Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
71. Jenny dan masa lalu


__ADS_3

"Masih lama kah?" Raymond berjalan mendekat dan membenarkan ikatan rambut Caramel yang mulai merosot ke bawah.


Diikatnya rambut Caramel tinggi agar terlihat tengkuk lehernya. Kemudian dengan jahilnya Raymond mengecup sekilas tengkuk leher Caramel dan merambah ke ceruk leher Caramel.


"Ih Sayang, mulai deh. Gak malu apa ada Chef Jenny?" Caramel merajuk seperti biasanya jika dijahili oleh Raymond.


Jenny segera menundukkan kepalanya ketika tahu Raymond menoleh padanya. Dia hanya melirik melanjutkan melihat kemesraan antara Raymond dan Caramel.


Jenny memang sedari tadi matanya mengikuti gerakan Raymond yang berjalan ke arahnya dan Caramel tanpa disadari oleh Raymond, karena pandangan Raymond hanya tertuju pada Caramel seorang. Mata Jenny terbelalak ketika melihat Raymond mengikat rambut Caramel dan mencium sekilas tengkuk leher dan ceruk leher Caramel.


"Sorry Jen, aku tidak bisa jauh darinya," Raymond terkekeh seraya melihat Jenny.


Jenny menoleh dan dia hanya tersenyum getir pada saat dipanggil namanya oleh Raymond.


"Apa sudah selesai? Jangan terlalu lama Jen, aku tidak mau istri cantikku ini capek, dan nantinya tidak bisa melayaniku," ucap Raymond yang kini malah memeluk Caramel dari belakang dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Caramel.


"Ehemm... ba-baiklah, segini aja dulu. Lalu untuk adonannya gimana? Padahal hanya tinggal masukin di oven saja. Apa kamu tidak bisa menunggu di sana Ray?" ucap Jenny seolah mengusir Raymond.


"Kamu mengusirku Jen?" Raymond menatap kesal pada Jenny.


"Sayang udah, kamu tunggu di sana tadi ya," ucap Caramel sambil tersenyum manis pada Raymond agar dia mau menuruti perintah Caramel.


Benarlah, perintah Caramel pasti akan dituruti oleh Raymond. Kini tangan Raymond terlepas dari pinggang istrinya, namun sebelum dia melangkah pergi, Raymond mencuri ciuman di bibir Caramel.


Sontak saja Jenny menjatuhkan rolling pin ketika melihat Raymond mencium bibir Caramel dan tertawa sambil berjalan menuju tempat duduknya tadi.


Jenny memang merasa sangat kesal ketika melihat Caramel dan Raymond bermesraan di depannya. Namun Jenny sudah biasa bersikap profesional, sehingga dia sekarang masih bisa mengontrol emosinya.


Jenny memberikan pelajaran tentang pastry dan bakery seperti biasanya ketika dia mengajar di kelas memasak yang dia kelola.


Sekarang ini Jenny memberikan contoh pada Caramel untuk membentuk cake dan proses dalam oven.


Ketika dalam proses memanggang dalam oven, Caramel diinstruksikan oleh Jenny mengamati dan menunggu sampai prosesnya selesai di depan oven.


Sedangkan Jenny mengambil kesempatan untuk mendekati Raymond. Jenny berjalan ke arah Raymond tanpa sepengetahuan Caramel. Dia duduk di dekat Raymond dan mulai mengajak Raymond ngobrol Raymond meskipun mata Raymond tidak lepas dari Caramel yang berada lurus di depannya, namun jarak mereka sedikit jauh.

__ADS_1


Merasa diacuhkan oleh Raymond, tiba-tiba Jenny memegang pipi Raymond dengan jari telunjuknya, dia ingin mengingatkan Raymond akan kejahilan Jenny di masa lalu jika Raymond serius pada sesuatu dan mengacuhkannya.


Raymond hanya kaget, namun Jenny tertawa lepas hingga membuat Caramel menoleh ke arah mereka. Caramel melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap tajam Raymond.


Raymond yang kaget dan mendengar Jenny tertawa senang membuatnya reflek melihat ke arah Jenny. Hanya beberapa detik saja dia melihat Jenny tanpa ekspresi apa-apa dan pandangan matanya kembali pada Caramel yang ada di depannya dengan jarak kurang lebih sepuluh meter.


Raymond segera beranjak dan berjalan ke arah Caramel ketika melihat istrinya itu menatapnya tajam. Dia tidak ingin istrinya itu marah kepadanya.


Waduh gawat kalau Nyonya besar marah, bisa hilang kesejahteraanku nanti. Lagian Jenny ada-ada aja. Ngapain juga dia ngelakuin itu. Ck, bikin masalah aja dia, Raymond mengomel dalam hati seiring langkah kakinya mendekati Caramel.


"Sayang, capek ya? Aku pijitin ya," ucap Raymond yang sudah berada di dekat Caramel.


Raymond segera memijit ringan punggung dan pundak Caramel. Sedangkan Caramel hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan Raymond. Dengan jahilnya Raymond menghembuskan nafasnya di tengkuk dan sekitar telinga Caramel hingga membuat Caramel berdesir.


Mengetahui hal itu, Raymond tersenyum jahil dan mencium dengan lembut tengkuk Caramel sehingga tubuh Caramel meremang, dan dia terhanyut oleh sentuhan Raymond. Mata Caramel terpejam menikmati sentuhan dan hembusan nafas Raymond. Mereka berdua mulai lupa jika di sana bukan hanya ada mereka saja.


