Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
39. Mobil bergoyang


__ADS_3

"Raymond!"


Raymond mengkerut melihat tatapan mata Mommy Grace yang sepertinya akan mengulitinya.


"Kamu apakan istrimu?" tanya Mommy Grace dengan pandangan mata yang menusuk tajam.


"Gak di apa-apain Mom, cuma dipegang aja pipinya," jawab Raymond penuh tekanan.


Caramel memeletkan lidahnya dan tersenyum penuh kemenangan pada Raymond. Sedangkan Raymond tersenyum smirk yang membuat Caramel merinding.


Waduuuh gawat, bisa-bisa aku gak bakalan dikasih istirahat nanti, Caramel membatin sambil menggigit bibir bawahnya.


Melihat Caramel menggigit bibir bawahnya, Raymond sungguh gemas dan ingin memakan dan menghisap madu bibir Caramel.


"Ayo sayang aku kompres lagi," Raymond menarik tangan Caramel dari pelukan Mommy nya dan beralih ke dalam pelukan Raymond.


"Mom...," Caramel merengek meminta bantuan Mommy Grace, namun Mommy Grace hanya terkekeh sama dengan Daddy Nathan.


Mereka malah menyuruh Raymond untuk membawa Caramel menuju kamar Raymond. Dengan senang hati dan langkah ringannya Raymond menggendong Caramel ala bridal style menuju kamarnya.


"Tunggulah hukuman mu sayang," bisik Raymond di telinga Caramel membuat Caramel menelan ludahnya.


Tubuh Caramel di letakkan di ranjang dan kini hukumannya adalah Caramel yang bertugas memimpin jalannya pergulatan ini.


Di sebuah restoran mewah yang berfasilitas lengkap untuk seluruh keluarga, kini berkumpul keluarga Xavier untuk menunggu kedatangan seorang wanita yang menghebohkan dunia berita, gosip dan bisnis karena mengaku sedang mengandung anak Raymond Xavier dan menjadi korban kebrutalan istri dari Raymond Xavier.


Keesokan harinya, pada sore hari, Nindi berhasil dibawa oleh orang suruhan Daddy Nathan. Mereka diinstruksikan untuk membawa Nindi ke restoran tempat kerjanya.


Nindi melihat mobil Raymond yang terparkir di parkiran utama pada saat dia digiring para bodyguard menuju ruang VIP. Pada saat Nindi masuk kebetulan teman Nindi yang juga seorang waitress sedang menata minuman di meja dalam ruang VIP tersebut.


Ketika waitress itu keluar dari ruangan VIP tersebut, Nindi segera mengambil dari tasnya botol vial yang terbuat dari kaca dan tutupnya yang terbuat dari karet.


Dia selalu membawa benda itu kemana-mana karena tujuannya tidak jauh dari obat tersebut.


Sialnya, para Bodyguard yang ditugaskan menangkap Nindi malah membiarkan Nindi sendirian di dalam ruang VIP dan mereka berjaga di luar ruangan, jadi Nindi bisa melakukan aksinya dengan lancar.

__ADS_1


Pintu ruangan VIP itu terbuka, dan masuklah Daddy Nathan dan Mommy Grace. Nindi kaget karena yang masuk adalah Daddy Nathan dan Mommy Grace. Dan dia bertambah panik karena minuman yang dia berikan obat tadi ada di hadapan Daddy Nathan Dan Mommy Grace.


Memang Nindi memberikan dua gelas minuman itu obat yang dia bawa karena dia tidak tahu tempat duduk Raymond nantinya.


Seketika bibir Nindi tersenyum ketika Raymond masuk ke ruangan VIP tersebut. Untuk Caramel sengaja tidak diperbolehkan masuk ruangan oleh Mommy Grace karena takut terjadi hal seperti kemarin.


Nindi mulai dicecar pertanyaan oleh Daddy Nathan dengan tegas dan mengintimidasi, sehingga Nindi tidak bisa berkelit dan dia akhirnya di pecat secara tidak terhormat dari perusahaan tersebut tanpa menerima pesangon.


Karena amarahnya, Daddy Nathan merasa sangat haus. Dia meminum orange jus yang ada di hadapannya. Begitupula Raymond, dia sungguh murka dengan jawaban-jawaban Nindi yang selalu membuat dirinya emosi.


Daddy Nathan dan Raymond meminum orange jus yang dicampur dengan obat yang diberikan oleh Nindi tadi. Mereka nampak biasa-biasa saja, tapi beberapa menit kemudian mereka merasa kepanasan, bahkan AC yang menyala begitu dingin pun tidak bisa meredakan panasnya badan yang mereka rasakan.


Nindi tersenyum licik meskipun dia diperlakukan secara tidak hormat. Kini dia menunggu Raymond di dekat mobilnya untuk melancarkan aksinya.


