
Clara mendengus kesal melihat Zayn yang sekali lagi ikut campur urusannya. Zayn mendekat dan menatap dalam mata Clara yang penuh permusuhan padanya.
"Kamu sakit? Atau kamu sudah gila gara-gara Raymond tidak masuk kerja?" Zayn tersenyum miring meremehkan Clara.
"Apa urusanmu Zayn?" ucap Clara yang masih dalam posisi saling memandang dengan Zayn.
"Sadarlah Clara, kamu itu hanya terobsesi dengan Raymond dan kamu salah mengartikannya sebagai cinta," Zayn mengatakannya masih dalam posisi saling memandang dengan Clara.
"Sok tau kamu," Clara tersenyum miring meremehkan Zayn.
"Apa kamu pernah jatuh cinta?" Clara maju satu langkah dan wajahnya semakin dekat dengan wajah Zayn, begitupula tubuh mereka yang semakin dekat hanya berjarak beberapa centimeter saja.
Zayn pun tidak gentar, dia malah meraih pinggang Clara dan mendekatkannya pada tubuhnya dan dengan smirk nya dia berkata,
"Kamu pikir aku tidak pernah mencintai seorang wanita? Bahkan sampai detik inipun aku masih mencintai wanita yang menjadi cinta pertamaku itu."
Entah mengapa hanya dengan posisi seperti itu membuat jantung Clara berdegup kencang tak menentu, namun hatinya berbunga-bunga.
Mata mereka masih saling menatap tanpa ada rasa canggung meskipun sangat berdekatan.
Karyawan yang sedang menyapu tadi hanya bisa melongo melihat adegan yang menurut mereka romantis itu, padahal Zayn dan Clara sedang menabuh genderang perang.
Zayn ingin menyadarkan Clara dengan obsesinya untuk memiliki Raymond yang sudah mempunyai istri. Dan Clara ingin memberitahukan pada Zayn agar dia tidak mencampuri urusannya untuk mendapatkan Raymond.
"Ehemm... kalian mesra-mesraan di luar. Kasihan si Tono tuh sampai ngiler lihatin kalian," suara Pak Sarno menyadarkan Zayn dan Clara dari kegiatan saling menatap mereka.
Zayn segera melepaskan tangannya, naasnya karena sedari tadi Clara keenakan dipegangi oleh Zayn jadinya dia tidak siap ketika tiba-tiba Zayn melepaskan tangannya dari pinggang Clara, alhasil tubuh Clara oleng dan terjatuh duduk di lantai.
"Awww....," pekik Clara kesakitan.
Zayn baru sadar jika dia yang mengakibatkan Clara terjatuh. Niat hati ingin menolong, namun harga dirinya tidak mengijinkannya, karena misi Zayn adalah untuk menentang Clara bukan untuk merayunya.
__ADS_1
Clara menatap tajam Zayn yang hanya melihatnya tanpa mau menolongnya, padahal tangan Clara sedari tadi sudah terulur pada Zayn untuk meminta pertolongannya.
Zayn kikuk namun dia berhasil menyembunyikannya.
Gawat, kenapa harus begini? Mending ditinggal aja biar aman, ucap Zayn dalam hati seraya pergi meninggalkan Clara yang masih dalam keadaan terduduk di lantai.
Clara menyusul Zayn dengan berlari dan tiba-tiba Clara melompat ke punggung Zayn sehingga sekarang Clara sudah berada dalam gendongan Zayn.
Zayn kaget mendapati seseorang yang berada di belakangnya. Namun seketika senyumnya mengembang ketika melihat gelang dan jam tangan yang digunakan oleh orang yang tangannya bergelayut di lehernya.
Zayn mengenali gelang dan jam tangan itu karena dia yang memberikan jam tangan dan gelang itu pada seorang wanita. Design jam tangan dan gelang itu hanya ada satu di dunia ini karena dia sendirilah yang mendesign nya.
"Kamu masih sama seperti dulu Clara, ketika kamu kesal dan merajuk padaku pasti kamu diam-diam naik ke punggungku," Zayn tidak marah, melainkan dia terkekeh sekarang ini dan mengarahkan tangannya ke belakang untuk menahan tubuh Clara agar tidak jatuh.
"Kamu yang berubah Zayn. Kamu jahat padaku," kini Clara mulai merajuk pada Zayn dan meletakkan dagunya pada pundak Zayn.
"Kamu yang harusnya bisa berubah Clara, kamu harus menerima bahwa Raymond sudah mempunyai istri, dan dia sangat mencintainya," Zayn kembali menasehati Clara.
