Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
64. Aku akan menculikmu!


__ADS_3

Raymond masih sangat kesal walaupun dia dan Caramel sudah meninggalkan hotel. Di dalam mobil Raymond hanya diam saja, dia berkonsentrasi ke arah depan tanpa berbicara sepatah katapun pada Caramel setelah masuk ke dalam mobil.


Caramel mengerti jika Raymond sekarang ini dalam keadaan marah, kesal dan emosi. Dia tidak mau menjadi pelampiasan amarah dari Raymond, sehingga dia lebih memilih diam sampai Raymond sendiri yang berbicara padanya.


Raymond mencengkeram setir dengan kuat dan rahangnya yang tegas itu mengeras serta tatapannya menghunus ke depan fokus pada jalanan. Caramel merinding melihat Raymond yang seperti itu. Dia lebih baik menurut daripada melihat Raymond yang seperti itu.


Mobil Raymond melaju ke luar kota. Tanpa Caramel sadari kini mereka sudah keluar dari kota mereka. Pandangan mata Caramel sedari tadi hanya tertuju pada Raymond yang sedang dikuasai oleh emosi, amarah dan kekesalan.


"Loh.. loh kita ada dimana ini? Kok jalannya beda sama yang biasanya? Ini dimana?" Caramel melihat-lihat sekitar jalan dari dalam mobil.


"Huffft....," Raymond menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan untuk meredakan emosi dan kekesalannya.


"Maafkan aku Sayang, aku membawamu ke luar kota. Kita akan tinggal di Villa sementara sampai aku tenang kembali. Aku hanya ingin berdua denganmu saja," Raymond menatap sekilas Caramel kemudian pandangannya kembali fokus pada jalanan di depannya dan tangannya menggenggam tangan Caramel serta menciumi tangannya.


"Apa gak masalah kita meninggalkan semua orang seperti itu?" Caramel ragu menanyakannya.


"Aku gak peduli sama mereka. Aku hanya peduli dengan hubungan kita. Aku gak mau hubungan kita bermasalah hanya karena datangnya si Clara yang gak penting itu," Raymond mengatakannya dengan nafas yang naik turun menahan emosinya.


"Kenapa kita tidak mampir ke rumah dulu, kita bisa bersiap-siap membawa barang-barang yang dibutuhkan dan pakaian-pakaian kita," Caramel mengutarakan pendapatnya.


"Kita beli aja ya. Maafkan aku, aku sangat kesal tadi, jadi gak kepikiran untuk pulang terlebih dahulu. Oh iya, di bagasi aku selalu bawa sepasang baju untuk kita, ternyata berguna juga sekarang," kali ini Raymond terkekeh, sepertinya kekesalannya sedikit terobati.


"Oh ya? Sejak kapan?" tanya Caramel yang merasa penasaran.


"Sejak aku berniat menikahimu," Raymond kembali terkekeh mengingatnya.


Caramel mengernyitkan dahinya, dia merasa bingung.


"Kenapa pada saat berniat akan menikahiku? Kenapa tidak pada saat setelah menikahiku?" Caramel bertanya karena merasa bingung dan penasaran dengan posisi kepala yang mendekat dan melihat wajah Raymond untuk mendengarkan baik-baik jawabannya.


"Karena jika sampai kamu menolak, aku akan menculikmu dan membawamu ke suatu tempat agar kamu mau menerimaku menjadi suamimu," jawab Raymond terkekeh sambil menyetir dan melihat depan.

__ADS_1


Caramel kaget mendengar jawaban dari Raymond.


"Serius?" tanya Caramel yang ingin tahu Raymond bercanda atau serius dengan jawabannya tadi.


Raymond menoleh sebentar melihat wajah Caramel yang kaget, langsung saja Raymond cium sekilas bibir Caramel yang kini memakai lipstik berwarna merah agar terkesan anggun.


Cupp!


Mata Caramel melotot kaget, setelah itu dia tersadar ketika Raymond sudah kembali ke posisinya semula, menyetir dan melihat ke depan. Seketika tangan Caramel memukul lengan Raymond karena telah mengagetkannya dengan ciumannya dan rencana liciknya itu.


"Dasar licik. Awas aja kalau ngelakuin kayak gini sama wanita lain. Awas aja kalau punya rencana licik kayak gitu untuk wanita lain. Awas aja-" Caramel mengucapkannya sambil memukul-mukul lengan Raymond, namun ucapannya disahut oleh Raymond.


"Awas aja nanti pas udah sampai akan aku balas dengan cara lain," sahut Raymond dengan seringaian liciknya.


Glek!