"Sayang, aku gak kuat. Ayo kita pulang," ucap Daddy Nathan dengan melepas dasi dan kancing kerahnya.


"Aaah... kenapa terasa panas sekali Dad?" tanya Raymond sambil melakukan hal yang sama dengan Daddy nya.


"Kalian berdua kenapa? Mommy gak terasa panas kok, dingin banget malahan," Mommy Grace khawatir dengan suaminya yang mulai berkeringat dingin dan gelisah.


Mommy Grace segera membantu suaminya untuk meninggalkan ruangan tersebut dan berjalan menuju mobil. Di luar ruangan, Mommy Grace segera memanggil Caramel yang berada di ruang VIP sebelah mereka.


Caramel segera berlari menuju ruang sebelah, dan benar adanya, kini suaminya seolah berada di dalam ruang pemanas dengan keringat dingin membasahi pelipisnya. Nafasnya terengah-engah dan bajunya acak-acakan.


Caramel segera menolong suaminya, mengikuti perintah Mommy Grace untuk membawanya ke dalam mobil.


Mommy Grace meminta agar Caramel segera membawa Raymond pulang. Karena Daddy Nathan memberitahu Mommy Grace bahwa sepertinya ada yang memberi obat perang-sang padanya.


Mommy Grace berpikir jika Raymond mengalami hal yang sama dengan Daddy nya.


Caramel memapah Raymond menuju mobilnya dan sialnya dalam situasi genting seperti ini malah Nindi menghadang mereka.


"Minggir!" teriak Caramel penuh emosi.


"Biar Chef Raymond bersamaku, aku bisa menolongnya," ucap Nindi congkak dengan memegang tangan Caramel.

__ADS_1


"Cih! Kita gak butuh bantuanmu," seru Caramel emosi.


"Bodoh! Apa kamu mau suamimu meninggal?" seru Nindi tidak kalah emosi dengan Caramel.


"Sayang, ayo kita masuk ke mobil. Aku gak kuat," rintih Raymond sambil memeluk erat Caramel.


"Minggir!" teriak Caramel lantang yang membuat beberapa bodyguard Daddy Nathan mendengar daro arah mobilnya.


Beberapa bodyguard lari mendatangi mobil Raymond, dan mereka menghalangi Nindi untuk mengikuti Raymond dan Caramel.


"Minggir bodoh! Kalian mau jika bos kalian tidak tertolong? Hanya aku yang bisa menyembuhkannya. Aku punya obat untuk menyembuhkannya," teriak Nindi dengan emosi yang memuncak.


Kali ini Nindi tidak mau menyia-nyiakan kesempatan lagi. Dia ingin kali ini berhasil menjadikan Raymond miliknya.


Bodyguard-bodyguard tersebut mengacuhkan teriakan Nindi, mereka tetap menghadang Nindi agar tidak mendekati Raymond dan Caramel.


"Sayang, aku udah gak tahan," Raymond mendesis seperti kesakitan.


"Sayang, tahan ya, kita kemana, ke rumah sakit apa ke rumah?" tanya Caramel panik sambil membantu Raymond melepas kancing bajunya.


"Aku gak sakit sayang... aku cuma butuh kamu," Raymond meraih tubuh Caramel dan memeluknya dengan erat.


Caramel tidak tahu apa yang terjadi, yang ada di kepalanya saat ini suaminya sedang sakit, sedangkan Nindi mengatakan bahwa suaminya akan meninggal jika tidak segera ditolong.


"Sayang, kata Nindi tadi dia bisa menolong mu. Dia mempunyai obatnya, jika tidak segera ditolong katanya kamu bisa meninggal. Apa yang harus aku lakukan? Aku gak mau jadi janda. Apa aku harus minta obatnya sama Nindi?" Caramel mengoceh karena khawatir.


"Aku gak mau Nindi, aku maunya kamu. Apa kamu mau mengobati ku sayang?" ucap Raymond dengan mendesis menahan rasa yang begitu kuat mendorongnya untuk segera membebaskan dirinya.


"Apa? Apa yang harus aku lakukan?" tanya Caramel dengan maenangkupkan kedua telapak tangannya pada kedua pipi Raymond.


"Layani aku disini," suara Raymond bertambah parau.


"Ta-tapi kita se-"


Caramel tidak bisa melanjutkan perkataannya karena sekarang Raymond sudah meraup bibir Caramel dengan ganasnya. Tangannya bergentayangan di dalam baju Caramel.

__ADS_1


Akhirnya mereka melakukan di dalam mobil. Untung saja kaca mobil berwarna hitam yang tidak bisa dilihat dari luar. Hanya saja mereka yang diluar bisa melihat mobil bergoyang di sore hari.


__ADS_2