
Jenny sangat jengah melihat Raymond yang sangat perhatian dengan istrinya. Bahkan hanya untuk makan saja Raymond menyuapinya. Nafsu makan Jenny hilang melihat keromantisan yang disuguhkan oleh Raymond bersama dengan Caramel di depannya.
Sebel.... sebel... sebel... niat hati ingin berduaan dengan Raymond dan menanyakan perasaannya padaku, kenapa jadi seperti ini? Kenapa sih wanita itu selalu mengikutinya? Dan lagi apa? Dia hamil? Apa aku harus membatalkan niatku untuk berbicara dengannya?
Raymond memang sedari dulu sangat perhatian dan memanjakan istrinya, namun setelah mengetahui Caramel telah hamil, Raymond lebih perhatian lagi padanya, bahkan Raymond overprotective sekali pada Caramel. Dia tidak mau terjadi hal apapun dengan istri dan anak yang masih dalam kandungannya.
"Sayang, aku mau ke toilet dulu," Caramel berpamitan pada Raymond ketika akan beranjak dari kursinya.
"Tunggu, aku antar," ucap Raymond tegas bagai perintah bagi Caramel.
Caramel pun masih berdiri dan belum beranjak sama sekali, namun Jenny berbicara seolah mengusir Caramel untuk pergi ke toilet sendiri.
"Ray, aku ingin bicara berdua denganmu. Biarkan dia ke toilet sendiri," Jenny mengeluarkan suaranya ketika Raymond akan berdiri dari kursinya.
"Kita bicara setelah aku mengantar istriku ke toilet," Raymond menolak keinginan Jenny.
"Ini penting Ray. Dia bisa kan ke toilet sendiri," ucapan Jenny ini membuat Caramel merasa tersinggung.
Dengan kesal Caramel berjalan meninggalkan meja tersebut menuju toilet. Ingin sekali rasanya Caramel mendengarkan apa yang akan dibicarakan oleh Jenny pada Raymond.
"Sayang, tunggu!" Raymond berseru memanggil Caramel namun Caramel tidak menghentikan langkahnya.
"Ray, dengarkan aku sebentar saja," suara Jenny melemah, memohon pada Raymond dengan memegang tangan Raymond untuk menghentikan Raymond menyusul Caramel.
Caramel kesal karena Raymond tidak menyusulnya, padahal biasanya dia akan selalu menyusul Caramel meskipun Caramel sedang marah.
Aku ingin sekali mendengarnya, tapi bagaimana caranya? Aku tidak bisa berada di sana dan aku harus ke toilet. Aku sudah tidak sanggup menahannya, Caramel berkata dalam hatinya sambil melihat sekitarnya untuk mencari solusi dari keinginannya itu.
Tiba-tiba Caramel mempunyai ide gila yang entahlah akan berhasil atau tidak. Caramel mendekati seorang waitress dan meminta bantuannya. Dia meminta tolong agar merekam Jenny dan Raymond selama Caramel berada di toilet. Caramel memberikan sejumlah uang dan ponsel miliknya pada waitress tersebut.
__ADS_1
Sebenarnya waitress tersebut menolaknya, tapi Caramel memohon dengan menceritakan bahwa dia istri dari pria itu dan sedang mengandung anaknya, tapi wanita itu sepertinya merayu suaminya. Oleh sebab itu Caramel berusaha menemukan bukti agar bisa membuat wanita itu tidak lagi merayu suaminya. Akhirnya waitress tersebut mau menolong Caramel karena dia juga seorang istri yang tidak mau jika suaminya di dekati oleh wanita lain.
Caramel berharap-harap cemas di dalam toilet. Dia takut jika waitress tersebut ketahuan oleh Raymond, karena Raymond memang sangat jeli sekali terhadap sekitarnya. Dan satu hal yang sangat membuat Caramel cemas, dia takut Raymond terpedaya oleh Jenny yang mempunyai kedekatan dengan Raymond pada masa lalu.
Bukannya Caramel tidak percaya pada Raymond, hanya saja dia tidak suka melihat Raymond dengan teman masa lalunya seperti Jenny dan Clara.
Waitress tersebut menaruh ponsel Caramel di saku celananya dengan kamera yang menyembul di kantongnya. Dia berada di jarak aman dan mengambil sudut yang tepat dengan mengira-iranya.
"Ada apa Jen, kenapa kamu menghentikanku menyusul istriku? Ayo cepatlah, aku ingin segera menyusulnya," ucap Raymond dengan tergesa-gesa dan tidak tenang, matanya selalu melihat ke arah toilet.
"Apa kamu sebegitu cintanya pada wanita itu sehingga kamu tidak ingin berpisah sedetikpun darinya?" Jenny bertanya dengan kesal pada Raymond.
"Ya aku sangat mencintainya melebihi diriku sendiri. Apa masalah bagimu?" Raymond berucap kesal dengan tatapan mata yang juga penuh kekesalan pada Jenny.
