Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
56. Welcome back Singa betina-ku


__ADS_3

Raymond dan Zayn segera berlari ke parkiran sebelah kanan, dan benar saja sekarang Caramel sedang dihadang dan berdebat dengan para penjaga keamanan serta para bodyguard yang ditugaskan Raymond untuk mencari Caramel.


"Sayang... kamu dari mana? Aku mencarimu kemana-mana, ke seluruh area ini," Raymond mendekati Caramel, namun Caramel mundur tidak mau berdekatan dengan Raymond.


"Sayang....," Raymond menatap sedih pada Caramel, namun diacuhkan oleh Caramel.


"Kamu ngapain di sini Caramel?" tanya Zayn untuk mengalihkan ketegangan mereka.


"Lagi markir," jawab Caramel cepat.


"Markir?" Zayn mengulang perkataan Caramel.


"Gak liat ini tempat parkir? Ngapain lagi di sini kalau gak markir," jawab ketus Caramel tanpa melihat Raymond ataupun Zayn.


"Hahahaha....," Zayn tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban dari Caramel.


Raymond menatap tajam pada Zayn membuat tawa Zayn berhenti seketika.


"Sayang, aku bisa jelaskan. Ayo ikut aku, kita bicara di dalam. Kamu nanti pasti akan tau semuanya," Raymond mengajak Caramel ke dalam kantor.


"Gak usah," Caramel menolak dengan tegas.


"Sayang, ayolah biar tidak ada lagi salah paham, dan aku tidak melakukan apapun," Raymond mencoba membujuk Caramel agar mau mendengarkan penjelasannya.


"Gak perlu," jawab Caramel tegas.


"Ca, sini deh aku mau ngomong penting sama kamu," Zayn menarik tangan Caramel lebih jauh dari Raymond.


"Zayn!" seru Raymond tidak terima karena Zayn memegang tangan Caramel.


"Ok. Sorry," Zayn melepaskan tangan Caramel ketika mendengar Raymond memanggilnya dengan marah.


Terpaksa Raymond membiarkan Zayn berbicara dengan Caramel di tempat yang sedikit jauh dari Raymond berdiri saat ini.


Jujur saja Raymond sangat marah dan cemburu melihat Caramel hanya berdiri berdua dengan Zayn. Lalu bagaimana dengan Raymond yang terlihat intim dengan Clara tadi?

__ADS_1


Pantas aja Caramel marah dan lari dariku. Aku aja sangat marah dan cemburu melihat mereka berdua seperti itu, Raymond berkata dalam hatinya dan matanya masih saja memandang lurus pada Caramel dan Zayn yang masih berbicara.


Zayn menjelaskan jika yang tadi bersama Raymond di kantor adalah Clara, teman masa kecil mereka, namun Clara dari sejak kecil terobsesi pada Raymond, sayangnya Raymond tidak pernah menganggap Clara selain sebagai teman.


Raymond menghargai Clara sebagai teman masa kecilnya, oleh sebab itu Raymond tidak begitu dingin padanya, hanya saja Raymond membatasi kedekatannya dengan Clara karena Raymond tahu jika Clara menyukai dan mengharapkan dirinya sebagai seorang kekasih, dan Zayn pun membenarkan hal itu.


Kemudian Zayn menceritakan apa yang diceritakan oleh Raymond tadi tentang kejadian di dalam kantor. Namun Caramel tidak percaya begitu saja.


"Baiklah terserah kamu, yang penting aku sudah menyelesaikan tugasku sebagai sahabat sekaligus saudara kalian. Aku hanya berpesan padamu, jangan kamu menjauhi Raymond, karena dengan begitu Clara merasa tujuannya berhasil dan dia akan terus mendekati Raymond. Kamu mau suamimu di dekati wanita lain?" Zayn kesal karena Caramel masih saja ragu dengan penjelasan darinya.


Caramel diam, dia berpikir dan dalam hati kecilnya, dia membenarkan apa yang dikatakan oleh Zayn.


Zayn meninggalkan Caramel yang masih diam mematung. Dan dia mendekati Raymond, kemudian menepuk-nepuk lirih pundaknya seraya berkata,


"Sekarang giliranmu Bro, aku cuma bisa bantu jelasin yang aku tau aja. Selebihnya kamu harus meyakinkan dan menjelaskan padanya kembali," Zayn mengarahkan tangan kanannya ke arah Caramel untuk mempersilahkan Raymond menemui Caramel.


Raymond pun mendekati Caramel dan mengambil tangannya. Caramel yang lagi berpikir kaget mendapati tangannya yang dipegang oleh Raymond.


Segera Caramel menghempaskan tangan Raymond dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Perlihatkan apa? Ngelihatin kamu ciuman sama wanita lain?" Caramel menatap Raymond tajam namun penuh kesedihan dengan mata berkaca-kaca dan suara yang sedikit bergetar.


"Tidak, aku tidak berciuman dengannya. Dia hanya memasangkan dasiku," jawab Raymond dengan penuh permohonan.


