Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
29. Hey Nyonya Raymond Xavier!


__ADS_3

Raymond benar-benar tidak melepaskan Caramel sedetikpun. Sampai makan pun dia tidak mau bergabung dengan keluarganya yang lain. Dia lebih memilih makan berdua dengan istrinya di kamar.


Dalam hati Caramel merutuki kebodohannya. Kemauannya untuk berada di dalam kamar di salah artikan oleh suaminya. Kini dia benar-benar menjadi tawanan seorang Raymond Xavier.


"Sayang, udah ya, aku gerah banget ini," ucap Caramel sambil menjauhkan tubuhnya dari dekapan suaminya.


"AC nya aja yang didinginkan," ucap Raymond dengan mata terpejam sambil merapatkan tubuhnya dengan tubuh istrinya.


"Aku mau mandi dulu biar segar," pinta Caramel dengan memainkan hidung suaminya ke kiri dan ke kanan.


"Tapi aku masih pengen gini sayang... tunggu bentar ya, aku masih ngantuk," jawab Raymond yang semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh istrinya.


"Yang mandi kan aku, udah kamu bobok aja dulu. Minggir iiih aku gerah...," Caramel merengek.


Mata Raymond terbuka, mendengar rengekan istrinya seperti kode bagi Raymond untuk membahagiakan istrinya. Namun, kata membahagiakan bagi Raymond berbeda dengan bahagia yang diartikan oleh Caramel.


Raymond mengangkat tubuh Caramel ke dalam kamar mandi.


"Loh.. loh.. loh... sayang ngapain? Kamu kan masih ngantuk, aku aja yang mandi, kamu tidur lagi aja," oceh Caramel yang sudah dalam gendongan Raymond.


"Aku ikut mandi sayang biar gak ngantuk," jawab Raymond dengan seringaian liciknya.


"OMG jangan lagi... bisa-bisa aku ngesot jalannya," ucap Caramel mengiba.


"Hahaha... Be mine baby," bisik Raymond setelah tertawa.


Ingin sekali Caramel lari dari kamar ini. Namun apa daya, suaminya membuat dirinya tak berdaya karena dia selalu dibuat lemas kehabisan tenaga olehnya.


Dan kini, mereka berdua berendam di dalam bathub, terasa rileks sekali badan Caramel berendam dengan air hangat dan aromatherapy. Dan satu lagi, tangan-tangan yang selalu bergerilya di setiap tempat yang mampu membuat Caramel melayang dan menagih.


Janji yang hanya berendam saja kini sudah dilanggarnya. Raymond tidak bisa menahan untuk sebuah janji yang hanya disetujui istrinya saja. Dia tidak pernah berjanji untuk tidak menyentuhnya karena dia tidak pernah bisa menahan dirinya jika berdekatan dengan Caramel.


Lemas sudah tubuh Caramel. Rasanya remuk sudah badannya tiada bertulang. Dia hanya bisa menuruti suaminya mau dibawa kemanapun.


Dan lagi-lagi mereka kembali ke ranjang. Caramel tidak bisa berkomentar, dia hanya memejamkan matanya saja.


"Sumpah deh aku heran, masa' iya kita bakalan kayak gini terus kerjaannya di dalam kamar?" tanya Caramel saat memakan makan siang mereka di dalam kamar.


"Maksud kamu apa sayang?" tanya Raymond dengan senyum liciknya.


"Ya gitu, masa' iya aktifitas kita dari semalam sampai sekarang cuma di ranjang dan kamar mandi aja, gak bosen? Gak jalan-jalan?" tanya Caramel di sela makannya.


"Hahaha... jadi kamu minta kita melakukannya dimana sayang, selain di ranjang dan kamar mandi?" tanya Raymond dengan tatapan mata yang penuh harap.


"Hah? loh kok... ah bukan itu maksudku. Iiih kok jadi bahas itu sih? Maksud aku kita jalan-jalan keluar yuk biar gak bosen," ucap Caramel.


"Tadi siapa yang minta di dalam kamar aja?" tanya Raymond.


"Aku, tapi kan itu karena tadi nyeri banget tajut diketawain orang-orang kalau jalanku kayak gitu," ucap Caramel sebal.


"Sekarang gimana? Masih nyeri?" tanya Raymond.


"Percuma meskipun aku ngomong masih nyeri, tapi kamu tetap aja menghajar aku," jawab Caramel bertambah kesal.

