Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
54. Gak ada jatah?


__ADS_3

Caramel tersenyum senang karena kini dia ikut Raymond bekerja. Senyumnya selalu merekah sepanjang perjalanan. Sedangkan Raymond cemberut melihat istrinya tersenyum senang disaat dia kesal.


"Gak usah cemberut gitu deh, nanti cepat tua loh," Caramel cekikikan mengatakan kata tua pada Raymond.


"Emang kamu gak cinta Yang kalau aku udah tua?" Raymond tambah cemberut mendengar perkataan istrinya.


"Mmm... tambah tua berarti tambah matang dong, masih cakep, it's okay, no problem," Caramel bermaksud menggoda Raymond.


Dan benar saja, lihatlah kini Raymond memberengut kesal. Wajahnya ditekuk, setiap ada halangan atau terjebak lampu merah, pasti dia mengumpat kesal.


Caramel jadi bergidik ngeri melihat mood suaminya yang buruk itu membuatnya terlihat jauh lebih dingin dan kejam dari sebelumnya.


Gawat nih, harus diluluhkan. Tapi gimana caranya? Hehehe... dibilang mesum bodoh amat dah, Caramel tersenyum sambil membatin.


Raymond melirik istrinya sambil berpikir, sebegitu senangkah istrinya itu diajaknya bekerja? Mood Raymond memburuk kembali tatkala dia membayangkan nantinya dia malah tidak bisa konsentrasi bekerja karena Caramel malah sibuk dengan yang lain.


Caramel mendekat pada Raymond dan meletakkan kepalanya di pundak suaminya itu. Raymond kaget melihat Caramel bersikap seperti itu. Namun dia lega karena sikap manja istrinya masih ada untuknya, jadi dengan kata lain jatah untuk Raymond aman terkendali.


Jari tangan Caramel berjalan di atas celana Raymond yang sedang duduk memegang setir dan berkosentrasi ke arah depan jalan.


Raymond terhenyak melihat jari Caramel layaknya kaki yang sedang berjalan menuju miliknya. Namun jarinya hanya menari-nari di area tersebut, membuat Raymond tersiksa.


Tak hanya itu saja, kini jari tangan Caramel berada di dada bidang Raymond dan membuat pola abstrak di sana. Raymond menikmatinya dengan perasaan menahan sesuatu.


Kenapa jika di waktunya dia tidak seperti ini? Tapi sekarang malah bukan pada tempatnya dia menggodaku. Apa dia sengaja memancingku? Raymond membatin dengan menahan desiran yang menjalar di dalam tubuhnya.


Raymond tetap diam saja membuat Caramel merasa malu dan kesal. Tangan Caramel berhenti menggoda Raymond, dan pada saat tangan Caramel akan menjauhi dada Raymond, secepat kilat Raymond menahan tangan Caramel.


"Kau menggodaku Sayang?" tanya Raymond yang masih menahan tangan Caramel.


Caramel malu bercampur kesal, akhirnya lengan Raymond lah yang menjadi sasaran kekesalan Caramel.


Lengan Raymond digigit oleh Caramel hingga Raymond mengaduh kesakitan.


"Aduuuh... ganas banget sih Sayang?" Raymond berpura-pura kesakitan sambil satu tangannya memegang bekas gigitan Caramel dan satunya lagi memegang setir.


"Abisnya gak peka banget sih jadi laki," Caramel kesal, bibir bawahnya maju ke depan.


"Tapi aku suka kok kalau kamu ganas, terutama di ranjang," senyum Raymond menggoda Caramel disertai kerlingan matanya.


"Ooo masih mau? Aku kira udah gak doyan," ucap Caramel kesal.


"Siapa yang gak mau? bukan Raymond Xavier ya," Raymond membela dirinya.

__ADS_1


"Tuh tadi gak ngaruh kan? Apa benar yang diomongin tadi, tentang pengaruh umur?" Caramel kembali menyulut kekesalan Raymond.


"Aku masih muda Sayang, masih kuat. Awas aja kamu nanti pasti akan meminta ampun untuk berhenti," Raymond memperingatkan Caramel disertai ancamannya.


"Dih siapa takut?!" Caramel tidak mau kalah dengan Raymond.


"Okay Baby, nanti malam yang ganas ya. Jangan lupa pakai lingerie yang kita beli tempo hari," Raymond kembali memberikan kerlingan sebelah matanya sambil tersenyum menggoda.


Glek!


Caramel menelan air liurnya, ternyata Raymond masih ingat tentang lingerie pilihannya yang hanya berbalut renda menerawang di semua bagian.


OMG... kenapa aku menggali kuburanku sendiri? Bisa gak sih lingerie nya hilang dari lemari? Aku harus cari ide agar lingerie itu hilang dari peradaban bumi ini. Hahahaha...


Gaya banget pakai tertawa, berhasil atau gak belum tau. Bodoh amat dah, yang penting dia gak marah. Hehehe...., Caramel sibuk membatin dan tersenyum tatkala dia tertawa dalam hati.


Raymond yang melihat istrinya senyum-senyum sendiri merasa aneh. Kejahilannya pun muncul. Tangan Caramel yang masih ditahan oleh Raymond dari tadi dikecupnya, namun melihat Caramel yang senyum-senyum sendiri membuat Raymond jahil dengan mengigit sedikit tangan Caramel.


"Aww...," Caramel merasa kesakitan dan reflek tangan satunya memukul lengan Raymond bertubi-tubi.


"Ampun Sayang, sakit," Raymond meminta maaf bertepatan dengan mobilnya berhenti di parkiran tempatnya bekerja.


"Kok berhenti? Loh udah sampai?" Caramel melihat sekitar luar mobil dan ternyata mereka sudah sampai di parkiran.


