Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
42. Mamanya Dave?


__ADS_3

"Onty...."


Suara anak kecil itu membuat Caramel menoleh. Ternyata benar, itu suara Davin, anak kecil yang bercanda dengan Caramel tadi. Dan tentunya bersama Daniel, papa dari Davin, lelaki yang bercanda tawa dan kelihatan akrab dengan Caramel tadi. Lelaki yang membuat Raymond cemburu.


Dave berlari ke arah Caramel dan merentangkan tangannya untuk meminta di peluk oleh Caramel. Dave sangat lucu dengan tubuh gembulnya dia berlari ke arah Caramel.


Caramel menyambut dengan gembira Dave dalam pelukannya. Tangan Raymond yang tadinya digandeng pun dilepaskan oleh Caramel karena dia menyambut rentangan tangan Dave yang menginginkan pelukannya.


Raymond sangat kesal karena gandengan tangannya dilepas oleh Caramel demi seorang bocah dan lebih kesal lagi ketika Raymond melihat Daniel, papa dari Dave berjalan ke arah mereka dengan senyumnya yang mengembang.


"Onty Caca....," ucap Dave sambil berlari ke arah Caramel dan membuka kedua tangannya lebar-lebar.


"Hai Dave," Caramel menunduk dan menyambut Dave dengan kedua tangan yang dia rentangkan seperti Dave.


Caramel dan Dave saling berpelukan dan tertawa bahagia. Bahkan Dave menciumi pipi kanan serta pipi kiri Caramel dan Caramel pun membalas hal yang sama pada Dave. Caramel mencium pipi kanan serta pipi kiri Dave dan Dave pun tertawa senang dan kegelian.


"Sorry ya, dari tadi Dave nyariin kamu, dia minta dianterin ke kamu," Daniel berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Dave dan Caramel.


"Sayang, ayo," Raymond menarik lengan Caramel agar dia tidak diacuhkan.


"Eh iya lupa, maaf," ucap Caramel dengan senyum lebarnya.


"itu capa onty?" tanya Dave pada Caramel.


"Itu namanya uncle Raymond, panggil aja uncle Ray," jawab Caramel dengan mengusap kepala Dave dengan lembut.


"Oooo," Dave mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Hai uncle Ley," sapa Dave pada Raymond.


"Hai Dave, uncle bawa aunty dulu ya, ada perlu penting," Raymond menarik tubuh Caramel agar mendekat padanya dan menggandeng tangannya.


"Dave, aunty sama uncle masuk dulu ya, kapan-kapan kita jumpa lagi, bye Dave," Caramel melambaikan tangannya pada Dave.


"Onty.... itut....," Dave berlari mengikuti Caramel.


Caramel berhenti dan menangkap tubuh Dave yang berlari namun susah berhenti.


"Yeay kena," Caramel berseru disertai tepuk tangan dari Dave.


Raymond terkekeh melihat aksi Dave dan Caramel. Namun kekehan Raymond berhenti ketika Daniel datang menyusul Dave yang berlari mengikuti Caramel dan Raymond.

__ADS_1


"Maaf Ca, Dave tiba-tiba aja lari ngikutin kamu. Aku gak sempat nahan dia," ucap Daniel ketika sudah sampai di depan mereka bertiga.


"Gapapa kok," ucap Caramel sambil tersenyum pad daniel.


Raymond kesal pada Caramel yang memberikan senyum manisnya pada Daniel. Raymond sangat kesal karena seharusnya senyuman manis Caramel hanya untuk dirinya seorang.


"Dave, aunty ada perlu sama uncle di dalam. Dave main-main dulu ya," Ucap raymond.


"Atu itut te dalam cama onty," Dave memberikan puppy eyesnya pada Caramel sehingga dia tidak tega melihatnya.


"Dave ikut ke dalam boleh ya?" tanya Caramel pada Raymond.


"Hanya Dave aja, kalau orang dewasa dilarang selain karyawan," Raymond mengatakannya dengan tegas agar tidak dibantah.


"Mmm Pak apa boleh Dave ikut kami sebentar ke dalam?" tanya Caramel pada Daniel.


"Percuma kalau dilarang. Dave itu gak bisa dilarang, maklum masih bocah. Silahkan, saya tunggu di restoran saja," jawab Daniel disertai senyum manisnya.