__ADS_1


"Hahaha... aku suka memakanmu sayang, bukan menghajar," sahut Raymond.


Melihat Raymond yang tertawa puas, Caramel hanya bisa kesal dan mengerucutkan bibirnya karena kesal.


Tanpa diduga, Raymond dengan lahapnya menikmati bibir Caramel yang kesal tadi hingga Caramel memukul-mukul dada Raymond karena dia kehabisan pasokan oksigennya.


"Mangkanya gak usah kasih kode-kode gitu, bikin gak bisa nahan aja," tutur Raymond sambil mengelap saliva yang masih menempel disekitar bibir Caramel.


"Dih, situnya aja yang mesum," jawab Caramel.


"Bibirmu manis sayang, membuatku kecanduan," Raymond kembali mengecup singkat bibir pink alami milik istrinya.


Caramel membelalak kaget dan tanpa sadar dia mencubit lengan suaminya itu hingga mengadu.


"Aaaw... aaaaw... sakit sayang...," Raymond berpura-pura kesakitan.


"Mangkanya jangan macem-macem," ucap Caramel sambil mengusap-usap lembut bekas cubitannya.


"Kamu milikku sayang, aku bebas melakukan itu padamu," ucap Raymond yang kemudian mengecup singkat kembali bibir Caramel.


Tanpa sadar pipi Caramel merona, sungguh hatinya berbunga-bunga mendengar ocehan suaminya yang tidak penting baginya namun sangat penting bagi hatinya.


"Sayang, kapan kita akan kembali bekerja?" tanya Caramel mengalihkan pembicaraan mereka.


"Nanti setelah kita honeymoon," jawab Raymond sambil menyuapi istrinya dengan makanan di piringnya dan sendok yang digunakannya.


"Honeymoon?" tanya Caramel mengulang ucapan Raymond.


Raymond mengangguk dan berkata,


"Kalau gitu aku besok juga kerja?" tanya Caramel antusias.


"Enggak sayang, kamu cukup menemaniku saja. Lagian kamu tidak akan ku perbolehkan untuk kerja. Kamu cukup di rumah saja menjadi Nyonya Raymond Xavier," ucap Raymond jumawa.


"Ehemmm gak ada tujuan lain kan?" tanya Caramel menyelidik.


"Tujuan lain? tujuan lain apa?" tanya Raymond heran seraya menghentikan suapannya.


"Biar bisa deket-deketan terus sama Nindi," jawab Caramel enteng.


"Huuuft... sayang... kamu tau kan aku gak pernah suka sama dia, melihatnya saja aku tidak mau, apalagi dekat dengannya. Sudahlah jangan cemburu begitu," ucap Raymond dengan memeluk Caramel.


"Awas aja kalau bohong," cibir Caramel dengan menjauhkan tangan suaminya dari tubuhnya namun tidak bisa karena tenaganya kalah dengan tenaga Raymond.


"Gak akan sayang," ucap Raymond dengan menggesekkan hidung mereka yang membuat Caramel kegelian.


"Habis ini kita jadi kemana? Masih mau jalan-jalan?" tanya Raymond.


"Pengennya sih gitu, cuma jalanku masih belum bener,ngilu lagi. Kamu sih malah nambah-nambah terus, kapan sembuhnya kalau dihajar terus," ucap Caramel kesal namun disambut kekehan dari Raymond.


Malam ini mereka lagi-lagi melewatinya hanya di kamar hotel saja. Namun kali ini Raymond mengajak istrinya menikmati keindahan malam di balkon kamar hotel mereka. Dengan saling memeluk mereka menghalau dinginnya angin malam yang menemani indahnya suasana romantis mereka.


Keesokan harinya mereka meninggalkan hotel, namun sebelumnya mereka breakfast di restauran hotel untuk mengisi perut mereka yang meronta karena aktifitas yang menguras tenaga semalam.

__ADS_1


"Selamat pagi Nyonya Raymond Xavier," sapa Zayn mengagetkan Caramel dan Raymond ketika masuk ke dalam restauran tempat kerja mereka.


"Zayn?" ucap kaget Caramel sambil memukul badan Zayn sekenanya.


"Aww... Ray, bini lu sadis," seru Zayn sambil memegang bahunya yang menjadi sasaran pukulan Caramel.


"Habisin aja dia gak ada yang ngerasa kehilangan kok," ucap Raymond sambil mengaitkan tangan kanannya ke pinggang Caramel seolah dia memberitahukan pada semua orang bahwa Caramel miliknya, istri sahnya.


