
Keesokan harinya Raymond tidak bersemangat untuk bangun. Dia lebih suka untuk tidur dengan memeluk erat tubuh istrinya.
"Sayang... ayo bangun... sayang... katanya mau berangkat honeymoon," ucap Caramel dengan menggoyang-goyangkan tubuh suaminya yang masih mendekapnya erat.
"Gak jadi honeymoon nya sayang, nunggu tamu bulanan kamu pulang dulu," ucap Raymond dengan meletakkan kepalanya pada ceruk leher istrinya.
"Hah? Kenapa honeymoon mesti nunggu selesai?" tanya Caramel heran.
"Percuma dong sayang honeymoon gak ngapa-ngapain," jawab Raymond yang kini malah mengendus-endus ceruk leher Caramel.
"Iiih.... udah yuk mandi kalau gitu," ajak Caramel untuk menghentikan kejahilan suaminya dengan tubuhnya.
"Nanti aja, percuma kalau mandi sendiri gak asik," jawab Raymond yang membuat Caramel tidak percaya dengan sifat mesum suaminya.
Dengan berbagai rayuan dan bujukan, akhirnya Caramel berhasil membujuk Raymond untuk mandi.
"Ya udah aku mandi, tapi ada syaratnya," ucap Raymond.
"Aisssh... kenapa semua bersyarat sih kalau ngajakin kamu," ucap Caramel sebal.
"Syaratnya gampang sayang," ucap Raymond yang sekarang kepalanya sudah berada di squishy kembar milik Caramel, lidah panasnya menyapu bintik di tengahnya sehingga membuat Caramel menegang.
"Aaa iya.. iya.. apapun syaratnya ayolah," ucap Caramel untuk menghindari kejahilan suaminya yang lebih jauh pada tubuhnya.
Raymond tertawa puas karena ide jahilnya membawa keuntungan baginya.
Raymond berdiri dari tidurnya dan membawa istrinya masuk ke dalam kamar mandi.
"Ngapain sayang aku ikut kesini, gantian aja, aku kan lagi palang merah, jadi aku gak mau kamu lihat itu," ucap Caramel ketika di dalam kamar mandi.
"Mandiin aku ya," Raymond mengambil sabun dan menaruhnya di tangan istrinya, kemudian dia mengarahkan tangan istrinya ke bagian miliknya untuk membantunya melakukan pelepasan.
"Iiih apaan ini, gak mauuu...," seru Caramel bergidik ngeri sambil menutup matanya.
"Ayolah sayang, sensasinya beda," ucap Raymond sambil mengerlingkan matanya.
Caramel tetap menolak, namun dia tidak bisa lepas dari Raymond. Kini dia pasrah pada kenyataan bahwa dirinya adalah istri seorang Raymond Xavier yang harus melayaninya.
Setelah mereka mandi, Raymond mengajak Caramel untuk memasak. Namun Caramel menolak, dia bisa memasak, namun dia tidak pede jika masakannya di makan oleh Chef handal seperti Raymond.
Raymond tahu semua alasan Caramel meskipun tidak dijabarkannya, namun Raymond hanya ingin momen kebersamaannya bersama istrinya di dapur bisa menjadi kebiasaan bagi mereka.
Raymond memaksa dan menggendong Caramel di punggungnya. Dia menuruni tangga dengan hati-hati takut istrinya terguncang atau lepas dari bahunya.
__ADS_1
Raymond membawa Caramel ke dapur dengan posisi masih di gendongannya. Hingga dia memasak pun Caramel masih anteng di gendongannya. Namun canda tawa mereka berdua memenuhi dapur.
Raymond berhasil membuat suasana dapur yang sepi menjadi ramai dan berkesan bagi mereka berdua.
Dan Caramel pun merasa beruntung karena suaminya tidak menuntutnya untuk bisa memasak, malah dia diperlakukan layaknya tuan putri.
"Sayang, maaf ya aku gak bisa masak, tidak sesuai untuk menjadi seorang istri," ucap Caramel sedih ketika di dudukkan Raymond di pangkuannya.
"Sayang, berapa kali aku tegaskan bahwa aku menikah denganmu untuk menjadikanmu seorang istri bukan seorang pembantu, kamu gak boleh ngomong seperti itu dan aku tidak mau lagi mendengar kamu mengatakan hal itu lagi," ucap Raymond sembari menyuapkan pasta pada mulut istrinya yang ada di pangkuannya.
"Aku bahagia dan bersyukur banget karena suamiku chef idolaku," ucap Caramel dengan mencium sekilas bibir Raymond.
"Dan tentunya sangat mencintaimu. Kamu harus janji untuk tidak meninggalkanku sayang, selamanya," ucap Raymond dan kemudian dia membalas perlakuan istrinya itu dengan ciuman yang lebih menuntut.
Acara makan mereka menjadi acara saling memakan namun setelah beberapa menit ciuman itu berlangsung, ada suara dering ponsel yang mengganggu mereka.