"Sejak kapan kamu tidak bisa memasang dasi sendiri? Dan sejak kapan kamu bisa sedekat itu dengan wanita lain. Aku pikir aku menikah dengan seorang pria yang tidak mudah tergoda oleh wanita lain. Ternyata....," Caramel tersenyum getir dengan matanya yang masih menahan bulir air mata di kelopak matanya dan suaranya semakin bergetar membicarakan kekecewaannya pada Raymond.


"Enggak Sayang, kamu salah, aku tetap Raymond yang dulu, Raymond yang tidak bisa tersentuh oleh wanita lain selain dirimu," Raymond kembali menjelaskan pada Caramel berharap Caramel mau mengerti dan tidak menjauhinya lagi.


"Tunjukkan dan buktikan!" seru Caramel dan itu membuat perasaan Raymond bercampur aduk antara kesal, kecewa dan sedih.


Raymond menarik tangan Caramel dan membawanya menuju kantor. Di dalam kantor masih ada Clara yang sudah selesai interview bersama Pak Sarno, namun dia bersikeras menunggu Raymond di dalam kantor.


Pak Sarno tidak bisa melarangnya karena Clara sangat ngotot sekali dan Pak Sarno juga tidak bisa meninggalkan tamu seorang diri di dalam kantor, karena banyak berkas yang berada di sana.


"Ray, akhirnya kamu kembali," Clara tersenyum dan menghampiri Raymond berniat untuk menggandeng lengannya, namun Raymond menghindarinya dan menepis tangannya tatkala tangan Clara dengan sigap menggandeng tangan Raymond.

__ADS_1


Caramel menatap tajam penuh permusuhan pada Clara. Dasarnya Clara sudah berniat untuk mendekati Raymond, maka tidak ada kata takut atau gentar dalam kamusnya.


"Clara perkenalkan, ini Caramel istriku. Seperti yang aku katakan tadi, aku sudah mempunyai wanita yang sangat aku cintai, dan wanita itu adalah Caramel, istriku yang sangat aku cintai," Raymond menjelaskan pada Clara posisi Caramel dalam hidup Raymond dan menekankan setiap katanya agar Clara sadar akan posisi penting Caramel dalam hidup Raymond.


Caramel mengulurkan tangannya namun tidak disambut oleh tangan Clara.


"Aku Clara teman masa kecil Raymond. Jadi kita sudah sangat lama saling mengenal, bahkan sering sekali kita tidur berdua," Clara memanas-manasi Caramel agar dia cemburu dan bertengkar dengan Raymond.


"Clara, cukup. Itu hanya pada saat kita masih kecil sekali dan belum sekolah. Kita juga hanya bermain bersama beberapa bulan saja karena aku setelah itu pindah dan tidak pernah bertemu lagi denganmu, dan masalah tidur, kamu yang ngotot minta tidur di rumahku karena mamamu sedang bekerja, dan jangan jadikan itu hal yang luar biasa karena kita hanya tidur berjejeran seperti anak kecil lainnya, " Raymond kesal dan emosi mendengar perkataan Clara yang menyulut pertengkaran Raymond dengan Caramel.


"Oh ya? Tapi hanya sebatas tidur bareng gak ngapa-ngapain mah buat apa dibanggain, malah murahan," Caramel berniat mempermalukan Clara.


Raymond menatap Caramel tidak percaya. Ya benar, Raymond lupa jika Caramel bisa menjadi singa betina jika merasa direndahkan.


Raymond tersenyum bangga melihat singa betinanya kembali. Jika begini dia merasa aman, karena ada Caramel yang juga membantunya untuk menjauhkan dirinya dari Clara.


Wajah Clara merah padam karena marah mendengar perkataan Caramel yang merendahkannya.


"Paling tidak aku jadi bagian penting dalam hidup Raymond," Clara mencoba menaikkan kembali harga dirinya.


"Hello... penting dari mana? Coba kamu tanya Raymond apa dia merasa takut jika kehilanganmu?" Caramel menantang Clara.


"Memangnya kamu sepenting apa bagi Raymond, cuma seorang istri aja belagu. Istri bisa digantikan oleh wanita lain," Clara menantang balik Caramel, dan perkataan Clara membuat Raymond marah.


"Clara, tutup mulutmu. Wanita manapun tidak akan bisa menggantikan Caramel ku. Dan aku sudah tidak mau lagi menganggapmu sebagai teman karena kamu menghina istriku," Raymond meradang mendengar perkataan Clara.


"Ray... a-aku...," Clara tergagap bingung bagaimana membujuk Raymond.


"Raymond Xavier, malam ini tidak ada jatah buat kamu!" seru Caramel pada Raymond membuat Raymond terbelalak kaget dan bingung dia harus bagaimana menghadapi singa betinanya jika menyangkut kesejahteraan miliknya.


"Sayang... jangan begitu... maafkan aku...," Raymond mengiba sambil berlutut di depan Caramel.


"See.. penting mana, aku atau kamu?" Caramel menyeringai melihat ekspresi kaget Clara melihat Raymond berlutut memohon pada Caramel.


Clara menatap tajam Caramel dengan penuh dendam dan permusuhan.

__ADS_1


Lihat saja, akan aku gantikan posisi pentingmu dalam hidup Raymond, Clara berkata dalam hati penuh dengan niat untuk menghancurkan Caramel.


__ADS_2