Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
92. Call me 'Sayang'!


__ADS_3

Di sepanjang jalan Clara memandang takjub pada Zayn yang baru dia sadari jika seorang Zayn tidak pernah marah padanya, bahkan dia selalu mengabulkan semua permintaannya.


Hati Clara benar-benar bahagia meskipun dia tahu jika keadaan mereka berdua tidak baik-baik saja nantinya, karena sudah pasti kedua orang tua Clara tidak akan membiarkan begitu saja Clara bersama dengan Zayn.


"Kenapa Sayang, ada yang aneh dengan wajahku?" Zayn bertanya dengan bingung pada wanita yang ada di sebelahnya.


Clara menggeleng sambil mengembangkan senyumnya dengan pandangan yang masih mengarah pada Zayn. Dan hal itu membuat Zayn bertambah bingung.


"Lalu apa yang membuatmu melihatku seperti itu?" tanya Zayn kembali pada Clara.


Clara hanya tersenyum, dia tidak mampu mengatakan apa yang ada di pikirannya karena dia malu jika harus jujur pada Zayn mengenai perasaannya saat ini.


"Ada apa Sayang? Apa ada yang kamu inginkan? Katakan saja padaku, aku akan berusaha memenuhinya," Zayn berusaha mencari tahu apa yang membuat Clara terdiam dan memandangnya seperti itu.


"Apa kamu sedang ngidam?" tanya Zayn kembali.


"Aku belum menginginkan apa-apa Zayn. Nanti saja jika aku menginginkan sesuatu, aku pasti akan memberitahukannya padamu," jawab Clara yang kini sudah bisa tersenyum manis pada Zayn.


"Baiklah, kita akan makan dulu atau makan di rumah saja?" Zayn bertanya pada Clara.


"Mmm... di rumah aja kayaknya. Kita pesan dari rumah aja ya," jawab Clara yang masih memandang Zayn sedari tadi.


Clara tidak merasa jika dia memandang Zayn semenjak mereka berangkat dari rumah Raymond tadi hingga kini mereka sudah sampai di apartemen milik Zayn. Sebenarnya Zayn merasa aneh karena Clara yang tidak ada bosannya memandang wajahnya pada saat di dalam mobil tadi, namun Zayn berharap jika Clara bisa mulai mencintainya seperti dirinya mencintai Clara dan sebanyak cintanya kepada Clara.


Zayn mendadak berbelanja online pakaian wanita beserta CD dan kawan-kawannya setelah mereka sampai di apartemennya. Clara benar-benar tidak membawa barang apapun, sehingga Zayn yang membelikan semua kebutuhannya melalui online shop yang bisa dikirim pada saat itu juga.

__ADS_1


Sedangkan di rumah orang tua Clara berusaha menghubungi Clara yang seharusnya dia sudah berada di rumah pada jam seperti itu. Mereka berusaha mencari Clara di tempat kerja dan di semua tempat yang biasa di datangi oleh Clara.


Kedua orang tua Clara benar-benar marah ketika mereka mencari Clara di tempat kerjanya dan tidak ada satupun dari karyawan di sana yang mengetahui keberadaan Clara saat ini.


Kebetulan sekali pada saat itu Pak Sarno sedang ada pekerjaan di luar untuk bertemu klien yang akan mengadakan acara di tempat itu. Pak Sarno kini menggantikan tugas Zayn dan Clara untuk sementara, hingga mereka berdua kembali bekerja.


Seolah mereka sedang menyembunyikan Clara, Papa Clara mengamuk habis-habisan di tempat itu dan Mama Clara seperti biasanya mengancam semua orang akan dilaporkan kepada pihak berwajib. Dan mereka semua hanya diam dengan tenang karena mereka tidak merasa bersalah sama sekali.


Clara benar-benar tidak ingin bertemu dengan kedua orang tuanya. Dia sedari tadi tidak menghidupkan ponselnya. Dia ingin berlari dari kenyataan bahwa kedua orang tuanya tidak mendukung kebahagiaannya.


