
Pagi ini Caramel bersemangat sekali mengikuti Raymond bekerja. Sedangkan Raymond setengah agak gak rela jika Caramel ikut dia bekerja, karena seperti yang sebelum-sebelumnya jika Caramel ikut bekerja dengan Raymond, itu artinya Raymond harus selalu waspada agar Caramel tidak jauh darinya dan harus selalu dalam jangkauan matanya.
Sebelum berangkat Caramel dan Raymond membuat perjanjian. Caramel menjanjikan akan memberikan pelayanan ekstra untuk suaminya jika memperbolehkannya ikut bekerja dengannya. Tentu saja Raymond sangat senang sekali mendengar janji yang Caramel buat. Tapi Raymond memberikan syarat pada Caramel. Raymond mengharuskan Caramel agar tetap berada di sisinya dan selalu berada dalam jangkauan matanya.
Kali ini Caramel berdandan sangat cantik, karena dia tidak mau kalah dengan Clara. Semua koleksi pakaiannya yang diberikan oleh Raymond sengaja dia tempelkan ke badannya dan melihat ke depan cermin untuk mencari yang terbaik untuk digunakannya saat ini.
"Kalau orangnya secantik ini, pasti pakai baju apapun cantik. Kalau aku lebih suka ketika kamu gak pakai apapun Sayang," Raymond berada di belakang tubuh Caramel dan meletakkan kepalanya di ceruk leher Caramel.
"Itu sih dasar kamunya aja yang me-sum," tegas Caramel mengatai suaminya.
"Hahaha... kalau istrinya seperti ini gak ada hari tanpa kemesuman dari suamimu ini," Raymond mencium pipi kanan Caramel yang sedang tersipu malu karena ucapannya.
Raymond memandang Caramel yang sedang memantaskan dirinya di depan cermin dengan melihat ke arah kanan, kiri, depan dan belakang melalui cermin. Dan memeriksa wajahnya, takut jika ada yang tidak pantas di wajahnya. Akan dangat memalukan jika hal itu terjadi dan dilihat oleh Clara.
"You are perfect Baby!" Seru Raymond dari tempat duduknya dengan menatap tanpa berkedip Caramel melalui cermin yang ada di depan Caramel.
Caramel senang dan malu mendengar pujian dari suaminya.
"Yuk ah berangkat," Caramel menoleh ke arah belakang dimana Raymond berada.
Caramel menarik tangan Raymond, namun Raymond memarik balik tangan Caramel hingga berakhir Caramel yang kini berada dalam dekapan Raymond yang sedang duduk dan Caramel yang sedang berdiri.
"Sayang... yuk ah berangkat," Caramel mengajak Raymond agar cepat berangkat.
"Buru-buru amat, gak sabar ketemu siapa sih?" kini Raymond dalam mode curiga dan ngambek.
"Katanya kamu takut kesiangan," Caramel mencoba membuat alasan yang tepat agar suaminya tidak merajuk.
"Awas aja kalau dekatnya sama yang lain," Raymond benar-benar mengancam Caramel.
"Awas aja kalau deket-deket sama si ulet bulu yang kegatelan itu," kini Caramel mengancam balik Raymond.
"Udah punya istri secantik ini ngapain cari yang lain?" Raymond mencoba merayu Caramel agar tidak curiga lagi padanya.
Raymond menarik pinggang Caramel dan mengajaknya berangkat agar mereka tidak lagi saling berdebat dan mengancam.
"Pagi Nyonya dan Tuan Xavier....," Zayn menyambut Raymond dan Caramel layaknya seorang pelayan.
"Pagi Zayn," jawab Caramel dengan senyum manisnya yang sangat menawan.
"Gak usah senyum sama dia," ucap Raymond sambil menutup tubuh Caramel dari pandangan Zayn.
"Cantik banget Ca hari ini, lagi ada acara?" tanya Zayn menggoda Raymond serta mencari tahu kebenaran akan pikiran Zayn jika Caramel berdandan sangat cantik untuk menandingi Clara.
__ADS_1
"Gak usah godain istri orang Zayn!" seru Raymond dengan tegas, kemudian membawa Caramel masuk ke dalam kantor.
