema di seluruh tempat itu, kemarahannya membuat semua orang menciut nyalinya. Mereka semua bubar untuk melanjutkan pekerjaannya.


Hanya satu orang yang tidak terima dengan ancaman dari Raymond. Nindi masih tetap di tempat itu. Perlu diacungi jempol keberanian Nindi yang tidak kenal takut pada siapapun.

__ADS_1


Nindi berjalan mendekati Raymond yang masih memeluk Caramel dan sibuk menenangkannya.


"Chef gak denger ya apa yang di omongin sama Caramel tadi? Dia sudah mempermainkan pernikahan kalian. Dia itu cuma manfaatin Chef doang, sadar Chef!" seru Nindi yang sangat kesal dengan keberuntungan yang diperoleh Caramel.


Raymond menoleh dan menatap sinis Nindi yang terus saja berbicara padanya.


"Diam kamu! Jangan sekali-kali kamu menghina istri saya! Saya tau semua yang terjadi dan saya lebih tau tentang istri saya dibandingkan kamu." teriak Raymond dengan menatap tajam penuh kemarahan pada Nindi.


Namun Nindi kembali berbicara,


"Chef sadar dong, dia itu cuma memper-"


"Stop! Saya tidak mau dengar lagi satu katapun dari kamu. Lebih baik kamu pergi dari sini atau saya pecat kamu sekarang juga!" teriak Raymond yang sudah tidak bisa menahan amarahnya.


Caramel mencengkeram lengan Raymond dan menatapnya penuh iba dengan menggelengkan kepalanya agar Raymond tidak memecat Nindi.


Raymond menatap mata istrinya yang berkaca-kaca dan menatap iba padanya. Dia tidak tega melihat istrinya seperti itu.


Raymond mengajak Caramel kembali masuk ke dalam restauran meninggalkan Nindi yang masih tidak percaya dirinya dibentak oleh Raymond.


"Sayang, kenapa kamu masih membelanya? Harusnya tadi kamu biarkan saja aku memecatnya," ucap Raymond yang sedang duduk menatap lembut wajah istrinya yang sedang bersedih.


"Aku tidak ada maksud untuk membelanya. Aku hanya tidak mau kembali disalahkan karena waitress senior mereka dipecat gara-gara aku seperti kasus Gilang waktu itu, mereka menyalahkan aku ketika Gilang resign dari tempat ini," jawab Caramel dengan senyum paksanya.


"Apa kamu gak sakit hati?" tanya Raymond.


"Tentu saja aku sakit hati. Siapa sih yang mau dipermalukan seperti itu? Untung saja suamiku percaya sama aku, kalau gak... bisa-bisa aku jadi janda hanya dalam waktu semalam saja," canda Caramel untuk meredam kemarahan suaminya.


Karena Caramel tahu bahwa suaminya ini pasti akan marah dan memecat Nindi jika Caramel tidak bisa membujuknya.


"Aku lebih percaya kamu sayang, aku tidak mungkin mempercayai orang lain yang menjelek-jelekkan kamu. Kamu istriku dan aku harus mempercayaimu apapun yang terjadi," Raymond meraih belakang kepala Caramel dan mencium keningnya.


Raut muka kesedihan Caramel berganti dengan raut wajah malu-malu yang berbunga-bunga karena ucapan dari suaminya.


Nindi menggelengkan kepalanya dan nafasnya naik turun dengan hidung yang kembang kempis menahan amarahnya melihat Raymond dan Caramel yang semakin mesra, padahal dia sudah berusaha memisahkan mereka.


Dengan emosi dan kemarahan yang semakin memuncak, Nindi membulatkan niatnya untuk mengirim rekaman suara tadi ke nomer orang yang paling berkuasa di tempat kerjanya.


Nindi menekan tombol kirim pada layar ponselnya, dan dia tersenyum licik setelah melihat layar ponselnya memperlihatkan tulisan terkirim.

__ADS_1


Kamu boleh tertawa sekarang, tapi lihat saja, sebentar lagi kamu akan menjadi janda yang tidak berharga, seringaian licik terukir dibibir Nindi.


__ADS_2