
Raymond kaget mendengar suara seruan Caramel yang mengajak Zayn pulang.
Sialan, gara-gara boneka anabelle ini, singa betinaku jadi mengaum, umpat Raymond dalam hati.
Kemudian Raymond meletakkan tubuh Arabelle dengan kasar di bangku penumpang hingga tubuh Arabelle terpental di kursi dan dia mengaduh kesakitan.
"Awww...," Arabelle memegang kepalanya yang terpental di kursi.
"Ray...," Mommy Grace memarahi Raymond dengan tatapannya.
Raymond bertambah geram karena ternyata Arabelle bersandiwara.
"Urus anak teman Daddy yang manja dan penuh drama ini. Aku tidak mau bertemu dia lagi. Pulangkan dia atau aku tidak akan pulang ke rumah kalian," Raymond meninggalkan mereka setelah berbicara.
Dengan sangat tergesa-gesa Raymond berlari mencari keberadaan Caramel dan Zayn. Sialnya Raymond sudah tidak menemukan mereka di mana pun.
Zayn mengantar pulang Caramel yang sedang sangat kesal. Di raut wajah Caramel, Zayn melihat kemarahan yang tidak biasanya.
"Kamu kenapa cantik?" tanya Zayn disertai rayuan agar Caramel kembali pada sikapnya yang seperti biasanya.
Caramel hanya menggeleng tidak mau menjawab pertanyaan Zayn.
"Kamu cemburu ya sama Arabelle?" tanya Zayn menyelidik.
"Enggak. Ngapain cemburu?" jawab Caramel dengan ketus.
"Itu tandanya kamu cemburu," sahut Zayn secara langsung.
"Issh, dibilangin enggak juga," jawab Caramel bertambah kesal.
"Enggak salah maksudnya. Hahaha...," Zayn berhasil membuat Caramel tidak diam lagi, namun dia juga berhasil menambah kekesalan dalam diri Caramel saat ini.
"Kamu pasti cinta banget ya sama Raymond?" tanya Zayn menyelidik namun dibumbui candaan agar Caramel tidak terlalu mengetahui maksud Zayn menanyakan pertanyaan tersebut.
"Enggak tau," jawab Caramel singkat sambil menggelengkan kepalanya.
"Kok bisa gak tau?" tanya Zayn yang sedang mengendarai mobilnya dengan santai.
"Gak ngerti, aku gak pernah ngerasain kayak gini," jawab Caramel sambil menundukkan kepalanya dan tangannya sibuk *******-***** ujung bajunya.
Zayn tersenyum, dia mengerti arah maksud dari jawaban Caramel.
"Ini ke arah mana Ca?" tanya Zayn membuat Caramel mendongakkan kepalanya ke arah depan.
"Depan itu yang ada pohon mangga, berhenti di sana," jawab Caramel sambil menunjuk pohon mangga yang ada di depan jalan.
Mobil diberhentikan Zayn persis di depan pohon mangga yang ditunjuk oleh Caramel tadi.
__ADS_1
"Udah sampai. Itu rumahmu? tanya Zayn ingin tahu.
"Iya, depan itu rumahku," jawab Caramel sambil membuka sabuk pengamannya.
"Kamu besok masuk apa Ca?" tanya Zayn untuk mengisi kekosongan pembicaraan ketika Caramel sibuk dengan sabuk pengamannya.
"Isssh.. ini kenapa sih gak bisa lepas?" gerutu Caramel kesal.
"Sini, biar aku bantu," Zayn membantu Caramel melepaskan sabuk pengamannya.
"Awas, jangan dekat-dekat," ancam Caramel ketika Zayn mendekat, dan itu membuat Zayn tertawa ketika sudah berhasil melepaskan sabuk pengaman Zayn.
Tidak jauh dari mobil Zayn ada mobil yang mengintai mereka. Sang pengemudi sangat marah melihat adegan yang seolah-olah Zayn mencium Caramel.
Tangan Raymond mencengkeram kuat setir yang dipegangnya untuk menyalurkan kemarahannya.
Raymond hendak turun, namun Caramel segera membanting pintu mobil Zayn ketika keluar.
Raymond mengira Zayn mencium paksa Caramel sehingga Caramel marah dan membanting pintu mobilnya ketika keluar dari mobil.