Zayn menghentikan langkahnya dan menurunkan Clara. Kemudian dia berbalik dan menatap Clara dengan dalam.
"Kamu sombong sekali Clara, di dunia ini tidak semuanya bisa kamu dapatkan. Karena tidak semuanya bisa menjadi milikmu. Ingat itu!" Zayn mengucapkannya dengan tegas dan penuh penekanan berharap agar Clara sadar.
"Zayn... Zayn.. sejak kapan kamu tidak mendukungku?!" Clara berteriak memangil Zayn yang sudah berjalan menjauh darinya.
Zayn semakin kesal mendengar jawaban dari Clara. Baru saja dia mengingat kembali masa-masa lalunya bersama dengan Clara setelah kepindahan Raymond. Namun dia kembali merasakan kekecewaan lantaran sikap Clara yang masih saja egois dan memaksakan keinginannya.
......................
Di sebuah Villa mewah Raymond dan Caramel menikmati harinya layaknya mereka sedang honeymoon. Sangat tenang dan menyenangkan bisa bersama orang yang kita cintai tanpa gangguan dari siapapun.
"Sayang, apa perlu kita tinggal di sini saja?" Raymond bertanya pada Caramel yang kini berada di pangkuannya.
__ADS_1
Mereka sedang menikmati suasana Villa yang begitu segar di dalam kolam renang. Raymond memang tidak pernah melepaskan Caramel selama mereka berada di Villa tersebut.
Kemanapun Caramel pergi, pasti dia mengikutinya. Hingga ke kamar mandi pun dia mengikutinya ketika mandi dan berakhir mereka mandi bersama. Namun di saat Caramel ke kamar mandi selain untuk mandi, Raymond pasti menunggunya di depan pintu kamar mandi.
Sungguh pria idaman sekali Raymond ini. Caramel sangat beruntung memilikinya. Di saat kesetiaannya sedang di uji, Raymond pun bisa membuktikannya pada Caramel bahwa dia benar-benar pria sejati yang hanya setia pada satu wanita yang berstatuskan istrinya.
Seperti sekarang ini, Raymond memangku Caramel di dalam kolam renang. Mereka bercanda dan tertawa membicarakan semua hal tentang mereka, tentang masa kecil mereka dan tentang masa remaja mereka.
Kini Caramel tahu bagaimana Raymond, Zayn dan Clara bisa menjadi teman di masa kecil mereka.
"Terus kerjaan kamu gimana Sayang? Apa kita harus bolak-balik ke sana?" Caramel mengalungkan tangannya pada leher Raymond dan memandangnya dengan penuh tanya.
"Ah aku lupa jika aku yang bertanggung jawab di restoran. Apa aku harus mencari Executive Chef untuk menggantikanku agar kita bisa tinggal di sini?" Raymond bertanya dengan nada serius pada Caramel.
"Lalu perusahaan dan yang lainnya gimana?" Caramel bertanya karena bingung dengan keinginan Raymond.
"Kalau cuma masalah seperti itu bisa dipantau dan dikerjakan di sini Sayang. Berapa hari sekali saja dan ketika ada meeting saja aku datang ke sana. Gimana?" Raymond bertanya kembali pada Caramel.
"Sayang, sebenarnya apa yang terjadi? Aku yakin Daddy Nathan tidak akan mengijinkan hal itu. Jika kamu memang ingin datang ke sini, kita bisa datang kapan saja bukan?" Caramel memberikan saran agar Raymond tidak melalaikan kewajibannya.
"Tapi..," Raymond menjeda ucapannya.
"Apa ini karena Clara? Jika ini karena Clara, kamu gak perlu khawatir, karena aku akan selalu mendampingimu kapan pun dan dimana pun. Bukannya aku akan jadi pastry di sana agar kita bisa bekerja bersama?" Caramel tersenyum dan mencubit hidung Raymond untuk menghiburnya dan menenangkan hatinya.
"Apa kamu yakin? Aku hanya tidak ingin kamu kembali terluka dan menjauh dariku," Raymond menatap sedih pada Caramel.
"Aku janji aku akan selalu menjadi istrimu dan tidak akan meninggalkanmu Sayang," Caramel mengecup sekilas bibir Raymond untuk menenangkannya.
Namun hal itu membuat sesuatu di dalam tubuh Raymond menjadi tertantang. Raymond mulai mencium Caramel dan tangannya bergentayangan pada aset-aset tubuh Caramel.
"Yassalam... main gak liat-liat tempat. Gak tau apa kalau aku dari tadi siang ngempet?" Zayn memutar balik badannya ketika melihat Raymond dan Caramel sedang melakukan pergulatan di dalam kolam renang.
__ADS_1