
Seminggu sudah Nindi tidak masuk kerja karena mendapatkan surat peringatan dan skors selama satu minggu. Dalam satu minggu itu dia berpikir bagaimana caranya agar dia bisa memberi pelajaran pada Caramel dan menjauhkannya dari Raymond. Dan dia akan memutar otaknya agar dirinya bisa menggantikan posisi Caramel sebagai istri Raymond.
Seminggu ini Raymond disibukkan dengan kerjaannya di restoran dan pekerjaannya di perusahaan Daddy nya yang lain. Dia mulai beradaptasi dengan beberapa perusahaan milik Daddy nya yang akan dia ambil alih nanti.
Sedangkan Caramel, dia sungguh bosan dengan berdiam diri di rumah. Dia benar-benar menjadi tawanan suaminya di dalam rumah mewah dengan beberapa pelayan yang siap melayaninya. Sungguh Caramel berada di dunia yang berbeda dari dunianya sebelumnya.
"Sayang, kita akan berangkat honeymoon beberapa hari lagi," ucap Raymond dengan melepas kemejanya di dalam kamar ketika hendak masuk ke dalam kamar mandi.
Caramel terdiam melihat pemandangan di depannya. Sungguh pemandangan yang indah, pria tampan, berbadan tegap dan gagah, berdada bidang, perutnya berotot bak roti sobek yang menggugah selera. Caramel menelan ludahnya tanpa berkedip.
Sungguh indah ciptaan Mu ya Tuhan...
"Sayang... sayang... Baby... Honey....," Raymond memanggil Caramel yang menatapnya tanpa berkedip.
Raymond pun melangkah maju mendekati istrinya. Tangan Raymond bergerak-gerak di depan wajah Caramel, namun tetap saja Caramel tatapannya tak berpindah dari bagian tubuh Raymond yang bertelanjang dada.
Raymond tersenyum karena mengerti arah tatapan mata istrinya. Dahi Caramel disentil oleh jari tangan Raymond sehingga membuat khayalan Caramel tentang tubuh gagah berotot suaminya hilang.
"Awww... iiiih sakit tau," Caramel memegang dahinya dan bibirnya mengerucut.
"Pengen pegang? Ini.. nih pegang gratis," Raymond terkekeh melihat istrinya.
"Iiiih enggak kok," sanggah Caramel yang kemudian mengerucutkan kembali bibirnya agar rasa gugupnya tidak kelihatan.
"Kenapa malah bengong gitu? Pasti pikirannya lagi travelling bayangin yang enggak-enggak," tanya Raymond yang kini mulai menggoda istrinya.
"Dih, mana ada? situ aja yang kepedean," sanggah Caramel sambil menoleh ke arah lain agar suaminya tidak melihat wajahnya yang gugup.
"Oooh gak mau ya? Tapi itu kode banget bibirnya di monyong-monyongin?" goda Raymond kembali.
__ADS_1
Seketika Caramel menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya dan menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan suaminya.
Kejahilan Raymond pun tidak sampai disitu saja. Tangan kiri istrinya diletakkan di perutnya yang berotot, dan digerakkan oleh Raymond dari atas ke bawah.
Badan Caramel menegang, ada gelenyar aneh dalam tubuhnya. Matanya menutup dan bibirnya masuk ke dalam mulutnya. Entah apa yang dirasakannya sekarang. Hanya dengan menyentuh badan suaminya saja dia seperti mendapat sengatan listrik.
Dengan jahilnya Raymond melingkarkan tangan kirinya ke pinggang istrinya lalu dia merapatkan tubuh istrinya dengan tubuhnya.
Caramel tersentak kaget hingga membuka matanya dan membuka lebar mulutnya. Mulut yang terbuka lebar itu langsung disambut oleh Raymond.
Raymond melahap bibir istrinya dengan penuh kenikmatan. Caramel yang tadinya kaget dan sedikit memberontak, kini larut dalam perlakuan suaminya. Mereka saling menikmati bibir satu sama lain. Saling mencecap dan bertukar saliva.
Setelah beberapa menit Raymond menghentikan aktivitas itu.
"Gawat sayang, rasanya aku gak bisa nahan. Mending aku mandi aja," Raymond mengecup bibir istrinya sekilas dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Caramel hanya terdiam mematung, karena dia tidak percaya suaminya bisa menghentikan aktivitas mereka yang sudah membangkitkan hasrat Caramel yang terpendam akibat kedatangan tamu bulanan selama satu minggu.