Ternyata di dalam kantor sudah ada Clara yang memang sudah datang dan sengaja menunggu Raymond di dalam kantor.
"Ray, kamu udah datang?" Clara menyambut Raymond dengan senyum yang sangat manis namun tidak dilirik ataupun dijawab oleh Raymond.
Caramel hanya diam saja, dia ingin tahu sejauh mana suaminya bisa dipercaya. Senyum puas Caramel merekah ketika melihat Clara diacuhkan oleh Raymond.
Raymond memberikan tasnya pada Caramel karena di dalam kantor ada Clara, dia tidak mempercayai Clara karena dia tahu jika Clara bisa melakukan apa saja untuk obsesinya.
"Yuk Sayang kita ke kitchen," Raymond segera meraih pundak Caramel dan mengajaknya berjalan keluar dari kantor.
Namun Raymond tidak mengajak Caramel ke kitchen, dia mengajak Caramel mencari Pak Sarno. Pucuk dicinta ulam pun tiba, Pak Sarno dengan sendirinya menampakkan dirinya di restoran sehingga Raymond tidak susah-susah mencarinya.
"Pak Sarno, bisa kita bicara sebentar?" Raymond menghentikan Pak Sarno yang berjalan masuk ke dalam restoran.
"Ada apa Chef, sepertinya ada yang penting?" Pak Sarno kini mengambil duduk di depan Raymond dan Caramel.
"Kenapa Clara bisa diterima kerja di sini? Bukannya Pak Sarno tau jika kemarin saya tidak menyukainya?" Raymond berbicara dengan tegas dan diselimuti rasa kesal.
"Dia bilang jika dia bisa melakukan tugasnya lebih dari marketing yang lama," Pak Sarno menjawab pertanyaan Raymond dengan apa adanya.
"Dan Bapak percaya begitu aja?" Raymond bertanya dengan nada kesal.
"Ck, terlalu lama. Apa tidak bisa dia dipecat aja sekarang?" Raymond bertambah kesal dan emosi.
"Tidak bisa Chef, kan baru aja kerja dia," jawab Pak Sarno terkekeh.
"Pak Sarno kan tau gara-gara dia Caramel jadi marah kemarin," Raymond tidak bisa lagi menyembunyikan alasan utamanya.
"Kamu keberatan Ca?" Pak Sarno bertanya pada Caramel.
Caramel hanya menggeleng tanpa menjawab pertanyaan dari Pak Sarno.
"Tuh Chef, Caca aja gak keberatan Clara kerja di sini," Pak Sarno membela keputusannya yang telah mempekerjakan Clara.
"Saya yang keberatan!" Raymond berseru, dia kesal jika harus berdekatan dengan wanita yang tidak tahu posisinya, yang selalu mendekati dan merayunya padahal Raymond jelas-jelas menolaknya.
"Terus gimana dong? Masa' iya hari ini baru kerja langsung dipecat?" Pak Sarno bertanya pada Raymond untuk meminta sarannya.
"Kenapa Bapak tidak meminta pendapat saya sebelumnya?" tanya Raymond pada Pak Sarno masih dengan nada kesal.
"Lah kemarin kan Chef bilang percaya pada saya, ya udah saya terima aja dia, lagi pula sepertinya dia bisa menggaet banyak tamu dari keahliannya," Pak Sarno terkekeh menjawab pertanyaan Raymond.
__ADS_1
"Keahlian dalam merayu cowok ya Pak?" sahut Caramel dengan mengerjap-ngerjapkam matanya.
"Huss... kamu itu Ca, eh tapi sepertinya emang iya sih, dia ada bakat disitu," Pak Sarno terpancing ucapan Caramel.
"Ya jelas lah Pak, gak liat apa kemarin ada yang dirayu sampai lupa kalau ada istrinya di sini?" sindiran Caramel membuat Raymond kembali merasa frustasi, takut jika Caramel kembali marah, maka tidak baik bagi kesejahteraan miliknya.
"Sayang... udah deh gak usah mulai. Apa mending aku pulang aja gak jadi kerja?" Raymond mengalah jika bisa membuat istrinya kembali percaya padanya.
