Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
69. Perfect!


__ADS_3

Tring!


Suara notifikasi pesan dari ponsel Caramel membuat Raymond mengalihkan perhatiannya dari kemudinya.


"Siapa Sayang?" Raymond bertanya karena penasaran.


Selalu saja Raymond ingin tahu siapa yang menghubungi Caramel dan siapa saja yang berbalas pesan dengan istrinya itu.


"Mommy ngajak beli perlengkapan untuk aku menghadiri pesta di hotel," jawab Caramel sambil membalas pesan untuk Mommy Grace.


"Kapan?" tanya Raymond menyelidik.


"Sekarang," Caramel tersenyum lebar yang membuat pipinya terlihat chubby dan membuat Raymond menjadi gemas.


"Aku antar ya sekarang. Di mana?" kini tangan Raymond sudah berada di pipi Caramel karena benar-benar merasa gemas pada istrinya itu.


"Iiih... sakit...," Caramel melepaskan tangan Raymond dari pipinya.


"Kata Mommy di butik yang biasanya Mommy kunjungi. Kamu tau Sayang?" Caramel menghadap ke arah Raymond untuk menunggu jawabannya.


"Tau lah, aku kan sering diajak Mommy ke sana hanya untuk mengantarnya," Raymond terkekeh mengingat dirinya selalu di paksa Mommy nya menemaninya ke butik.


"Pasti wajah kamu gak enak dilihat deh," kini giliran Caramel yang terkekeh membayangkan wajah Raymond yang sedang kesal menunggu Mommy berbelanja.


"Menunggu wanita berbelanja itu membosankan, pasti lama hanya untuk memilih barang," Raymond memberikan penjelasan pada Caramel tentang keengganannya mengantar wanita berbelanja.


"Termasuk aku dong," Caramel memajukan wajahnya mendekat pada Raymond untuk memperjelas jawaban dari Raymond.


"Aku tidak akan bosan menunggumu di kamar," jawab Raymond sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Dasar mesum!" Caramel memalingkan wajahnya menyembunyikan rona merah yang tersirat di wajahnya ketika mendengar Raymond mengatakannya.


"Cuma sama kamu Sayang... gimana kalau kita buktikan sekarang? Itu ada hotel di depan," Raymond menggoda Caramel.


Sontak saja Caramel menoleh padanya dan menatapnya tidak percaya dengan apa yang barusan Raymond katakan padanya.


"Atau nanti malam aja?" Raymond mengedipkan matanya sambil terkekeh melihat reaksi istrinya yang melongo seakan meragukannya.


"Eh ngapain berhenti? Udah ditungguin Mommy dari tadi," Caramel gugup dan mengalihkan pandangannya dari wajah Raymond ke arah sekitar di luar mobil.


"Udah sampai Sayang. Tuh lihat tulisannya butik bukan hotel," Raymond terkekeh senang bisa menjahili istrinya.


Caramel menatap tajam Raymond dan berkata,

__ADS_1


"Iiish... Awas aja nanti, pokoknya gak-" ucapan Caramel menggantung karena di sahut oleh Raymond.


"Gak ada jatah?" sahut Raymond menirukan Caramel berbicara.


Caramel mengangguk seraya berkata,


"Tuh tau."


"Kamu lupa aku bisa menculikmu dan mengurungmu?" Raymond terkekeh dengan melihat raut wajah Caramel yang kini menjadi kesal.


Tiba-tiba saja tangan Raymond dengan cepatnya meraih tengkuk Caramel dan mendekatkan wajah Caramel pada wajahnya. Raymond kembali mencium bibir Caramel namun hanya sebentar. Caramel yang kaget hanya diam saja menikmati ciuman Raymond yang biasanya membuatnya melayang.


"Udah, nanti aja dilanjut, kasihan Mommy nungguin," Raymond menjauhkan wajah Caramel dari wajahnya dan melepaskan tangannya dari tengkuk Caramel sambil tersenyum jahil.


Caramel hanya diam saja merasa tidak percaya bahwa dia sekarang ini benar-benar sedang dipermainkan oleh Raymond, suaminya sendiri.


"Silahkan Nyonya Raymond Xavier," Raymond membukakan pintu mobil Caramel dan mempersilahkannya turun.


Satu tangan Raymond terulur untuk membantu Caramel keluar dari mobil dengan tangan satunya lagi menghalangi kepala Caramel agar tidak terbentur atap pintu mobil.


"Mom," Raymond menyapa Mommy Grace ketika masuk ke dalam butik dengan tangannya memeluk erat pinggang Caramel.


Mommy Grace menoleh ke arah Raymond dan Caramel yang datang, dan dia tersenyum senang melihat anak dan menantunya yang sangat romantis.


Selama ini Daddy Nathan tidak pernah mau jika diminta Mommy Grace untuk mengantarnya ke butik ataupun berbelanja. Oleh sebab itulah Raymond yang selalu menjadi korban Daddy nya untuk mengantarkan Mommy nya ke butik.


Daddy Nathan melihat Raymond dengan tatapan yang seolah bertanya pada Raymond.


"Tidak Dad, hanya aneh saja melihat Daddy di sini. Biasanya selalu nyuruh Ray yang Nganter Mommy ke sini," Raymond terkekeh melihat ekspresi Daddy nya yang merasa kesal mendengar ucapannya.


Namun Daddy Nathan kali ini ingin membuat Raymond kalah darinya. Daddy Nathan berdiri menghampiri Mommy Grace dan meraih pinggangnya untuk mendekat tak berjarak darinya.


"Mana mungkin Daddy bisa membiarkan wanita cantik ini pergi sendirian," ucap Daddy Nathan sambil melihat rona merah yang tersirat di kedua pipi Mommy Grace.