Caramel lupa jika Raymond belum mengetahui jika dirinya sudah bebas dari tamu bulanannya.
Caramel tidak terima karena Raymond menggantungkan keinginannya tadi. Caramel memulai aksi balas dendamnya. Dia memilih mini dress seksi warna merah yang sangat ketat hingga membentuk tubuhnya dan tidak berlengan.
Caramel berganti dengan mini dress tersebut dan dia bersiap untuk melancarkan aksinya.
Tunggu saja pembalasanku wahai Tuan yang angkuh, seringaian Caramel terbit pada saat dia membatin.
Caramel bersiap ketika suara pintu kamar mandi dibuka. Dia berdiri menghadap kaca yang menghadap balkon kamar seolah dia menikmati pemandangan. Dengan kemolekan dan keseksian tubuhnya dia membuat gestur tubuh yang menggoda untuk suaminya.
Raymond keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya dan bertelanjang dada, sedangkan tangannya mengusap-usap rambutnya dengan handuk kecil.
__ADS_1
Namun penglihatannya terganggu dengan sesuatu yang ada di dekat balkon. Mata Raymond terpanah pada satu objek yang mengganggu matanya.
Raymond melemparkan handuk kecil yang dipergunakan untuk mengeringkan rambutnya ke sembarang arah. Dan dia berjalan mendekat kemudian melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu, wanita yang tubuhnya sudah dikenalinya. Dari belakang saja dia sudah tergoda, apalagi dari depan, sungguh Raymond tergila-gila padanya.
Caramel tersenyum karena suaminya memakan umpannya. Kini dia akan melancarkan aksinya sesuai yang dia rencanakan.
Raymond mengendus ceruk leher istrinya dalam. Menikmati aroma tubuh istrinya yang sudah menjadi candu baginya. Diciuminya leher dan pundak istrinya dari belakang.
Caramel hanya diam menahan rasa yang tadi datang pada saat mereka ciuman, dia kembali menutup matanya dan menggigit bibirnya agar suara desisannya tidak keluar.
Tangan Raymond bergerilya ke semua bagian tubuh istrinya. Mengusap dan meremas bagian-bagian tertentu yang menjadi favoritnya.
Gelenyar aneh itu kembali dirasakan oleh Caramel. Sekuat tenaga dia menahan namun dikalahkan oleh permainan tangan dan mulut suaminya.
Buaian demi buaian dilayangkan oleh tangan Raymond. Hingga Caramel terbuai dan tidak terasa, sekarang dia sudah berada di dalam kungkungan suaminya.
Caramel membuka matanya dam dia sudah berada di atas ranjang. Suaminya yang mengungkung tubuhnya menyeringai dengan mata yang seolah ingin menerkamnya.
Di saat Caramel melihat tubuhnya, ternyata dress yang dikenakannya tadi sudah hilang entah kemana suaminya itu melemparnya. Kini yang tersisa hanya pakaian dalamnya yang berwarna merah berenda membuat Raymond semakin berkabut hasrat.
Secara perlahan Raymond pun melucuti pakaian dalam istrinya itu dengan mata yang berkabut seolah menemukan harta karun.
Caramel merutuki kebodohannya. Seharusnya dia yang membalikkan keadaan, bukannya dia yang terperdaya. Tadinya dia ingin suaminya terpancing dan pada saat sudah menginginkan lebih, Caramel menghentikannya sebagai balas dendam untuk ciuman Raymond yang berhenti tadi padahal Caramel sangat menginginkan lebih.
Aaaah... bodohnya aku, kenapa jadi aku yang terjebak? Kenapa aku tadi sangat menikmatinya? Harusnya aku bisa menahannya agar dia tau rasanya menginginkan lebih tapi digantungkan karena berhenti. Mampus, kali ini aku pasti akan habis olehnya. Tidaaaak....
"Kamu nakal sayang, kok gak bilang kalau udah pergi tamu bulanannya? Tau gitu dari tadi kita bikin cucu buat Daddy," ucap Raymond ketika berada di atas tubuh istrinya dengan suara parau.
Hah, apa? Jadi tadi dia tidak tau kalau tamu bulanan ku sudah pergi? Bodohnya aku yang memasang perangkap untuk diriku sendiri.
__ADS_1
Dan terjadilah aksi saling balas dendam di atas ranjang mereka diiringi dengan suara-suara yang membuat kamar mereka tidak hening seperti sebelumya.