"Udah kerja sana, aku tungguin di sini. Awas ya kalau macem-macem. Gak ada jatah malam ini," Caramel mengancam Raymond kembali.
"Ck, ya enggak lah Sayang, mending gak macem-macem lah daripada gak dapet jatah," Raymond merayu Caramel dengan mendekatinya dan menciumi tangan Caramel meskipun di depannya masih ada Pak Sarno.
"Ehem... apa boleh saya permisi sekarang Tuan dan Nyonya?" Pak Sarno menirukan cara bicara pelayan.
"Eh iya Pak, tolong panggilkan Zayn ya," Raymond meminta pada Pak Sarno untuk memanggilkan Zayn menghadapnya.
Zayn menemui Raymond dan Caramel sesuai perintah Pak Sarno. Ternyata Raymond membicarakan Clara pada Zayn. Dia meminta Zayn untuk selalu berada bersama Clara karena mereka sesama marketing dan alasan utamanya adalah agar Clara tidak mendekati Raymond lagi.
Caramel berjalan-jalan di taman ketika Raymond berbicara dengan Zayn, dan itu sudah mendapatkan ijin dari Raymond dengan syarat Caramel hanya berada di taman yang masih bisa dilihat oleh Raymond.
Caramel membantu pekerja yang bertugas merawat kebun dengan menyirami bunga yang ada di taman tersebut. Dengan senangnya Caramel menyirami bunga di taman sambil bernyanyi riang. Namun kegembiraannya terusik oleh Clara yang datang untuk sengaja menyulut emosinya.
"Kamu kerja disini? Ngapain ikut ke sini? Dasar wanita gak ada kerjaan, bisanya cuma ngintilin suami tapi gak bisa cari uang sendiri. Gak pantas kamu sama Raymond. Pantasnya Raymond itu sama wanita yang mempunyai karir, biar bisa imbang dengannya," cibir Clara yang memang ingin membuat Caramel marah.
Caramel menatap Clara dengan tatapan permusuhan seolah dia telah menemukan mangsanya.
"Kenapa? Kamu iri karena Raymond memilih saya yang bukan siapa-siapa ini? Tapi lihat dong, bukannya penampilan saya cukup membuat mereka tau jika saya adalah Nyonya Raymond Xavier?" dengan anggunnya Caramel berjalan dan memutar bak model yang berjalan di catwalk setelah menaruh selang air yang dibawanya.
"Dih, sok kecakepan! Kalau memang babu ya babu, gak usah mimpi jadi Nyonya besar!" Clara yang tersulut emosinya sendiri mendengar ucapan dari Caramel.
Caramel hilang kesabaran menghadapi Clara, dan dia tidak mau dibilang lemah oleh lawannya sehingga dia tidak mau memberi kesepakatan pada wanita lain untuk mendekati dan menggoda suaminya.
Secepat kilat Caramel mendekat dan menjambak rambut Clara serta berkata,
"Apa kamu bilang, aku babu? Dan siapa yang pantas jadi istri Raymond? Kamu? Mimpi!" Caramel mendorong tubuh Clara jauh darinya setelah melepaskan tangannya dari rambut Clara.
"Good job Baby!" teriak Raymond dari arah yang tidak jauh dari mereka dan memberikan tepuk tangannya untuk Caramel.
Caramel dan Clara menoleh ke arah sumber suara, dan Caramel tersenyum bangga ketika melihat Raymond memberinya dukungan. Sedangkan Clara berwajah kesal melihat Caramel yang lagi-lagi bisa membuat Raymond mendukungnya.
Clara pergi meninggalkan Caramel dengan rasa kesal, marah dan juga rasa sakit pada rambutnya yang dijambak dengan kerasnya oleh Caramel.
Dasar wanita bar-bar, gak tau apa kalau rambutku habis perawatan di salon. Awas aja aku akan buat Raymond benar-benar dekat denganku lagi, Clara mengomel dalam hatinya seiring langkah kakinya meninggalkan Caramel yang merasa menang karena dukungan dari Raymond.
__ADS_1