
Raymond dan Caramel berjalan berdampingan di belakang Zayn pada saat memasuki hotel.
Seperti biasa, tangan Raymond berada di pinggang Caramel. Caramel berdandan sangat anggun menggunakan dress yang dibelikan oleh Mommy Grace tempo hari. Sedangkan Raymond memakai setelan jas yang tampak pas di badannya.
Semua pekerja memberi salam dan membungkukkan badan ketika bertemu dengan mereka. Mereka tahu jika Raymond adalah pewaris dari NX group yang merupakan perusahaan besar yang membawahi banyak perusahaan dalam berbagai bidang.
Dan Raymond sudah diangkat menjadi CEO dalam perusahaan itu, hanya saja dia tidak selalu berada di perusahaan tersebut, karena dari awal perjanjian dengan Daddy Nathan yaitu dia lebih aktif di bidang kuliner, sesuai dengan keahliannya. Namun tidak dipungkiri jika Raymond juga ahli dalam berbisnis, karena sejak dia kecil, Daddy Nathan sudah mengajarinya sedikit demi sedikit tentang bisnis. Untuk sementara ini Daddy Nathan masih memegang semua kuasa.
"Kalian sudah datang?" sapa Mommy Grace ketika melihat kedatangan Raymond dan Caramel.
Caramel tersenyum pada Mommy Grace, berbeda dengan Raymond yang berwajah dingin meskipun pada Mommy nya. Raymond memasang wajah tidak suka karena dia melihat ada satu orang laki-laki dan dua orang wanita yang duduk membelakanginya selain Daddy Nathan dan Mommy Grace.
Caramel dan Raymond duduk di sebelah Daddy Nathan dan Mommy Grace. Sedangkan Zayn duduk di sebelah Raymond.
Raymond bertambah kesal ketika melihat wanita yang ada di hadapannya adalah Clara. Raymond sangat membenci berada di tengah-tengah dua keluarga yang ada salah satu orang tidak dia sukai seperti sekarang ini.
Clara tersenyum semanis mungkin pada Raymond yang menatap sinis padanya. Sedangkan Caramel tetap menebar senyumnya karena dia tidak mau mengecewakan atau mempermalukan Daddy Nathan dan Mommy Grace.
"Kalian sudah kenal bukan? Ini Clara, teman masa kecil Raymond dan Zayn sebelum kami pindah ke rumah utama," Mommy Grace memperkenalkan Clara pada Raymond, Zayn dan Caramel.
Raymond hanya diam saja tidak merespon apapun. Raymond malah mengambil tangan kanan Caramel yang berada di atas meja dan memainkannya.
"Ehem... kami sudah bertemu setiap hari Tante. Clara menjadi marketing di tempat kami," ucap Zayn untuk mencairkan suasana yang kaku karena Raymond yang tidak merespon tiap hal mengenai Clara.
"Oh ya? Kok tadi kamu tidak cerita Clara? Tante pasti senang jika kamu bekerja di sana, karena kamu bisa bekerja dengan mereka," Mommy Grace menunjuk Raymond, Zayn dan Caramel.
"Rencananya nanti aku akan membuat kejutan untuk Tante," Clara bersikap riang dan manis di hadapan Mommy Grace dan Daddy Nathan.
Dasar wanita bermuka dua, batin Caramel.
Dasar wanita tidak tahu diri, batin Raymond.
Apalagi rencana licikmu Clara? batin Zayn.
__ADS_1
"Berarti kalian sudah bertemu setiap hari dong?" Mommy Grace bertanya agar yang lain ikut menjawab selain Clara.
Namun tidak ada yang berkeinginan menjawab kecuali Clara.
"Iya Tante, bahkan Raymond sendiri yang menerimaku waktu itu," jawab Clara masih dengan senyum manisnya.
"Bukan aku, tapi Pak Sarno. Kalau aku yang memutuskan, pasti aku tidak akan menerimamu bekerja di sana," ucap Raymond dengan tegas tanpa sungkan pada siapapun.
Daddy Nathan mengerti hanya dengan melihat tatapan sinis dan wajah kesal Raymond pada Clara. Daddy Nathan tahu jika ada sesuatu yang membuat Raymond tidak suka pada Clara.
"Raymond, jangan bercanda seperti itu, nanti dikira kamu serius," Mommy Grace mencoba mencairkan kembali suasana agar kedua orang tua Clara tidak memandang buruk pada Raymond.
"Siapa yang bercanda? Tanya Zayn kalau tidak percaya," kini Raymond melemparkannya pada Zayn.
Sedangkan Zayn memaki Raymond dalam hatinya karena menarik dirinya pada masalah Raymond. Zayn tersenyum dan membuka kedua tangannya serta mengedikkan bahunya tanda dia tidak mengetahui apa-apa ketika Mommy Grace, Daddy Nathan dan kedua orang tua Clara melihatnya.
"Ck, pecundang," bisik lirih Raymond pada Zayn.
"Wah kebetulan sekali jika kalian bekerja di tempat yang sama, karena kalian bisa segera mewujudkan janji kalian yang sempat tertunda," kini Mama Clara yang berbicara.