Namun kejadiannya tidak seperti itu. Caramel kesal karena Zayn terus saja meledeknya dan menggodanya sehingga Caramel membanting pintu mobil ketika keluar dari mobilnya.
Raymond berkalut emosi, hatinya dipenuhi dengan rasa cemburu. Tidak mungkin dia menghampiri Zayn yang saat ini berada di depan rumah Caramel. Dan tidak mungkin juga Raymond bertamu ke rumah Caramel untuk menemuinya.
"Aaaaargh...," Raymond menjambak rambutnya sendiri dengan kesal karena merasa otaknya sedang buntu.
Raymond segera melajukan mobilnya ketika melihat mobil Zayn yang sudah bergerak meninggalkan rumah Caramel.
Di dalam kamarnya, Caramel masih merasa uring-uringan karena Raymond dan Zayn yang menurutnya hari ini sangat menyebalkan.
Ada suara dering telepon pada ponsel Caramel. Namun Caramel hanya mengacuhkannya saja karena dia melihat nama Chef Tampan yang tertera di layar ponselnya.
Caramel mengambil ponselnya ketika deringnya sudah berhenti. Dia membuka kontak nama Raymond yang diberi nama Chef Tampan. Jari tangannya menghapus nama itu untuk menggantinya, namun ketika tulisan save muncul, jari tangan Caramel malah menekan tombol back.
Dia berpikir keras untuk mengubah nama Raymond dalam kontak teleponnya. Karena sangat tidak mungkin nama Raymond dari Chef Tampan berubah menjadi Chef Jelek, karena memang benar tampan adanya wajah Raymond menurut Caramel.
"Huffft... hanya perkara nama aja bisa bikin aku mikir beberapa menit," ucap Caramel sambil menepuk dahinya.
Namun sedetik kemudian dia kaget karena ponsel yang berada di tangannya berdering dan bergetar. Dan nama itu kembali menghiasi layar ponsel Caramel. Chef Tampan, nama kontak yang selalu menghubunginya dan mengirim pesan padanya setiap hari.
Karena Caramel masih sangat kesal, dia tidak mau bertambah kesal jika berbicara dengan Raymond meskipun hanya melalui telepon.
Dimatikannya ponsel yang digenggamnya itu dan dia mulai merebahkan badannya di atas ranjang empuk kesayangannya, dan mulailah dengkuran halus keluar dari mulut Caramel ketika dia mulai memejamkan matanya. Sepertinya dia teramat sangat lelah, baik fisik maupun pikiran dan emosinya.
Raymond mengeram kesal setiap teleponnya tidak mendapat jawaban dari Caramel. Akhirnya dia menghubungi Daddy-nya agar memulangkan paksa Arabelle karena Raymond tidak ingin rencananya untuk meminta restu pada orang tua Caramel gagal.
Daddy Nathan mengerti maksud dari kecemasan anaknya. Tapi dia bingung untuk mengatakannya pada orang tua Arabelle yang merupakan sahabatnya.
__ADS_1
Mommy menghubungi Raymond yang masih uring-uringan karena kini ponsel Caramel malah tidak aktif. Mommy menenangkan hati Raymond dengan akan mencarikan jalan keluar agar Arabelle bisa cepat kembali ke negaranya. Namun Raymond menolak jika harus mencari jalan keluar, berarti Mommy dan Daddy-nya tidak mau memulangkan paksa Arabelle.
Raymond mengatakan pada Mommy-nya jika Arabelle masih ada di rumah mereka, maka Raymond tidak akan menginjakkan kakinya di rumah mereka,dan tentu saja Raymond juga tidak akan menemui mereka.
Mommy Grace sedih mendengar ucapan dari Raymond. Dan dengan berat hati Mommy Grace mengatakan kebenarannya pada Raymond.
Raymond membanting gelas yang ada di hadapannya ketika mendengar alasan Arabelle datang ke negara ini.
Mommy Grace menutup mulutnya dan menangis mendengar suara pecahan kaca di seberang sana yang menjadi pelampiasan kemarahan Raymond.
Mommy Grace dan Daddy Nathan mengerti bagaimana perasaan anaknya, oleh karena itu mereka menolak permintaan sahabat Daddy Nathan yaitu Papi dari Arabelle. Namun ada saja permintaan dari pihak Arabelle sehingga Daddy Nathan tidak bisa menolak kedatangan Arabelle ke rumah mereka.