"Ck, bilang aja Daddy gak mau kalah sama Ray," Raymond mempererat pelukannya sehingga tubuh Caramel semakin menempel padanya.


"Karena Mommy mu ini wanita tercantik dan terbaik diantara wanita yang pernah Daddy temui," ucapan Daddy Nathan berhasil membuat Mommy Grace semakin merona.


"Ray juga tidak mau jauh dari bidadari nya Ray," Raymond berucap dengan memandang Caramel dan tangannya memegang dagu Caramel kemudian menciumnya sekilas.


"Ck, anak kurang ajar. Niat banget buat Daddy nya iri. Dasar bucin," Daddy Nathan mengakui kekalahannya pada Raymond, bukan karena Daddy Nathan tidak bisa melakukannya, hanya saja Daddy Nathan menjaga wibawanya sebagai pemimpin dari NX Group di tempat umum.


"Hahaha... Daddy... Daddy... Ray tau Daddy bagaimana, jadi Daddy jangan coba-coba bersaing dengan Ray," Raymond tertawa dengan percaya dirinya.

__ADS_1


"Udah... udah... kalian kan sama, gak ada bedanya, jadi gak usah berdebat. Ayo Sayang kita pilih gaunnya," Mommy Grace melerai suami dan anaknya itu, kemudian dia menarik tangan Caramel untuk diajak memilih gaun yang akan mereka gunakan untuk menghadiri pesta perayaan ulang tahun perusahaannya.


Caramel merasa bahagia berada diantara keluarga Xavier, karena ketakutannya selama ini sebelum menerima lamaran Raymond ternyata tidak terbukti. Dulu dia takut jika keluarga Raymond akan memandangnya rendah dan tidak menyetujui hubungan mereka, namun kini semua itu terbantah, karena Mommy Grace dan Daddy Nathan sangat menyayanginya seperti anak mereka sendiri.


Caramel memilih-milih gaun yang akan dipakainya pada pesta yang akan diadakan di hotel esok hari. Caramel masuk ke dalam ruang ganti ketika sudah memilih satu gaun. Dan dia segera keluar untuk memperlihatkan pada Raymond yang berada di luar ruang ganti untuk menunggunya.


Mata Raymond terpanah ketika melihat sosok wanita yang dicintainya keluar dari ruang ganti dengan balutan gaun yang sangat indah dan elegan. Gaun itu sangat pas di tubuh Caramel yang terbilang seksi dan gaun tersebut kelihatan sangat terbuka di bagian tertentu.


"Pefect!" Raymond mendekat pada Caramel dan lagi-lagi tanpa permisi dia mencium sekilas bibir Caramel yang sudah menjadi candunya.


"Ehem... tahan Ray," Daddy Nathan memperingatkan Raymond ketika melihat Raymond mencium bibir Caramel.


Raymond menoleh dan terkekeh pada Daddy nya, kemudian dia berkata ketika melihat Mommy nya keluar dari ruang ganti,


"Sekarang giliran Daddy yang melakukannya."


Raymond menarik tubuh Caramel ke dalam ruang ganti dan meminta gaun yang lain untuk dicoba oleh Caramel.


"Bukannya katamu ini perfect Sayang, kenapa harus ganti?" Caramel bingung dengan permintaan Raymond padanya untuk mencoba gaun yang lain.


"Karena ini terlalu sempurna. Aku gak mau tubuh seksi kamu ini dilihat oleh orang lain. Kamu coba pakai yang ini, dan yang tadi kita beli untuk kamu pakai jika hanya berdua bersamaku saja," Raymond berucap seraya membantu membuka resleting gaun yang dipakai oleh Caramel.


"Sayang, lebih baik kamu keluar aja deh," Caramel mengusir Raymond keluar dari ruang ganti.


"Kenapa?" tanya Raymond heran.


"Aku takut kamu khilaf lihat aku ganti di sini," Caramel menjelaskan karena dia tidak ingin kedua orang tua Raymond berpikiran yang tidak-tidak dengan mereka.


"Bukannya sah-sah saja, karena kita suami istri," Raymond terkekeh sambil memeluk pinggang Caramel dari belakang menghadap cermin.


Bayangan mereka yang terlihat di cermin sangat indah, membuat Raymond ingin sekali mengurung istrinya itu agar tetap bersamanya.


Tangan Raymond meneruskan kembali untuk membuka resleting yang berada di belakang gaun yang dipakai Caramel. Tangannya mulai menyibak bagian punggung Caramel yang resletingnya telah terbuka dan mengecup punggung tersebut dan merambah ke lehernya sehingga membuat desiran aneh pada tubuh Caramel.


Merasa Caramel sudah terhanyut oleh sentuhannya, Raymond segera membalikkan badan Caramel dan mencium bibirnya sangat menuntut hingga tangan-tangan Raymond tanpa sadar sudah berada di bagian-bagian tubuh Caramel yang menjadi favoritnya.


Tok... tok... tok..


"Ray.. cepat keluar, biarkan istrimu ganti biar cepat selesai," suara Mommy Grace membuat kegiatan Raymond dan Caramel terhenti.


Caramel tersadar dan segera dia mendorong Raymond keluar dari ruangan tersebut.


"Gawat, kenapa aku jadi ikut-ikutan mesum sama kayak Raymond?" ucap Caramel sambil melihat dirinya di cermin dengan kedua tangannya berada di pipinya memegang rona merah yang menghiasi kedua pipinya itu.

__ADS_1


"Rasanya nagih," Caramel terkekeh sambil melihat di cermin dan tangannya kini memegang bibirnya yang masih merasakan nikmatnya sentuhan bibir dan ciuman dari Raymond.


__ADS_2