Raymond mengacuhkan suara ponsel tersebut, tapi Caramel menghentikan ciuman mereka.
"Sayang, itu diangkat dulu, kali aja itu telepon penting," ucap Caramel.
"Biarin aja, lebih penting kamu dari pada apapun," ucap Raymond sambil mengarahkan kembali bibirnya pada bibir Caramel.
Namun dering ponselnya kembali berbunyi. Dan itu membuat Raymond kesal, sehingga dia harus mengangkatnya.
Namun matanya membelalak ketika melihat nama kontak di layar ponselnya.
"Ya Dad, ada apa?" tanya Raymond pada orang di seberang sana yang meneleponnya.
Ternyata Daddy Nathan yang meneleponnya dan dia meminta Raymond agar datang ke restoran tempat dia bekerja bersama Caramel.
Dengan segera Raymond dan Caramel berganti baju dan berangkat menuju tempat kerja mereka.
Sesampainya di sana, Raymond segera menemui Daddy dan Mommy-nya. Di sana juga sudah ada Zayn.
"Mom, Dad ada apa kita disuruh kesini? Aku kan masih libur," ucap Raymond pada saat duduk di kursi di depan kedua orang tuanya.
"Kalian gak jadi honeymoon sayang?" tanya Mommy Grace pada Raymond dan Caramel.
"Ray tunda dulu Mom, nanti aja seminggu lagi," jawab Raymond.
"Loh kok ditunda seminggu lagi, kenapa?" tanya Mommy Grace kembali.
"Percuma Mom, Caca lagi gak bisa dipakai," jawab Raymond enteng.
__ADS_1
"Iiish, omongannya itu loh, bisa gak sih di filter dulu," ucap Caramel malu sambil memukul bahu suaminya.
"Kan bener sayang, tujuan orang honeymoon itu ngapain, kan udah jelas," ucap Raymond terkekeh tanpa beban.
"Udah... udah, ini loh Daddy punya sesuatu untuk ditanyakan pada kalian," ucap Mommy Grace.
"Ada yang penting Dad?" tanya Raymond yang kini mengalihkan pandangannya pada Daddy Nathan.
Daddy Nathan memperhatikan Caramel dan Raymond sedari tadi yang wajah mereka berdua memancarkan kebahagiaan meskipun mereka menunda honeymoon-nya.
"Kalian sudah sarapan? Kalau belum kita sarapan sama-sama sekarang, setelah itu Daddy akan berbicara pada kalian," ucap Daddy Nathan.
"Tadi kamu ud-" kalimat Raymond terpotong oleh ucapan Caramel.
"Belum Dad, tadi kami belum sempat sarapan," jawab Caramel memotong perkataan suaminya, karena Caramel pernah dengar jika Daddy dan Mommy Raymond sangat senang jika mereka bisa makan bersama.
Mommy Grace tersenyum karena dia tahu jika Caramel hanya ingin menyenangkan hati mereka.
"Ya sudah ayo kita makan terlebih dahulu," Mommy Grace meminta asisten Raymond memasak makanan untuk sarapan mereka.
Sesudah mereka sarapan, Daddy Nathan segera mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman suara yang dia terima kemarin dari seseorang.
"I-itu...," suara Caramel bergetar, dia gugup dan takut jika Daddy Nathan salah paham dengannya.
Raymond menggenggam erat tangan istrinya untuk menyatakan bahwa akan baik-baik saja dan akan dihadapinya bersamanya.
"Bisa kalian jelaskan?" tanya Daddy Nathan dengan tatapan penuh selidik terhadap Caramel dan Raymond.
"Daddy dapat rekaman itu dari mana?" tanya Raymond datar tak kalah menyeramkan dengan Daddy Nathan.
"Kenapa kamu malah bertanya balik pada Daddy? Gak sopan," ucap Daddy Nathan tak kalah dingin auranya dengan Raymond.
"Ck, cepat kasih tau Dad siapa yang memberikan rekaman itu pada Daddy?" tanya Raymond tak mau kalah dengan Daddy nya.
"Zayn," Daddy Nathan memberikan code pada Zayn dengan mata dan kepalanya yang bergerak.
Zayn berdiri dari tempat duduknya dan keluar dari restauran. Daddy Nathan memperhatikan Raymond yang masih memberikan ketenangan pada Caramel yang sedang gundah. Mommy Grace pun menyaksikan itu. Mereka mempunyai penilaian yang sama. Mereka saling melirik dan mengangguk.
Caramel hanya menunduk gelisah, dia gugup dan ketakutan. Tangan kiri Raymond memeluk pundak Caramel dan tangan kanannya menggenggam erat tangan Caramel. Begitu dia rasa tangan Caramel bergetar, Raymond segera membawa tubuh istrinya itu kedalam pelukannya. Dan Caramel hanya menunduk tidak berani melihat siapapun.
Tidak berapa lama datanglah seseorang bersama dengan Zayn.
"Duduklah dan ceritakan semuanya," ucap tegas Daddy Nathan pada orang tersebut.
__ADS_1