"Lalu apa maksudmu sedari dulu mendekatiku dan melindungiku saat ada yang menggodaku? Apa maksudmu menyuruhku untuk mendalami pastry? Dan sekarang kamu menyuruh wanita itu untuk belajar pastry denganku. Apa maksud semua ini Ray?" Jenny mengatakan semua pertanyaannya dengan berapi-api.
"Aku menyukaimu Ray. Dari dulu aku mencintaimu. Kamu yang memberi harapan itu padaku. Kamu selalu membantuku, menolongku jika aku di bully dan melindungiku dari laki-laki yang menggodaku. Dan seperti yang kamu bilang, kamu menyuruhku mendalami pastry agar kita bisa bekerja bersama. Aku merasakan itu, kamu menyukai, aku tau itu Ray," Jenny sudah tidak bisa lagi menahan perasaannya.
"Kau gila! Tidak pernah sedetikpun aku menyukaimu, cinta pertamaku hanya untuk istriku Caramel, dan dia juga yang menjadi cinta terakhirku. Lupakan aku! Kamu berkhayal selama ini tentang hubungan pertemanan kita," Raymond sangat marah dengan tuduhan Jenny yang mengatakan bahwa Raymond menyukainya selama ini.
"Ray, aku tidak apa jika hanya menjalani hubungan dibelakang istrimu karena aku mencintaimu," Jenny mangatakannya untuk menahan Raymond yang akan beranjak dari kursinya.
"Kamu benar-benar gila! Aku tidak akan melakukan itu sampai kapanpun. Karena cintaku hanya untuk Caramel, istriku yang sangat aku cintai," Raymond menegaskan di setiap katanya.
"Apa hebatnya wanita itu?" Jenny meninggikan suaranya tidak terima dengan jawaban Raymond.
"Di lebih baik dari segi apapun darimu. Dan yang paling lebih karena dia bisa membuatku jatuh cinta tiap hari padanya, tiap hari cintaku bertambah padanya," ucap Raymond sebelum dia meninggalkan meja tersebut menuju toilet untuk menyusul istrinya.
Caramel terlonjak kaget mendapati Raymond yang berdiri di depan toilet wanita dengan senyum manisnya menyambut Caramel keluar dari toilet tersebut.
__ADS_1
"Udah selesai?" tanya Raymond yang masih menatap Caramel dengan senyum manisnya.
"Kok di sini? Katanya kalian mau bicara," Caramel menjawab pertanyaan Raymond dengan pertanyaan yang bernada kesal.
Raymond meraih pinggang Caramel dengan tangannya dan mendekatkan tubuh istrinya lebih dekat padanya, bahkan tak berjarak. Raymond tahu Caramel saat ini sedang kesal padanya. Raymond mendekatkan wajahnya pada wajah Caramel, namun kurang sedikit saja bibir mereka bersentuhan, Raymond mengalihkan bibirnya ke telinga Caramel.
"Kita pulang yuk, kangen jenguk dedek bayi," Raymond berbisik di telinga Caramel.
Caramel kikuk karena matanya sudah terpejam sedari tadi, dan ternyata Raymond mengalihkan tujuannya.
Raymond menangkupkan kedua tangannya pada kedua pipi Caramel dan menggesek-gesekkan hidung mancung mereka karena gemas melihat istrinya yang merasa kesal tapi saat itu juga memejamkan matanya pada saat wajah mereka berdekatan. Sekilas Raymond mencium bibir Caramel dan meraih pinggangnya untuk mengajaknya pergi dari depan toilet yang sepi itu.
Caramel diam karena merasa dirinya seperti terhipnotis dengan perlakuan manis Raymond padanya. Dia menurut saja ketika Raymond mengajaknya berjalan menuju parkiran mobil. Hingga pada saat dia masuk dan duduk di dalam mobil dia baru mengingat sesuatu.
"Eh tunggu, Jenny gimana?" Caramel bertanya pada Raymond.
"Biarkan saja dia. Aku malas membahasnya," jawab Raymond sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Tunggu sebentar, aku meninggalkan ponselku di toilet. Kamu tunggu saja di sini. Aku akan segera mengambilnya," Caramel berjalan cepat tanpa mendengarkan dulu jawaban dari Raymond.
"Sayang, tunggu!" teriak Raymond dari dalam mobilnya.
"Apa aku harus memarkirkannya kembali? Aku takut dia lari-lari atau berjalan cepat seperti tadi," ucapnya pada dirinya sendiri sambil berpikir.
Akhirnya Raymond memutuskan untuk memarkirkan kembali mobilnya dan dia menyusul istrinya ke dalam restoran.
Caramel sudah menemukan waitress tadi dan meminta ponselnya kembali. Dan pada saat dia akan keluar, tiba-tiba tangannya dicekal oleh seseorang.
"Dasar wanita tidak tau diri!"
__ADS_1