
Zayn merasa sangat ber-ga*rah ketika melihat tubuh Clara yang tidak berbalut apapun. Tubuh itu sangat diinginkan oleh Zayn saat ini karena Zayn juga dalam pengaruh obat yang sama dengan Clara, obat yang dicampurkan oleh Clara ke dalam minuman yang hendak dia berikan pada Raymond.
Kini mereka berdua tidak bisa menahannya lagi, menahan gelora yang mendesak mereka untuk segera melampiaskan keinginannya dengan melakukan hal yang sangat diinginkan oleh pasangan suami istri.
Zayn memainkan semua aset yang dimiliki oleh Clara dengan mulut dan lidahnya sehingga membuat Clara mengerang dan mendesis kenikmatan. Clara dibuat melayang oleh sentuhan dan permainan lidah Zayn.
Clara sangat menikmati semua perlakuan dari Zayn dan Zayn pun demikian. Dia sangat menikmatinya karena hal inilah yang sangat diinginkannya, menjadikan wanita yang dicintainya itu sebagai miliknya seutuhnya.
Zayn mengangkat tubuh Clara untuk pindah ke dalam kamar. Tubuh Clara diletakkan Zayn di atas ranjang dan tanpa menunggu waktu yang lama, Zayn segera melakukan kembali sentuhan-sentuhan tangan dan mulut serta permainan lidahnya pada tubuh Clara.
Zayn merasa lebih bersemangat dan tertantang ketika mendengar erangan dari mulut Clara yang sedang ada di bawah kungkungannya. Hingga dia bisa menuntaskan dan mengantarkan Clara menuju kenikmatan yang sesungguhnya.
Tubuh Clara bergetar ketika mengeluarkan cairan dari miliknya. Cairan kenikmatan itu dia keluarkan selama berkali-kali, namun dia belum juga lemas, mungkin itu akibat dari obat yang dia minum tadi.
Kini Clara berganti posisi, dia sekarang yang memimpin dan Zayn yang berada di bawahnya. Clara tidak kalah dengan Zayn. Dia pun bisa membuat Zayn mengerang kenikmatan merasakan permainan mulut dan lidah Clara yang membuatnya merem melek.
Zayn dibuat pasrah oleh Clara ketika Clara berada di atas tubuhnya. Clara menggoyangkan pinggulnya seolah tidak ada habisnya tenaganya itu. Zayn menutup matanya dan mendesis merasakan goyangan yang diberikan oleh Clara.
"Faster Baby!" ucap Zayn disertai erangan ketika dia mengeluarkan cairan kental miliknya.
Clara benar-benar pintar memperlakukan Zayn. Dia sangat lihai sehingga Zayn tersenyum puas setelah miliknya menyemburkan cairan kental miliknya pada milik Clara.
Setelah itu mereka beristirahat sebentar dengan tidur saling berdekapan, namun hal itu membuat mereka menginginkan kembali hal tersebut, sehingga mereka mengulang kembali ritual tadi untuk menuntaskan rasa yang membuat mereka tersiksa jika tidak tersalurkan.
Sungguh suatu hal yang tidak bisa mereka bayangkan sama sekali. Zayn memang mencintai Clara sejak dulu, tapi dia tidak mau merusak Clara dengan berhubungan seperti ini sebelum menikah dengannya. Namun, karena rasa yang ingin dituntaskan itulah yang mendorongnya untuk mau melakukannya bersama dengan Clara ketika Clara menginginkannya melakukan itu bersamanya.
__ADS_1
Clara pun tidak pernah mengira jika dia melakukannya bersama Zayn. Dari dulu dia menganggap Zayn sebagai sahabat terdekat sehingga dia sangat nyaman berada di dekat Zayn, dan cintanya itu dia berikan pada Raymond. Entah memang benar-benar cinta yang dia rasakan pada Raymond atau dia hanya terobsesi padanya karena kesuksesannya yang membuat dia bangga menjadi orang terdekat Raymond.
Tubuh Clara dan Zayn terbaring di ranjang dengan peluh yang membasahi tubuh mereka. Ranjang itu kini menjadi berantakan dan tempat mereka bertukar peluh serta cairan yang mereka keluarkan.