Dia tidak mau kejadian kemarin-kemarin terulang lagi. Dia harus memegang istrinya agar tidak pergi jauh darinya.


"Ngikut aja Neng, takut ya suaminya digondol wanita lain?" ledek Zayn yang baru keluar dari dalam restoran.


"iya dong, langka soalnya, harus dilindungi. Kalau modelan kayak kamu banyak noh di obral," jawaban Caramel membuat Zayn kesal, sedangkan Raymond sangat puas dengan jawaban istrinya.


Raymond mengeratkan tangan di pinggang istrinya dan mendekatkannya lagi lebih erat ke badannya, kemudian dia berjalan masuk ke dalam kantor dan secara otomatis Caramel juga ikut berjalan seiring langkah Raymond.


"Awas ya kalau butuh bantuanku untuk bersembunyi. Gak bakalan aku tolong!" teriak Zayn karena Raymond dan Caramel sudah berada di tengah-tengah restoran.


Caramel hanya melambaikan tangannya ke atas tanpa menoleh pada Zayn. Dan itu membuat Zayn kesal, namun beberapa detik kemudian dia merasa konyol dan senyum melihat tingkah Caramel.


Pantes aja Raymond kepincut sama dia. Lucu sih, ngegemesin, Zayn tersenyum dalam hati ketika membatin, namun tak ayal senyumnya pun ikut terbit di bibirnya.


......................


Siang ini Nindi bersiap-siap untuk diajak Indra malam nanti ke tempat pertemuan bisnisnya. Sungguh Nindi sangat senang sekali karena dia merasa sudah menjadi nyonya besar, nyonya Indra, istri dari seorang pengusaha yang bernama Indra.


Namun Nindi tidak mengetahui jika sumber keuangan dari Indra adalah keluarga istrinya. Nindi tidak tahu jika Indra malah tidak mempunyai apa-apa, karena semua aset miliknya atas nama istrinya.

__ADS_1


Sore harinya Nindi sudah bersiap dengan sangat cantik dan tentu saja dengan penampilan menggoda sesuai dengan permintaan Indra.


Indra menjemput Nindi ketika dia pulang dari kantornya. Malam ini Indra harus pulang ke rumah karena tadi dia mendapat laporan jika istrinya sudah pulang. Indra tidak mau jika istrinya kembali curiga padanya.


Sesampainya di rumah Nindi, Indra yang memang baru pulang kerja merasa gerah dan ingin mandi di kamar mandi yang berada di kamarnya.


Tatapan mata Indra terpaku pada Nindi yang sudah memakai dress merah dengan belahan depan yang sangat rendah hingga menampilkan separuh dari kedua asetnya dan roknya dibagian depan terdapat belahan yang sampai di atas lutut.


Indra yang merasa kegerahan malah bertambah gerah melihat Nindi berpakaian seperti itu.


Indra melepaskan dasinya dengan tidak sabar dan meraih tubuh Nindi. Tentu saja Nindi sangat senang melihat Indra sangat menyukai penampilannya.


Sayangnya, dress itu langsung disobek oleh Indra pada belahan depannya yang memang mempunyai belahan yang terlalu rendah, sehingga dengan sedikit saja tenaga dress itu bisa sobek sampai atas lutut yang terdapat belahan pada roknya.


Nindi kaget melihat aksi brutal Indra. Dia kesal karena dress itu baru dibelinya tadi, dan itu sangat mahal, tetapi dengan mudahnya Indra merusaknya.


Tapi wajah kesal Nindi tidak berpengaruh pada Indra. Dia tidak masalah dengan kekesalan Nindi karena Nindi tetap melayaninya.


"Nanti malam aku pulang ke rumah. Istriku tadi sudah ada di rumah. Kamu nanti tidur sendiri ya," ucap Indra di tengah kegiatan panasnya.


"Oh jadi itu kamu melakukannya sekarang?" Nindi berucap disertai lenguhannya.


"Of course Baby," kini Indra semakin brutal, dia melakukannya dengan lebih cepat karena sebentar lagi akan ada pertemuan dengan rekan bisnisnya.


...****************...


Caramel benar-benar berada di dekat Raymond. Bukan hanya di kantor saja, di kitchen pun, Caramel menungguinya di tempat yang tidak jauh dari Raymond agar Raymond bisa tetap melihatnya.


"Chef, ada yang harus kita temui. Orangnya sudah menunggu di kantor," Pak Sarno mempersilahkan Raymond untuk ikut bersamanya.


"Udah Pak Sarno ajak Revan aja yang nemuin, Saya percaya kok sama pilihan kalian," Raymond mengatakannya sambil memasak dan sesekali matanya melihat ke arah Caramel.


"Gak bisa Chef, Revan lagi libur," ucap Pak Sarno.


"Besok aja nunggu Revan," Raymond tidak mau mengurusi hal seperti itu.


"Sekarang aja Chef, tanggung itu orangnya udah ada di dalam," ucap Pak Sarno yang masih setia membujuk Raymond.


"Ya udah, sebentar," Raymond menginstruksikan pada koki yang ada di sebelahnya agar melakukan seperti yang diajarkannya.


Kemudian Raymond memberi kode pada Caramel bahwa dia berada di kantor. Caramel mengangguk dan dia berpindah duduk di meja kasir restoran karena tidak ada yang berada di sana.


Bartender menekan bel untuk memberikan tiga gelas orange juice untuk dibawa ke dalam kantor, namun tidak ada siapapun yang datang untuk mengambilnya. Caramel pun berinisiatif untuk mengantarkannya ke dalam kantor.

__ADS_1


"Raymond Xavier..... beraninya kamu! Awas ya gak ada jatah buatmu malam ini!"


__ADS_2