Semalaman Raymond hanya merenung di kamarnya, dia tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya mengembara hanya pada satu nama, yaitu Caramelia Faraza. Setiap Raymond memejamkan matanya, dia selaku terbayang senyum manis dan wajah cantik gadis pemilik hatinya itu.
Raymond mengingat setiap momen kebersamaannya dengan Caramel. Keceriaan, kepolosan dan keluguan gadis itu kadang menjadi lucu di matanya. Raymond jadi tersenyum hanya dengan mengingatnya saja.
Pagi harinya, Raymond merasa dirinya seperti sedang sekarat. Badannya menggigil kedinginan namun badannya panas. Dan dia serasa tidak bisa menopang tubuhnya untuk berjalan. Panggilan telepon berkali-kali diabaikannya. Dia hanya bergelut dengan selimut tebal dan merintih.
Akhirnya Mommy Grace bisa membuka pintu Apartemen Raymond dengan bantuan dari pihak Apartemen.
Mommy Grace melihat dalam Apartemen Raymond yang seperti kapal pecah. Pecahan gelas yang berserakan dan semua perabotan yang berhamburan. Semua itu menjadi sasaran pelampiasan kemarahan Raymond semalam.
Mommy Grace berjalan masuk ke dalam kamar, dan mendapati Raymond sedang merintih di bawah selimut. Sungguh hati Mommy Grace sangat sakit melihat anaknya tiba-tiba lemah hanya karena semalam mendengar ucapan dari dirinya.
Mommy Grace memegang dahi Raymond yang sangat panas dan melihat anaknya menggigil dan merintih membuat Mommy Grace bingung. Dia tidak mau mengabari suaminya karena takut jika Arabelle akan tahu tentang sakitnya Raymond dan dia pasti akan datang ke Apartemen Raymond.
Mommy Grace segera menghubungi Dokter Fahmi yang merupakan Dokter pribadi Raymond yang sekaligus sahabat dekat Raymond.
Dokter Fahmi segera datang ke Apartemen Raymond dan melihat keadaan apartemen Raymond yang berantakan, dia menjadi takut jika terjadi apa-apa dengan sahabatnya itu.
Setelah memeriksa Raymond, Dokter Fahmi memberikan obat dan vitamin yang harus segera di minum. Namun Raymond menolak untuk makan meskipun sudah dibujuk dan disuapi oleh Mommy Grace.
Dokter Fahmi menyarankan Mommy Grace agar memanggil gadis yang dicintai Raymond, karen Raymond selalu mengigau dengan menyebutkan nama Caramel yang setahu Dokter Fahmi adalah calon istri Raymond.
Mommy Grace mengangguk setuju karena menurutnya semua ini terjadi karena semalam Raymond mengetahui kenyataan yang tidak mau dia terima sehingga dia jadi seperti ini.
Mommy Grace meninggalkan Raymond dalam pengawasan Dokter Fahmi, sementara itu Mommy Grace menjemput Caramel di tempat kerjanya.
Awalnya Caramel menolak pada saat dia diajak Mommy Grace ke Apartemen Raymond. Namun setelah Mommy Grace membisikkan sesuatu di telinganya, Caramel menjadi tidak enak dan mau tidak mau dia harus ikut bersama Mommy Grace menuju ke Apartemen Raymond.
Caramel datang ke Apartemen Raymond bersama Mommy Grace.
"Hai, apa kabar Caramel?" tanya Dokter Fahmi menyapa Caramel.
"Baik Dok. Dokter Fahmi apa kabar?" tanya balik Caramel pada Dokter Fahmi.
"Saya baik. Emm.. tolong jaga dengan baik calon suami kamu ya, sepertinya ini fase yang sulit untuk dia, karena saya selama bertahun-tahun menjadi sahabatnya, saya tidak pernah melihat dia seperti ini," tutur Dokter Fahmi pada Caramel.
__ADS_1
"Saya calon istrinya, bukan dia," suara seorang wanita mengalihkan semua orang yang ada di dalam Apartemen Raymond kecuali Raymond yang sedang menggigil di bawah selimut tebalnya.