"Ehemmmm... Ray, apa itu sudah matang?" Jenny menghentikan kegiatan Raymond dan Caramel yang membuatnya sangat kesal.


"Ck, lihat sendiri saja Jen," Raymond mencebik kesal dan kini dia melanjutkan memijat pundak Caramel.


Jenny mendekat ke arah oven dan dia membukanya.


Caramel menghentikan tangan Raymond yang sedang memijitnya. Kemudian dia mendekat pada oven tersebut dan memeriksanya. Untung saja Caramel sudah sering membantu pastry di restorannya sehingga dia bisa mengetahui apakah roti tersebut sudah matang atau belum.


Jenny hanya melihat saja cara Caramel memeriksa tingkat kematangan dan mengeluarkan roti tersebut.


Cukup lihai juga dia ternyata. Pasti Raymond sudah banyak mengajarinya, Jenny membatin dengan ekspresi wajah datarnya.


Raymond melihat Caramel dengan bangga dan senang. Namun ada yang janggal menurut Raymond. Jenny yang dia kenal tidak seperti itu, tapi kini dia melihat Jenny yang berbeda di hadapannya.


"Sudah selesai bukan? Untuk menghiasnya hanya butuh waktu sebentar saja kan?" Raymond memastikannya pada Jenny.


"Cerewet sekali kamu Ray. Kenapa tidak kamu saja yang mengajari istrimu?" jawab Jenny kesal.


Raymond hendak membalas perkataan Jenny, namun mulut Raymond segera di bekap oleh telapak tangan Caramel sehingga dia tidak bisa mengucapkan apapun.

__ADS_1


"Ssstt... diam gak?" Caramel mengancam Raymond.


Hanya dengan begitu saja Raymond sudah menurut, dia menganggukkan kepalanya. Hal itu pun tak luput dari perhatian Jenny, dan dia mendengus kesal ketika melihatnya.


Selesailah sudah menghias cake tersebut. Sungguh proses yang lama menurut Raymond. Oleh karena itulah Raymond lebih memilih memasak makanan dari pada berkecimpung di dunia pastry dan bakery.


Jenny pulang dengan membawa perasaan sakit hatinya dan kesal terhadap Raymond yang seperti tidak menyambutnya dan menghargainya sebagai teman lamanya.


"Sayang, capek ya? Sini, aku pijitin," ucap Raymond yang sebenarnya mempunyai niatan lain.


"Palingan juga pijat plus-plus," Caramel menyindir Raymond sambil terkekeh.


Dan benarlah, seketika Raymond menarik tubuh Caramel yang masih berbalut handuk karena baru keluar dari kamar mandi. Raymond mengungkungnya di bawah tubuhnya dengan tatapan dan senyuman yang sudah Caramel hafal betul. Wajah itu, senyuman itu dan tatapan itu, itu semua sama ketika Raymond menginginkannya.


Dan Caramel pun tidak mau menunggu lama lagi karena dia juga sudah mulai menginginkan hal itu semenjak Raymond menjahilinya di dapur tadi. Setelah itu terjadilah hal yang paling ditunggu Raymond sejak tadi ketika di ruang ganti butik bersama dengan Caramel. Aktivitas di ranjang yang membuat peluh mereka bersatu.


"Sayang, apa kamu dan Jenny dulu sempat berpacaran?" tiba-tiba Caramel menanyakan hal itu setelah aktivitas mereka yang membuat mereka sangat kelelahan.


Raymond menghadap wajah Caramel dan menatapnya dalam.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Raymond heran.


"Tadi Jenny sempat mengatakan jika kamu yang menyuruhnya untuk beralih ke pastry," kini Caramel yang menatap lekat mata Raymond untuk mencari tahu kebenarannya.


"Bukannya kamu tau semua tentang aku? Aku tidak pernah berpacaran dengan wanita manapun. Kamulah satu-satunya yang memiliki hatiku. Kamu pacar pertamaku dan istriku satu-satunya untuk selamanya," ucap Raymond penuh dengan keyakinan.


"Aku tau, dan aku hanya ingin memastikannya saja suamiku...," Caramel terkekeh melihat raut keseriusan Raymond yang sebenarnya membuatnya sangat lega.


"Sayang aku tidak mau kamu salah paham dan berpikir macam-macam. Jadi tolong apapun itu kamu bicara dan tanyakan padaku. Seperti ini tadi. Ok?" Raymond kembali berkata serius dengan tatapan matanya yang masih tertuju pada mata Caramel.


Caramel pun mengangguk dan tersenyum senang.


"Kurasa Tuhan baik sekali padaku. Tuhan memberiku suami seperti dirimu. Aku sangat beruntung menjadi istrimu. Sangat... sangat... sangat bahagia," ucap Caramel yang dengan ekspresi bahagia menatap wajah Raymond.


Raymond sungguh bahagia mendapatkan pengakuan dari istri tercintanya. Senyum bahagia juga merekah di bibir Raymond. Reflek saja dengan gerakan cepat Raymond menempelkan bibirnya pada bibir Caramel dan terjadilah ciuman panas yang membuat mereka lupa akan waktu yang semakin larut itu.

__ADS_1


Di lain tempat, Clara sedang menyiapkan semua hal untuk rencananya besok pada saat pesta yang diadakan di hotel milik NX Grup yang berarti sekarang sudah menjadi milik Raymond.


"Lihat saja Ray, kamu pasti akan menjadi milikku seutuhnya besok," Clara menyeringai ketika berbicara dengan dirinya sendiri.


__ADS_2