Ada satu hal yang tidak diketahui oleh Zayn. Clara seperti menjadi tawanan yang harus mematuhi perintah kedua orang tuanya. Terlebih lagi ketika Clara hamil, jadi mereka merasa punya kelemahan untuk menyalahkan Clara agar dia mau menuruti semua perintah mereka, seperti menjebak Raymond agar bisa menjadi suami Clara.


Karena itulah selama ini Clara selalu menjadi wanita yang berkepribadian angkuh, percaya diri dan sombong. Dia ingin menunjukkan pada kedua orang tuanya jika dia tidak lemah dan dia ingin semua orang tidak memperlakukannya seperti kedua orang tuanya memperlakukan dirinya selama ini.


Padahal selama ini keluarga Raymond tidak pernah meremehkan siapapun karena mereka memang keluarga yang menghargai orang lain. Dan terbukti Raymond yang tidak pernah menyombongkan dirinya kepada siapapun. Bahkan diawal karirnya di negara ini dia menyamar sebagai Chef dan tidak ada yang tahu jika dialah ahli waris dari keluarga Xavier.


Malam ini kedua orang tua Clara saling menyalahkan, namun mereka tetap bersama untuk mencari keberadaan Clara.


Berbeda jauh dengan Clara, dia merasa sangat nyaman dan bahagia bisa tinggal serumah dengan Zayn. Perhatian Zayn dan perlakuan Zayn mencerminkan kasih sayang dan cintanya yang tulus pada Clara. Hingga Clara lupa akan masalahnya dengan kedua orang tuanya.


Zayn membuka satu persatu makanan yang mereka pesan di restauran kesukaan Clara.


"Kamu masih suka pasta marinara kan?" Zayn bertanya pada Clara.


"Apa kau memesannya Zayn?" tanya Clara yang mengalihkan pandangannya dari layar televisi pada Zayn.

__ADS_1


Zayn menunjukkan piring yang berisi pasta marinara tersebut dengan mengangkat piring tersebut dari meja makan.


"Ayo kita makan dulu Sayang. Ini aku pesan banyak makanan kesukaanmu. Pilihlah salah satu untuk kamu makan terlebih dahulu," ucap Zayn bermaksud memanggil Clara untuk mendekat padanya.


"Bawa ke sini aja Zayn, aku ingin makan di sini," rengekan manja Clara membuat Zayn tersenyum, karena Clara yang seperti inilah yang membuat Zayn selalu merindukannya.


Zayn mendekat ke arah Clara dengan membawa piring yang berisikan pasta marinara itu dan menaruhnya di meja depan Clara duduk.


"Mmm... Zayn, apa... apa kamu keberatan jika menyuapiku?" ucap Clara dengan malu-malu.


Tentu saja Zayn kaget mendengar permintaan dari Calara, karena dia tidak menduga jika Clara meminta hal seperti itu padanya, hal yang sangat diinginkan oleh Zayn ketika melihat Raymond menyuapi Caramel.


Yess, akhirnya aku bisa melakukan apa yang Raymond lakukan pada Caramel, Zayn berteriak kesenangan dalam hatinya.


"Tentu saja aku mau, asal....," Zayn menggantungkan ucapannya.


"Asal apa? Kamu gak ikhlas ya Zayn? Kalau gak ikhlas mending gak usah," ucap Clara dengan kesal.


"Ikhlas dong Sayang, sangat-sangat ikhlas. Aku hanya ingin kamu memanggilku dengan panggilan sayang. Jangan panggil aku dengan namaku," Zayn mengoreksi pikiran buruk Clara tentang dirinya.


"Panggilan sayang? Apa? Aku gak tau," ucap Clara dengan bersemu merah pada pipinya.


Zayn mengangguk dan tersenyum manis pada Clara. Zayn sangat menikmati momen-momen seperti ini, momen di mana Clara malu karena hal kecil yang dilakukan oleh Zayn padanya. Dia ingin momen ini bisa berlanjut untuk seterusnya.


"Call me 'Sayang'!" ucap Zayn dan itu benar-benar membuat Clara menjadi malu sempurna.

__ADS_1


__ADS_2