Caramel meneguk ludahnya sendiri. Dia lupa jika suaminya ini ahli dalam menghukumnya di ranjang.


Raymond tertawa melihat istrinya gugup karena ancamannya.


Beberapa menit kemudian, Raymond membelokkan mobilnya ke suatu rumah yang mempunyai halaman luas dan taman bunga yang indah di depannya.


"Sudah sampai," Raymond memberitahu Caramel secara tidak langsung.


"Hah, sudah sampai ya?" Caramel kaget dan merasa gugup karena mereka sudah sampai.


Buru-buru Caramel melepas sabuk pengamannya dan membuka pintunya, namun sialnya pintu mobil itu tidak dapat dibukanya karena Raymond masih belum membuka kuncinya.


Raymond menyeringai dan mendekatkan badannya di depan Caramel hingga punggung Caramel menabrak sandaran joknya.


"Mau kemana Sayang?" Raymond menatap Caramel dengan tatapan penuh harap dan seringaian itu terbit di bibirnya tatkala Caramel gugup dan menelan ludahnya.

__ADS_1


Beberapa menit dalam posisi tersebut, akhirnya Raymond mengakhiri kejahilannya dan membukakan pintu mobil Caramel dari depan. Namun setelah Caramel berdiri di samping pintu mobil, badan Caramel tiba-tiba diangkat oleh Raymond. Jadilah dia sekarang berada dalam gendongan Raymond dengan posisi ala bridal style.


"Jangan kira kamu bisa lolos dariku," ucap Raymond sembari menggendong tubuh Caramel masuk ke dalam Villa.


Sebelumnya Raymond sudah menghubungi penjaga Villa jika dia mau datang ke sana tadi pada saat dia berada di dalam mobil sebelum menjalankan mobilnya ketika keluar dari hotel.


"Ka-kamu mau apa?" ceplos Caramel dengan gugup.


Bodoh sekali kamu Ca, ngapain pakai tanya mau apa, ya jelas mau makan kamu lah. Haduuuh oon banget sih kamu Ca...., Caramel mengolok dirinya sendiri di dalam hatinya.


"Aku akan reka ulang kejadian yang belum pernah terjadi, dan akan terjadi jika kamu menolakku menjadi suamimu," Raymond menatap Caramel dengan tatapan lapar dan menyeringai layaknya seseorang yang akan menghabisi lawannya.


"Reka ulang?" tanya Caramel yang masih bingung karena gugup.


"Reka ulang yang kamu tanyakan tadi, tentang baju yang selalu aku bawa di bagasi mobilku," jawan Raymond enteng dan berakhir memberi ciuman singkat di bibir Caramel yang masih berada di gendongannya.


Tubuh Caramel direbahkan Raymond di atas ranjang dengan sangat pelan dan hati-hati. Kemudian dia melucuti satu persatu pakaian istrinya hingga pakaian tersebut habis tidak tersisa di tubuh Caramel.


Raymond hanya diam saja melihat Caramel yang terlentang di atas ranjang. Caramel tahu isyarat itu, kemudian Caramel bangun dan mendekati Raymond. Satu persatu kancing kemejanya dibuka oleh tangan Caramel.


Jangan tanyakan jasnya dimana, karena saking kesalnya, Raymond melepas jasnya tadi sebelum masuk mobilnya dan melemparkannya ke dalam mobil.


Setelah Raymond sudah tidak memakai apa-apa, Raymond langsung menerkam Caramel yang belum siap hingga Caramel tidak bisa membalas hukuman dari Raymond walaupun sebentar saja. Karena seperti yang diucapkan Raymond tadi, dialah yang akan menghukum Caramel.


Pagi harinya, mereka masih tertidur pulas. Tidur mereka tidak terusik oleh apapun, sehingga tidak bangun meskipun terdengar suara ayam berkokok ataupun sinar matahari yang menembus masuk celah-celah gorden jendela kamar mereka.


Sedangkan di kantor, Clara sudah menunggu lama Raymond yang tidak datang-datang hingga menjelang siang, dan ponselnya pun tidak aktif sehingga Clara tidak tahu dimana Raymond sekarang berada.


Clara uring-uringan dan marah-marah tidak jelas pada setiap orang yang dia temui.


"Ini, siapa ini yang nyapu? Kerja kamu apa? Ini masih kotor! Makan gaji buta kamu?" Clara memarahi karyawan yang sedang menyapu yang sangat naas bertemu dengan Clara.

__ADS_1


"Kamu sakit jiwa ya? Sejak kapan kamu ngurusi masalah sampah dan tukang sapu?" Zayn menyahut tidak jauh dari belakang Clara.


__ADS_2