"Mentang-mentang yang udah nikah, bisanya cuma ngebully yang lagi jomblo. Tau gitu dulu bakalan aku serobot duluan dia," ucap Zayn sambil melirik Caramel.


"Apa kamu bilang?" Raymond meradang, tangannya mencengkeram kerah kemeja Zayn.


"Sayang udah, yuk...," Caramel memeluk pinggang Raymond dan menggeretnya menjauh dari Zayn.


Zayn terkekeh merasa menang bisa memancing emosi Raymond di pagi hari. Sedangkan Raymond masih dengan muka merah padam menatap Zayn yang menertawakannya.


Satu kelemahan Raymond kini diketahui oleh Zayn,.sepupu jauhnya yang dulunya dekat dengannya kini mendadak jadi musuhnya karena membantu Daddy Nathan dan Mommy Grace untuk mencari tahu tentang Caramel waktu itu, sehingga Zayn sangat gencar untuk mendekati Caramel.


Dan sayangnya hal itu tidak diketahui oleh Raymond, sehingga dia menjadikan Zayn sebagai musuhnya.


Di dalam kantor, Revan dan Pak Sarno menghadap Raymond memberikan berkas laporan minggu ini. Raymond memeriksa dengan teliti berkas-berkas itu, sedangkan Pak Sarno dan Revan sibuk menggoda Caramel dengan menanyakan malam pertamanya.


Raymond mencoba untuk fokus pada laporan yang dibacanya, namun telinganya mencoba untuk mendengarkan pembicaraan istrinya dengan rekan dua serangkainya.


Caramel di goda habis-habisan oleh Pak Sarno dan Revan. Mereka bertanya bagaimana rasanya malam pertama versi Raymond dan Caramel. Hal itu membuat Caramel sangat malu sehingga dia berpamitan ke toilet untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan Pak Sarno dan Revan.


"Wah sukses nih jadi nyonya besar," sindir Nindi yang kebetulan baru keluar dari toilet.


Caramel mengacuhkan Nindi yang setahunya mulutnya sangat berbisa sehingga bisa merusak mood paginya yang penuh kebahagiaan.


Pantesan disebut wanita ular sama Chef Raymond, lha wong mulutnya penuh dengan bisa, batin Caramel sambil mencuci tangannya di wastafel.


Bukan Nindi namanya jika dia tidak bisa menyulut emosi orang lain.


"Kamu nikah sama Chef Raymond karena ingin balas dendam sama aku kan?" tanya Nindi yang kini sudah berada di dekat Caramel.


"Maksud kamu?" Caramel mengerutkan keningnya bingung dengan pertanyaan Nindi, karena dia merasa tidak mempunyai dendam padanya.


"Ya karena kamu tahu aku suka sama Chef Raymond, dan kamu sengaja nikah sama dia agar aku cemburu kan, bukan karena kamu cinta sama dia. Setelah itu kamu bisa tersenyum penuh kemenangan karena bisa ngalahin aku, benar kan?" tuduh Nindi yang sok tahu akan perasaan Caramel.


"Tau apa kamu tentang perasaanku?" tantang Caramel yang menatap tajam Nindi melalui cermin di depan mereka.


"Halah cewek kayak kamu itu gampang ketebak. Palingan juga karena harta kamu ngincar Chef Raymond," sindir Nindi menyulut kemarahan Caramel.


"Kalau benar masalah buat kamu? Mau cinta kek, enggak kek, gak ada masalahnya sama kamu. So, gak usah ikut campur urusan orang lain," ucap Caramel penuh penekanan dan terlihat jelas nada ancaman dan emosinya.


"Cih, pernikahan buat mainan. Gak tau diri," cibir Nindi menambah emosi Caramel.


"Terserah kamu mau ngomong apa. Mmm... ngomong-ngomong enak loh punya suami kaya, populer dan tampan. Sayangnya kamu gak berhasil dapetin dia!" seru Caramel dengan merapikan pakaiannya menghadap ke cermin.


"Kasian Chef Raymond cuma buat pelampiasan mu aja," ucap Nindi dengan suara seolah-olah dia sedih dan prihatin.


"Kenapa kamu jadi mikirin perasaan suami orang?" sahut Caramel marah dan keluar dari toilet wanita.

__ADS_1


"Kena lu, dasar geblek," ucap Nindi tertawa bahagia setelah mematikan rekaman ponselnya yang tadi dia letakkan di saku celananya.


__ADS_2