
Plak!
Caramel menampar pipi Nindi. Entah keberanian dari mana Caramel tiba-tiba berani menampar Nindi. Mungkin dia sudah jengah dengan sikap Nindi padanya.
"Kurang ajar kamu ya," ucap Nindi sambil memegang pipi kirinya yang ditampar Kiki dengan tangan kirinya, sementara tangan Nindi yang kanan sudah terangkat hendak membalas untuk menampar Caramel.
Raymond segera meraih tubuh Caramel dan mendekapnya. Dia menatap penuh kemarahan pada Nindi. Sedangkan Indra yang mengerti situasinya segera mencekal tangan kanan Nindi yang sepertinya akan membalas tamparan Caramel dengan menamparnya kembali.
Setelah itu Raymond dengan segera membawa istrinya meninggalkan toko tersebut.
"Kamu gila? Kamu mau masuk penjara lagi?" Indra berteriak marah pada Nindi di dalam toko perhiasan tersebut.
Karena merasa malu, Indra segera pergi meninggalkan toko tersebut tanpa membawa Nindi bersamanya. Nindi berlari mengejar Indra yang berjalan cepat dengan langkah lebarnya.
"Sayang, tunggu, sayang....," teriak Nindi dengan berlari mengejar Indra.
"Kamu tau kan wanita itu yang menamparku duluan?" ucap Nindi ketika sudah berhasil meraih lengan Indra.
"Aku tau, dan itu karena mulut pedas mu itu," jawab Indra dengan emosi.
"Karena dia aku bisa dipenjara," ucap Nindi dengan kesal.
"Hey kau lupa? Itu semua karema kecerobohan mu. Seandainya kelicikanmu itu tak bercelah, pasti kamu tidak akan dengan mudahnya tertangkap," Indra menghentikan langkahnya dan tersenyum meremehkan memandang Nindi.
"Aku tidak ada kesempatan lain waktu itu, dan juga hampir saja aku berhasil jika tidak ada wanita itu disampingnya," jawab Nindi kesal.
"Kamu yang bodoh, harusnya setiap kamu bertindak pikirkan dulu. Awas saja jika rencana kita gagal karena kebodohan dan kecerobohan mu," ancam Indra pada Nindi.
"Tenang aja, aku tidak akan gagal melakukannya asalkan kamu membantuku sayang," rayu Nindi dengan nada menggoda dan memepetkan tubuh bagian depannya pada tubuh Indra bagian depan.
"Aah kamu selalu bisa membangkitkan ku. Ayo kita pergi ke rumah sekarang," Indra menarik tangan Nindi menuju mobilnya.
"Belanjanya, belanjanya gimana?" tanya Nindi sambil kewalahan mengikuti langkah Indra yang cepat karena tangannya yang ditarik oleh Indra.
Langkah kaki Indra berhenti, kemudian dia berbisik ditelinga Nindi,
__ADS_1
"Belanjanya bisa nanti, yang penting jinakkan dulu punyaku."
Nindi diseret masuk ke dalam mobil Indra, setelah itu Indra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah yang ditempati oleh Nindi.
Sedangkan di sebuah rumah mewah, Rasti, istri dari Indra Rahmadi sedang menerima laporan dan melihat semua bukti foto dan video yang dikirimkan oleh orang suruhannya yang diperintahkan untuk selalu mengawasi Indra setiap waktu.
Rasti sedang mengumpulkan bukti tentang perselingkuhan, kecurangan dan mungkin saja ada hal buruk lain lagi yang dilakukan oleh Indra.
Tanpa sepengetahuan Indra dan Nindi, mereka dengan nyamannya melakukan kegiatan panas mereka seperti biasanya. Bahkan Indra menginap di sana karena Rasti berpamitan akan pergi ke luar negeri selama beberapa hari.
Seperti hewan ternak yang baru dikeluarkan dari kandangnya, Indra merasa bebas kemanapun dia pergi.
Kini dia bisa tertawa dan melakukan kesenangannya tanpa ada yang berani mengganggunya.
Berbeda dengan Raymond yang kini sedang kesusahan membujuk Caramel agar tidak mengikutinya bekerja.
Hari demi hari berlalu tanpa ada gangguan dari siapapun. Raymond dan Caramel melalui harinya dengan sangat bahagia dan romantis seperti mereka baru saja menikah.
