Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
96. Kebahagiaan semu


__ADS_3

Di tempat kerja, Zayn tidak bisa fokus bekerja. Pekerjaan yang sedari tadi dia pegang tidak ada yang selesai sama sekali. Pikirannya tertuju pada Clara yang sedang berada di apartemen Zayn saat ini. Zayn takut jika Clara kelaparan atau kesepian sendirian di apartemen itu. Namun jika Clara bekerja, pastilah dia akan bertemu dengan kedua orang tuanya karena setiap hari mereka datang untuk mencari Clara.


Brak!


Zayn memukul meja dengan kedua tangannya ketika dia berdiri dari duduknya.


"Ah... gak bisa, gak bisa. Aku gak bisa gini. Bisa-bisa aku gila karena selalu kepikiran Clara di rumah," ucap Zayn pada dirinya sendiri di dalam kantor.


Zayn mencoba kembali fokus pada pekerjaannya, namun bayangan Clara yang sangat manja padanya membuatnya tersenyum dan ingin cepat pulang sekarang.


Zayn menjambak rambutnya frustasi, dia sungguh tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya meskipun sudah berjam-jam.


"Aku harus pulang. Ya, aku akan bawa semua pekerjaan ini pulang dan akan ku kerjakan di rumah bersama dengan Clara," Zayn berkata dengan dirinya sendiri.


Semua pekerjaan yang harus dia kerjakan dengan Clara dia jadikan satu dan membawanya keluar dari kantor.


"Ray, aku pulang dulu. Kerjaannya aku bawa pulang," Zayn berpamitan pada Raymond dengan memperlihatkan beberapa map yang berisi file pekerjaan Zayn dan Clara.


"Eh ngapain?" tanya Raymond heran.


"Percuma gak bisa fokus," jawab Zayn dengan senyum lebarnya.


"Ck, sejak kapan seorang Zayn yang gila kerja gak bisa fokus?" Raymond bertanya dengan heran.


"Sejak punya baby," jawab Zayn sambil terkekeh.


"Masih di dalam perut Zayn. Udah balik kantor, kerjakan itu tugasmu," Raymond memerintahkan Zayn untuk kembali ke dalam kantor mengerjakan pekerjaannya.


"Gak ah, gak bisa konsen. Ini aku bawa semuanya, punya Clara juga aku bawa. Bye Tuan Chef Raymond Xavier yang terhormat....," ucap Zayn sambil terkekeh dan meneruskan langkahnya untuk pulang.


Senyum Zayn tidak henti-hentinya merekah pada saat mengendarai mobilnya hingga tiba di apartemennya.

__ADS_1


"Sayang... aku pulang...," Zayn berseru memanggil Clara.


Namun tak ada suara yang menyahuti seruan dari Zayn. Panik, tentu saja Zayn sangat panik, dia takut terjadi apa-apa dengan Clara, wanita yang sedang mengandung anaknya.


Zayn meletakkan tas kerjanya dan beberapa map yang dia bawa tadi di sofa ruang tamu. Langkah kaki Zayn sangat lebar, dia terburu-buru mencari wanita yang telah lama menjadi penghuni dalam hatinya.


Langkahnya terhenti ketika memasuki kamar, bibirnya melengkung ke atas mendapati Clara yang sedang tidur nyenyak di atas ranjang milik Zayn.


Tanpa pikir panjang Zayn segera naik ke ranjang tersebut dan memeluk tubuh Clara dengan erat. Betapa sangat bahagianya hati Zayn bisa memiliki hati dan jiwa dari wanita yang dicintainya sejak lama.


Damai, itulah yang dirasakan oleh Zayn saat ini. Dia telah lupa akan ancaman dan peringatan dari kedua orang tua Clara. Yang dia ingat hanya kebahagiannya saat ini dengan wanita yang dia cintai dan anak yang masih ada dalam kandungannya.


Tidak terasa, mereka berdua sudah tidur cukup lama. Hingga Clara merasa sesak karena Zayn memeluknya terlalu erat.


"Zayn?" Clara mengusap-usap matanya merasa tidak percaya jika Zayn sudah berada di rumah bersamanya saat ini.


Zayn perlahan membuka matanya ketika mendengar Clara menyebut namanya. Dan bibirnya kembali tersenyum ketika wajah Clara yang dia lihat untuk pertama kalinya ketika matanya terbuka.


"Ini jam berapa? Kamu udah pulang? Apa ini udah malam?" tanya Clara heran dengan melihat sekeliling kamarnya.


"Aku sengaja pulang karena gak bisa fokus kerja," jawab Zayn sambil tersenyum menatap wanita yang ada di depannya.


"Kenapa? Kamu sakit?" tanya Clara cemas sambil meletakkan telapak tangannya pada dahi Zayn.