Caramel menggandeng tangan Dave kemudian dia berjalan.


"Tunggu Ca, apa boleh saya minta nomer HP kamu, takutnya nanti pas saya mau pulang, tapi saya belum ketemu sama Dave," Daniel bertanya pada Caramel pada saat mereka sudah berjalan satu langkah.


"Ooo oke," jawab Caramel.


Caramel menahan senyumnya karena melihat wajah Raymond yang lagi-lagi cemburu pada Daniel.


Raymond menarik tangan Caramel dan agak kesusahan karena menyesuaikan langkah kaki Dave yang pendek.


Akhirnya Raymond menggendong tubuh Dave dengan satu tangan dan tangan satunya menggandeng tangan Caramel.


"Wueeeh... keluarga yang bahagia," ledek Revan ketika Caramel dan Raymond yang menggendong Dave masuk ke dalam kantor.


"Ini nih potret keluarga harmonis," sahut Pak Sarno.


"Waaah baru juga belum ada dua bulan nikah, udah gede aja anaknya," ledek Revan kembali.


"Mirip gak?" canda Caramel sambil menempelkan pipi Caramel pada pipi Dave.


"Mirip gak yaaaa? Itu bodyguard nyonya besar melotot ke saya. Ampuuun," ucap Revan sambil menunjuk ke arah Raymond.


"Mangkanya Chef cepetan bikin anak sendiri biar si Caca gak ngurusin anaknya orang," ucap Pak Sarno sambil terkekeh.

__ADS_1


"Bikinnya udah Pak tiap hari, tapi masih otw jadi kayaknya," Raymond menjawab dengan entengnya.


Caramel menoleh pada Raymond, dia tidak percaya jika suaminya bisa bercanda dengan obrolan seperti itu. Jika itu Raymond yang dulu sebelum kenal dengan Caramel, dia pasti marah mendengar dirinya dikomentari seperti itu.


"Chef gapapa?" Caramel meletakkan tangannya di dahi Raymond.


"Gak panas, normal," ucap Caramel sambil meletakkan tangannya ke dahinya untuk menyamakan suhu tubuh Raymond dengannya.


"Ya emang gak sakit sayang," Raymond mengacak-acak gemas rambut Caramel.


"Kalian ngapain ke sini? Bukannya lagi rame di luar?" tanya Pak Sarno.


"Ini mau ngobatin tangan si Chef yang posesif ini," jawab Caramel sambil memperlihatkan tangan Raymond yang terluka akibat meninju tembok.


"Loh kenapa Chef kok bisa gitu?" tanya Pak Sarno.


"Yang pasti bukan karena kena wajan Pak," sahut Revan dengan tertawa kecil.


"Ya gak mungkin kena wajan kayak gini dodol....," Raymond melempar kertas yang sudah tergulung ke arah Revan.


"Eh.. eh.. apa itu kertas laporan dibikin gini," Revan segera membuka gulungan kertas yang dilempar oleh Raymond.


"Udah kalian diam, kalau gak bisa diam keluar aja," Raymond mendudukkan Dave di kursi sebelah dia duduk.


Caramel mengambil kotak PPPK dan mulai mengobati tangan Raymond.


"Iiih pasti atit ya uncle," tanya Dave sambil bergidik.


"Sakit sekali. Mangkanya Dave gak boleh lari-larian tanpa ada gang mengawasi ya, takutnya nanti kalau Dave jatuh gak ada yang nolong," tutur Raymond pada Dave.


"Atu mau lali-lali cama onty Caca aja, bial nanti kalau jatuh bisa diobati cama onty Caca," ucap Dave.


"Emang aunty Caca mau lari-lari sama Dave?" goda Raymond pada Dave.


"Mau dong. Iya tan onty?" tanya Dave pada Caramel dengan matanya yang bergerak-gerak lucu, sangat menggemaskan.


"Mmm mau gak ya?" Caramel menggoda Dave dengan berpura-pura berpikir.


"Eh ini anak siapa sih?" sela Revan ingin tahu.


"Anak tamu, dari tadi nempel sama aku terus," jawab Caramel.

__ADS_1


"Onty... onty... onty Caca mau kan jadi Mamanya Dave?"


__ADS_2