Caramel mengikuti kemanapun Raymond pergi, hingga kerja pun selalu ditungguinya. Dengan ngototnya Caramel mengikuti suaminya bekerja mulai dari berangkat sampai pulang.
Bukannya Raymond tidak senang, dia malah bersemangat bekerja, tapi dia tidak suka melihat Caramel yang lagi-lagi bisa dekat dan bercanda dengan manusia yang berjenis laki-laki.
Caramel memang sedang bermain dengan anak tersebut, namun tamu laki-laki tersebut membuat Raymond cemburu. Bagaimana tidak, laki-laki itu masih muda, tampan dan berpenampilan menarik. Meskipun masih jauh berbeda dengan Raymond yang ketampanannya lebih di atas laki-laki tersebut.
Raymond tidak konsentrasi bekerja, rasanya lebih baik istrinya itu dikurung di rumah saja. Dulu ketika Caramel bekerja memakai seragam banyak yang menyukainya tak terkecuali para tamu laki-laki. Dan kini, lihatlah Caramel yang memakai dress selutut warna pink, sungguh sangat memikat.
Raymond sungguh resah, bolak-balik dari kitchen ke restoran hanya mengawasi istrinya. Padahal saat ini restoran dan arena permainan rekreasi keluarga sangat ramai, namun dia menyempatkan dirinya untuk mengawasi istrinya.
Caramel yang merasa capek masuk ke dalam restoran untuk mengambil minum di area bar. Tapi ada tangan yang menariknya ke dalam gudang bar. Raymond membekap bibir Caramel dengan bibirnya.
Awalnya Caramel kaget karena tangannya tiba-tiba ditarik sehingga tubuhnya ikut masuk ke dalam bar, namun setelah mengetahui jika itu adalah suaminya, Caramel lega. Dan kini dia menyambut bibir Raymond dengan penuh hangat dan perasaan cinta.
"Kamu nakal sayang, kamu di sana malah tertawa dengan pria lain," ucap Raymond setelah melepaskan pangutannya.
"Kapan? Dimana?" tanya Caramel bingung.
__ADS_1
"Tadi di depan restoran kamu bercanda bersama pria yang menggendong anak kecil," Raymond mulai menampakkan kecemburuannya.
"Oooow itu," Caramel menahan tawanya melihat suaminya yang posesif.
"Ketawa hmm ketawa?" ucap Raymond sambil menggelitik pinggang dan perut Caramel.
"Ammpuuun... ampuun... lepasin dulu," pinta Caramel disela tawanya.
"Liat aja nanti kamu pasti aku hukum," Raymond kembali mengikis jarak antara tubuhnya dan tubuh Caramel.
"Mmm cowok yang tadi itu single father loh. Masih muda ya," ucap Caramel untuk membuat suaminya kembali cermburu.
"Bahkan kamu tahu statusnya?" tanya Raymond kesal.
Caramel mengangguk dan tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya.
"Terus kalian ngobrol apa lagi?" tanya Raymond ketus.
"Apa ya? Lupa apa aja, banyak sih tadi," jawab Caramel sambil berpikir
Raymond meninju tembok dengan kepalan tangannya, kemudian dia menjambak rambutnya dengan kasar.
"Sayang, tangan kamu... kamu kenapa sih pakai ninju-ninju tembok gitu? Temboknya salah apa?" Caramel memegang tangan Raymond yang terluka akibat meninju tembok dan meniupnya.
"Aku gak suka kamu dekat-dekat dengan cowok," ucap Raymond kesal sambil tangan kirinya menarik pinggang Caramel mendekat padanya.
"Gak dekat kok, tadi aja jaraknya satu meter," ucap Caramel dengan mengerjap-ngerjapkan matanya lucu.
Raymond jadi gemas melihat istrinya itu, tapi dia tahan karena dia dalam mode ngambek dan marah.
"Gak, tadi aku lihat kalian deket banget, sambil ketawa-ketawa lagi," Raymond tetap menegaskan apa yang dia lihat.
"Masa' sih, padahal tadi udah aku ukur jaraknya satu meter kok," ucap Caramel.
"Emangnya kamu tau jaraknya?" Raymond bertambah kesal.
__ADS_1
"Kan aku ukur pakai meteran. Hehehehe... udah deh sayang gak usah cemburu gitu, yuk aku obati dulu ini lukanya," Caramel mengecup sekilas bibir suaminya kemudian dia menarik tangan suaminya menuju kantor.
"Onty....."