"Janji? Janji apa Tante? Kami bertiga tidak mempunyai janji," Zayn berbicara mewakili Raymond yang menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya yang seolah menyuruhnya untuk menanyakan maksud perkataan Mama Clara.
"Bukan kalian bertiga. Clara mengatakan bahwa dulu Raymond berjanji ketika akan pindah, dia berjanji akan menikahi Clara jika mereka bertemu kembali," Mama Clara menjelaskan janji yang dimaksudnya.
"Kau gila Clara!" Raymond berseru dengan tatapan marah pada Clara.
Tentu saja bukan hanya Raymond yang kaget, semua orang yang berada di meja tersebut kaget kecuali keluarga Clara.
Caramel? Tentu saja dia sangat kaget dan reflek menoleh pada Raymond di saat Mama Clara menyebutkan janji yang dimaksud tadi.
"Tenang Ray, kita bisa bicarakan," Mommy Grace menenangkan Raymond agar tidak membuat kegaduhan di restoran hotel mereka.
"Mana bisa aku tenang Mom, Ray tidak pernah mengatakan janji seperti itu Mom, pada siapapun, karena Ray tidak mau mengatakan itu pada sembarang orang, Ray hanya mengatakannya pada orang yang benar-benar Ray cintai dan ingin Ray jadikan istri," Raymond memberikan sanggahannya.
__ADS_1
"Dan orang itu Clara. Kamu tidak bisa mengelaknya Raymond. Kalian dari kecil sudah bersama dan sulit dipisahkan," Mama Clara tersenyum tanpa ada rasa kesal agar keluarga mereka tetap dihargai oleh keluarga Xavier.
"Bukan Clara, tapi Caramel istriku," Raymond menunjukkan tangan kanan Caramel yang digengamnya sedari tadi.
"Dan juga, bukan aku yang menempel padanya, tapi dia lah yang selalu menempel padaku. Ck, dasar tidak tau malu, sejak kecil sukanya menempel pada laki-laki," kekesalan Raymond memuncak sudah, sehingga kalimat yang keluar darinya terdengar sangat pedas.
"Raymond, jaga ucapanmu!" kini Papa Clara yang membela anaknya.
Daddy Nathan hanya diam saja mengamati apa yang terjadi, karena dia percaya jika anaknya, Raymond pasti bisa menyelesaikannya.
"Harusnya Om mengajari anak Om untuk tidak berbicara omong kosong. Dan juga saya Raymond Xavier sudah menikah dengan Caramelia Faraza. Dan tentu saja hanya dia wanita yang ada di hati saya dan akan selalu menjadi yang utama bagi saya," ucap Raymond tegas dengan wajah dinginnya.
"Tidak masalah buatku. Kamu pria sejati bukan? Jika kamu pria sejati, kamu pasti akan menepati janjimu padaku. Nikahi aku jadi istri kedua mu," Clara mengeluarkan pendapatnya.
"Kau benar-benar gila! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskan Caramel ataupun menduakannya. Ingat itu!" Raymond berdiri dan menarik tangan Caramel untuk pergi dari sana.
Caramel memperhatikan punggung Raymond dari belakang. Tubuh Caramel berada di belakang Raymond, hanya saja tangan Caramel yang ditarik Raymond untuk berjalan bersamanya.
Dengan penuh amarah Raymond keluar dari restoran hotel dan dia menyadari jika istrinya tidak disebelahnya. Langkah kaki Raymond berhenti dan menoleh ke belakang, tampak wajah lega Raymond ketika mendapati Caramel berada di belakangnya.
Raymond segera meraih tubuh Caramel dan memeluknya dengan erat seolah dia tidak mau kehilangannya.
"Maafkan aku Sayang. Maafkan aku.... Sungguh aku tidak pernah berjanji seperi itu pada siapapun," Raymond mengurai pelukannya dan menatap dalam mata Caramel.
"Aku percaya suamiku," jawab Caramel seraya menampilkan senyum menenangkan untuk Raymond.
Selepas kepergian Raymond, Daddy Nathan tersenyum puas dengan sikap anaknya yang teguh pada pendiriannya dan mampu mempertahankan miliknya.
Sedangkan Mommy Grace menyayangkan sikap Clara yang bisa membuat hubungan baik kedua keluarga menjadi rusak. Mommy Grace tahu jika anaknya tidak akan melakukan apa yang dituduhkan oleh Clara. Karena Mommy Grace tahu betul Raymond bagaimana, karena dia ibu kandungnya yang tidak pernah lepas mengawasinya meskipun berada di tempat yang jauh.
Zayn memperhatikan Clara yang menampakkan raut wajah marah dan kesal, serta tangannya yang berada di atas meja mengepal. Zayn tahu jika Clara tidak akan dengan mudahnya menyerah. Dia pasti akan mencari cara lain untuk mendapatkan kemauannya.
Sedangkan kedua orang tua Clara kesal telah ditinggalkan begitu saja oleh Raymond. Mereka menampakkan wajah marah mereka.
__ADS_1