Zayn mengambil tangan Clara dan memegangnya dengan erat. Zayn menatap dalam wajah Clara dengan senyumnya yang mengembang kembali.


"Enggak Sayang, aku kepikiran kamu terus dari tadi, jadi gak bisa fokus kerja. Mangkanya aku bawa pulang aja semua kerjaan kita. Habis ini aku akan mengerjakannya," ucap Zayn yang masih menatap wajah Clara dan menggenggam erat tangan Clara.


"Oke, aku bantuin nanti ya, kita kerjakan bersama," ucap Clara dengan senyumnya.


Kalau kayak gini terus pasti aku malah betah di rumah, Zayn berkata dalam hatinya.

__ADS_1


"Aku mau mandi dulu, setelah itu kita makan ya. Baru setelah makan kita kerjakan semuanya," ucap Clara sambil beranjak turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi.


Namun sebelum pintu kamar mandi tertutup, Zayn berhasil menyusup ke dalam kamar mandi tersebut sehingga membuat Clara kaget dan dalam hati dia tertawa senang karena hal inilah yang sebenarnya tadi dia inginkan, hanya saja dia malu mengatakannya pada Zayn.


Setelah ritual mandi mereka, seperti yang diinginkan oleh Clara, mereka makan dan setelah itu mereka mengerjakan pekerjaan mereka yang beberapa hari tidak mereka sentuh.


Kebersamaan mereka sudah mereka lalui selama beberapa hari. Dan beberapa hari itu juga kedua orang tua Clara mencari Clara hingga mereka menyewa orang untuk mencari keberadaan Clara.


Malam itu Zayn dan Clara keluar dari apartemen karena Clara ingin menghirup udara luar setelah beberapa hari hanya berada di dalam apartemen Zayn saja. Mereka berjalan kaki menuju taman yang berada tidak jauh dari apartemen itu.


Tanpa mereka ketahui, orang yang di sewa oleh kedua orang tua Clara mengikuti mereka dan mengambil foto mereka sebagai bukti untuk dikirimkan pada kedua orang tua Clara.


Tanpa mereka berdua sadari, orang tersebut masih saja mengikuti mereka hingga mereka tahu letak apartemen Zayn dan Clara tinggal saat ini.


Kedua orang tua Clara sangat emosi melihat foto-foto yang dikirimkan oleh orang suruhan mereka. Dengan kemarahan dan emosi yang memuncak, mereka segera pergi dari rumah mereka menuju kantor polisi.


Dengan berbekal foto-foto yang dikirimkan oleh orang suruhan mereka tadi, Mama dan Papa Clara melaporkan Zayn sebagai penculik anak mereka. Karena foto Zayn yang memang selalu memegangi pundak Clara dnegan erat membuat mereka bisa berpikir jika Clara terpaksa menuruti perintah Zayn. Dengan segera polisi bergerak, mereka menuju apartemen Zayn karena mendapat laporan dari orang suruhan dari kedua orang tua Clara yang memberitahukan bahwa Clara saat ini berada di apartemen Zayn.


Daddy Nathan memang tidak melepas kedua orang tua Clara begitu saja. Daddy Nathan pun menyuruh orang kepercayaannya untuk mengawasi semua tindakan Mama dan Papa Clara semenjak kejadian mereka akan menampar Caramel waktu itu.


Orang kepercayaan Daddy Nathan melaporkan bahwa kedua orang tua Clara mendatangi kantor polisi dan melaporkan Zayn. Fatalnya lagi saat ini mereka telah bergerak untuk mendatangi Zayn di apartemennya.


Bel pintu apartemen Zayn berbunyi. Tanpa curiga apapun Zayn membuka pintu apartemennya dan....


"Jangan bergerak. Anda ditahan atas tindakan penculikan Clara Setiawan. Anda bisa memberi penjelasan di kantor polisi," ucap salah satu polisi yang ada di situ dan polisi lainnya memborgol kedua tangan Zayn.


"Sayang... tidak, jangan bawa dia. Zayn tidak bersalah. Zayn tidak menculikku. Aku yang ingin tinggal di sini. Tolong jangan bawa dia," ucap Clara dengan berderai air mata melihat Zayn di borgol seolah dia penjahat yang meresahkan masyarakat.


"Silahkan jelaskan di kantor polisi," kembali polisi tersebut mengucapkannya.


Mereka tetap membawa Zayn tanpa ada perlawanan dari Zayn. Zayn hanya menatap nanar Clara yang berderai air mata memanggil-manggil namanya hingga duduk di lantai melepas kepergian Zayn yang sedang dikawal oleh polisi menuju kantor polisi.

__ADS_1


__ADS_2