Mata Clara terbuka ketika sinar matahari yang sangat terik terkena matanya yang terpejam. Perlahan-lahan Clara membuka matanya. Dia sangat kaget melihat wajah yang tidak asing baginya berada di depannya dengan kondisi yang sama dengannya, sama-sama tidak berbusana.
Clara membuka selimut yang mereka berdua pakai dan dia menemukan fakta yang membuatnya sangat terkejut, mereka sama-sama tidak memakai apapun sampai ke bawah tubuh mereka. Tubuh mereka hanya berselimutkan oleh selimut tebal dan Clara merasa ada desiran aneh dalam hatinya dan juga dalam dadanya.
Hatinya sangat senang dan nyaman ketika melihat wajah Zayn. Dan dadanya merasa kewalahan ketika jantungnya berdegup kencang memandang wajah Zayn.
Aneh, aneh sekali dirasa oleh Clara. Dia tidak ingin marah pada Zayn, dia malah sangat senang sekali melihat Zayn dan dirinya tidak memakai apapun dibawah selimut yang sama.
Mata Zayn terbuka dan memergoki Clara memandangnya sambil tersenyum.
Clara malu dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Wajahnya merona, pipi putih itu tersirat warna merah yang membuat orang lain tahu jika dirinya kini sedang malu.
"Sayang, apa kamu malu? Gak usah malu seperti itu, kita sudah-"
"Zayn, aku mau ke kamar mandi. Tolong kamu tutup matamu," ucap Clara memerintah Zayn.
"Untuk apa? Bahkan aku sudah melihat semua bagian tubuhmu semalam. Masih terekam jelas di otakku Sayang. Aku masih sangat hafal semuanya," jawab Zayn sambil terkekeh.
"Zayn!" seru Clara yang sangat malu mendengar ucapan Zayn.
Zayn tertawa melihat reaksi Clara yang sangat marah ketika dia dangat malu. Clara segera melepas selimut yang mereka pakai untuk dijadikan penutup badannya sehingga Zayn tidak memakai apapun untuk menutupi tubuhnya.
__ADS_1
"Sayang, aku tidak memakai apapun, kembalikan selimutnya," seru Zayn mengiringi Clara yang sedang berjalan menuju kamar mandi.
"Auuch...," Clara merasakan sakit pada daerah miliknya, sepertinya itu akibat kejadian semalam, sehingga membuat Clara berjalan perlahan sambil menahan rasa sakit itu agar Zayn tidak mengetahuinya.
"Apa kita perlu mandi bersama seperti kemarin?" ucap Zayn sambil terkekeh.
Clara yang sudah berada di dalam kamar mandi merasa malu dan sebenarnya dia juga menginginkannya kembali, karena sepertinya pengaruh obat tersebut belum hilang sepenuhnya. Clara yang lebih banyak meminum minuman racikannya itu lebih merasa tersiksa daripada Zayn.
Ingin sekali dia mengatakan pada Zayn jika dia juga menginginkan hal yang sama, namun rasa malu dan harga dirinya lah yang tidak bisa membuat Clara jujur pada hati nuraninya dan Zayn tentunya.
Sedangkan Zayn tahu persis bahwa dirinya masih menginginkannya, namun Clara tidak mungkin mau jika dia merasa malu seperti sekarang ini. Karena Zayn tahu jika harga diri Clara sangat tinggi.
Tok.. tok... tok..
"Sayang, aku masuk ya, aku sangat gerah ingin cepat mandi," ucap Zayn sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Ja-ja-jangan...," ucap Clara gugup.
Sayangnya ucapan gugup dari Clara merupakan lampu hijau untuknya.
Ceklek!
Pintu kamar mandi dibuka oleh Zayn. Terlihat jelas Clara yang sangat kaget dan dengan tubuh yang tidak berbalut apa-apa. Clara terdiam tidak bisa berkata apa-apa, dalam hati dia ingin mengatakan bahwa dia ingin kembali melakukannya bersama Zayn, namun mulutnya tidak bisa menolaknya.
Zayn tersenyum melihat Clara yang menatapnya tanpa berkedip dan hanya melongo sampai dia mendekat.
__ADS_1